Selasa 18 April 2006.
Shalat Shubuh di Stasiun Poncol
Jam 01.30 Kereta api Kertajaya tujuan Surabaya memasuki Semarang, dan banyak penumpang yang shalat, saya terbangun dan berusaha duduk sambil berzikir menahan kantuk.
Jam 03.00 saya shalat Tahajud untuk minta pertolongan
Jam 04.20 Adzan Shubuh, shalat shubuh berjamaah.
Setelah selesai shalat, saya melipat ambal dan mengucapkan terima kasih pada bapak tua itu.
Tiba-tiba SMS masuk, ternyata dari pak Nidhom, menghabarkan jikalau ada mess PSDA dan bisa digunakan sewaktu-waktu, terletak di jalan Erlangga 62.
Setelah selesai shalat shubuh sempat nelpon ke rumah mengabarkan kedatangan di Semarang. Kemudian keluar dari stasiun mencari alamat jalan Erlangga, Simpang lima.
Nawar beca dan disepakati harga Rp 6 000,- ke Simpang lima.
Simpang Lima Semarang.
Berbeca dari depan stasiun Poncol menuju pusat kota Semarang, angin dingin menerpa sepoi-sepoi, sunyi naik becak sendirian, berbincang dengan tukang becak membicarakan kekayaan kota Semarang yang gemerlap dipagi ini.
Lampu-lampu jalanan yang terhalang sinarnya oleh rindangnya pepohonon yang berbaris disepanjang jalan, jalannya lurus-lurus dan jauh, sehingga harga Rp 6000 termasuk memadai lah.
Sampailah di Simpang Lima Semarang, becak masih memutar untuk mencari jalan yang terdekat ke jalan erlangga, saya diturunkan di jalan Ahmad Yani.
Sewaktu saya bertanya dengan orang yang berlari-lari pagi, dimana jalan Erlangga, ia memberi saran untuk jalan lagi satu penggal perempatan belok kiri.
Jalan Erlangga.
Sudah berjalan sekian lama, perasaan saya khawatir salah, sehingga saya mencoba bertanya pada seseorang dimana Erlangga 62, ia pun tidak tahu,
Didepan Apotik Erlangga di Jalan Erlangga Raya saya kirim SMS ke pak Harsono untuk memberitahukan posisi saya sekaligus menanyakan dimana Erlangga 62, Jawabaannya adalah saya harus berjalan ke arah timur dan berjumpah dengan Salon Eno dan berjalan lagi seratus meter.
Mess PSDA Semarang.
Mess itu akhirnya ku dapat, ibu tua yang menjaga mess mempersilahkan, dan kamar sudah dipersiapkan, Mbah Dul datang bergegas, ia suami ibu itu, ia mengatakan ia mencoba berlari-lari dan berjalan kaki disekitar mess untuk mencoba menjemput saya, ternyata juga tidak ketemu.
Kantor PPSDA komplek PRPP Semarang
Jam 0700 saya keluar dari mess, naik angkot menuju pasar Bulu, dipasar itu saya sarapan cenil dan sawut manis seharga Rp 1000,- jajanan pasar, setelah itu berdiri lagi untuk mencari Bus PRPP.
PRPP itu ternyta pusat Pameran Propinsi Jawa tengah, saya duduk terdepan di bus yang menuju PRPP.
Jalan itu lurus melanjutkan arah kedatangan dari simpang lima, melewati hotel Siliwangi, saya teringat sewaktu saya diinapkan oleh Utusan dari Semarang SDA Propinsi, lupa namanya, baru datang siang itu dari Jepara, menunggu KA Agro Anggrek yang datang dari Surabaya, dimana pemberangkatannya di Semarang jam 22.45 malam tahun 2002.
Dikantor ternyata pak Nidhom Azhari tidak ada ditempat.
Saya diterima pak Harsono Kepala Tata Usahanya, yang tadi pagi mendesposisi untuk masuk kedalam mess.
Hasil Masukan dari Pak Harsono:
1. Rembang abrasi pantainya lebih parah dari pada di Jepara, ada dana APBD untuk 2 tahun pelaksanaan, pembangunan tembok penahan pantai, panjang pantai 25 km yang terabrasi, dan bersentuhan langsung dengan perumahan penduduk.
Teknologi yang digunakan adalah teknologi tembok penahan gaya horizontal dan terlihat sederhana, hanya ditambahi batu bulat kosong didepannya untuk meredam pukulan gelombang laut terhadap tembok.
2. PSDA Jawa Tengah lebih cenderung melaksanakan pemberdayaan masyarakat sekitar waduk, dengan menggerakan Peguyuban masyarakat sekitar waduk.sehingga muncul KLAMBUKU PANJANG SALURAN 40 Km.bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat.
3. Pemberdayaan itu dijadikan pola dan bagaimana mengangkat partisipasi masyarakat untuk mendapatkan dana efisien.
4. Khusus untuk Rembang dana yang dikelolah PSDA Jawa Tengah adalah dana konstruksi, dan pekerjaan ditenderkan.
5. Tidak dikembangkan sampai evaluasio, sebab tidak dilakukan model test.
6. Kalau team swakelolah dari PUSLITBANG PU PUSAT akan memaparkan bisa memberitahukan terlebih dahulu ke PSDA Jawa Tengah.
Shalat Dhuhur di Pasar Bulu.
Sepulangnya dari PSDA Jawa Tengah, bus yang dinaiki harus berganti kendaraan kecil di pasar Bulu. Saat itu terdengar adzan Shalat Dhuhur dan saya berusaha ingin tahu dimana sumber suara itu.
Ternyata masjidnya diatas, bangunan pasar yang sederhana, seperti konstruksi pembangunan yang berhenti kehabisan dana, terlihat dilantai du atap yang lobang sehingga air hujan menets menggenangi.
Tempat shalatnya sangat sederhana, Masjid atau Musholah pasar ini terbagi dua penggunaan ruang,untuk makmum perempuan lebih luas dibandingkan untuk makmum lakulaki, dengan pemisah ruang dari kain yang digantungkan pada tali.
Sewaktu memasuki tempat shalat ini terasa kekuatan Islam tidak luntur oleh terpaan kemiskinan, di sela-sela miskinnya masyarakat Semarang Shalat mas9ih ditegakkan dengan sederhana dan khusu.
Saya harus bisa mengambil hikma dari peristiwa ini.
Sebelum shalat saya sempat makan siang diwarung disudut pasar yang sangat sederhana dimana pelanggan terbanyaknya adalah tukang becak pasar, sebetulnya saya ingin makan nasi gudeg sederhana ciri khas Semarang yang saya jumpai 30 Tahun yang lalu sewaktu Studi Tour ( 1973 ) anak-anak STM Negeri Ubung Denpasar ke Jawa dalam hal ini menyinggahi kota Semarang dan menginap disini. Saat itu saya menjumpai nasi gudeg sederhana itu. Saya yakin sekarang pun masih ada tetapi kali ini saya tidak menjumpai.
Saya sudah bertanya disekitar pedagang untuk menanyakan nasi gudeg sederhana yang saya maksudkan , tetapi para pedaganmg itu memberikan alamat di utara pasar yaitu kios nasi gudeg yang telah dikemas baik.
Sewaktu saya perhatikan warung tersebut, yang makan dari kelompok menengah keatas, dan sistim penarikan tagihan apa yang telah dimakan dengan menggunakan bon, yang ditulis pelayan yang berdiri sambil menanyakan apa saja yang dimakan.
Melihat sistim management ini berarti klasnya termasuk mahal dan tidak sederhana, saya mengurungkan niat untuk memasuki warung makan ini walau perut sangat membutuhkan.
Akhirny terpilih waruang diatas yang pelanggannya kebanyakan orang becaan, saya hanya memesan nasi digenangi sayus bayam bening dengan temu kunci sebagai rasanya dan telur dadar, sempat ditanyai mau sambal, saya menolak, setelah sepiring habis saya tambah lagi sepiring nasi dengan kebanjiran sayur bening bayam temu kunci, semuanya terbayar Rp 4 500.-
Pulang ke Mess. Jalan Erlangga 62.
Shalat ashar di mess.
Shalat Maghrib di masjid dekat mess.
Berjalan keluar sore itu, sejauh 300 meter. Kearah kanan dari mess.
Masjid ini banyak diwarnai dengan para pensiunan pegawai, terlihat dari gayanya.
Harumnya masjid ini masih asli kecipratan minyak dari Makkah.
Masjid ini cukup luas nya, dan ada pengumuman di ijinkan tidur di masjid asal memberi tahu dahulu kepada takmir masjid.
Sehabis shalat mencari makan disekitar masjid,,, tidak ada, harus menyebrangi jalan Akhmad Yani baru dapat dan harga makan sangat murah yaitu Rp 1 500,- Cuma mencari uang lima ratusan ini harus berjalan jauh untuk emmebli roti dan makan ditengah malam serta sabun mandi dan pasta gigi.
Sesudah mendapatkan uang seribu limaratusan tersebut saya kembali lagi kepedanga nasi dan membayar, kemudian melihat jagung rebus, beli dua seribu limaratus, kembali lagi ke mess, didalam mess makan jagung rebus, sedang asyik makan lagi adzan shalay isya terdengar.
Shalat Isya.
Berlari dari mess untuk mencapai masjid, sambil membersihkan mulut yang sedang mengunyah jagung terakhir.
Selasa, Mei 09, 2006
Berangkat ke Semarang
Senin 17 April 2006
Berangkat ke Semarang.
Pagi hari masih mengantar Tyas untuk sekolah, sewaktu pulang dari mengantar Tyas, sempat menanyakan ke Bus Ramayana tujuan Solo yang lewat Semarang, dan bus tersebut tidak memasuki Semarang, Dijalan Tol luar Semarang, dan tiba di tempat tersebut sekitar jam 02.00 pagi, harga tiket Rp 75 000 ,-, dengan pertimbangan ini saya membatalkan untuk naik bus ke Semarang.
Jam 10.00 pagi saya sudah berkemas, uang jalan yang niatnya untuk membangun rumah selama pendapatan tahun ini saya bagi tiga, yang Lima ratus ke cadangan memperbaiki rumah, dan saya serahkan ke Istri, yang seratus ke anak Yatim Piatu ( yang seratus ini adalah uang makan dan uang penginapan saya sehari di Semarang ). Ada cadangan lima ratus untuk menanggulangi kenaikan harga dan yang lima ratus lagi untuk perjalanan dan membeli tiket.
Tas dibawa istri saya ke ujung jalan raya Gandoang, selama itu saya jalan kaki sendirian, tetangga bertanya, mau kemana pak, jawabku mau kedepan.
Sol Sepatu Lepas Depannya
Sesampainya di jalan Gandoang, tas saya ambil dari motor qinqi 50 cc istri saya dan bersamaan itu bus dari Jonggol ke Pulo Gadung Lewat, saya berlari mendekati bus, bersamaan itu sol sepatu kiri saya lepas, terpaksa saya berusaha untuk menahan langka agar sepatu tetap bisa dipakai.
Kereta Api Jabotabek
Perjalanan dari Jonggol ke Prempatan Bekasi Rp 3500.- melanjutkan jalan kaki menuju pemberhentian angkot no 25 yang menuju stasiun Bekasi, agak panjang jarak berjalan, melewati sungai Bekasi, dengan angkot no 25 berangkat ke Stasiun bekasi Rp 2000,- naik Kereta Api ke Senen Rp 1500,- Kereta api ini datang pada saat saya melangkah menuju ke apron kereta, tepat waktunya, sejurus kemudian berangkat menuju Jakarta.
Kereta ini sudah lama saya tidak naiki, dahulu sering menaiki kereta ini untuk menghibur Tyas kalau pulang dari RSCM, pulang ke Gandoang Cileungsi, ke Bekasi naik Kereta api, dan dilanjutkan naik angkot ke Terminal bus dan dari sana naik Bus ke Jonggol turun di Gandoang.
Kali ini naik kerta dengan kondisi berbeda, yang naik tidak hanya penumpang tetapi juga para pencari makan, dan ada juga pertunjukan teater kera didalam kereta, diantara tempat kereta yang sempit itu, serombongan anak muda yang naik dari stasiun Kranji membawa seperangkat peralatan gamelan dan tidak lupa monyet nya juga, dan dia memilih gerbong yang saya naiki untuk mangawali pertunjukan pagi enjelang siang ini.
Tetabuhan mengiringi derit kereta melaju menuju Jakarta, monyet menari berkitar dengan sepedanya, berganti adegan menari monyet dengan segala macam perhhoiasan wanita, ada sisir, ada cermin kecil dan ada bedak tepung terigu, sangat genit terlihat monyet itu berhias.
Tiba-tiba ada tukang peminta-minta da;lam kereta yang meminta dengan paksa kepada say, peminta itu tak berkaki, kerena pemaksaan itu sayapun tidak mau, ia malahan menekan sepatu saya, saya terkejut.
Stasiun Senen
Setibanya di stasiun Senen jam 12.40
Membeli tiket kereta api ekonomi Matarmaja, tujuan Malang, Turun di Semarang, Harga tiket Rp 28 000,- setelah itu masuk lagi ke stasiun dan mencari Musholah untuk mengerjakan shalat Dhzuhur digabung dgn Shalat Ashar.
Setelah shalat, membuka bekal nasi dari rumah, masih didepan halaman musholah, saya makan siang dibalik tirai pembatas antara musholah dan lintasan umum.
Makan siang dari rumah cukup enak, nasi dengan lauk ayam digoreng, tempeh goreng dan sayur buncis ditumis.
Tidak beberapa lama KA memasuki apron stasiun
Berangkat dari stasiun Senen jam 14.05 siang, dapat nomer 3A, pinggir jendela, gerbong nomer 6, didepan saya duduk lelaki paruh baya asal Semarang, yang sedang mengejar mobilnya yang dibawa lari oleh penyewa ke Jakarta, tetapi disini pun mobil tidak diketemukan.
Disampingnya duduk anak muda lelaki yang tujuan Malang dan pernah Jualan di Fak-Fak Irian Jaya, disampingnya Bapak-bapak senior masih aktif, dan tujuan Malang untuk menengok anaknya yang sekolah, disamping saya duduk, anak muda baru selesai kuliah belum di wisuda, rencana wisuda bulan depan, sekolah Teknik di Malang jurusan Elektro arus kuat, anak muda ini mulai merokok sewaktu KA Matarmaja memasuki stasiun Bekasi.
Jam berlalu dan sambil berbicara banyak dan mengantuk sesekali.
Stasiun Poncol Semarang.
Tiba di Stasiun Poncol Semarang jam 23.30 malam. Lihat Hp ternyata ada telepon masuk dari rumah, tetapi sewaktu menghubungi rumah ternyata telepon tidak disambungkan.
Stasiun Poncol malam itu agak ramai sedikit, banyak orang yang tidur di Stasiun, Langsung menghubungi Bapak Nidhom Azhari, melalui SMS untuk menghabarkan jikalau sudah tiba di Semarang. SMS tidak ada jawaban.
Menghubungi Pak Heru Jatmiko kepala Hutama Karya Semarang, juga tidak ada kabarnya.
Kemudian saya mengambil duduk dimana ditempat duduk tersebut saya bersama anak-anak pernah duduk disitu untuk menunggu waktu siang akan pergi keJogjakarta.
Tiba-tiba saya melihat Musholah, mengapa saya tidak ke Musholah stasiun KA Poncol.
Sesampai di musholah saya melihat orang tua yang sedang merokok didalam musholah, lhoh kok merokok didalam musholah, kalau merokok ya diluar musholah kataku perlahan, dan bapak itu terlihat keluar, saya mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat memohon pertolongan.
Salah mengambil arah Kiblat.
Sewaktu saya memasuki ruang musholah saya melihat anak muda yang sholat, kerena saya shalat sunah maka saya tidak bermakmum kepadanya, terlihat ia sholat Magrib dan Isya, sedang saya melakukannya sewaktu kereta masuk Cirebon. Kerena dia shalat menghadap kesana ya saya juga sholat menghadap kesana, ternyata sewaktu setelah selesai mengerjakan shalat, bapak tua itu mengingatkan kok sholatnya menghadap ke Timur ?.
Saya dengan anak muda itu tertawa bersamaan sebab itu membuktikan jikalau kita tidak tahu arah kemana arah kiblat itu sebenarnya, tapi kerena tidak tahu, ya tidak apa-apa.
Bapak Penjual Ambal.
Ternyata bapak tua yang merokok dalam musholah tadi adalah bapak penjual ambal, ia berjalan berkeliling kota Semarang dan kalau malam ia tidur di Musholah Stasiun, asalnya dari Bojonegoro dan pernah juga ke Lumajang, ambal yang dijual buatan dalam negeri, agak kasar dan bau cat, lain dengan ambal yang saya kenal sewaktu membeli di Makkah tahun 1992 sewaktu Ibadah Haji dahulu.
Bapak itu mengambil satu ambalnya dan menebarkannya dilantai dan mempersilahkan saya tidur, lho kok tidur dibarang jualan pikirku, saya berusaha menolak tetapi ia mangatakan kalau begini cepat lakunya katanya.
Saya tertidur setengah terjaga, nggak bisa lelap. Dan bantalnya tas saya.
Jam 24.00 tengah malam masih bicara soal perdagangan dan pengalaman bapak itu berjualan, dan saya berceritra pernah ke bojonegoro sewaktu masih mahasiswa dan ada Gerhana Matahari Total yang lewat di Bojonegoro, saat itu tahun 1977.
Berangkat ke Semarang.
Pagi hari masih mengantar Tyas untuk sekolah, sewaktu pulang dari mengantar Tyas, sempat menanyakan ke Bus Ramayana tujuan Solo yang lewat Semarang, dan bus tersebut tidak memasuki Semarang, Dijalan Tol luar Semarang, dan tiba di tempat tersebut sekitar jam 02.00 pagi, harga tiket Rp 75 000 ,-, dengan pertimbangan ini saya membatalkan untuk naik bus ke Semarang.
Jam 10.00 pagi saya sudah berkemas, uang jalan yang niatnya untuk membangun rumah selama pendapatan tahun ini saya bagi tiga, yang Lima ratus ke cadangan memperbaiki rumah, dan saya serahkan ke Istri, yang seratus ke anak Yatim Piatu ( yang seratus ini adalah uang makan dan uang penginapan saya sehari di Semarang ). Ada cadangan lima ratus untuk menanggulangi kenaikan harga dan yang lima ratus lagi untuk perjalanan dan membeli tiket.
Tas dibawa istri saya ke ujung jalan raya Gandoang, selama itu saya jalan kaki sendirian, tetangga bertanya, mau kemana pak, jawabku mau kedepan.
Sol Sepatu Lepas Depannya
Sesampainya di jalan Gandoang, tas saya ambil dari motor qinqi 50 cc istri saya dan bersamaan itu bus dari Jonggol ke Pulo Gadung Lewat, saya berlari mendekati bus, bersamaan itu sol sepatu kiri saya lepas, terpaksa saya berusaha untuk menahan langka agar sepatu tetap bisa dipakai.
Kereta Api Jabotabek
Perjalanan dari Jonggol ke Prempatan Bekasi Rp 3500.- melanjutkan jalan kaki menuju pemberhentian angkot no 25 yang menuju stasiun Bekasi, agak panjang jarak berjalan, melewati sungai Bekasi, dengan angkot no 25 berangkat ke Stasiun bekasi Rp 2000,- naik Kereta Api ke Senen Rp 1500,- Kereta api ini datang pada saat saya melangkah menuju ke apron kereta, tepat waktunya, sejurus kemudian berangkat menuju Jakarta.
Kereta ini sudah lama saya tidak naiki, dahulu sering menaiki kereta ini untuk menghibur Tyas kalau pulang dari RSCM, pulang ke Gandoang Cileungsi, ke Bekasi naik Kereta api, dan dilanjutkan naik angkot ke Terminal bus dan dari sana naik Bus ke Jonggol turun di Gandoang.
Kali ini naik kerta dengan kondisi berbeda, yang naik tidak hanya penumpang tetapi juga para pencari makan, dan ada juga pertunjukan teater kera didalam kereta, diantara tempat kereta yang sempit itu, serombongan anak muda yang naik dari stasiun Kranji membawa seperangkat peralatan gamelan dan tidak lupa monyet nya juga, dan dia memilih gerbong yang saya naiki untuk mangawali pertunjukan pagi enjelang siang ini.
Tetabuhan mengiringi derit kereta melaju menuju Jakarta, monyet menari berkitar dengan sepedanya, berganti adegan menari monyet dengan segala macam perhhoiasan wanita, ada sisir, ada cermin kecil dan ada bedak tepung terigu, sangat genit terlihat monyet itu berhias.
Tiba-tiba ada tukang peminta-minta da;lam kereta yang meminta dengan paksa kepada say, peminta itu tak berkaki, kerena pemaksaan itu sayapun tidak mau, ia malahan menekan sepatu saya, saya terkejut.
Stasiun Senen
Setibanya di stasiun Senen jam 12.40
Membeli tiket kereta api ekonomi Matarmaja, tujuan Malang, Turun di Semarang, Harga tiket Rp 28 000,- setelah itu masuk lagi ke stasiun dan mencari Musholah untuk mengerjakan shalat Dhzuhur digabung dgn Shalat Ashar.
Setelah shalat, membuka bekal nasi dari rumah, masih didepan halaman musholah, saya makan siang dibalik tirai pembatas antara musholah dan lintasan umum.
Makan siang dari rumah cukup enak, nasi dengan lauk ayam digoreng, tempeh goreng dan sayur buncis ditumis.
Tidak beberapa lama KA memasuki apron stasiun
Berangkat dari stasiun Senen jam 14.05 siang, dapat nomer 3A, pinggir jendela, gerbong nomer 6, didepan saya duduk lelaki paruh baya asal Semarang, yang sedang mengejar mobilnya yang dibawa lari oleh penyewa ke Jakarta, tetapi disini pun mobil tidak diketemukan.
Disampingnya duduk anak muda lelaki yang tujuan Malang dan pernah Jualan di Fak-Fak Irian Jaya, disampingnya Bapak-bapak senior masih aktif, dan tujuan Malang untuk menengok anaknya yang sekolah, disamping saya duduk, anak muda baru selesai kuliah belum di wisuda, rencana wisuda bulan depan, sekolah Teknik di Malang jurusan Elektro arus kuat, anak muda ini mulai merokok sewaktu KA Matarmaja memasuki stasiun Bekasi.
Jam berlalu dan sambil berbicara banyak dan mengantuk sesekali.
Stasiun Poncol Semarang.
Tiba di Stasiun Poncol Semarang jam 23.30 malam. Lihat Hp ternyata ada telepon masuk dari rumah, tetapi sewaktu menghubungi rumah ternyata telepon tidak disambungkan.
Stasiun Poncol malam itu agak ramai sedikit, banyak orang yang tidur di Stasiun, Langsung menghubungi Bapak Nidhom Azhari, melalui SMS untuk menghabarkan jikalau sudah tiba di Semarang. SMS tidak ada jawaban.
Menghubungi Pak Heru Jatmiko kepala Hutama Karya Semarang, juga tidak ada kabarnya.
Kemudian saya mengambil duduk dimana ditempat duduk tersebut saya bersama anak-anak pernah duduk disitu untuk menunggu waktu siang akan pergi keJogjakarta.
Tiba-tiba saya melihat Musholah, mengapa saya tidak ke Musholah stasiun KA Poncol.
Sesampai di musholah saya melihat orang tua yang sedang merokok didalam musholah, lhoh kok merokok didalam musholah, kalau merokok ya diluar musholah kataku perlahan, dan bapak itu terlihat keluar, saya mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat memohon pertolongan.
Salah mengambil arah Kiblat.
Sewaktu saya memasuki ruang musholah saya melihat anak muda yang sholat, kerena saya shalat sunah maka saya tidak bermakmum kepadanya, terlihat ia sholat Magrib dan Isya, sedang saya melakukannya sewaktu kereta masuk Cirebon. Kerena dia shalat menghadap kesana ya saya juga sholat menghadap kesana, ternyata sewaktu setelah selesai mengerjakan shalat, bapak tua itu mengingatkan kok sholatnya menghadap ke Timur ?.
Saya dengan anak muda itu tertawa bersamaan sebab itu membuktikan jikalau kita tidak tahu arah kemana arah kiblat itu sebenarnya, tapi kerena tidak tahu, ya tidak apa-apa.
Bapak Penjual Ambal.
Ternyata bapak tua yang merokok dalam musholah tadi adalah bapak penjual ambal, ia berjalan berkeliling kota Semarang dan kalau malam ia tidur di Musholah Stasiun, asalnya dari Bojonegoro dan pernah juga ke Lumajang, ambal yang dijual buatan dalam negeri, agak kasar dan bau cat, lain dengan ambal yang saya kenal sewaktu membeli di Makkah tahun 1992 sewaktu Ibadah Haji dahulu.
Bapak itu mengambil satu ambalnya dan menebarkannya dilantai dan mempersilahkan saya tidur, lho kok tidur dibarang jualan pikirku, saya berusaha menolak tetapi ia mangatakan kalau begini cepat lakunya katanya.
Saya tertidur setengah terjaga, nggak bisa lelap. Dan bantalnya tas saya.
Jam 24.00 tengah malam masih bicara soal perdagangan dan pengalaman bapak itu berjualan, dan saya berceritra pernah ke bojonegoro sewaktu masih mahasiswa dan ada Gerhana Matahari Total yang lewat di Bojonegoro, saat itu tahun 1977.
Langgan:
Catatan (Atom)