Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Julai 08, 2010

Selasa 1 Juni - Selasa 29 Juni 2010


Selasa, 1 Juni 2010.

Memenuhi janji dengan Pak Marzuki Usman, pagi ini berangkat pagi dari rumah untuk maksud tersebut, Fifi menangis sejadinya mengetahui jikalau ibunya yang ikut saya untuk sampai di perempatan Cileungsi akan ke Bank ngurusin keuangan kakak kakak nya, sampai ke sekolahannya sedikit terhambat, tetapi akhirnya berangkat juga dengan wajah sedikit kacau.

Setelah ibunya turun di perempatan Cileungsi saya sendiri meluncur langsung menuju jalan Sudirman tempat kantornya pak Marzuki Usman berada, jam 09.40 saya sudah tiba di sana duduk di ruangan dingin, dan diterima sekitar jam 10.05.

Motor saya parkir di masjid Bendungan Hilir, kemudian saya berjalan ke ujung jalan dengan pemandangan pagi dimana Bendungan Hilir masih berbenah untuk menyambut kesibukan siang.

Bangunan tinggi menghias langit Jakarta.

Saya tidak melakukan penilaian sama sekali hanya lewat saja, tetapi sewaktu kaki ini mengamati lebih tajam memang tidak adanya pembuangan air hujan yang pasti yang menyebabkan Jakarta hujan sedikit saja sudah tercipta genangan air di mana- mana.




Rabu, 2 Juni 2010.

Disaat rumah itu sunyi , saya hanya berdua dengan Yasin, berbaring di depan Televisi, sambil memperhatikan kondisinya Yasin, sebab kemaren sore sebelum pulang dari kantor, ibu Ikan yang anaknya ada menderita Thalasemia juga menghampiri saya sambil menanyakan bagaimana ke adaan anak- anak dan bagaimana perawatan sakitnya kelanjutannya.

Hari Minggu kemaren juga Ayahnya Ghonia ( pasien Thalasemia ) juga menelpon ke rumah sekedar menguraikan ke tidak senangannya aturan RSCM terutama perawatan Tumbuh Kembang yang selama ini perawatan itu iuntuk Anak nya sekarang mengeluarkan peraturan baru yang meminta ayahnya ghonia menyiapkan uang muka Rp 4 500 000,- sebelum Ghonia di rawat di RSCM, biasanya ngak sedemikian, katanya di ujung keluhannya.

Memang hal itu haknya RSCM tetapi saya masih berfikir masih bisa di carikan jalan keluarnya.

Kembali ke Yasin, Yasin sebelum berangkat ke sekolah bapak buatin jus wortel dengan tomat ya. Dan Yasinnya mengaguk setuju, dan secepatnya saya membuka kulkas mencari bahan yang ada, dan tidak lama tersajikan hidangan jus wortel dengan tomat tanpa di saring, saya sendiri meminum hingga tiga gelas, sedangkan Yasinnya cukup satu gelas saja.

Setelah itu Yasinnya berangkat sekolah, ia memang menderita Thalasemia tetapi sudah beberapa bulan ini tidak di transfusi, sehingga saya selalu memperhatikan kondisinya, jangan sampai jatuh.

Ibunya datang dari mengikuti upacara perpisahan anak- anak SMPN Cileungsi, datang bersama Fifi yang selalu ikut, dan membawa juga seperempat kilogram belut, langsung saya olah untuk makan siang, bumbunya sederhana saja, bawang merah, bawang putih garam dikit, kunyit dikit dan lombok sedikit banyak biar terasa pedas dan di masak diatas minyak panas dan masukan belutnya dan di tutup sampai cukup lunak belut untuk di makan.








Kamis, 3 Juni 2010.

Jus sayur pagi ini cukup lengkap, ada buah noni, atau mengkudu, ada lobak putih, ada nenas, ada wortel, ada buncis, ada daun mengkudu, tauge, tomat dan jreng di putar dan di peras dan diminum.

Fifinya shalat shubuhnya sampai terlambat sekali, shubuh sudah habis ia masih saja belum shalat, waktu menunjukan jam 07.00 setelaj itu Fifinya shalat Shubuh, Fifi sekarang berusia 7 tahun 5 hari.

Astari ikut naik motor hingga ke sekolahannya dan Fifi turun di depan sekolahannya.

Saya melihat posisi awan di atas pulau Jawa hari ini sangat bagus semuanya minggir ke pantai, berarti tidak hujan


Citra Satelit posisi awan hari ini :










Jeleknya komputer di kantor kalau sudah mendekati jam 4 sore, mulai ngadat, jalannya brosing lambat dan berhenti sama sekali tetapi hubungan masih baik sekali.



Jumat, 4 Juni 2010


Hari Jumat yang saya butuhkan, hari Jumat yang saya harapkan sebab di sana ada tempat untuk menghaturkan doa dan dikabulkan yaitu disaat perpindahan khotba pertama menjadi khotba kedua di shalat Jumat.
Lemparkan doa itu, doa yang terucap adalah kesehatan buat Yasin sebab seberangkat saya kekantor tadi pagi Yasin sudah terlihat agak kekuningan permukaan kulitnya, pasti ada sesuatu dengan hatinya.
Ibunya sudah saya antarkan ke Puskesmas untuk minta pengantar rujukan jikalau di perlukan sewaktu- waktu, dan berangkat sholat tadi dari ruang kantor agak di pagikan agar bisa banyak membaca shalawat Rasullulloh.


Jam 14.00 secepatnya ke Carefure untuk belanja susunya Yasin, Yasin punya ke sukaan susu namanya susu Zee, cukup mahal. Tetapi terbeli juga, suasana carefure sangat ramai, ada orang tidur di depan tempat pertemuan pengajian ibu- ibu perumahan PU belakang Carefure, saya berdoa pada Allah agar orang itu di tolongnya.

Terlalu banyak permasalahan sosial yang tidak di selesaikan sehingga dari ke hari numpuk dan berhenti, berfikir saja orang males terhadap kehidupan bangsa ini.

Gambar China 1



Sementara pemerintah Chinna siang malam selalu berusaha akan berbuat banyak buat bangsanya, buat rakyatnya, termasuk yang saya kagumi pagi ini adalah saya pergi ke Wu Han dan dalam ceritra Suling Emas lanjutannya kota Wuhan ini di sebutkan dan sekarang saya kesana dengan google earth dan sampai dan ternyata luar biasa, hampir berhenti nafas ini berbicara, terlalu hebatnya pembangunan, jalan di pinggir sungainya sampai bayi tertidur do dorong ibunya menyusuri sungai kerena sejuknya, bersihnya.

Gambar China 2


dan indahnya. Beberapa tulisan tentang china yang saya kutip dari Radio Chinna :

Tiongkok Aktif Sempurnakan Sistem Jaminan Sosial
________________________________________
Selama 30 tahun sejak diterapkannya reformasi dan kebijakan keterbukaan, usaha jaminan sosial Tiongkok telah mencapai perkembangan pesat, kerangka pokok sistem jaminan sosial telah dibentuk pada tahap pertama, lingkup jaminan sosial terus diperluas dan ini telah memainkan peranan positif bagi peningkatan taraf kehidupan rakyat. Pejabat terkait menunjukkan, Tiongkok ke depan akan menyempurnakan lebih lanjut berbagai sistem antara lain asuransi hari tua, jaminan pengobatan dan jaminan sosial.
Menurut standar PBB, Tiongkok pada tahun 1999 memasuki "penuaan", karena bilangan dasar orang lansia sangat besar dan penuaan akan berlangsung agak lama. Menurut perkiraan, pada tahun 2050, dalam setiap 4 orang Tiongkok ada satu orang lansia. Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial Tiongkok, Yin Weimin dalam wawancara wartawan menyatakan, Tiongkok kini sedang secara bertahap menyempurnakan sistem asuransi hari tua. Ia mengatakan, dalam berbagai jaminan sosial, masalah asuransi hari tua paling menonjol. Kini lingkup sistem asuransi hari tua terutama adalah karyawan perusahaan kota besar dan kecil serta sejumlah pekerja lainnya. Sistem asuransi hari tua pekerja swasta, pekerja freelance, buruh migran dan warga desa sedang dalam penjajakan ujicoba.
Tiongkok pada tahun 1986 mulai menjajaki pekerjaan asuransi hari tua di pedesaan. Walaupun telah dicapai kemajuan yang tertentu, tapi lingkupnya relatif sempit dan tarafnya masih rendah, masih kekurangan pengaturan sistem yang menyeluruh dan tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi dan sosial dan kebutuhan mendesak 800 juta orang petani menjalani hari tua.
Pada tahun 2008, asuransi hari tua masyarakat pedesaan tipe baru mulai diujicoba di seluruh Tiongkok. Ujicoba itu dilakukan menurut cara penyetoran biaya perorangan, subsidi kolektif dan subsidi pemerintah. Berdasarkan pengalaman ujicoba di berbagai tempat, mendorong pembentukan sistem asuransi hari tua masyarakat pedesaan tipe baru. Kini pekerjaan itu telah membangkitkan inisiatif kaum tani untuk masuk asuransi dan telah meningkatkan persentase yang masuk asuransi dan taraf jaminan.
Apakah sistem jaminan pengobatan yang sempurna menyangkut mutu kehidupan rakyat. Wakil Menteri Kesehatan Tiongkok, Yin Li mengatakan, selama beberapa tahun ini, Tiongkok telah membentuk serangkaian sistem jaminan pengobatan dan kerangka sistem jaminan pengobatan pokok telah dibentuk pada tahap pertama.
Kini, sekitar 200 juta karyawan kota besar dan kecil Tiongkok telah masuk asuransi pengobatan pokok dan jumlah warga kota sekitar 76 juta orang. Sampai bulan Juni lalu, jumlah peserta pengobatan gotong royong pedesaan tipe baru mencapai 815 juta orang.
Yin Li menyatakan, sebagai negara berkembang terbesar di dunia, taraf perkembangan jaminan pengobatan Tiongkok kini masih belum dapat mencukupi kebutuhan semua orang. Tiongkok akan mencurahkan tenaga dalam mengubah tidak meratanya distribusi sumber daya kesehatan antara kota dan desa dan antar daerah, mendorong kelompok lemah seperti orang lansia dan kanak-kanak masuk asuransi, dan menggairahkan organisasi masyarakat melakukan kegiatan pengobatan gotong-royong dalam berbagai bentuk dan bantuan pengobatan dari badan amal sosial serta mengembangkan asuransi kedokteran komersial.
Meningkatkan pembangunan hukum yang terkait adalah dasar untuk menjamin pelaksanaan lancar sistem jaminan sosial. Undang-Undang Perburuhan yang diberlakukan Tiongkok pada tahun 1994 pada tahap pertama menegakkan model baru sistem asuransi sosial. Sesudah memasuki abad baru, Tiongkok juga tidak menghentikan proses pembangunan hukum yang terkait.




Tempat Tinggal Makin Sulit Di Tengah Suksesnya Ekonomi Cina
Sabtu, 10 April 2010 14:34 Clarence Chua


Gambar China 3










Setelah puluhan tahun liberalisasi ekonomi, keberhasilan ekonomi Cina tak perlu diperbincangkan lagi.

Meski ekonomi dunia telah melambat dalam keruntuhan keuangan, Cina malah mengelak trend itu dan mengumumkan pertumbuhan ekonominya mencapai 8,7 persen pada tahun lalu.

Tapi sementara peringatan Pekan Buruh Internasional, para pekerja Cina yang disanjung-sanjung dalam ideologi sosialis, kini menghadapi ancaman kapitalis yang berat.

Harga rumah di berbagai kota besar kini meningkat tanpa kendali.

Saking seriusnya masalah ini, Perdana Menteri Wen Jiabo secara pribadi online untuk menghilangkan ketakutan para warga kota yang tak senang dengan keadaan ini.

Seperti dilaporkan Clarence Chua.


Saking populernya, serial televisi Cina berjudul Dwelling Narrowness sudah seperti kultus saja di negeri itu. Kisahnya tentang dua saudara perempuan yang berjuang mencari uang di kota metropolitan khayalan di Cina, setelah mereka lulus dari universitas.

Sang kakak perempuan bernama Haiping dan suaminya, memutuskan untuk menyewa apartemen loteng yang buruk, yang hanya seluas 10 meter persegi. Mereka ingin menabung uang yang cukup untuk membeli apartemen baru.

Tapi segala pengorbanan mereka tak membuahkan hasil, karena harga properti yang membludak membuat impian itu sangat jauh untuk diraih. Sementara itu sang adik perempuan bernama Haizao mengambil jalan pintas, menjadi simpanan pejabat tinggi kantor walikota.

Banyak warga kota baru muda yang mengalami hal yang sama dan menyebut diri mereka sebagai “fang nu” atau “budak rumah” seperti yang dikatakan Haiping.

Luo Ping, 26 tahun, baru-baru ini lulus dari universitas.

“Saya baru mulai kerja, tapi mustahil untuk beli urmah. Mencari uang untuk biaya hidup dan sewa tempat tinggal saja sudah susah. Saya tidak bisa menabung uang yang banyak. Saya merasa sama seperti tokoh-tokoh dalam program TV Dwelling Narrowness.”

Seorang perempuan tua yang berbincang dengan saya sebut saja ibu Wang mengatakan:

“Tentu saja sulit untuk beli rumah. Anda tidak bisa beli tempat tinggal hanya dengan menggunakan tabungan Anda saja. Tidak ada rumah untuk banyak orang, tentu saja mereka khawatir.”

Patrick Chovanec, salah satu profesor Fakultas Ekonomi Dan Manajeman di Universitas Tsinghua menjelaskan keadaan ini.

“Dari sisi pemukiman sedang terjadi satu fenomena unik di Cina. Masyarakat membeli berbagai unit dan tidak menyewakannya kepada siapa-siapa. Mereka menyimpannya seperti tabungan dan ini yang malah meningkatkan harga perumahan secara keseluruhan. Jadi menghalangi banyak orang yang ingin hidup di tempat tinggal memadai. Ini mengubah pasar para pengembang untuk membuat tempat tinggal yang bisa menjadi investasi.“

Sejak Cina mengizinkan kepemilikan pribadi pada 1990-an, harga properti terus melonjak. Dan para pemimpin Cina kini mulai khawatir. Menurut catatan resmi 85 persen penduduk tidak mampu membeli tempat tinggal.

Hampir setengah topik yang akan dibahas pada Sesi Pejabat Tinggi Legislalif adalah masalah perumahan. Jia Kang adalah salah satu delegasi sesi itu dari Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC).

“Bidang perumahan umum, harus diubah. Bagi mereka yang berpenghasilan rendah, menyediakan perumahan murah bagi mereka yang akan mengatasi masalah ini. Dan untuk para orang muda, yang tak akan pernah mampu membeli rumah. Pemerintah harus memastikan ada rumah-rumah yang mereka bisa sewa secara jangka panjang supaya mereka bisa menikah dan punya anak, tanpa takut diusir oleh para penyewa.”

Perdana Menteri Wen Jiabao berjanji akan bertindak untuk menurunkan harga ril estat. Pemerintah sudah campur tangan untuk memperketat pinjaman uang di bank dan mengharuskan pembayaran uang muka sebanyak 40 persen untuk para pembeli rumah. Sejumlah analis berharap akan ada berbagai tindakan untuk membendung permintan tempat tinggal.

Namun, Patrick Chovanec yakin ekonomi Cina masih harus lebih diliberalisasi.

“Sebagian besar tindakan yang mereka lakukan menurut saya hanya menyelesaikan sebagian masalah kecil saja. Satu hal yang bisa mengubah dinamika pasar properti adalah pajak holding properti tahunan. Kalau Anda punya penghasilan yang cukup untuk menyewa rumah atau kalau Anda akan benar-benar menggunakan tempat tinggal itu, maka sebenarnya akan mahal untuk menyimpan rumah itu. Solusi lainnya adalah membuka alternatif bagi masyarakat. Mereka tidak bisa berinvestasi ke luar negeri. Mengembangkan investasi alternatif bakal menggiring orang untuk menyalurkan dana mereka ke hal lainnya ketimbang menumpuknya dalam bidang ril estat.“

Saya bertemu Chen Chilam dan isterinya di rumah mereka yang terletak di jalan lingkar kelima di luar pusat kota Beijing. Sejak ia membeli apartemen berkamar dua lima tahun lalu, harga unitnya telah meningkat empat kali lipat dari harga belinya. Kini ia berencana untuk menjualnya untuk beli satu unit lagi yang lebih dekat ke kota, sebagai satu investasi dan tempat tinggal.

Meski banyak yang membincangkan gelembung properti di Cina, Chilam menjelaskan mengapa ia tidak kecil hati.

“Karena Cina punya penduduk yang besar. Saya yakin ini karena adat Cina bahwa Anda harus punya rumah dulu supaya bisa menikah. Di tempat-tempat seperti Beijing, Anda memerlukan banyak bakat supaya bisa hidup di sini. Ada banyak perusahaan multinasional, jadi permintaannya akan tetap besar. Lagian tempat tinggal seharga 33.000 yuan atau sekitar 40 juta rupiah per meter persegi dekat pusat kota tidak mahal kalau dibandingkan dengan di Hong Kong atau Tokyo. Jadi saya yakin memang akan ada penyesuaian, jadi saya akan terus berinvestasi pada properti. Harga properti akan meningkat sesuai dengan pasar. Anda tidak bisa mengandalkan tabungan saja untuk mengejar hal itu.”

Ketika Cina muncul sebagai negara pengekspor terbesar dan sebentar lagi akan menggantikan Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua, gelembung ril estat merupakan kabar buruk bagi dunia yang masih berupaya pulih dari resesi.

Saya teringat bagaimana Bung Karno dahulu dengan Chinna, dan sekarang saya sangat iri terhadap semangat kehidupan dan keinginannya untuk kebaikan rakyatnya.



Sabtu, 5 Juni 2010.

Kemaren sore sempat untuk membelikan susunya Yasin, dan pagi ini ada perubahan, terlihat Hb nya Yasin naik kembali.

Sekitar jam 13.00 dapat hubungan Hp dari Wahyu di Surabaya yang mengabarkan jikalau mbah Ni Surabaya tadi jam 12.00 siang meninggal dunia, Innalillahi Wa Inalillahi Rojiun, hilang salah satu keluarga, walau keluarga jauh.



Sedikit mengenang Mbah Ni yang meninggal di usia 93 tahun

Seingat saya di usia saya sekitar 8 tahun, saat itu siang hari, cerah, lokasi di rumah Mbah Sahut Sep Kereta Api Stasiun Tempeh Lumajang, tahun sekitar 1964, di rumah Tempeh Kidul, ada seorang wanita di temani wanita lainnya, kemungkinan anaknya, berteriak teriak bergurau dengan Mbah saya mbah Sahut, saya bengong saja, siapa yang berteriak teriak ini, saat itu di halaman depan rumah sedang membersihkan tanaman rumput yang meliar, rumah itu sekarang di huni lik Bambang di Tempeh.

Teriakan wanita itu sangat khas dan bergurau dengan lebar senyumnya, dan ia akan pamit ke Surabaya katanya, dan Mbah saya tertawa dan gembira menerimanya.

Habis sudah.


Kemudian Ceritra itu berulang lagi sekitar tahun 1984, beberapa saat saya telah menyelesaikan ujian Akhir ujian skripsi dan ujian design perancangan design laboratorium kriminal Nusa Tenggara di Bali, ke Sarjanaan Asitektur , saya sempat berkunjung ke Mbah Ni di Surabaya, dan berjumpa di suatu rumah dinas Jawatan Kereta Api Sidotopo Surabaya.
Ada Pak Wardi, suaminya Mbah Yah anaknya Mbah Ni, yang pernah ke Bali saat menikahnya Naning sang adik perempuan, dan ada Mbah Parman ( alm ) juga pernah ke Bali bersama mbah Yah, ada mbah Gino, ada mbah Gono, ada mbah Glundung.

Sekarang para mbah yang masih hidup adalah mabh Yah, Mbah Glundung.

Dengan menurunkan banyak sekali keturunan.

Dan berulang terus setiap menginjakan kaki ke Surabaya selalu mampir ke rumahnya Mbah Ni.










Minggu, 6 Juni 2010.

Sewaktu ke pasar pagi ini sudah terasa kopling sepeda motor ada yang tidak beres, tetapi di perhatikan tidak ada masalah, sampai di pasar juga ngak masalah, hanya saja terlihat pagi ini harga sayuran mulai terasa mahalnya, sepulang dari pasar yang tidak terbeli, biasanya terbeli adalah wortel dan terong ungu, dua barang itu pagi ini terlihat jarang sekali di jual.

Perasaan ini masih terasa sedih se pergiannya mbah Ni menghadap pada Allah SWT, ternyata mbah Ni di makamkan kemaren setelah shalat Ashar.

Saya berdoa pada Allah agar di ijinkan dengan rezeki Nya untuk ke Surabaya.





Senen. 7 Juni 2010.

Tali Kopling Putus

Sewaktu membersihkan motor saat matahari jauh sebelum terbit, langit masih pudar, obat nyamuk dipasang di samping bak pembilasan agar nyamuk pagi tidak mengganggu saat membersihkan motor, dan diperhatikan ternyata klem diatas mesin yang selalu di tarik tarik saat pergantian kopling gigi persneling itu pecah sehingga tali kopling tidak berfungsi, saya akali saya ikat dengan kawat, malahan sewaktu di bawa kekantor jalannya lancar saja sampai dikantor.

Kemacetan pagi hari

Kemacetan di jalan yang sedang di perbaiki di jalan pendakian Gandoang, sehingga saya setibanya di pintu air, ujung dari Taman Buah Mekar sari, dimana di tempat itu terjadi penumpukan kendaraan, berhenti total, sehingga saya belok kanan mengambil jalan kecil dan lurus terus akhirnya masuk ke kiri dan kekiri lagi ketemu jalan besar dan lurus terus ketemu taman buah lagi, tetapi sudah terhindar dari kemacetan tadi.



Selasa, 8 Juni 2010.
Jam 08.15 sudah sampai di kantor, saya sendiri merasa di jalan kok agak sepi, beberapa penjaga keamanan tidak seperti biasanya menjaga di depan perempatan Fatmawati, mendung di langit pagi ini mulai mengental, dan dekat terminal Lebak Bulus berarti didepan kantor hujan rintik sudah menurun, dan masuk kantor masih sepi.

Sewaktu berangkat tadi kemacetan di pengerjaan konstruksi jalan di jalan turun tanjakan Gandoang memang parah dimana kendaraan semuanya berhenti di titik sempit di situ.

Tetapi setelah bertahan dan tersenyum sebentar, jalan terlihat memungkinkan motor untuk meloncat, dan loncatlah saya naik ke beton pengerjaan jalan yang baru selesai separuhnya, sejak kemaren sore mulai di kerkajan di sisi sampingnya sehingga total dari dua arah kemacetan tak bisa di sebut lagi, terjadilah. Sore kemaren sewaktu pulang kantor saya mengambil arah jalan ke kiri dan tembusnya di dinas Sosial panti penanganan anak nakal, jalannya licin dan ada motor yang tergelincir.

Hanya tadi pagi saat mengerjakan jus sayur mendengar warta berita bagaimana para relawan yang datang dari Indonesia mendapat perlakukan yang sangat menghina, setelah mengetahui bahwa relawan itu dtanag dari Indonesia, Israel sangat muak melihat Indonesia, dan di ludahi nya relawan tersebut, sakit hati juga mendengarkan.

Pagi ini hubungan internet jelek, dan macet sama sekali.

Sore hari sempat lari sebentar ke Carefure untuk membelikan Yasin sprei tidurnya yang mulai robek, susu bubuk frisian flag dan sayap ayam.


Rabu, 9 Juni 2010.
Kemaren sore belum pernah sakit seperti ini, memang terasa sehabis shalat Ashar di kantor sewaktu akan pulang, habis kencing kok ada rasa ngak enak, saya tidak memperhatikan, tetapi sewaktu perjalanan pulang, terserang hujan deras di Jalan Kelapa Dua Wetan, disekitar kawasan Cibubur, saat itu saya lagi berteduh memasang plastik hujan tetapi anak muda di bangunan lain terlihat duduk, saya tidak memperhatikan saya pikir ia berteduh kerena hujan juga, tetapi sewaktu saya mulai satu persatu membuka bungkus plastik penyimpanan plastik hujan dan hendak saya gunakan, si punya toko yang saya berteduh di situ , keluar dan setelah berbicara sana sini ia menjelaskan kasian anak muda di siti habis jatuh di jalan depan, kecelakaan tunggal, patah tangan kirinya, mendengar patah saya anggap itu peristiwa serius, dan saya perhatikan si anak muda itu duduk sambil memegang Hp.

Rupanya ia mengubungi ayahnya, dan memang ada taxi berhenti di depan saya sehngga sewaktu motor akan keluar menjadi terganggu kerenanya, rupanya ayahnya datang mirip mas Ajar Sanjoyo almarhum, Cuma agak tingi dan perutnya gendut kecil,
Saya tinggalkan anak muda itu setelah mencoba menyalami ikut prihatin atas derita patah tangan kirinya.

Motor melaju dan memasuki kawasan Cileungsi, dan maju terus akhirnya memasuki kawasan Gandoang di mana jalan lagi di kerjakan siang malam kemacetan pun timbul.

Lolos dari kemacetan dan masuk gang dan maju terus sampai tergelincir segala kerena jalan tanah licin, dan sementara itu hujan tetap turun, tetangga yang telah pulang berteriak pada saya memberutahukan jikalau ia telah pulang terlebih dahulu.

Saya serahkan bungkusan carefure untuk Yasin yang isinya sprei, susu dan sayap ayam, dan saya bergegas ke kamar mandi untuk kencing, lha disini masalahnya, kencing sakit sekali dan habis kencing meninggalkan sakit di prostat, apakah aku terkena prostat, tidak bisa berdiri terpaksa duduk di depan kamar mandi dengan meminta kursi plastik.

Saya ingat tomat sebagai pencegahan pertama untuk gejala prostat, saya minta di cucikan tomat yang memang hari minggu kemaren beli 2 kg, saya makan sampai 2 biji tomat sambil duduk, dan terasa enak hingga ke dasar duduk dalam di saluran kencing bawah dalam.

Kemudian baru berani makan kacang ijo dan teh hangat yang di siapkan untuk saya pulang dari kantor kehujanan.

Maghrib pun tiba, setelah itu langsung makan malam setelah itu membuka buku sakti perihal jus sayur, dan disana di uraikan gejala cistis radang air kemih, sebab mencari judul prostat kok ngak ada, dan jus sayur yang di tonjolkan di situ adalah, Saledri, wortel, terong ungu, dan memang barang itu ngak terbeli kemaren sebab stok di pasar juga jarang di jual, istri cepat membeli di warung dan sesampainya di rumah di tambai dengan mengkudu, ketimun, bawang putih, semuanya di blender dan diperas, minum, istirahat sebentar.

Akhirnya tertidur setelah minum dua gelas jus sayur radang cistis atau radang air kemih, jam 23.00 ada bangun sedikit dan kencing sebab ada rasa ngak enak untuk menahan air kencing, kemudian minum lagi dan jam 01.00 bangun lagi untuk kencing dan minum, dan kali ini saya tidak meminum lagi sebab biar ngak kencing, dan betul juga, jam 04.00 baru bangun untuk shalat Tahajud dan shalat shubuh.

Badan sudah lupa sakitnya, pagi hari ini tetap membuat jus sayur dengan campuran terdiri dari : mengkudu, ketimun, wortel, daun mengkudu, buncis agak banyak sampai 550 gram, tomat 5 butir, lobak putih, minum sampai tiga gelas.

Jam 06.30 persiapan kekantor, sakit semalam sudah lupa, dan jam 07.00 motor hidup berangkat lagi menempuh hujan gerimis yang sedikti men jengkel kan, pagi- pagi hujan.

Kemacetan tidak terjadi, dan pikiran sepenuhnya teringat akan janji akan mengirimkan uang buat Yatim Piatu Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang kemaren saat shalat Dzuhur , utusan pencari dana Yatim Piatu ada datang ke masjid dekat kantor di mana saya shalat di sana.

Saya telah mencatat nomer rekening bank Muamalat, dan sewaktu lewat di Cikeas ada bank Muamalat di situ, saya menyetor uang untuk anak Yatim.

Sempat numpang kencing di Bank Muamalat, dan keluar dan melihat ada toko menjual aki motor, beli aki motor Rp 100 000,- aki kering, di ingatkan oelh tukang aki setelah memasang aki motor untuk membelikan sekali gus lampu seins yang pecah.

Motor hidup lagi dan maju terus, sampai di pertigaan Cibubur sewaktu ketemu jalan Jakarta Bogor lama, ada bengkel Saudara ( namanya ), dan disana perbaikan kabel dan lampu seins ditunggu sampai lama 2 jam di tempat itu memperbaiki kabel dan sisiti lampu dan hidup Rp 115 000,-

Tapi celakanya setelah keluar dari bengkel dan tiba dekat kantor malahan lampu depan ngak hidup, mungkin pengaruh dibuka kabel kabel depan tadi.


Kamis, 10 Juni 2010.

Hampir Maghrib, ternyata Yasin datang dari sekolah sore hari ini dalam ke adaan suhu badannya panas, dan sebelum terjadi apa- apa, saya perintahkan semua yang ada di dalam rumah keluar membawa senter, sebab di luar sudah mulai menggelap rembang petang, untuk mencari daun meniran, seperti sudah sifatnya, menjelang malam itu semua daun meniran tidur, pada kuncup, dan syukur dapat se genggam lalu di masak dan di minumkan ke Yasin.


Shalat Maghrib berjalan lagi. Tidak ada makan malam sebab perut masih terasa ada isi sebab makan tadi sore jam 15.30 dengan lauk lele dan yang terbanyak adalah kulub daun singkong, dan sambalnya sambal kacang, enak bener.







Jumat, 11 Juni 2010

Pagi ini Yasin dalam keadaan stabil lagi.

Shalat Jumat yang penuh dengan doa untuk kesehatan Yasin, di masjid hijau yang pengantar khotbanya bahasa arab semua.

Jam 14.00 sempat ke Carefure membelikan pesanannya Fifi antara lain, Syrop, Fanta, Ikan Bandeng, Ikan Kembung, Roti Tawar, yourgut, Mentega, keju lembaran, sabun cair cuci piring, kecap, tisue.











Minggu, 13 Juni 2010.


Ke pasar pagi ini lancar saja, hanya saja pengeluaran ke pasar hari ini di tambah, saya sendiri membawa Rp 90 000,- sedangkan istri skalanya Rp 50 000,- tujuannya adalah untuk membeli bahan- bahan persiapan bulan puasa yang masih jauh, tetapi bersiap sajalah, seperti pembelian kacang ijo ½ Kg seharga Rp 7 500,- harga kacang ijo ini naik melulu, beberapa minggu yang lalu masih Rp 13 000,- se kilonya tetapi sekarang sudah Rp 15 000,-

Kemudian membeli gula merah seharga Rp 9 500,- se kilonya dan ketan hitam ½ Kg Rp 5 500 ,-

Tetapi ada kecewa senilai Rp 27 000,- untuk membeli ikan di pasar sebab ternyata ikannya di beri bahan pengawet mayat, Formalin, padahal saya sudah hati- hati, dan sempat menanyakan kepada penjual ikan dan si penjual ikan dengan lidahnya sendiri mengatakan tidak, saya Cuma ingin mendengar apa yang di ucapkan dari lidahnya saja sebab akan di nilai secara hukum oleh Allah.

Dan betul juga Maghrib saat makan malam istri susah bernafas ada rasa sesak di dadanya, saya berfikir terjadi pengecilan lobang trakea atau lobang saluran nafas, tetapi tidak biasanya.

Sibuklah mencari buku panduan dan semuanya mengacu kepada permasalahan lambung, dan saya khawatirkan ikan yang mengandung formalin dan ternyata begini akibatnya.




Senen. 14 Juni 2010.


Jam 03.00 bangun saat akan persiapan melakukan ibadah shalat ma;lam dan di lanjutkan sahur untuk menyambut hari Senin yang selalu di iringi dengan puasa.

Saat mana istri sudah stabil keadaannya, saat duduk menghabiskan waktu beberapa menit menunggu saat kumandangnya adzan shubuh, dimana makan sahur yang cukup enak dengan lauk ikan asin di goreng dan tomat bundar mentah di makan begitu saja, asinnya ikan asin di tambah enaknya buah tomat sehingga asinnya menjadi enak, ngak sengaja tambah makan sahurnya.

Sewaktu duduk- duduk menunggu adzan shubuh itu semua merenung kepada peristiwa tadi malam saat istri kok mendadak sesak nafas, kalau begitu ikan kepala kakap yang di jadikan soup ikan di buang saja senilai Rp 13 000,-

Baru terasa kalau penduduk Bangsaku ini adalah umat yang tidak di lindungi oleh negara, sebab baru beberapa hari yang lalu mendengar warta berita radio belanda yang menceritrakan bagaimana polisi desa di Bangladesh bisa membuang buah- buah di pasar buah di perdesaan Bangladesh jikalau diketahui para pedagang menggunakan Karbit untuk mempercepat proses penguningan atau pemasakan pada buah, dan si pedagang di kenakan denda yang cukup tinggi sehingga menghacurkan ekonomi si pedagang, maka pedagang Bangladesh tidak berani mencoba- coba menjual buah yang di karbit.

Lha bagaimana di Indonesia, buah di karbit seperti sudah lazim, tidak masuk dalam skala tindak kriminal, penipuan, apalagi sekarang membeli ikan di pasar Cileungsi kemaren pagi sampai malam harinya istri sesak nafas, pemerintah tidak tahu. Dan saya bagaimana apakah musti ke polisi, polisi akan bekerja berdasarkan aspek hukum tetapi ada dasar hukumnya ngak.

Di kantor saya sempat menghubungi Disan Kesehatan Kabupaten Bogor, tetapi nomer telepon yang ada hanya bernada panggil saja tanpa ada yang mengangkat telepon tersebut.

Carut marutnya negeriku, kalau begini sangat susah untuk majunya bangsa ini, sedih juga sih.

Mengendarai motor menuju ke Departemen untuk mengembalikan buku di BPJT, buku yang di pionjam sudah sebulan rasanya di tanganku, melintas di Kebayoran lama, dan masuk kompleks kantor tetapi ngak berhenti sebab BPJT telah berpindah lokasi sekarang ada di depan Pasar raya Grande Blok M, proses pengembalian lancar saja, dan pulang menuju ke departemen kembali dengan parkir motor di wilayah Inspektorat Jenderal Dep PU, kemudian berjalan kaki menuju masjid Al Azhar untuk menyerahkan sodaqoh, setelah di iringin dengan doa sodaqoh, masjid itu saya tinggalkan, dan berjalan memasuki halama departemen, kerena melihat Bank Mandiri masih sepi saya langsung masuk sebentar untuk mencetak buku tabungan, kemudian menaiki ke lantai V untuk ke Penataan Ruang Wilayah V.

Buka puasa di rumah.





Selasa, 15 Juni 2010.

Tyasnya minta uang Rp 700 000,- dengan rincian Rp 500 000 PKL dan Rp 200 000,- untuk membeli kamus Bahasa Jepang.


Rabu, 16 Juni 2010.


Hujan sudah mewarnai hari ini sejak pagi sekali, motor sudah di bersihkan, lampu sein kanan depan sudah di ganti, pokoknya sudah siap berangkat, kemaren sore sewaktu acara pulang kembali rewel rantai belakang, rantai belakang naik ke puncak gir belakang, dan ini sudah berkali- kali kejadian, seharusnya harus di ganti, hanya saja mencari yang tidak palsu yang tidak menimbulkan kejengkelan saja yang susah.

Untungnya pagi ini dapan yang asli dan Murah seharga Rp 145 000,- satu set rantai dengan merek indopart.

Tambah pasang baut belakang 4 biji seharga Rp 15 000,-
Motor sudah enak lagi di kendarai, bengkel nya di bengkel Saudara Motor yang tempat memperbaiki lampu sen dan lampu belakang beberapa minggu yang lalu.

Ini ada berita :

Kapolri: Rp 60 Miliar Disita dari Gayus

By Ismoko Widjaya, Eko Huda S - Selasa, 15 Juni

VIVAnews - Markas Besar Polri menyita uang tunai Rp 60 miliar dari tersangka kasus pajak Gayus Tambunan. Uang itu akan dijadikan barang bukti untuk kasus dugaan korupsi.
"Telah disita uang tunai sekitar Rp 60 miliar yang dilakukan Direktur III Polri di safety box dari Gayus," kata Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dalam acara sarasehan Ulang Tahun Purnawirawan Polri ke-11, Jakarta Selatan, Selasa 15 Juni 2010.
Menurut Kapolri, penyitaan dilakukan Direktorat III Tindak Pidana Korupsi pada Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim). Pengusutan masalah korupsi dalam kasus Gayus itu dilakukan setelah kasus dugaan mafia hukum sudah tuntas.
"Penyidikan kasus Gayus sudah hampir selesai untuk kasus mafia hukumnya. Sekarang soal masalah korupsinya sedang ditangani Direktur III Bareskrim," kata Bambang Hendarso.
Saat ini, kata dia, barang bukti uang tunai Rp 60 miliar itu ada di tempat yang aman. Polri juga akan mencari tahu apakah barang bukti uang cash itu juga terkait kasus dugaan pencucian uang.
"Akan didalami apakah ada kaitan dengan money laundering dan lain-lain. Dan itu akan dijadikan barang bukti," ujar Bambang Hendarso. (adi)
Saya membayangkan uang Rp 60 000 000 000,- jangankan segitu, yang hanya Rp 60 000,- saja bagi saya sudah bisa minta bengkel untuk service lengkap motor saya, tetapi nanti yang sering yang saya perhatikan kalau polisi menyita sabu, menyita narkotika, menyita uang, jumlahnya pasti berkurang, coba perhatikan sejak sekarang.

Sebab saya ingat katanya Gus Dur almarhum sewaktu jadi presiden dahulu , polisi adalah yang paling tahu soal kejahatan, bisa juga dia jadi penjahatnya dan bisa juga dia jadi pemutus mata rantai kejahatan.




Kamis, 17 Juni 2010.


Berangkat dari rumah hujan sudah turun merintik, baca doa terus sepanjang jalan, Astari nya ikut sampai ke sekolahannya, lumpur dan basah celana, sebelum berangkat saya sengaja memberi baut pada penangkap lumpur di roda depan kok sekarang malahan celana saya kecipratan lumpur jalan.
Pasti ada yang ngak beres.


Membuat Draft Tulisan buat Diskusi untuk Pak Kuat.

Kota dan Ekonomi Hijau

Oleh : Ir H Siswoyo Seputro.

MENGAPA EKONOMI HIJAU DAN PERKOTAAN

Iklim perubahan telah pindah dari ilmiah secara teori untuk menjadi kenyataan.Pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia bergerak cepat untuk mengurangi gas rumah kaca emisi, dengan harapan bisa menangkal sesuatu yang paling menghancurkan dampak dari perubahan iklim secara dramatis. Tidak kecuali di Indonesia perubahan iklim pun telah secara perlahan mengurangi luasan lahan penduduk pinggir pantai di Brebes, Tegal dan Semarang. Lhok Gleumpang Aceh Jaya, dan kelupalauan Indonesia lainnya, Sampai sekarang dirasa perlu adanya suatu tindakan nyata untuk menahan laju dampak pemanasan global, suatu luasan yang sangat menentukan pemanasana global adal luas suatu wilayah perkotaan, dan dimana kota pun hingga kini masih merujuk konsep sebagai generator economic wilayah sekitarnya, sehingga perlu lah di pikirkan bagaimana ekonomi hijau wilayah perkotaan bisa mengurangi pemansan global.
Negara bisa membuat suatu konsep menahan lajunya gas rumah kaca dengan berlandaskan dari rencana jangka panjang. Program ekonomi hijau Indonesia yang bagaimana yang bertujuan untuk tiga tujuan yaitu : dengan investasi ini: cepat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan lingkungan wilayah perkotaaan dan meningkatkan penduduk yang berpenghasilan rendah Ekonomi hijau.

Kota jangan menunggu tindakan dari pemerintah pusat untuk memulai mengubah diri menjadi hijau yang sustainable, semangat untuk mencapai emisi gas rumah kaca yang paling rendah, dan untuk membangun lebih sehat, bersih, lebih lingkungan berkelanjutan.
Kota-kota, tampaknya, telah melihat masa depan, dan mereka menyepakati untuk tetap memelihara green economic dalam pengembangan kotanya dalam konsep pengembangan wilayahnya.



BISNIS PERKOTAAN PERLU MENERAPKAN ASPEK EKONOMI HIJAU.

Di tengah sulitnya kondisi perekonomian, persaingan usaha dan manajemen sebuah perusahaan di perkotaan mungkin akan tergoda untuk mengesampingkan masalah keberlanjutan (sustainability) dan Ekonomi Hijau (green economic) Semua upaya difokuskan agar perusahaan dapat bertahan hidup dalam kondisi pasar dimana permintaan menurun dan biaya keuangan semakin tinggi.

Akan tetapi, justru di saat sulit seperti inilah perusahaan membutuhkan pemikiran yang kreatif dan non-konvensional. Hal ini berarti mencari cara yang belum terpikirkan sebelumnya untuk mengurangi biaya serta memperoleh posisi di pasar yang dapat membedakan perusahaan dari para pesaingnya.

Oleh karena itu, sustainability sebuah perusahaan ‘tidak hanya’ terbatas pada memperhatikan dampak dari operasi perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. Sustainability dan Green Economic adalah sebuah pendekatan terpadu terhadap kinerja perusahaan di bidang lingkungan, sosial dan ekonomi karena ketiga aspek tersebut saling terkait satu sama lain. Berfokus pada salah satu aspek saja tanpa menghiraukan aspek-aspek lainnya sama seperti mengemudi dengan hanya melihat jalan tanpa menghiraukan rambu-rambu jalannya.



Perilaku lama memang sulit diubah, dan agar perusahaan dapat memperluas pandangan mereka akan lingkungan bisnis mereka, kita perlu membuang lima mitos lama mengenai green economic.

Mitos 1: Green economic berkaitan dengan masa depan, bisnis berkaitan dengan masa kini

Green Economic harus menjadi bagian integral dari perencanaan jangka pendek dan perancangan strategi jangka panjang sebuah perusahaan. Krisis ekonomi global telah membuat masyarakat menjadi lebih curiga terhadap perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang mengabaikan norma-norma sosial akan kehilangan niat baik dari para konsumen, pekerja dan pihak regulator. Dalam sebuah artikel yang baru-baru ini diterbitkan oleh The Economist, secara mengejutkan diungkapkan bahwa krisis yang terjadi baru-baru ini telah membuat konsumen lebih kritis tentang standar-standar Green Economic yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk-produk yang mereka beli.

Salah satu contoh dramatis dari perusahaan yang mengabaikan sinyal-sinyal pentingnya masalah Green Economic ini adalah tiga manufaktur mobil besar di Amerika. Perusahaan-perusahaan ini merancang mobil berdasarkan asumsi bahwa ada sejumlah besar cadangan minyak bumi dan bahan-bahan mentah yang tersedia dan dapat digunakan. Mereka kehilangan daya saing mereka saat harga bahan bakar melambung tinggi di tahun 2005, sebuah refleksi dari semakin menipisnya cadangan sumber daya alam dunia. Saat krisis terjadi, dalam jangka waktu yang singkat konsumen memilih mobil-mobil yang lebih irit bahan bakar. Para perusahaan manufaktur mobil di Amerika tidak memiliki cukup waktu untuk merespon tren ini dengan rancangan-rancangan mobil yang baru. Perusahaan-perusahaan ini sekarang berada di ambang kebangkrutan, bukan karena krisis ekonomi yang terjadi, melainkan karena mereka gagal menangani masalah Green Economic beberapa tahun sebelumnya.

Mitos 2: Upaya untuk Lingkungan dan Masyarakat hanya Membuang-buang Uang Saja

Mengurangi sampah seringkali berarti mengurangi materi juga. Tentunya hal ini membutuhkan pemikiran dan perencanaan tapi pada akhirnya perusahaan dapat mengurangi input materi mereka.

Contoh-contoh yang paling mengesankan tentunya dapat ditemukan di perusahaan-perusahaan besar, seperti misalnya program Sky Eco 2010 Japan Air Lines (JAL). Salah satu fokus dari program ini adalah peningkatan efisiensi bahan bakar dari armada JAL. Melalui berbagai upaya seperti peremajaan armada dengan pesawat-pesawat baru yang lebih irit bahan bakar, penggunaan perangkat makan dan wadah kargo yang lebih ringan, pengurangan air dalam pesawat, dan pengukuran jumlah bahan bakar yang perlu dimuat dalam pesawat secara lebih akurat, serta pengurangan penggunaan cat di badan pesawat, Grup JAL memperkirakan telah berhasil mengurangi emisi CO2 nya sebesar 76 ton per tahun di seluruh JAL Group .

Penjualan hak emisi gas rumah kaca juga dapat memberikan tambahan pendapatan yang substansial bagi proyek-proyek penghematan energi atau pengembangan energi bersih. Di tahun 2008, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Menjadi perusahaan pertama di Asia Tenggara yang menerima Sertifikat Penurunan Emisi (CER) dari program pertukaran karbon yang disponsori oleh PBB. Indocement memiliki dua buah proyek CDM yakni Proyatek Semen Campuran (blended cement project) untuk menghasilkan Portland Composite Cement (PCC) dan Proyek Bahan Bakar Alternatif. Kedua proyek ini diharapkan dapat mengurani emisi karbon sebesar 6-7 juta ton CER antara 1 Januari 2005 – 2012. Di bulan Juni 2008, Indocement menerima pembayaran pertama dari Bank Dunia senilai US$ 40.303 setelah dipotong biaya untuk persiapan proyek. Pendapatan tambahan dari penjualan emisi gas rumah kaca bisa bernilai ratusan ribu dolar per tahunnya.


Mitos 3: Green Economic cuma untuk perusahaan besar saja, bukan untuk perusahaan kecil

Green Economic dapat diterapkan oleh perusahaan besar maupun kecil, bahkan dapat diterapkan oleh individu. Kantor yang kecil pun menghasilkan lembih, dan mereka menggunakan kertas, listrik dan air. Dengan cara-cara yang relatif sederhana, mereka dapat secara substansial mengurangi penggunaan kertas, listrik dan air. Pencarian sederhana melalui Google tentang ‘pengurangan limbah kantor’ dapat menghasilkan banyak sekali dokumen dengan checklist dan tips yang dapat digunakan oleh kantor-kantor. Kita dapat memulai dengan hal-hal yang sangat sederhana, seperti melakukan setup pada komputer agar dapat mencetak bolak-balik. Selain itu, penggunaan listrik dan air pun dapat dikurangi dengan mengkampanyekan perubahan perilaku. Hal yang penting untuk menjamin kesuksesan kampanye semacam ini adalah pernyataan dari manajemen tingkat atas akan pentingnya perubahan perilaku tersebut dan pemberian contoh yang benar lewat perilakunya sendiri. Kedua, salah satu manajer di kantor harus ditunjuk sebagai ‘manajer Green Economic’ dan bertanggung jawab untuk merencanakan serta memonitor tindakan-tindakan untuk mengurangi pemborosan dan menghemat biaya. Kemunduran ekonomi yang diprediksi akan terjadi tahun ini, menciptakan kesempatan bagi kita untuk melakukan hal ini. Daripda mengurangi jam kerja dan gaji, apalagi memberhentikan pegawai, kita dapat menugaskan sejumlah orang untuk menjalankan program pengurangan sampah dan penghematan biaya.

Proses berpikir ini juga membawa manfaat lain yang lebih penting daripada sekedar penghematan biaya. Berpikir mengenai memperbaiki kinerja Green Economic di bidang lingkungan hidup dan sosial masyarakat menstimulasi suatu aspek yang krusial bagi kelangsungan hidup jangka panjang sebuah perusahaan, yakni inovasi.

Satu contoh adalah upaya yang dilakukan oleh PT Intaran Indonesia, sebuah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Membina Api Cinta Kasih (YMACK), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Denpasar, Bali, Indonesia. Perusahaan ini menanam dan membudidayakan pohon Neem serta mengembangkan pupuk dan pestisida organik dari pohon Neem secara komersil dan berkelanjutan, bekerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat di Bali, Lombok dan Sumbawa. Produk-produk PT Intaran sekarang dijual ke pasar-pasar di dalam dan luar negeri. Untuk pasar di luar negeri, produk-produk mereka umumnya dijual ke Jepang, Belanda dan Australia. Sementara di dalam negeri, produk-produk mereka banyak digemari oleh ekspatriat dan turis luar negeri yang menyukai produk-produk organik, sejumlah hotel di Bali dan Jakarta dan komunitas pertanian organik di Bali, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Dengan sumber daya alamnya yang kaya, Indonesia sendiri masih memiliki banyak peluang lain untuk mengembangkan produk-produk semacam ini.

Mitos 4: Green Economic adalah milik negara maju, negara berkembang tidak mampu melakukannya
Negara-negara berkembang bekerja keras untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi para penduduk mereka. Mereka berpikir bahwa masyarakat tidak peduli dengan hal-hal lain di luar pekerjaan dan makanan. Mereka juga berdalih bahwa negara-negara industri telah menciptakan dampak lingkungan yang lebih besar dan negara-negara tersebut tidak boleh menghalangi negara-negara yang belum maju untuk berkembang dengan dampak yang sama terhadap lingkungan.

Seringkali, pendekatan ini kurang memanfaatkan teknologi serta kemampuan sumber daya manusia yang sudah ada untuk menciptakan perusahaan yang dapat menciptakan banyak lapangan pekerjaan serta di saat yang sama menggnakan sumber daya alam secara efisien. Setelah mitos bahwa Green Economic hanya membuang-buang uang dan tidak menghasilkan uang kita patahkan, jelas bahwa Green Economic dapat dilakukan baik oleh negara maju maupun negara berkembang.

Atau, dengan kata lain, negara-negara berkembang harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk membiayai pelayanan kesehatan dan pemukiman jika mereka tidak mengatasi ancaman-ancaman lingkungan hidup seperti polusi, banjir dan tanah longsor. Sejumlah besar dana juga tersedia dari lembaga-lembaga donor internasional untuk membantuk mencari dan mengimplementasikan solusi yang terbaik bagi masalah-masalah tersebut.

Mitos 5: Pelanggan tidak peduli soal sustainability, mereka hanya mencari harga termurah

Sepertinya sulit untuk membayangkan, khususnya saat kondisi perekonomian sulit, tapi konsumen mulai berubah. Mereka merasa lebih bertanggung jawab atas peranan mereka dalam meningkatkan kondisi lingkungan hidup dan sosial masyakarat di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan yang mengekspor barang-barangnya ke Eropa, Jepang dan Amerika Utara khususnya harus memperhitungkan aspek perilaku konsumen semacam ini.

Sebuah studi yang dilakukan oleh National Geographic dan perusahaan polling internasional GlobeScan baru-baru ini mengenai pola konsumsi berkelanjutan di 14 negara (www.nationalgeographic.com/greendex) mengungkapkan bahwa sebagian besar negara lebih memilih konsumsi yang berkelanjutan dibandingkan dengan harga termurah. Yang mungkin lebih mengejutkan adalah konsumen di negara-negara berkembang cenderung untuk lebih menghargai Green Economic ketimbang konsumen di negara-negara maju. Sebuah penelitian yang dilakukan di tahun 2006 oleh Divisi Penelitian Manajemen Lembaga Manajemen PPM di Indonesia menemukan bahwa walau konsumen menganggap kualitas/merk suatu produk sebagai faktor yang paling penting, konsumen mengganggap tanggung jawab sosial perusahaan sebagai faktor terpenting kedua.

Selain itu, kita melihat semakin banyak perusahaan-perusahaan yang memimpin inisiatif di bidang pembangunan berkelanjutan. Dewasa ini semakin banyak pembeli, khususnya dari pasar-pasar utama seperti di Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang menuntut adanya verifikasi hutan berkelanjutan atau pembalakan legal oleh pihak ketiga. Dutch Home Cooperatives (yang memiliki sejumlah besar rumah di Belanda) misalnya menandatangani komitmen untuk membangun 100,000 rumah dengan hanya menggunakan kayu yang disertifikasi oleh FSC.

Perusahaan seharusnya tidak melihat Green Economic sebagai suatu ancaman ataupun beban. Green Economic merupakan sebuah perkembangan yang terus berlanjut yang menawarkan ide-ide dan peluang baru kepada perusahaan untuk merangsang inovasi, meningkatkan hubungan dengan masyarakat setempat, meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta membedakan perusahaan tersebut dengan para pesaingnya di pasar yang sangat ketat persaingan. Jika ditangani dengan benar, Green Economic dapat menjadi sebuah berkah yang tersamarkan.



Jumat, 18 Juni 2010


Kemacetan yang cukup panjang setelah menurunkan Fifi di depan sekolahannya di Desa Gandoang Cileungsi, pembangunan jalan memang sedang di bangun, sehingga banyak kendaraan yang harus antri untuk masuk kejalur.



Minggu, 20 Juni 2010.

Ke pasar pagi ini, harga sayuran yang cukup melonjak adalah buncis sekilonya mencapai harga Rp 10 000,-, terong unggu di banyak tempat sudah ngak terlihat berarti sudah mahal, kalau barang mahal bisa di lihat dari sedikitnya para pedagang yang berjualan barang tersebut, ada barang tetapi penjualnya sedikit berarti harganya tinggi.





Senen. 21 Juni 2010.

Sewaktu menjumpai pak Kuat di meja kerjanya, Pak Kuat berceritra jikalau telah berjumpa dengan Pak Eko Budiharjo Semarang, dan Pak Eko Budiharjo sanggup membuat kan peper masalahan Ekonomi Hijau, dan rencana pak Kuat adalah semua peper itu akan di bahas, termasuk peper dari saya dan nanti akan di buatkan kerangka acuan untuk mempromosikan bantuan dari Jerman.



Selasa, 22 Juni 2010.

Sibuk dengan usulan pak Kuat agar saya ikut Penulisan Infrastruktur, dua judul yang di usulkan adalah :

1. Kerawang, Infrastruktur membebaskan Kerawang dari Banjir.
2. Infrastruktur Menghilangkan kematian mudik lebaran




Kamis, 24 Juni 2010.

Kerena informasi kemaren sore untuk rapat persiapan berangkat ke Semarang maka hari ini harus masuk kantor.

Setibanya di kantor sekitar jam 09.00 lho kok lampu PLN padam semua, kantor hanya di gerakan generator emergency.

Putuskan untuk mengikuti rapat pembahasan dengan para Duta Besar di Senayan.

Berangkat ke Senayan.

Tiba di lapangan parkir kepolisian Senayan sekitar jam 09.35.

Setelah melepas jiket dan meletakan helm, berjalan menuju Jakarta Convention Centre, sangat dekat sekitar 100 meter. Memang pos kepolisian ini khusus untuk pengamanan preseiden kalau lagi berkunjung.

Ada dua pameran, di pintu masuk pertama ada pameran coating.
Dan Pameran Industri Kreatif Indonesia di pintu berikutnya.

Langsung memeriksakan isi tas sebagai langka keamanan dan langsung menuju Cendrawasih 2 khusus Dialog dengan para Duta Besar.

Jam 10.10 acara di mulai, Pembicara pertama Duta Besar Korea Selatan, Diikuti dengan Duta Besar Kolombia, dan Duta Besar Italia dan terakhir Duta Besar Mesir.

Semua negara sangat menjujung nilai ketradisionalannya, terutama Korea Selatan yang sangat miskin sumber daya alam, ettapi mampu membuat Film yang pasarannya tingkat Dunia, belum lagi industri Game Computer, jangan di anggap enteng game permainan komputer ini sangat mendukung pemasukan negara dari sektor industri kreatif.

Italia, sangat cerdas dalam memanfaatkan keahlian taste di bidang seni, dan Negara sangan mendukung, Mesir sangat mendukung rekayasa teknologi dari keberadaan raja Firaoun, kerena ada Firaoun maka ada piramida dan spink dan di kunjungi sekian banyak manusia.

Saya merasa negara Indonesia harus berlaku banyak pembinaan budaya bangsa.

Tetapi ada sedikit pemikiran liar saya yang menyatakan bahwa semua para duta besar tersebut bekerja tetapi tidak berjuang, sebab kalau berjuang pastinya sudah menghasilkan sesuatu yang cemerlang, kalau hanya bekerja ya normatip.



Jam 15.00 masuk lagi kekantor Pasar Jumat.
Kepastian berangkat setelah Bangkit memberikan uang perjalanan dengan penginapan hotel segala sore ini.

Saat mana akan maghrib tiba.

Tiket berangkat sudah di belikan dengan penerbangan pesawat Sriwijaya Airlines.

Sewaktu pulang ganti sepatu, sepatunya pak Marsudi, barangkali samapi kebawa ke Semarang, tetapi saat shalat mahgrib di masjid kantor pajak di Simatupang, dan sewaktu melewati depan pol Mayasari bakti, di tempat gelap itu, mencoba menawar sepatu yang di jajakan orang tanpa penerangan.


Membeli sepatu







Saya hanya mengucapkan ada nomer 42, ada katanya, dan saya coba, tetapi harganya belum cocok.

Akhirnya saya pindah kekanan, dan di tempat gelap itu akhirnya dapat membeli sepatu, menggunakan uang jalan ke Semarang, kemudian hujan lebat datang menyerang, saat shalat isya di masjid kecil di jalan terusan dari susu indomilk ke kelapa dua wetan, ujung sepatu kanan kaki terkait dengan rel pagar pintu masuk masjid yang terangkat ( mangap bahasa jawanya ), kaki terkunci, motor akan maju mesin hidup, kalau di majukan kaki bisa terkilir patah, cepat saya matikan mesin, dan atur persenelingnya dan saya netralkan dan sepatu bisa dilepas, dan kaki selamat.

Setibanya di rumah suasana sudah malam, hujan sudah redah, sepatunya pak marsudi yang coklat yang dari kulit basah kuyup.

Dari uang perjalanan dinas 3 hari sebesar Rp 900 000,- ini dapat menyisihkan uang untuk bulanan nya Tyas Kuliah di Bali sebesar Rp 600 000 , Untuk anak Yatim Rp 100 000,- dan sisanya sangat sedikit untuk bekal uang jalan sebab perjalanan ini merupakan kabulan doa beberapa hari yang lalu sewaktu mbah Ni meninggal dunia hari minggu.






Jumat, 25 Juni 2010

Pagi hari jam 03.00 sudah bangun dan secepatnya mengerjakan shalat tahajud setelah itu mulai mempersiapkan pakaian, dan menunggu saat shalat shubuh, setelah makan pagi, shubuh juga belum datang terpaksanya berani memutuskan untuk shalat shubuh di jalan, sambil ber modalkan lembaran koran.

Naik ojek ke depan, hari gelap, shubuh saja belum datang, dan setibanya di pertigaan Gandoang sudah muncul angkot, langsung naik, dan disini dekat kampung sawah, melihat di masjid ada orang yang shalat shubuh berjamaah, berarti sudah masuk waktu shalat.

Setelah tiba di perempatan Cileungsi, sudah agak ramai, berarti orang ini semuanya telah mengerjakan shalat shubuh, dan saya berlari mendekati perempatan untuk memastikan masih adanya pos polisi di sana ternyata pos polisi nya telah pindah, maksudnya di pos polisi itu ada tempat shalat kecil untuk darurat. dan secepat ke tengah perempatan di bawah jalan tol, dan mulai menggelar koran dan shalat shubuh di pinggir jalan, wudhu sudah terjaga sejak dari rumah.

Ada sih tukang beca yang memperhatikan tetapi ia pastinya sudah maklum akibt mendesaknya waktu.

Angkot 121 berangkat dari Cileungsi ke Kampung Rambutan. Jam 05.30 tiba di Kampung Rambutan, mulai menurunkanpenumpang dan berhenti dan berjalan lagi, setelah turun berjalan cepat menuju tempat parkirnya bus Damri yang menuju Bandara.

Jam 05.40 naik bus Damri, sebagai orang pertama yang naik di sesi ini sebab berarti bus sebelumnya telah berangkat beberapa waktu lalu.

Jam 06.20 Bus mulai berangkat dengan muatan penuh menuju ke Bandara, ini hari Jumat diperkirakan sedikit banyak ada kemacetan lalu lintas.

Jam 07.00 sudah di pintu tol keluar Bandara Sukarno Hatta, dan bus mulai memasuki satu terminal ke terminal lainnya, di masukin pertama adalah terminal Garuda, kemudian Mandala, kemudian Lion, kemudian Sriwijaya, turun dan di bawa antrian orang naik pesawat luar biasa banyaknya.

Maju perlahan- lahan dan akhirnya tiba giliran saya memasuki airport, dan langsung di dalam bertanya dimana Sriwijaya, ternyata penerbangan ini hanya mempunyai 2 meja di bandingkan banyak meja untuk Batavia airline.

Kemudian menaiki anjungan untuk mulai memasuki gate F.

Aroma makanan dari kiri kanan lounge sangat menggoda, dan setelah memasuki lorong panjang dan mendaftar kedatangan di tempat pintu masuk gate F, langsung turun kebawah untuk mengerjakan shalat Dlhuha.

Setelah itu mulai duduk manis di deretan duduk yang telah di sediakan sambil mendengarkan kapan di umumkan kapan pemberangkatan ke Semarang di mulai, sambil makan kue yang di bawa dari rumah. Sementara di depan saya terlihat wajah semarang dua orang gadis yang sedang sarapan dengan satu roti.


Saat berjalan di lorong memasuki pesawat, saya berada di urutan ke dua, sebab sebelum di panggil saya sudah berdiri di samping pintu sambil mengukur beberapa menit lagi pasti pemanggilan di mulai.

Akhirnya jam 08.00 di panggil untuk penumpang ke Semarang.

Duduk di tengah, sedang dua kursi di kiri saya kosong, tetapi saya yakin dua kursi inipun ada penduduknya. Akhirnya datang juga penghuni dua kursi kosong di sisi kiri saya, ternyata dua orang gadis yang makan satu roti di ruang tunggu tadi.



Pesawat itu cukup lama antri untuk memasuki runway, sebab pagi ini memang cukup banyak pesawat yang akan berangkat dan yang turun.

Lautan awan menutup pemandangan.

Setibanya di Bandara Ahmad Yani Semarang, mulai menghubungi pak Budi, dan ternyata sangat sukar di hubungi, dan beberapa kali di hubungi baru bisa, dan ia sendiri yang akan menjemput ke airport.

Sewaktu menunggu datangnya jemputan dari pak Budi Semarang, sempat berbicara banyak dengan pengemudi jemputan perusahaan kayu di salah satu perusahaan di semarang, keberadaannya di Semarang adalah untuk menjemput karyawan perusahaan yang datang dari Jakarta.

Ia banyak berceritra tentang kesulitan hidup masyarakat kecil di Semarang, harga beras sekarang sudah Rp 6 500,-

Ia banyak berceritra tentang kepemimpinan pak Harto yang ia rasakan masih lebih enak dari pada sekarang.

Akhirnya pak Budi datang menjemput, ia tidak turun dari mobil, saya hanya melihat ada mobil hitam yang berhenti di depan saya berjarak 12 meter, kemudian ia membuka pintu jendela dan terlihat wajahnya pak Budi tersenyum, ia melambaikan tangannya, saya datang berlari dan membuka pintu depan dan langsung mobil keluar untuk menuju kota Semarang.

Bunderan Kali Gawe pun sudah di lewati, saya tidak mengerti akan menuju kemana mobil ini, sewaktu pak Budi bertanya hendak kemana acara hari ini, saya menjelaskan akan ke kantor pak Budi untuk memonitor sampai dimana perlakuan Operasi dan Pemeliharaan untuk Waduk Rawa Pening.

Akhirnya mobil itu berhenti di suatu rumah makan pagi ini yang masih sepi, dan langsung masuk untuk makan nasi dengan garang asem khas Semarang, pengalaman makan garang asem dalam perjalanan tahun lalu sewaktu ke Madiun.



Rumah makan itu masih sepi pagi ini, sebagai penghormatan atas tawaran pak Budi untuk sarapan, saya tidak menolak.




Garang Asem cukup enak, tetapi herannya pak Budi ngak menghabisi hidangan itu, yang di makan Cuma garang asem doang, dengan minum teh pahit panas, lain dengan saya, semua habis bis bis.

Sebab saya berusaha untuk tidak membuang dan membuat sisa sebab tidak ada seorangpn yang akan memakan kelanjutannya, pastinya sih di buang, kasihan sumber daya Alam.

Masuk kantor bertingkat dan suasana Shalat Jumat sudah mulai terasa.

Di dalam ruangannya Pak Budi mempersilahkan saya untuk mulai mencari data, dan sewaktu saya sedang asyik mencari pak Budi menghadirkan sekretarisnya yang sederhana dan cantik dan saya tidak berkomentar banyak, tetapi beda dengan Pak Budi ia berharap pandangan dari saya, untuk mempersingkat suasana saya katakan padanya bahwa ia Cantik ( maksudnya sekretaris itu ).

Jam pun semakin bergerak dan saya minta turun untuk menuju ke Masjid yang ada di kompleks itu juga, dan mulai mengikuti shalat Jumat.

Kekayaan iventaris dari kantor JratunSaluna ini cukup lumayan, terlihat dari banyaknya mobil yang parikir yang terdiri dari mobil tamu dan konsultan.

Shalat pun selesai dan naik lagi ke kantor dan mulai sibuk memilah – milah data yang bisa di olah untuk di bawa pulang, dan sekarang tiba untuk di foto copy.

Pak Budi sempat membelikan bok nasi Padang dua bungkus.

Sambil menunggu datangnya foto copy saya sempat mulai memperhatikan kantornya pak Budi, memang yang namanya kantor bertumpu kekgiatan tahunan selalu kantornya di pisahkan dengan pembagi ruangan dari tripleks, mungkin untuk membuat keputusan singkat, tripelks yang dijadikan acuan.

Akhirnya shalat ashar pun tiba, saya shalat dan foto copy pun sudah selesai, sementara sejak satu jam yang lalu pak Budi sudah minta pulang dahulu sebab ada urusan keluarga katanya, saya persilahkan.

Diantar ke stasiun kereta api Tawang, sebab dalam perjalanan ini saya berkeinginan untuk melihat Mbah Ni almarhum di Surabaya, sebab sewaktu meninggalnya beberapa minggu yang lalu saya ngak bisa langsung ke sana, dalam kesempatan ini saya akan kesana, dari pada sore dan malam ini masuk hotel dan tidur ber malam di Semarang, sedangkan acara ke Waduk Rawapening akan di mulai besok.

Tiba di stasiun Kereta Api Tawang malahan ketemu pak Budi yang mengantar Istrinya untuk antri tiket ke Surabaya dan baru dapat besok pagi jam 04.00.

Saya memperhatikan suasana stasiun yang semua jurusan tujuan Kereta api dari Semarang sudah penuh, akhirnya saya putuskan untuk naik bus, dan perjalanan sore itu se keluarnya dari stasiun Tawang menuju terminal bus Terboyo.

Melewati beberapa genangan air laut yang ke daratan, dan jalan yang selalu rusak, dan jalan yang selalu di tinggikan sehingga rumah semakin pendek, dan akhirnya tiba di Terminal Terboyo.

Sore hari, berdiri bebas di pinggir jalan di depan Terminal Terboyo menanti bus yang lewat, banyaknya wanita – wanita bersolek sederhana yang pulang dari pabrik, ada yang bersepeda dan banyak pula yang naik bus tigaperempat, di bilang bus tapi bentuknya kecil di bilang angkot bentuknya besar.
Semua jurusan ke Timur busnya penuh.

Akhirnya naik juga bus yang Surabaya ekonomi yang penuh muatan dan saya berdiri di tengah bus yang padat dengan penumpang tarif bus ini hingga Surabaya Rp 40 000,-

Maghrib pun tiba sekitar Kudus, masih berdiri, kerena penumpang banyak dan padat sampai jarak dengan penumpang di sisi kana saya hanya 10 cm sehingga bisa bicara banyak dengan gembira, ternyata ia seorang sopir angkutan dari Semarang Jakarta, ia baru datang dari Jakarta membawa besi, dia pegangannnya mobil triler beroda 18. Mengangkut besi bekas, dan pastilah jalannya lambat. Uang sakunya Rp 300 000,-

Dan sekitar jam 19.00 saat kaki saya sudah terasa kesemutan berdiri terus hampir 2 jam saya mulai mencari peluang untuk duduk saja di kaki dimana saya berdiri, gerakan ini malahan membuat penumpang di samping saya mempersilahkan saya untuk duduk di bekas kursinya sebab ia hendak turun di terminal Ngasem di depan lagi.

Betul juga saat itu banyak penumpang yang turun. Bus mulai longgar, dan saya mulai bersiap untuk makan malam dengan nasi boks yang dari kantor tadi. Makanan nasi masakan padang cukup enak dengan lauk rendang, makanan itu akhirnya habis.

Entah dimana yang jelas setelah makan badan terasa ngantuk, di luar sudah gelap malam, dan jalan nya bus terkadang tersendat dan terkadang lancar, sewaktu lancar bus bagaikan malaikat penyambar nyawa yang siap menerjang siapa yang disisinya yang tidak meminggir, cukup mengerikan jikalau kita lihat dari luar, tetapi kerena saya di atasnya sehingga tidak tahu.

Penumpang pun banyak turun, dan akirnya saya dapat tiga tempat duduk yang saya tidurin sendirian, dan tertidurlah saya dengan nyenyak dengan kaki saya yang panjang saya tekuk keatas.


Masih terdengar lamat- lamat kesibukan orang yang naik dan turun bus dan terdengar pula para pedagang yang naik yang di panggil penumpang depan dan belakang yang meminta jualannya untuk di beli berupa kacang dan makanan gorengan.

Tidur lagi, dan mobil bergoyang kencang, saat bus menuruni turunan jalan yang turun panjang, entah dimana yang saya rasakan sambil tiduran itu adalah lho kok ngak habis- habisnya bus ini menurun, saya sempat membaca doa jikalau bus ini memasuki lobang yang tanpa dasar, akhirnya bus ini ketemu jalan horisontal dan mendaki lagi.

Saat sadar dan keinginan untuk tidur lagi telah hilang saya bangun, dan mulai melihat ke jendela terlihat pemandangan lampu penerangan berwarna kuning yang berhamburan di mana- mana rupanya sudah memasuki jalan Raya Tool Dupak Surabaya.

Turun di Terminal Bungur asih saat baru sadar dari tidur, sehingga tidak mengerti apa dan dimana dan bertanya pun salah sebab si penawar angkutan lanjutan sangat garang, ke surabaya pak haji, ke madura pak haji, dan saya bilang ke surabaya saja titik.

Surabaya mana pak haji, ya surabaya jawab saya masih ngantuk.

Akhirnya saya bisa membaca situasi terminal Bungurasih malam ini, saya memperhatikan jam bundar di tempat saya berdiri menujukan jam 23.34, tengah malam pikirku.

Saya berdiri di depan perturasan umum, tetapi saya tidak ingin kencing.

Berjalan mulai mencari bus kota, dan semua bus kota lagi tidur, beronggok- onggok bus berbaris rapi tanpa pengemudi.

Sudah di dalam bus yang masih akan beroperasi tengah malam ini setelah duduk beristirahat timbul ide untuk keluar dari terminal Bungurasih lewat pintu samping, saya turun dari bus yang saya naiki tadi yang memang belum ada penumpangnya hanya saya sendiri.

Berjalan di lorong gelap di samping terminal, saya tahu ini adalah daerah rawan, saya berjaga jikalau melihat ada bayangan yang bergerak, tetapi hingga ujung jalan besar aman saja.

Kemudian naik angkot yang akan mengantar ke Wonokromo, melintas Surabaya di waktu tengah malam, etrlihat kesibukan kafe dengan kegiatan nonton bareng sepak bola.

Turun di Joyoboyo untuk mencari angkot letter F tujuan Sidotopo, tidak ada yang hidup, sewaktu saya berjalan memastikan jikalau ada banyak angkot letter F yang berbaris di terminal Joyoboyo tetapi angkot lagi tidur.

Saya menyebrang jalan itu dan mulai berjalan berbalik araj menyebrangi sungai Wonokromo yang lebar dan berjalan belok kiri menuju ke Stasiun Wonokromo, mengingat sejarah beberapa tahun yang lalu sewaktu Aswan sandal sepatunya lepas jahitannya dan di jahit di ujung jalan itu.

Duduk lama di depan stasiun Wonokromo menanti angkot datang, tetapi tak kunjung datang juga, beberapa tukang taksi menawarkan jasanya, saya tahu saya tidak akan beresiko dengan semua taksi tengan malam di surabaya.

Dari kejauhan saya melihat ada anak muda yang berjalan di pinggi trotoar, dan setelah dekat saya sapa, ternyata ia sedang mencari angkot letter F, seperti tujuan saya, akhirnya saya berjalan berdua dengan anak muda tersebut yang bekerja di tengah malam sebagai pengatur parkir di pasar pagi yang mulai aktif pasar itu jam 01.00.

Naik angkot letter F, duduk di depan, tetapi angkot diam sebab supirnya selalu berteriak angkot akan jalan, wahai penduduk surabaya pulanglah, naiklah angkot ku, akan kuantar hingga jauh, saya hanya tersenyum dan melanjutkan kalau diantar hingga jauh tetapi ngak sampai- sampai kan bahaya.

Akhirnya angkot itupun penuh dan berjalan, dan setibanya di depan rumahnya mbah Ni turun, sebagian rumahnya mbah Ni almarhum yang di sewakan ke sekolompok anak muda untuk di jadikan toko penjualan pakain jeans masih buka, ia menanyakan mau kemana pak haji, ya mau kesini, kemana katanya bertanya, ke mabh Ni yang meninggal beberapa minggu yang lalu, oh Mab yang Tua itu, kan sudah meninggal, lha saya kan rumahnya di Jakarta sehingga tidak bisa mendadak datangnya saat meninggalnya.

Akhirnya ia maklum dan membangunkan Wahyu yang tidur di ruang samping dengan mengedor dinding, memang saya tadi Semarang sempat kirim SMS ke Wahyu jikalau saya akan sampi di Surabaya perkiraanya besok pai itupun kalau naik kereta api dari Semarang tengah malam, malahan sekarang sudah sampai di Surabaya tengah malam sebab naik bus dari Semarang tadi sore.






Sabtu, 26 Juni 2010.

Hp berdering jam 03.00 bangun- bangun, perjalanan masih jauh, dan di rumah mbah Ni almarhum yang sewaktu meninggalnya beberapa minggu yang lalu saya ngak sempat menengoknya, sekarang ini saya tidur di ranjang tua yang mana mbah Ni menghembuskan nafas terhirnya di ranjang yang saya tiduri semalam.

Bagaimana bisa tidur, tidur sebentar nyamuknya sudah datang menyerbu.
Saya punya cara untuk melawan nyamuk yang datang menyerbu ini, yaitu semua badan di tutup, sudah memakai sarung, kemudian mengenakan celana panjang, kemudian baju tangan panjang dan ujungnya di tutup, kemudian kepala di tutup, e. E nyamuknya masuk di antara pipa celana panjang dan masuk dan sadar kalau nyamuk ada di dalam baju.

Sewaktu jam belum menunjukan pukul 03.00 di nihari, sempat berbicara dengan Tyas di Denpasar, ia menanyakan kapan pulangnya, akhirnya terpikirkan kenapa ngak naik kereta api Pasundan ke Solo. Sebab tadi sore berangkat dari Semarang naik bus ekonomi sangat penuh, sekarang kepingin naik kereta api.

Ya jam tiga ini paling tepat meninggalkan tempat tidur.

Ke kamar mandi untuk berwudlhu, langsung mengerjakan shalat tahajud.

Memilih ruang yang agak bersih di ruang toko nya Wahyu.

Lihat mbah Yah sedang tidur, akhirnya putuskan meninggalkan kamar mbah Ni menuju masjid untuk shalat Shubuh, lewat pintu belakang, pintu keluar ini langsung berjumpa dengan gang, dan di ujung gang ada jalan kecil , maju ketemu jalan besar Sidotopo Lor.

Masjid itu semakin terlihat mega, dahulu tidak semega ini, masjid ini bercampur dengan pasar, sudah terlihat beberapa orang shalat di masjid, langsung masuk sebab sudah berwudhu di rumah

Setelah selesai shalat shubuh, kemudian membeli gorengan dan roti seharga Rp 3 000,- dan tomat seperempat kilo seharga Rp 2 000,-

Sesampainya di rumah tomat di cuci bersih – bersih dan dimasukan ke plastik sebab akan di makan di jalan.

Sewaktu membuka pintu ternyata mbah Yah sudah ada di depan pintu sebab ia sejak dari pagi mencari saya kemana saja perginya, tas nya ada di atas kasur, kemana orang ini.

Jam 05.15 keluar dari rumah Mbah Ni almarhum, setelah memberi uang ke Mbah Yah untuk selametannya Mbah Ni beberapa hari lagi.

Mbah Yah hanya bengong saja, Masuk rumah jam 12 malam dan sekarang keluar rumah habis shubuh seperti dekat saja rumahnya.

Menunggu angkot letter F kok lama sekali, akhirnya keluar juga dari jauh angkot itu terlihat dan berhenti dan langsung naik.

Berhenti di depan stasiun Kereta Api Gubeng, dan pagi itu tidak antrian untuk naik kereta api Pasundan tujuan Bandung, sehingga langsung beli tiket seharga Rp 20 000,- tujuan Solo Jawa Tengah.

Pagi hari di stasiun Gubeng, sudah banyak penumpang yang hendak naik. Jam 06.00 kereta api Pasundan datang memasuki peron saya dapat di gerbong 4 dan nomer tempat duduk 14 B.

Kereta ekonomi Tujuan Bandung tetapi saya hendak turun di Solo. Pagi ini meninggalkan Gubeng dengan perlahan- lahan.

Udara Surabaya pagi menerpa masuk dari lobang jendela kaca yang kusam, dan penuhnya penumpang jangan lagi di tanya.

Dari satu stasiun ke stasiun yang lain dan sekitar jam 11.30 Kereta memasuki Kota Solo dan turun di stasiun Solo Jabres.

Adzan Shalat Dzhuhur berkumandang sewaktu saya berjalan keluar dari stasiun, saya harus mencari masjid. dan berjumpa, shalat.. shalat.. shalat adalah bentuk sederhana untuk menyatakan kesetian mu terhadap Tuhannmu.

Berdiri di pertigaan jalan besar setelah keluar dari Stasiun Kereta Api Jabres untuk menunggu bus tujuan terminal bus Tirtonadi.

Kemudian bus di dapat itupun setelah menunggu sekian lama dan berbicara dengan sesama pendatang dari luar kota Solo yang jikalau di tanya di mana titik suatu desa Sumber kota Solo ia juga ngak tahu.

Sebab Pak Mantri lagi sakit di desa Sumber, hanya saja saya terbatas waktunya sehingga tidak bisa kerumahnya.

Terminal bus Tirtonadi di dapat akhirnya naik bus AC tujuan Semarang dan turun di Rawapening.


Mencoba mencari informasi Rawapening dan gejolak masyarakatnya.


Di Rawa pening sewaktu berbicara dengan pemuka masyarakat yang orang muda itu mereka tidak yakin jikalau saya adalah orang PU, sebab penampilannya seperti pak Haji dari kampung sebelah.

Shalat Ashar pun tiba waktunya, setelah selesai shalat berjamaah, dimana saya harus mengganti celana jeans yang saya pakai sejak kemaren dan sekarang sudah tidak layak suci untuk di pakai mengerjakan shalat ashar sehingga saya harus ganti sarung


Masyarakat bertanya apa yang akan di perbuat untuk Rawapening


Harmoni di Rawapening


Pemandangan Rawa pening


Enceng Gondok yang di panen dan sekarang di jemur


Ditengah pendangkalan yang di perparah dengan tumbuhnya enceng gopndok di hamparan danau Rawa Pening yang luas itu.


Masyarakat meminta kepada saya bagaimana caranya pemeliharaan rawa pening ini di percayakan ke pada masyarakat sehingga dananya bisa mengangkat perekonomian masyarakat rawa pening sendiri.


Dan jangan sekali - kali berbicara ke pada masyarakat untuk di minta masyarakat menyisihkan sebagian kecil pendapatannya dari pe manenan di Rawapening untuk dijadikan dana pemeliharaan masyarakat terhadap Operasi dan Pemeliharaan Rawa Pening, masyarakat akan tidak mau.

Rawapening, Sore hari, Hujan pun turun sewaktu berdiri menunggu bus yang ke Semarang, sebab bus yang lewat sore itu kebanyakan ke Jakarta.

Akhirnya dapat juga bus yang ke Semarang, memasuki Semarang dari arah Selatan dan belok masuk jalan Tol dan turun di terminal Terboyo.

Terboyo, sekitar jam 20.00
Sudah sepi, menunggu bus kota sudah tak lagi mengangkut penumpang, tinggal angkot kecil tujuan pasar Johar, pasar Johar pun menjadi pilihan sebab di sana ada Masjid.

Masyarakat Semarang ini relatip Makmur di bandingkan masyarakat pinggir jalan di Jakarta.

Dan Relatip lebih ramah di bandingnkan di Jakarta.

Sewaktu Hp saya kehabisan power, saya mohon ijin untuk me nyetroom Hp ke fiiting lampunya dan itupun di ijinkan, sambil menunggu Hp terisi sedikit power saya berbicara dengan si pemilik kedai.

Kalau dilihat dari jalan hidupnya, kemungkinan wanita ini adalah bekas wanita jalanan yang sekarang mulai berketetapan ada warung tetap dan jualan tetap dan termasuk ada saja yang laku.

Kirim SMS ke pak Budi menghabarkan jikalau terdampar di Terboyo.

Setelah itu angkot ke Pasar Johar datang saya naik.

Genangan air laut yang naik kedaratan di kota Semarang mulai di lewati angkot, dan jalan yang tidak rata membuat bergoyang di dalam angkot.

Turun di dekat Pasar Johar, sebab angkot tidak masuk sebab sudah malamj. Sehingga di turunkan di suatu jalan yang lebar, saja jalan kaki menuju Masjid dengan petunjuk tukang angkot untuk maju dan belok kiri setelah melewati dua kali perempatan jalan.




Minggu, 27 Juni 2010.

Hp berdering jam 03.00 saat bangun untuk mengerjakan shalat tahajud, kembali memperhatikan hotel yang di tinggali semalam ini, hotel Hanoman, sangat tidak memuaskan, masih tersisa rambut panjang di sprei.

Sprei tidak baik, Jendela tidak bisa melihat keluar sebab di pasang kaca blaur, halamannya sih luas.


Jam 06.00 saya turun keluar untuk melihat situasi lingkungan hotel, dan ternyata hotel ini sangat luas dan anehnya nanti jam 07.00 sarapannya akan di antar ke kamar masing- masing.

Betul juga jam 07.00 datang roti bakar dengan teh panas menggunakan cangkir.

Jam 08.30 Pak Budi datang menjemput dan setelah proses administrasi lancar langsung naik mobil dan membela kota Semarang, untuk mencari sarapan, dan dapat juga sarapan gado- gado pagi ini sebab saya ingin ada sayur.

Jam 09.00 sudah di puncak lembah sebelah barat kota Semarang daerah Jatibarang yang akan di genangi sebab daerah ini akan dibuatkan bendungan besar. Terlihat dimana saya berdiri dengan pak Budi dan sisi bukit di depan saya adalah suatu lembah yang akan di genangi.


Pagi hingga siang di Waduk Rawa Pening, dan meneliti kehidupan masyarakat dan potensi pengembangan waduk dan apa yang di harapkan oleh masyarakatnya.

Sore hari sudah di Semarang lagi dan dapat hotel Semesta yang tarifnya Rp 395 000 ,- semalam. Dengan kamar deluks, dan sewaktu saya memasuki kamar di lantai empat itu, saya bersyukur sebab hotel baik sedemikian inilah yang saya inginkan.

Dapat promo pijat selama 10 menit bagi si penghuni hotel yang baru datang, 10 menit pijatan kaki saya manfaatkan.


Fasilitas hotel yang bisa meningkatkan ke imanan dan rasa syukur


Setelah shalat langsung membuat air panas dan minum, tidur.

Maghrib pun terdengar adzannya dan shalat dan setelah itu tidur lagi.

Walau tidak nyenyak dan akhirnya isya datang juga dan secepatnya Shalat dan berbaring dan jam 20.00 pak Budi datang ke hotell untuk mencari makan malam, dapat makan malam dengan hidangan ikan bakar di kafe yang menyiapkan tontonan sepak bola. Antara Jerman dengan Argentina.






Senen. 28 Juni 2010.


Saat Hp berdering keras saat mana menunjukan jam 03.00, saat itu pula bangun secepatnya, dan sadar hotel yang di tinggali malam ini hanya sendirian saja di kamar, secepatnya mandi, maunya sih mandi air panas tetapi sistim belum bekerja sehingga mandi shower air biasa saja.

Shalat tahajud dan ngaji sebentar.

Keluar kamar hotel bersarung dan baju koko untuk ke Masjid Kauman Kota Pasar Johar Semarang, sewaktu turun dari lift suasana hotel dari lorong lift sangat sunyi tidak terlihat seorangpun bergerak, pintu tidak di kunci dan akhirnya keluar di halaman depan tanpa menoleh lagi sebab waktu berjalan cepat.

Menurut pengamatan dari jendela hotel kemaren sore masjod tidak terlalu jauh, hanya saja setelah melewati beberapa kali perempatan kok timbul tanda tanya, apakah ngak salah jalan, dan tanya kepada tukang beca, ternyata masjid yang di tuju itu ada diarah belakang langkah saya, lemes deh.

Melihat jarak sedemikian jauh yang telah di tempuh sebab berjalan setengah berlari, maka pemberitahuan telah salah arah 180 derajat sangat kecewa.

Si tukang beca itu mengayuh becanya, dan saya sambil bersarung dan berbaju koko berjalan cepat dibelakangnya, dan tiba- tiba si tukang beca itu memberikan arah kekanan, saya disuruh mengikuti jalan itu, sebelum berpisah saya sempat melambaikan tangan terima kasih.

Jalan itu lurus dan sepi, sedikit air menggenang habis hujan atau rob ngak tahulah, tetapi dari kejauhan terlihat pintu gerbang sisi masjid kauman, semakin gembira hati ini, ternyata setelah masuk pintu masjid itu langsung mengarah ke Mihrab, artinya masuk masjid langsung di barisan terdepan.

Teringat kemaren malam sewaktu hujan lebat dan saya di masjid shalat Maghrib dan Isya, hujan deras, bocor dan lantai masjid basah, sehingga tidak ada tempat untuk bertengger.

Dan sekarang saat sebentar siang akan pulang dapat shalat Shubuh di masjid yang di agungkan masyarakat Semarang, senang juga.

Sehabis shalat sunah mata mulai memandang interior masjid yang sedang di pugar
Shalat pun di mulai.

Berjalan agak santai setelah keluar dari masjid dan setibanya di pintu halaman hotel sempat mengobrol kepada penjaga malam yang masih tersisa, sebab yang lain sedang melaksanakan shalat.

Jam 06.00 pun tiba saat sarapan pagi menu hotel

Makanan pertama yang diambil adalah salad yang banyak sayurnya, jagung pipilan dan sawi serta paprika dan lainnya, kemudian minum jus jeruk dan jambu, kemudian mencoba sosis dengan sayuran, semuanya yang dicari yang banyak sayurannya, soalnya sudah beberapa lama tidak makan jus sayur.

Setelah sarapan secepatnya kembali kekamar hotel untuk mandi lagi dan shalat dlhuha.

Setelah itu keluar dari hotel berjalan kaki menuju ke simpang lima kota semarang, hari masih pagi, terlihat sepi, perempatan pertama setelah belok kanan dari depan hotel Semesta adalah perempatan dimana saya di tahun 1973 pernah makan malam di emper toko di situ dengan makan gudeg semarang, saat studi tour anak STM Negeri I Ubung Denpasar ke Jawa Tengah 1973.

Perempatan itu pagi ini masih saya lihat dan saya mengambil ke arah kiri
Menuju ke Simpang Lima.

Jalan cepat pagi ini sambil mengenakan pakaian resmi kotak- kotak hitam peninggalan almarhum mas ajar sanjoyo, celana hitam, keringat mengalir, tidak apa- apa sebab makan melulu kerjanya.

Setibanya di Simpang lima dari depan hotel diperkirakan 1 500 meter jaraknya.

Kemudian naik angkot menuju pasar Bulu.

Dan mulai berburu oleh- oleh untuk anak, konsep membeli oleh 2 di Semarang adalah makanan kue dan bandeng presto, jenang dan makanan kue lainnya, terutama lumpia.

Tiba – tiba SMS masuk memberitahukan jikalau utusan dari pak Budi Semarang untuk mengantarkan saya ke airport telah datang di pasar itu, ia berdiri di situ.

Dan sewaktu membeli jenang sayamembeli 2 kg jenang dengan harga Rp 16 000 per kg nya. 2 Kg itu terdiri dari 3 jenis jenang yang mbah tua itu jual, kemudian saya angkat dengan timbangannya sewaktu saya lihat mbah tadi akan memasukan jenang ini ke bungkus daunnya, ya kotor pastinya, saya berlari ke toko roti yang dari tadi telah mengepak makanna yang saya pesan, dan masuk pula jenang ini dan di bungkus juga dengan rapi dalam satu paket karton.

Keluar dari pasar bulu membawa kue seberat 3,5 kg.

Mobil berjalan menuju ke Padanaran pusat oleh- oleh juga disini yang dibeli yang kelas menengah atas dan yang di beli adalah Wingko satu besek Rp 43 000,- Bandeng Presto Rp 53 000,- Kue Moci Rp 32 000,- Belut goreng Rp 25 000,- dua bungkus, cukup mahal.

Kembali ke Hotel dan setelah penutupan langsung berangkat ke Bandara.

Jam 11.00 siang telah di depan boarding Pas. Jam 12.00 siang sempat shalat Dlhuhur di Bandara sebelum memasuki ruang tunggu.

Jam 12.30 memasuki pesawat, kali banyak anak- anak yang ikut terbang dengan orang tuannya.

Hampir mahgrib masuk rumah, sebab belum shalat Ashar , sebab sebelum memasuki rumah perasaan ini sangat khawatir saja apakah harus shalat ashar di pinggir jalan lagi, sebab matahari semakin turun.

Untung Rahmat Allah, shalat ashar sudah di dalam rumah, sementara oleh- oleh di kerubutin anak – anak untuk membukanya.





Selasa, 29 Juni 2010.

Temuan yang di ajukan oleh pihak PP untuk pembangunan interior gedung BUMN adalah sebagai Berikut:

Lantai 16 :

a) Ruang kerja Plafondnya lepas
b) Ruang rapat besar sisi barat terdapat kebocoran air sprinkle dan lampu yang belum terpasang.


Lantai 17 :

a) Ruang Administrasi terdapat Plafond sekirat lapu lepas, Pintu existing minta di buka, Pintu baru minta di matikan.

b) Ruang Rapat terdapat kerusakan, Plafond Gypsum yang lepas dan ada bocoran di atas plafond sehingga ada bercak di bawah plafond akibat rembesan.



Lantai 19.


a) ruang kerja menteri, terdapat keluhan dimana semburan AC mengandung glas wall, Kunci pintu hilang, Wall peper menggelembung, lampu mati, plafond lepas.

b) Ruang Rapat, Saklar internet belum masuk, Wall peper menggelembung.

c) Ruang kerja, Plafond terbercak bocoran air dari atasnya.



Lantai 20.


a) Sisi barat wall pepernya terlepas, Vinyl lantai terlepas.

b) Ruang Server, minta dinding di tutup.



Sewaktu saya melakukan pemeriksaan terhadap keluhan tersebut, memang semuanya adalah benar, dan saya meminta kepada pemborongnya dan pengawasnya untuk membantu saya membongkar plafond di lantai 19.

Setelah dua lembar plafond di bongkar terlihat jikalau sumber tetesan air merupakan rembesan dari kontruksi balok beton di lantai 20.

Jalan keluarnya tidak sederhana. Sebab harus membongkar di luar bangunan lantai 20, berupa balok cantilever, sayap nya jendela, atau canopy buat lantai 19. Pinggiran tembok dan lantai di luar di lantai 20 di bongkar dan setelah itu di water proffing dan setelah itu di tutup lagi dengan tegel yang sama.

Kerja di lantai 20, dengan tekanan angin, sangat bahaya.

Hari semakin sore dan sewaktu hujan sore turun sebab tadi terlihat dari ketinggian di lantai 20, sisi selatan Jakarta gelap berarti hujan turun, dan sekrang sudah turun, sewaktu membetulkan plastik hujan ternyata helm hilang, dan agar bisa pulang terpaksa pinjam dahulu dengan sepeda motor samping yang ada helm nya.

Sepanjang jalan utama Jakarta macetnya luar biasa, dan memasuki Cawang sudah agak longgar, Tetapi sewaktu menyusuri jalan potong di kampung maksasar untuk memasuki Kompleks Taman Mini Square, ada motor di parkir di pinggir jalan, cuaca sudah termasuk gelap, dan ada mobil di kejauhan dengan lampu besarnya, motor hampir saja menobrok motor yang di parkir pinggir jalan itu sebab mata terganggu silaunya lampu.


Pulang hujan deras dan sewaktu shalat maghrib di masjid Jin di Kelapa Dua Wetan, baju dan celana basah seperti ngak pakai plastik hujan saja. Shalat Maghrib dengan basah – basah an.


Tiada ulasan: