Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Ogos 02, 2012

Tyas di RSUP Sanglah Denpasar



Minggu, 1 Juli 2012/4-30

05.00 setelah shalat shubuh berangkat kepasar sebab hari ini akan diselenggarakan  gerak jalan santai se RW dan pertandingan sepak bola lapangan kecil ibu- ibu antar RT.


Memang udara gelap dan dingin pagi ini membuat cepat lapar, sembrurat awan merah di ufuk timur juga ngak nampak, memikirkan sesuatu yang bisa dimakan dengan cepat, apa ya,  makanan yang paling murah dan efisien adalah tape singkong, cukup dua ribu rupiah sudah bisa dimakan berdua dengan istri dan masih terlebih untuk  dibawa pulang, untuk siapa saja anak-anak dirumah kalau mau.
Pasar itu berhiaskan lampu dengan kabel yang tidak teratur.
Sayuran utama wortel, terong, sawi keriting dan sawi hijau, buncis, tomat, tempe yang dipotong kecil untuk orek tempe, ikan lele, kacang hijau, kacang kedelai, kacang tolo, sudah terbeli 

06.45 sudah di rumah 

07.00 sudah berada dilapangan berbaur dengan banyak warga untuk persiapan jalan santai pagi.
Mentari pagi mengiringi keceriaan pagi di kompleks 
perumahan puri Cileungsi Gandoang Bogor

Generasi nya Fifi sembilan tahunan banyak yang ikut, terlihat Fifi berjalan berkeliling entah apa yang dicari berdua dengan temannya. 

07.30 mulai berjalan, ada yang berkelompok dan saya berdua dengan istri, sementara Yasin dan Fifi yang juga ikut sudah berpencaran bersama temannya.




Persiapan gerak jalan



07.45 berjalan melewati gang yang sempit dan berbelok melintasi jalanan bukan mobil dan akhirnya tembus dijalan utama Grand Nusa Indah yang biasa digunakan jalan bersama istri sore hari.


 Jalan sempit diapit dua pagar tinggi

Route berliku keluar masuk perkampungan penduduk



memasuki jalan besar


Rombongan menyemut meniti jalur




Fifi mengikuti lomba menggambar

08.35 memasuki garis finis 
08.40 makan hidangan sederhana yang disumbang dari 8 RT Puri Cileungsi berupa kacang rebus, ubi rebus, keladi rebus, jagung rebus, singkong rebus dan pisang rebus.
Dari semua makanan yang dihidangkan, yang paling habis terlebih dahulu adalah kacang rebus, kemudian jagung rebus, kemudian pisang rebus, dan yang paling susah habisnya adalah singkong rebus, ubi rebus dan keladi rebus.
08.45 tinggalkan lapangan untuk pulang dan mandi serta dilanjutkan mengerjakan shalat dlhuha.
09.00 kembali ke lapangan dengan ganti baju sebab badan sudah bersih sambil mengenakan topi kulit bundar hitam.
Istri pun demikian sudah berganti pakaian untuk seragam RT 05 berupa kaos atasan berwarna hijau, berjilbab lengkap dan siap bermain bola.
Sementara itu Fifi yang ikut lomba menggambar sudah duduk rapi dengan peralatan gambarnya.
Penarikan nomer peserta gerak jalan dimulai, 256 nomernya Fifi mendapat door Prize berupa alat cetakan penghias kue terbuat dari plastik.
dan 516 nomer gerak jalan nya istri mendapat door prize berupa cleanwatercetle aluminium, lumayan untuk membuat teh dirumah.
09.30 bertandingan bola dimulai RT05 melawan RT04, untuk sementara istri belum diturunkan, terjadi perubahan susunan permainan saat kedudukan score dua- dua.





Istri di tunjuk bermain sebagai penjaga gawang bola.
Sepak bola ibu- ibu ini lebih banyak hiburannya dari pada seriusnya, sering terjadi bola yang ada di kakinya ditendang, tapi bola ngak bergerak, sebab yang ditendang bidang kosong, hal yang sedemikian yang sering menjadi tawa terhibur nya warga.
kedudukan diakhiri dengan kemenangan RT 05 dengan kedudukan empat dua.
Tanpa banyak ucap, langsung pulang sebab hari siang dan panas makanan belum tersaji di rumah.
Masak secepatnya, shalat dzuhur dan makan dan dilanjutkan istirahat.
Fifi yang selalu bersemangat menemani ibunya bermain bola
sdang menunggu jadwal bertanding berikutnya




13.00 mulai membuat jus sayur : mengkudu, wortel, terong, tomat, buncis; istri langsung minum dua gelas.
Istirahat tidur.
14.00 membuat teh jahe dan membangunkan istri untuk segera minum teh jahe hangat manis.
15.15 Shalat Ashar
15.20 sudah dilapangan untuk pertandingan bola ibu babak semi final.



15.30 pertandingan di mulai antara RT 05 melawan RT 02
Istri diturunkan sebagai penyerang sayap kanan.
Banyak tendangan istri yang hampir masuk goal tetapi terhalang tiang.
kedudukan sama kuat, lima - lima
Pada babak ke dua istri dipasang sebagai penjaga gawang, pada kedudukan  enam lima ini istri berhasil mematahkan serangan lawan yang mencoba menyamai score enam- enam dengan melompat mengambil bola dan langsung di buang ketengah lapangan.
Gagalnya bola yang tertangkap oleh istri ini disambut dengan teriakan histeris kegembiraan para ibu- ibu yang melihat nyaris bahaya yang tak sanggup terelakan, sebab bola yang ditendang melambung keatas dan masuk ke gawang melalui atas sangat sukar di antisipasi oleh ibu- ibu yang memang bukan pemain bola.









Dan ke gembiraan pun pecah saat peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan bola ibu- ibu babak semi final ini dengan score enam lima untuk kemenangan RT 05.
Sebab ada sebagian ibu- ibu yang tidak percaya jikalau bisa masuk final mengingat musuhnya sangat kuat.
17.00 babak final antara RT05 melawan RT02







Pertandingan final ini tidak seberat semifinalnya, sebab  musuh yang dihadapi tidaklah seberat semifinal, dengan banyak bermain membuang bola keluar lapangan, akhirnya pluit panjang tanda berhentinya pertandingan ditiup, kedudukan empat dua untuk kemenangan RT05 sebagai juara sepak bola ibu- ibu lingkungan RW08 Kelurahan Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Acara pemberian hadiah berupa satu does supermie untuk juara satu dua tiga empat dan tambahan mug cangkir keramik polos putih, langsung pulang sebab langit semakin redup.
Selangkah sebelum masuk rumah terdengar Adzan Maghrib dikumandangkan.
   









Senen, 2 Juli 2021/5
03.12 terbangun untuk persiapan makan sahur dan shalat tahajud, sebab hari ini adalah puasa sunah terakhir sebelum menjumpai nifsu syaban di hari Rabu lusa.

08.50 Tiba waktunya untuk mengurus pengiriman uangnya Tyas, Aswan, ibu di Wonorejo dan Pak Lik Bambang di Tempeh Lumajang.
09.00 bermotor dengan istri melintas di jalan Mampir yang rusak, kering, berdebu, bergelombang dalam, saya yakin kalau musim hujan jalan ini tergenang air sedalam 80 cm lebih kurangnya, kerena saat melintas pagi ini, jalanan yang hancur itu dilewati motor seperti naik jungkit- jungkitan.
Tiba di BTPN Cileungsi sekitar jam 10.00 dan dapat giliran no 49, kerena saat ini nomer yang dipanggil adalah 39, istri merasa malas untuk meninggalkan ruangan 
Sempat bersilaturahmi dengan bapak pensiunan Kementerian Agama Cianjur, yang rumahnya di Tanjung Ria, sebelah timurnya kecamatan Cariu, menjumpai para pensiunan itu ada rasa aneh, kurang bersahabat nadanya, bisa dibawa kerena penyakit diusia lanjutnya, atau dibawa perasaan masih berkuasa selama bekerja dulunya.
Tiba-tiba ada SMS dari Tyas bahwa semua syaraf lidahnya kaku, saya langsung berubah sedih, membayangkan sakit di sinus hidungnya, dipakai makan sedikit semua giginya sakit.
Ternyata di ruang sekecil Bank Cabang Pembantu ini banyak pensiunan yang sudah berdatangan, saya tidak tahu apakah dia menanggung anak sakit juga.
10.30 akhirnya nomer 49 yang saya pegang dipanggilnya.
10.35 meninggalkan BTPN CP Cileungsi
10.36 motor dihidupkan dan menuju langkah berikutnya yaitu Bank Mandiri Cileungsi, amboi antriannya sangat banyak.
10.35 Bank Muamalat untuk sodaqoh yatim dan pendidikan pesantrennya di NTT- TTS
10.56 masuk Bank Mandiri Cab Kranggan
untuk kirim uang ke Tyas di Denpasar Bali dan  Aswan di Makassar.
Disini antrian berdiri, dapat di giliran badan ke 17, tapi dilayani 3 teller, agak cepat.
11.15 Kantor pos Cileungsi, wah antrian di bagian wesel sangat banyak
Keluar lagi dari kantor pos Cileungsi dan bermotor lagi dengan istri dalam cuaca terik  matahari menuju Cibubur.
11.56 saat adzan Dzuhur dikumandangkan baru memasuki kantor pos cabang pembantu di jalan lapangan tembak Cibubur, salah seorang pegawai kantor pos yang biasa berjumpa dan bisa di sebut yang paling bersahabat terlihat di depan pintu untuk bersiap melangkah keluar menuju masjid Sirajul haq di jalan lapangan tembak.
saya dapat antrian ke tiga, untuk pengiriman wesel ke ibunda di Wonorejo dan paklik Bambang di Tempeh Lumajang 
12.15 keluar dari kantor pos menuju masjid untuk mengerjakan shalat dzuhur, terlihat istri tertidur sambil terduduk.
12.45 masuk bengkel yang ada di depan masjid Sirajul Haq untuk mengganti rantai sepeda motor yang sudah menipis.
13.30 saat bermotor menuju pulang dari Cibubur, motor jalan nya enak, tidak lagi batuk- batuk setelah diganti satu set rantainya.
14.00 di pasar Cileungsi istri minta berhenti untuk membelikan baju putih sekolah tiga anak, Astari, Yasin dan Fifi.
14.39 masuk rumah dengan kelelahan luar biasa, sebab melaksanakan puasa sunnah.
 







Selasa, 3 Juli 2012/5

11.53 di kantornya pak Wayan
pengusaha AC, asal Gianyar Peliatan, gara2 dapat PMDK UI 1990 keterusan kerja di Jakarta dan sekarang jadi Direktur PT Line Solusi Pratama, Kirana Bisnis Park DI Panjaitan 48 Cawang.
11.32 diajak melihat perluasan kantor di lantai empat, saya melihat keraguan konstruksi bisnis properti, sebb ktnya bisa.
Kontrak lelang banyak disiapkan, kantor kecil cukup efisien.
11.56 adzan Dzuhur, shalat di lantai tiga, sebab ada musholah.
12.30 makan siang nasi padang, perkedel dan rendang, istri dan Fifi yang dilantai bawah dapat bagian juga.
Berdua puluh karyawan. 
Hubungan erat dengan karyawan
13.00 saat pulang, berjalan bertiga dengan Istri dan Fifi meninggalkan kompleks perkantoran Kirana Bisnis Park.
Motor yang diparkir agak jauh sudah menunggu, bermotor bertiga melintasi terowongan underpass Cawang, motor berjalan lancar saja, malahan cenderung kencang, setibanya di perempatan Celilitan, belok kiri menuju jalan Celilitan Besar.
Hari Sabtu kemaren saat melintas disini, macetnya bukan main, dan sekarang cukup sepi.  
13.56 Di Kecamatan Makasar Jakarta Timur, tiba- tiba saja motor mati.
Mendorong motor sementara istri dan Fifi berjalan mengiringi, panas yang terik ini membuat baju basah kuyup.
Melewati tikungan dimana hari Sabtu kemaren sepulang dari Popti sempat lengan kanan di senggol taksi, tikungan itu dekat dengan penjual Batagor dan siomay yang paling enak sedunia.
Ada jalanan mendaki dan terasa berat motor ini.
Saat berdiri didepan bengkel sambil melepas kelelahan yang menyelimuti, sampai tangan kanan gemetar menahan capek, tiba- tiba salah seorang montir bengkel itu berbisik, " lagi penuh langganan pak, takutnya ngak tertangani nanti " memang saya melihat sendiri sebegitu banyaknya orang dengan motornya menunggu kapan dikerjakan.
Dorong lagi, sekarang memasuki gang yang menghubungkan Pinang Ranti dengan Taman Mini, kebetulan jalanan menurun sehingga motor dinaiki sementara Fifinya ada digoncengan.
Dorong terus sambil menyebut Maha Besar Nya Allah SWT, perempatan di Taman Mini dan pondok Gede yang selalu ramai itu sudah di lewati.
Mendekati Taman Mini sepanjang jalan berjejer pedagang es pisang hijau dalam kemasan gelas, es ini paling enak dimakan di piring atau mangkok lebar dengan satu pisang, tetapi yang ada adalah pisang hijau dikemas di gelas plastik.
14.30 Saat melintas didepan padepokan pencak silat di Taman Mini Indonesia, ada seorang yang menghampiri, berbadan gemuk dan berusia diatas empat puluh tahunan ia menawarkan diri untuk mendorong motor saya sampai ketemu bengkel.
“ Wah bengkelnya jauh di Cijantung ! ” kataku, “ tidak mengapa “ katanya.
Akhirnya motor didorong sementara Fifi dan istri ikut digoncengannya.
Motor didorong dari belakang sementara saya memegang kemudi, seperti mengendari sesuatu mainan saja, memang betul motor ini tak lebih barang mainan kalau sudah mesinnya tak berfungsi.
Setibanya di terowongan Taman Mini saat berhenti kerena lampu merah, ia masih ingin mendorong hingga Cijantung.
Memasuki depan Rumah Sakit Pasar Rebo, terlihat dari jauh para polisi lalu lintas yang sedang melakukan razia ketertiban sepeda motor.
Saya minta turun untuk mendorong motor, setelah melewati polisi tadi motor dinaiki lagi dan dorong kembali, jumpa pertigaan langsung belok kiri memasuki jalan Kesehatan, dan berhenti di depan bengkel.
Hanya ucap terima kasih dan keramahan saja yang bisa di lontarkan, sebab sangat sulit untuk berjumpa.
Akhirnya orang itu berangkat kembali dengan motornya, entah kemana hendak dituju.





Dengan pemilik bengkel yang biasa menangani motor ini, langsung mesin di buka dan terlihat didalam banyak bagian mesin yang patah.
Mempertimbangkan kerusakan ini maka motor di tinggalkan saja, sementara saya istri dan Fifi pulang.     


Rabu, 4 Juli 2012/5

Pagi belum terlihat, gelap masih menyelimuti, setelah shalat shubuh dan membaca Al – Quran berlari bersama istri untuk menjaga stamina.
Berlari dan dilanjutkan dengan berjalan hingga ke Grand Nusa Indah, melihat kembali tapak bekas gerak jalan hari minggu kemaren.
Masuk rumah saat Matahari dalam waktu Dlhuha, ya mengapa tidak mandi dan terus shalat.
Senjah hari menjelang maghrib, dirumah sudah bergegas menuju musholah sebab malam ini adalah malam nisfu syaban, berarti 15 hari lagi akan masuk puasa Ramadhan.
Tahun - tahun sebelumnya nisfu syaban dikerjakan dirumah mengingat di masjid banyak di lakukan bid'ah, dan malam inipun terkena lagi,
Bid'ah itu berupa shalat Tahmid, seharusnya shalat ini harus dikerjakan sendirian, tidak boleh berjamaah, masjid kecil ini melakukan berjamaah,    
Keras kepalanya si imam terlihat dari wajahnya dan isi perutnya, hindari, akhirnya setelah berakhir shalat Isya, shalat sunnah dua rakaat dan pulang, sebab si imam akan melakukan shalat tasbih berjamaah.
Setibanya di rumah langsung membaca Yasinan lagi tiga kali dan doa nisfu syaban.




Kamis, 5 Juli 2012/5


Terbangun jam 02.40 diperut terasa ngak enak, mencoba mengingat habis makan apa ya kemarennya.
07.00 mem blender jus sayur untuk menjaga stamina : mengkudu, wortel, sawi, ketimun, nenas.
08.30 berjalan kaki menuju jalan raya
09.00 terminal Cileungsi
09.45 teminal Kampung Rambutan
09.50 menyusuri jalan Kampung Rambutan untuk memotong hingga jumpa jalan baru.


Jalanan sempit sehingga cukup hati- hati berjalan.
Saat baru melangkah keluar dari Terminal Kampung Rambutan, gang- gang sempit itu sekarang sudah banyak di barisi dengan pedagang nasi dengan segala macam lauknya.
Berjalan di sepanjang jalan besar dari jalan Baru lurus ke selatan.
Jalan ini penuh berbaris dengan pedagang nasi berbagai type masakan,
Didepan RSD Pasar Rabu masih terdapat polisi yang melakukan penertiban, hampir tiada hari tanpa polisi.
Saat sampai titik berbelok kekiri di ujung  ketemunya jalan Kesehatan dan jalan Simatupang, saya bilang dengan istri sampailah sudah walau harus berjalan lagi beberapa meter.




10.05 tiba di bengkel


Saat motor mau diserahkan, motor tidak mau hidup mesinnya, berkali- kali di usahakan hidup oleh pemilik bengkel, tapi gagal. Saya membuka ceritra sedikit bagaimana prosedure menghidupkan motor ini, cepat dia menyimpulkan berarti dukungan akki yang lemah, ia membuka tempat duduk motor salah satu langganan, dan mencopot akkinya dan di pancingkan ke motor saya, motor mau hidup.
Dilanjutkan dengan proses pembayaran, kemudian dia minta maaf sebab habis menjatuhkan helm saya semalam hingga pecah sambil menyerahkan helm nya sendiri untuk saya gunakan.


11.30 di Bank Muamalat Cijantung Jakarta Timur, menyantuni Yatim NTT-TTS sebagai bentuk rasa syukur motor sudah bisa di bawa pulang, tidak usah berharap lebih.
Yang penting kerjakan semua kebaikan, bentuk jiwa mendekat kepada Khalik
12.17 mengerjakan shalat Dzuhur dimasjid Ibadur Rahman Kelapa Dua Wetan Jakarta Timur


13.12 ban belakang kempes, awalnya saya merasakan kok aneh saat mengemudi sekeluarnya dari masjid Ibadur Rahman, setelah mendorong 900 m ada tukang tambal ban yang lagi makan nasi bungkus, tunggu selesainya makan, baru ban motor dikerjain.


14.30 masuk rumah lelahnya bukan main
di tambah lapar, sehingga sewaktu istri menghidangkan kepala - kepala ikan lele ya sikat saja ditambahi sayur sawi hijau, kepala- kepala ini akibat di goreng e e e copot kepalanya.
Tulang kepala yang tak tergigit dimakan habis dengan kucing rumah si bontek.






Jumat, 6 Juli 2012/5
10.00 di jalan raya Gandoang Cileungsi depan Taman Buah Mekarsari, jalanan cenderung sepi, persiapan Jumatan.

10.50 tiba di Bank BTPN KCPembantu Cileungsi, tidak ada yang antri, langsung ke kasir.
10.56 bermotor perlahan di depan pertokoan Kenari Cileungsi sebab istri hendak membeli Telephon rumah, harga yang ditawarkan cukup tinggi, sehingga pindah toko, telephon rumah sudah mulai sedikit penjualnya sebab tersaingi dengan keberadaan hP.
11.00 Bank Muamalat
15.00 SMS masuk Tyas nya opname di Rumah Sakit Sanglah Denpasar
Kalau anak masuk rumah sakit apalagi jauh jaraknya, hati orang tua mana yang tak akan gundah.




Sabtu, 7 Juli 2012/5


01.11 terbangun ingat jikalau tiba giliran untuk ronda lingkungan, istri ikut terbangun untuk menyiapkan teh jahe hambar hangat kerena tidak ada kue yang dimakan maka tahu kuning di goreng singkat pun jadi.
01.30 melangkah keluar melawan dingin diluar ditunggu oleh dua orang se RT, keliling perumahan.
03.00 saat masuk rumah dikeluhkan istri jikalau kucing bontek muntah di dua tempat.
03.15 persiapan ngepel muntahan kucing
03.30 shalat tahajudan mengingat Tyas di rawat di RSUP Sanglah menjalani transfusi.


07.30 rumah diketok ternyata pak Budi menarik iuran untuk merayakan tujubelas agustusan hari kemerdekaan tingkat RT yang di ajukan jadwalnya yaitu hari ini, saat itu istri sudah menangis sebab Tyasnya sendirian di rumah sakit Denpasar, akhirnya saat ini juga saya putuskan untuk berangkat ke Denpasar.


.45 diantar pak Budi warga RT menuju ke terminal Cileungsi.
Mencari bus yang langsung Cileungsi Bandar Udara sesuai promosinya di perempatan, setelah bertanya berkali- kali baru ketemu dimana bus berhenti menunggu penumpang, ternyata berangkatnya jam 09.00


09.07 masuk bus Bandara di kampung Rambutan


09.15 Damri Bandara berangkat dari Kampung Rambutan, dengan 20 orang penumpang, bus terlihat kosong.
Jakarta pagi ini lancar sekali, tidak menjumpai kemacetan yang menghawatirkan, bangunan - bangunan tinggi bermunculan di cakrawala Jakarta.
09.30 saat kondektur bus itu memungut biaya bus ia bertanya pada saya naik pesawat apa pak, saya tersenyum belum punya tiket, tapi tujuannya Denpasar, kalau gitu turun di terminal tiga pak, ya tidak apa- apa jawabku membenarkan.
Saat itu jalanan kota Jakarta sangat lancar, sehingga perjalanan ke Bandara tidak ada aral melintang, akhirnya tertidur.  


10.08 tiba di tool gate Cengkareng. Bus bandara dari Kampung Rambutan itu berjalan terus menuju ke terminal 3.
10.15 terminal 3, di terminal ini dilakukan penerbangan khusus Mandala, Airasia dan Lionair jurusan Jakarta- Denpasar, Jakarta- Kualalumpur, Jakarta- Hanoi, Jakarta - Singapura.
Tiket ke Denpasar tidak didapat di terminal ini


10.37 pindah terminal, gagal juga, dijelaskan petugas tiket kembali aja ke terminal tiga pak masih ada tiket.
11.00 Sewaktu diatas sutlebus yang mengantar ke terminal tiga, didalam bus masih ada penumpang kebangsaan Indonesia, suami istri dan anak lakinya udah besar sekitar klas enam SD, mereka turun di terminal Internasional, ternyata mau ke Jeddah Arabsaudia, wah ini yang saya kagumi, sebab lama sekali saya berkeinginan pergi ke Arabsaudia dengan penerbangan murah, dan dari Kingabdulazis naik bus menuju Makkah, ambil Mikot, langsung umroh, atau tinggal disana setahun hingga tiga tahun, bekerja di sektor konstruksi atau arsitektur, atau di bidang kebijakan infrastruktur, atau urbanmanagement, sesaat perhatian melayang dan baru sadar jikalau sudah tiba di terminal tiga. 


11.20 akhirnya di terminal tiga dapat tiket penerbangan pesawat Lionair  17.55 FLT  JT026 tiba di Denpasar 20.45
11.30 shalat dua rakaat bersyukur dapat tiket ke Denpasar mengingat kepadatan penerbangan di musim liburan ini.
Senang melihat manusia yang memiliki kemampuan untuk terbang, entahlah, yang jelas saya tidak ada apa- apa nya.


Bertahan terus di musholah sambil membaca Al-Quran ayat Al-Imran.
terdengar orang memasuki musholah ternyata sudah Dzuhur (  12.00 ) langsung shalat berjamaah, setelah itu duduk di bangku luar untuk makan siang, ternyata sudah banyak wajah- wajah asing yang baru turun dari pesawat ternyata orang Malaysia tetapi dari etnis keturunan India, wajahnya tidak cantik, kalau di Indonesia tergolong jelek.


Kalau di Bali ini tergolong keluarga Rahwana atau keluarga Astina, hitam, keriting, besar, berbibir tebal dan lebar, ada sedikit wajah sinis jikalau melihat orang Indonesia, saya sudah membayangkan betapa kejamnya orang ini kalau di negerinya, dan mempunyai pembantu rumah tangga yang orang Indonesia. 


Pasti bisa diperkirakan rumah itu berubah menjadi rumah hantu.
Tapi mengapa membayangkan pembantu, bagaimana kalau yang datang ini teman bisnismu, sebab dia juga manusia yang membutuhkan kehidupan, ya harus hati- hati.
Dari garis wajahnya ia cenderung susah dipercaya, tapi ia menuntut kejujuran dari kita, ini yang bahaya, angapannya dia bisa mempengaruhi kita.


Ada yang baik dari orang ini, jangan dijadikan ia orang berposisi puncak, jadikan ia explorasi, ia akan bekerja dengan ketekunan tinggi mencapai sesuatu yang masih sumir sifatnya.
Satu sendok nasi dimakan dengan lauk tahu dan kecap, lha kecap ini, adalah sesuatu yang tidak sengaja dibawa, kecap itu selalu didalam tas, barangkali aja dalam perjalanan menjumpai makanan yang kurang selera, ya dikecapin aja.


Ternyata masih ada dua barang yang kurang perhatian mengapa tidak diturunkan saja di rumah tadi, barang itu adalah tang putih kecil pembuka kunci stater motor dan cutter kecil sewaktu dibeli di Ketapang saat malam Idul Kurban kemaren di Ketapang untuk mengupas pepaya, buka puasa dengan pepaya,  tapi mengingat sifat berangkatnya yang cenderung tergesa, sebab keputusan berangkat itu setelah shalat dlhuha jam tuju pagi tadi, langsung masukan keperluan harian seperti sarung, handuk, sikat gigi dan lain-lainnya.


Sebab saya duduk dibangku sisi musholah, dan memang sekarang ini waktunya shalat dzhuhur, maka banyak para penumpang yang sholat.
Seorang bapak tua pensiunan unilever, mengantar kakaknya, seorang bapak  yang lebih tua dua tahun darinya, yang hendak sholat.
Saya juga lagi makan siang dari tempat nasi nya Fifi yang kecil tapi ngak abis- abis isinya ini, ternyata sang kakak itu hendak ke Bangkok, Thailand, he he pikirku, sebab hal ini menarik.

Tapi keinginan tahu ini tak terpenuhi, sebab ia sangat sempit waktu untuk secepatnya boarding, pesawatnya sudah ada.
Makan siang habis ( 12.30 ) dan saya harus mencari tempat sampah, sebab plastik pembungkus tahu gorengan mama itu harus dibuang.
Berjalan dilorong panjang, rupanya ini lorong kedatangan penumpang, kalau keberangkatan saya harus naik keatas.


 
Duduk lama dan bersilaturahmi di anjungan Bank Mandiri bagian penukaran uang asing,  duduk disini dengan dua orang pegawai khusus hari libur lelaki muda usia sekitar 25 th, dan beberapa kali minta tolong di charger Hp Tiphon yang sangat cepat habis baterynya.


14.50 Lapor ke dua untuk minta bording pass.
14.55 minta diri dari bank mandiri bagian money changer, berjalan menuju air minum yang disediakan gratis.
15.00 mengisi air minum yang sudah hampir habis di watermountain free, 


15.20 saat melalui pemeriksaan detektor logam maka terlihat pisau kecil cutter di beli di Banyuwangi Ketapang waktu gagal menyebrang, disita dengan petugas, ya direlakan.
15.25 Shalat Ashar didalam terminal keberangkatan.
Tertidur cukup nyenyak hingga 16.00 makan biskuit bawaan mama dari rumah.



17.05 saat berjalan menuju toilet diujung, penumpang penerbangan lain sudah sepi, tinggal lion saja yang ramai.
Udara sore semakin redup, warna jingga sore hari menghiasi langit biru.


Saat matahari bundar dengan warna kuning kejinggan 17.45 diatas cakrawala landasan pacu lapangan terbang internasional Cengkareng Terminal 3, saat tidak lama lagi akan tenggelam, mulai memasuki pesawat Lionair JT026 tujuan Denpasar, pesawat boing penuh penumpang.


Sedikit sedih naik pesawat ini, keuntungan bersih pesawat ini lari ke Singapura sebagai pemilik modal, otomatis mesejahterakan negara tetangga.





Mencoba melihat diluar dari jendela pesawat, hitam gelapnya malam saja yang mengiringi penerbangan malam, titik titik lampu perkotaan  terlihat sepintas, dan saat gelap menghampar dibawah saya yakin penerbangan sudah lepas dari Banyuwangi, dan kini diatas samudra luas selatan pulau Bali, dari dalam pesawat sendiri diberitahu jikalau beberapa saat lagi akan dilakukan pendaratan di bandara Ngurah Rai.


Pesawat semakin memendek dan tanggul terujung landasan sudah kelihatan di malam itu dan beberapa saat kemudian pesawat menginjak daratan dan dilakukan proses pengereman, pesawat tetap berjalan perlahan menuju terminal dan diatas pesawat penumpang mulai melepas sabuk pengaman.  
Jam 20.53 pesawat mendarat di Ngurah Rai Denpasar Bali.


Kaki ini mulai menuruni anak tangga sambil menerima ucapan terima kasih dari pramugari, dan berjalan terus melewati sisi terminal yang sedang di konstruksi di bangun baru.
Ada sesuatu arsitektur gagal dalam menampilkan Bali, sejak mendarat, selain aturan global penerbangan selebihnya gagal suasana arsitektur nya, malahan terkesan belum selesai dan kumuh.
Berjalan terus melewati lorong panjang dengan penuhnya penumpang yang berdatangan maupun yang berangkat malam itu, apa ya kok serasa ngak enak airport ini, padahal bertaraf internasional, ya ada jawabannya, patahan, saat berbelok itu kesan manusia umumnya akhir, tapi ini di belokan lagi, kemudian belok lagi, ketidak jelasan ini yang mempertanyakan dimana kedudukan internasionalnya.
Seharusnya lurus titik. 


Berjalan terus, terlihat para rombongan touris asing yang akan meninggalkan Bali dengan banyak tas dan jinjingan yang dikumpulkan disudut ruang.
Saya tetap berjalan terus mengikuti arus manusia yang keluar dari airport, saat itu terpikirkan jikalau terjadi riot, kekacauan, akibat kebakaran atau terorisme, airport ini sangat tidak efisien menyelamatkan manusia.


Tiba didepan toilet, buang air kecil dahulu, setelah itu berjalan di areal luar airport Ngurah Rai, dan ada beberapa orang jasa antar penumpang dengan ojeg menawarkan jasa, kerena tidak cocok harga akhirnya berhenti.
Tiba diujung trotoar berhadapan langsung dengan banyak mobil, ada sebuah wajah dari kaca mobil yang menawarkan jasa antarnya dari pada pulang ke Denpasar kosong, okeylah saya setuju.


Bermobil menyusuri padatnya lalu lintas di jalan yang sempit, memasuki kawasan Kuta dan jalan lurus masuk kawasan Monang maning.
Memang harus diakuhi bahwa Denpasar 1975 beda dengan Denpasar 2012, yang bertanggung jawab adalah siapa yang mengijinkan, sebab dari dahulu itu Bali itu terkenal dengan ketaatannya memegang kesepakatan yang dirumuskan dalam awig- awig, lho sekarang kok begini.


Kelihatannya disini rakyat di sisihkan, bentuk ketaatan rakyat hanya diwujudkan dengan adanya Pacalang, keberadaan pacalang disudut kota mencerminkan rakyat taat hukum, hukum yang mana sementara penggunaan lahan tidak selaras dengan lebar jalan pencapaian.
Mengingat kedudukan airport Ngurah Rai sangat penting maka diperlukan jalan besar utama bebas hambatan dari Bali barat melipir masuk ke kawasan Kuta, dan dari Bali timur masuk dari timur bandara.

Akhirnya perjalanan malam itu sampai di    pertemuan enam jalan, belok kiri jumpa tembus ke  jalan Diponegoro, Hassanudin, rumah dinas Gubernuran,  Hayam Wuruk.  


22.30 Tiba diujung jalan Anyelir, dan mulai membaca nomer rumah, untungnya kelompok rumahan disini disiplin memasang nomer rumah, akhirnya no 51 didapat rumahnya Ida Bagus Gde Yadnye, teman karib semasa kuliah dahulu.


22.35 Berdiri lama di depan pintu gerbang berpagar besi, ingin tertib, jikalau jarak rumah dan pagar sangat jauh terlindung di balik tembok, seharusnya penghuni rumah menyiapkan bel pintu pertanda ada orang ingin masuk, keniscayaan yang terjadi adalah rumah ini tidak menyiapkan bel pintu.
Anjing tetangga sudah menyalak bising saat pagar besi pintu gerbang dipukul menghasilkan bunyi.


22.40 Terlihat ada seseorang datang dan ternyata Yadnye sendiri yang datang,  kemudian berpelukan.
Langsung digiring masuk melewati garage yang berfungsi Foyer untuk merubah orientasi, bangunan yang banyak pepalihannya yang malahan menjadikan bangunan terlihat kotor.
Melewati jalan setapak menuju kamar sederhana, " Gong malam ini tidur disini ", saya tidak menolak, memang berpisah sejak tahun 1984 sangat merindukan.


22.50 Dijamu minum teh hangat di Foyer halaman ternyata berdampingan dengan dapur.


22.56 Bermotor dengan Yadnye menuju pasar Kamboja, pasar aktif di malam hari, udara cukup dingin, dan kuliner yang dimakan adalah sate gule kambing.
Aroma sate masih sama seperti tiga puluh tahun yang lalu dan mendapat nilai tuju tapi gulainya hanya dapat nilai empat, lain kali tidak mau lagi, antara harga yang di minta engan rasa yag i berikan tidak seanding

Bermotor lagi melintas jalan Hayam Wuruk, Sudirman, di jalan ini sempat melihat jalan yang menghantar ke rumah di jalan sudirman satu nomer tujubelas, itu dahulu, tiga puluh tahun lalu.    


23.30 Melangkah berdua dengan Ida Bagus Gde Yadye dihalaman Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, melintas pintu masuk yang malam itu dijaga beberapa Satpam.
 Bank Darah diujung lorong panjang, mencoba menyapaku ditengah malam dengan senyuman khasnya, disini tak beda jauh dengan pelayanan bank darah di PMI Kramat Jakarta.


Beberapa kereta panjang berisi pasien yang tak berdaya memasuki rumah sakit dengan iringan beberapa anak dan istrinya, sunyi dihamparan gelap malam 22.45, akhirnya bangsal Gadung dijumpai dan kamar no satu, masuk sambil menyebut nama Tyas, yang bangun dari pembaringan seorang mahasiswi yang menemani Tyas tidur, pikirannya suara dokter yang mengontrol kesehatan pasien di tengah malam.
Tyas bangun sambil bersungut- sungut tapi langsung gembira melihat ayahnya datang.
    
gani.phoea@yahoo.com .sms0817344688



 
Minggu, 8 Juli 2012/5
01.00 Tengah malam, tidak terlalu dingin, bermotor, membelah kota Denpasar diwaktu malam  dengan Ida Bagus Yadnya dari Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah menjenguk Tyas.
Belum berkesempatan shalat maghrib dan Isya, dikerjakan setelah di rumah Yadnya.
Saat tidur nyamuk datang berombongan tanpa undangan dan menyerang, terpaksa tutup semua permukaan kulit dari serangan nyamuk.


Jam 03.00 keluar untuk mencari air wudlu untuk mengerjakan shalat tahajudan dalam perjalanan.
Gelap diluar rumah dan rindangnya pepohonan yang ada dihalaman rumahnya Yadnya, diiringin bertiupnya angin pagi hari yang dingin, saya seperti terlempar didunia jaman dahulu Bali di tahun 1870.
Syukurnya saya tidak perlu jauh- jauh kekamar mandi, sebab di depan kamar yang saya tiduri terdapat kran air untuk menyiram halaman rumput dan tanaman, disana berwudlu
Shalat tahajud.
Tertidur lagi


05.30 terbangun untuk kerjakan shubuhan.
Tidak ada suara adzhan terdengar, betapa sunyinya.
Mengaji Al-Quran surah Al-Imran 149 - 200
Setelah itu mencoba meraih Hp mengapa stroom nya ngak mau masuk sehingga betery Hp nol jadinya.
Untungnya membawa batery cadangan shg saat itu bisa kirim SMS ke Jakarta Cileungsi menceritrakan keadaan saat ini.
07.00 Shalat Dluha.
Kemudian berjalan- jalan keluar halaman, jalan itu ternyata jalan mati, terbukti tidak banyak kendaraan yang lewat, banyak kendaraan lewat sebatas ujung gang selebar jalan ini 30 m kanan, tiba2 saja  dari kejauhan diujung jalan dipagi ini ada seseorang bermotor dengan putranya baru pulang dari masjid, ternyata setelah di dekati dan salaman ia ceritra seperti pernah melihat saya ditahun 1984, setelah diselusuri, ternyata ia adik ipar dari mas Sutarman, yang rencananya sebentar siang rumahnya mas Sutarman akan di datangi.
Ia masuk rumah dan sibuk dengan urusan rumah tangga pagi itu.











persahabatan yang terjalin sejak 1974
semasa menikmati pendidikan di
Fak Teknik Arsitektur Univ Udayana Bali



08.00 istrinya Ida Bagus Gde Yadye memberi isyarat jikalau sarapan sudah siap.
08.30 bermotor goncengan dengan Gde Yadnye menuju Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
Turun dari goncengan Yadnye di belokan jalan kekiri di samping jalan masuk parkiran, Yadnye langsung memasuki jalan Buton, dan saya memasuki jalan Halmahera.

Ibu Pastike, dosen sosiologi Fakultas Teknik Universitas Udayana tahun 1975, hari ini terlihat di depan rumahnya di kompleks dosen Halmahera, dan dia masih ingat wajah saya, ia memberi salam demikian pula saya membalasnya, suasana kompleks perumahan dosen  Universitas Udayana terlihat sedikit terjadi perubahan, faktor perubahannya 3% dari keadaan tahun 1985 saat daerah ini saya tinggalkan, di jalan beberapa anjing rumah menyalak kencang.
Jalan kecil yang menghubungkan perumahan Dosen dengan Asrama Mahasiswa sudah ditutup.

Saat melihat rumah di jalan Tanimbar 40 itu dimana mas Sutarman tinggal bersama Kakaknya, rumah itu tidak ada perubahan dan si Kakak tersebut yaitu bapak Suhariono telah meninggal beberapa tahun lalu, mas Sutarman sekarang tinggal bersama anaknya sebab istrinya telah meninggal dunia setahun lalu.
Anak itu bernama Rio dan sudah selesai SD nya, musim sekolah minggu depan ia masuk
. 
Kegembiraan yang sedikit terjadi saat bertemu dengan mas Sutarman, ibu Suhariono yang pensiunan Polisi Wanita itu terlihat hari ini sedang sakit, berbagai penyakit melandanya, tetapi yang dominan adalah gula darahnya.
Tidak bisa lama disini sebab Tyasnya di Rumah Sakit Sanglah sudah memanggil melalui Hp.

Melangkah kaki menuju Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, melintas didepan rumah almarhum bapak Suyono Tejosudargo, rumah itu sebagai saksi bisu, ruang yang diperbaiki untuk menampung para mahasiswa yang ingin belajar tambahan bahasa Inggris di sisi kirinya masih berdiri kokoh, status rumah itu sudah dijual, tinggal tunggu waktu hilang, rumah itu telah mencatatkan dirinya bahwa tiga anggota keluarga yang meramaikan rumah itu telah berpulang ke Kholik, Allah SWT.



Diawali berpulangnya alm bpk Suyono Tejosudargo, disusul dengan Istri tercintanya, dan terakhir anak pertamanya Hary yang pernah kuliah di Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.
1975 saat saya rajin mengunjungi rumah itu, masih teringat telinga ini sapaan halus seorang ibu yang menemani alm bpk Suyono Tejosudargo di akhir hayatnya, dan redup matanya yang banyak menjadi saksi perjalanan hidupnya, membesarkan anak- anaknya, kini saya lewat di rumah itu hanya sunyi yang menemani.
Kaki ini berjalan terus menuju rumah sakit umum pusat, dan terlihat Fakultas Sastra dimana Tyas menuntut ilmu Sastra Jepang didalamnya.

Ini hari minggu, begitu ramainya rumah sakit didatangi pengunjung, seperti semalam sewaktu saya kesini, Bank Darah PMI itu yang pertama kali menyapa,        
Saat memasuki bangsal dimana Tyas di rawat, terlihat Tyas sedang sarapan dari sebuah nampan besar dengan lekukan yang berisi menu pagi ini.





Tyas menawari saya roti- roti bawaan teman kuliahnya yang menjenguknya kerumah sakit, setelah itu mulai ngurus darah untuk transfusi siang ini, suster penjaga pagi itu memberikan pada keluarga Tyas sebuah kotak plastik tertutup rapat tempat mengambil darah.

Pagi belum beranjak siang, rumah sakit banyak dikunjungi keluarga pasien, berjalan diselasar panjang bertiang kayu sebagian dan bertiang beton, sambil membawa sebuah wadah untuk tempat meletakan  darah segar.
Diruang tunggu pengambilan darah sudah ada 8 orang menunggu panggilan pengambilan darah, jikalau dilihat dari keadaannya orang ini termasuk orang jauh, kabupaten sekitar Denpasar.
Saya tidak membuka komunikasi.

20.16 namanya Tyas dipanggil, langsung saya terima darah itu dan dimasukan dalam wadah dan berjalan tegak membawa sel hidup penyambung nyawanya Tyas, melintas lorong panjang, malam yang semakin dingin ini mengantar hembusan angin halus tengah malam, saya perhatikan di Denpasar ini kalau malam terjadi pergerakan udara, sangat beda dengan Jakarta,  berjumpa banyak orang dan seorangpun tak dikenal.
Suster ruangan langsung melakukan penataan transfusi darah Tyas,

Awalnya suster keberatan melakukan transfusi malam hari takut ada permasalahan alergy darah, tapi saya yakinkan aman untuk Tyas, jam 20.30 Tyas tertidur sambil ditransfusi lengannya, dan saya memandang satu persatu tetesan darah yang masuk jangan sampai terhambat.

23.25 tetesan darah yang mengalir di selang trasfusi telah habis, selang dikunci, dan saya keluar mencari suster yang sudah tidur terduduk di bangku administrasi, suster muda usia, perkiraan 23 tahun, senyum nya manis ciri orang Bali asli, tanpa bertanya saya menduga ini wanita diyakini berasal dari Bali timur, entah Klungkung, atau Gianyar.
Ia tersadar sewaktu saya datang, dan dia sendiri yang bilang, sudah habis darahnya pak, diucapkan ditengah malam saat semua pasien tertidur, saya hanya mengiyakan saja.
Seperti telah standard apa yang dilakukan jikalau pasien Thalasemia telah habis transfusi, ia mencabut ujung slang dari labu darah yang sudah kosong dan menyambungkan kembali ke botol larutan Nhcl.
Tyas sudah tidur nyenyak.

23.35 Saya tinggalkan ruang perawatan, dan pelan- pelan pintu utama saya tutupkan.

Menapak kembali selasar panjang bertiang kayu itu, dikejauhan ada dua orang mendorong kereta jenazah, langkah kakiku ini mungkin terlalu cepat sehingga tidak berapa lama dua orang itupun bisa disalip, tapi tiba- tiba saja terjadi pengurangan kecepatan berjalan kaki, sebab di pertemuan tiga ruas selasar tak berdinding itu masuk pula kereta dorong dengan membawa pasien dengan wajah kaku dan sinis dan berbaju putih tebal tapi diatas kepalanya ada kuncir melilit dengan secuil bunga menghiasinya, di iringi 3 wanita paruh baya.
Bali, pikirku, ditengah malam, dilorong rumah sakit, masih terjadi kemacetan.
Kemacetan ini bisa terjadi didunia nalar, yaitu kemacetan konsep, lho konsep kok macet, ya, kemacetan konsep.
Bali ditahun 1978 tidak dipikirkan seperti ini,  

Seperti ada proses perencanaan yang tidak jujur di ungkap, atau keterbatasan kemampuan untuk mengeksplorasi permasalahan dengan model dugaan ( itu seharusnya terjadi tahun 1987 ) saat saya berada di Maluku Ambon, sehingga tidak tahu apa yang dilakukan.

Tetapi malam ini saya melihat ada yang terputus konsep itu.
Suatu perencanaan yang bisa berumur panjang tanpa gejolak perubahan yang drastis adalah saling menutupinya konsep globalnya dan konsep mikronya, suatu contoh konkrit dan ini belum dilaksanakan, hanya dari benak saja akibat kaki ini mati langkah saat kemacetan terjadi akibat bertemunya dua bed dorong pelayanan pasien, pasien yang telah meninggal dan pasien yang akan meninggal, dan saya yang berjalan kaki persis terkunci di sudut tiang.       
Pemikiran itu adalah, di Kota Denpasar jikalau model pengembangannya mengikuti kota - kota tak berujung seperti kota Surabaya, atau Jakarta, jawabku singkat, janganlah kearah sana.

Buatlah kota Denpasar dan kota- kota di kabupaten lainnya kecuali Buleleng lho, kota terkonservasi, lakukan terobosan baru dengan semangat kejujuran manusia Bali yang berbudaya, yaitu good governance yang plus Bali, artinya pengkayaan konsep good governace pemerintah pusat yang penerapannya berbeda dengan propinsi lain.
Kendaraan pribadi tidak boleh beredar dikota konservasi, yang boleh beredar adalah kendaraan umum yang terkoneksi jaringan. 

Jadilah manusia masa depan tanpa meninggalkan tradisi, dan janganlah tradisi dijadikan alasan penghambat masa depan.
Kawasan padat penduduk dengan transportasi sepeda kayuh dan berjalan kaki, dan khusus untuk daerah tertentu jalan utama bisa dilintasi mobil pribadi.
Mengapa saya berjalan sedemikian jauhnya keluar dari ruang perawatan Hematologi, terpikirkan jikalau di RSCM, keluar dari ruang perwatan akan bertemu lift.
tapi ini kan Denpasar.

Melihat pertumbuhan angka kesakitan, satu saat RSUP Sanglah Denpasar harus dibangun satu blok bertingkat 8, saat itu akan terjadi keributan persyaratan bangunan, dengan membeban fungsi khusus, rumah sakit harus terlepas dari persyaratan yang selama ini menjerat pertumbuhan bangunan vertikal di Bali. syarat khusus memungkinkan RSUP Sanglah Denpasar bisa dibangun hingga 8 lantai.

23.45 sudah di luar RSUP Sanglah Denpasar, disudut jalan itu masih terlihat penjual kopi gunting, menunggu pembeli yang kedinginan diwaktu malam, ( kopi gunting, sebab digunting dulu dari untaian kopi bungkus setelah terbuka dituangkan ke gelas disiram air panas termos baru di minum, dahulu 1975 terkenal di Sanur istilah tahu gunting, yang dijual di pinggir pantai, penjualnya seorang bapak Jawa berbahasa Bali, pembelinya adalah siapapun yang habis main air di pantai,  entahlah hari ini masih ada atau tidak  ).

Berjalan terus melewati bangunan pendidikan berlantai banyak tapi tidak terlalu tinggi, dan di design sembrono, tidak mengikuti aspek perencanaan, yang membuat suramnya wajah sudut kota Denpasar.
Ingin mencari inspirasi di kota Denpasar, rasanya kok ngak terwujud, yang ada permasalahan yang keluar dari pakem nya, yang membelit dan di biarkan begitu tanpa keputusan.

Bagaimana kalau kesimpulan itu adalah banjir bandang terjadi di kota Denpasar, seperti peristiwa Ambon 1 Agustus 2012 dengan ketidak mungkinan, sebab tidak ada hutan yang di gusur di uluannya, kecuali hujan deras bagaikan bocornya langit, dari derita yang terjadi, permasalahan utama bahwa Denpasar memerlukan drainage utama yang menghubungkan kota Denpasar ke laut harus dimiliki. 
    
Jangan ditanya masalah penting dan tidaknya saat ini.

Malam ini anjing jalanan tidak menggonggongku berkepanjangan, sehingga ( 23.56 ) saya sudah disudut jalan menikung dimana ada pintu kamarnya mas Sutarman.

Setelah diketok beberapa saat.
Pintu dibuka, salam di ucapkan, senyum kelelahan di ungkapkan, langsung minta ember untuk mencuci baju sebab pakaian yang saya kenakan ini sejak kemaren pagi berangkat dari Jakarta, belum berganti, baunya macam- macam, bau perjalanan, yang pasti bau rumah sakit yang dominan, langsung dikucek dengan rinso, jemur, entah kapan keringnya, mataharinya masih di Amerika sana, kemudian bersihkan badan dan bilas sedikit, sikat gigi, langsung baring, wafat kecil. 


Senen, 9 Juli 2012/5

03.00 saat alarm di Hp membangunkan
langsung bangun, dan ada burble angkat berat di kolong tidurnya mas Sutarman, angkat beberapa angkatan langsung ke kamar kecil, wudlhu dan shalat tahajud.
Akibat kelelahan malahan tertidur lagi habis shalat tahajud, sehingga saat adzan Shubuh dari masjid Annur membangunkan bergegas menuju masjid dan saat masuk masjid, shalat Shubuhnya sedang berlangsung sehingga saya masbuk satu rakaat.


shalat sempat jumpa dengan wajah lama yaitu H Musa, 1975 ia masih muda dahulu dan sekarang garis muda mulai dipinggirkan dengan usia, tapi masih gagah.


Masjid Annur semakin sepi, dilihat saya sendirian di masjid saya ditawari untuk naik ke mobil nya dan menyusuri jalan Renon, sambil berceritra banyak mengenai langka kaki ini yang membawanya jauh menapak dunia,  mengingat perubahan waktu sedemikian cepat di kota Denpasar, akhirnya saya minta turun di depan Masjid    
dan masuk ke rumah mas Sutarman lewat belakang masjid.


07.00 Berjalan menuju kampus di jalan Sudirman, setibanya
di tikungan sempat ketemu dan mampir dirumahnya pak H Ahmad Sastra,



setelah itu berjalan terus  menuju kampus, melewati Driaraba, suatu yayasan yang menampung seseorang tuna netra, akhirnya jalan Sudirman di jumpa, dan kampus Universitas Udayana terlihat,
dari luar pagar kampus, kampus itu seperti nenek yang sesak nafasnya, bangunan yang memenuhi sepetak lahan kampus itu seperti bongkahan batubata yang ditumpuk dan tidak perduli akan dicapai dari mana tumpukan itu, tidak adanya open space yang menghubungkan pertemuan masyarakat luas dengan masyarakat kampus, bangunan kampus hanya di dirikan untuk kepentingan aktualism dengan berpijak pada pondasi yang lama sehingga aspek pembaharuannya tidak terlihat, walau di bangun dengan dana APBN cukup besar.


Berjalan terus dan melihat keanehan yaitu bangunan rektorat di tinggikan dan ada jalan dibawah samping, ini dia, aneh, suatu perencanaan tidak menghasilkan jawaban yang enak, kecuali sangkalan yang tidak masuk akal, saya sangat erat di bangunan ini semasa rektornya masih bapak Ngurah, sebab saya sempat di Dewan Mahasiswa sebelum di bubarkan dengan adanya statuta kampus.

Teringat nama- nama,alm Banzai, Bandesa, Wirati Tabanan yang suka pusing, Mantre pertanian katanya sih sudah profesor sekarang, almarhum mas Ajar Sanjoyo yang meninggal di makamkan di Bekasi, almarhum Suparta nidha katanya sih sudah meninggal, almarhum  Beny SMHK, sebab sewaktu masih SMHK ia sangat cerdas tapi angka tahun bertambah ia tidak terkenal lagi, memang ada keanehan di masyarakat sama seperti berhenti nya jam berdenting, kalau terkenal masih nama dan gelar yang lama, walau individu tersebut sudah berubah status, tetap saja kenangan masa itu yang di perlihatkan, oleh sebab itu berhati- hatilah memanage waktu sekarang ini agar tidak jadi masalah di kemudian hari.

Biarlah sejarah yang menghakimi dan waktu yang bersaksi, berjalan terus, dan ada ke anehan lagi, dahulu ada pura kecil saja di samping auditerium dan sekarang membesar, entah tahun besok akan membesar lagi seperti gen carsinoma, entahlah, saya mencoba mencium kecerdasan di kampus ini, kok ngak terlacak,

Kecerdasan intelektual itu tidak hanya dengan menyandang sederet gelar menghias nama generiknya, tetapi kemampuan menyimpulkan fenomena yang terjadi dan dicarikan jalan penyelesaiannya tanpa harus merasa menggurui.

Kecerdasan kampus yang intens itu tidak melulu mengikuti periodik time, kesinambungan dari berakhirnya  waktu sekarang dan datangnya waktu baru, soal ke fanahan dunia, biarlah, lho yang namanya dunia ya begitu. 
Pagi masih merentang panjang, parkir sepeda motor telah penuh yang dahulunya parkir sepeda kayuh didepan perpustakaan, pantes saja terasa sesak kampus ini, sebab waktu yang telah ditempuh sepanjang ini tidak dipetik hikmanya.

Berjalan terus menuju kampus Fakultas Teknik, sepi, dan ada keanehan adalah kampus ini tenggelam, pondasinya tidak tinggi lagi, mungkin kerena dilakukan peninggian jalan pencapaiannya, sebab dahulu memang becek.
Hanya tulisan Fakultas Teknik di papan nama besar ini yang berumur panjang, 



Saya masuki ruangan yang saat itu kosong, hampir tidak ada perubahan susunannya, saya masih bisa membaca dahulu ada bapak Ir Oka Landung dari Kesiman, dan ada pula bapak Ir Oka brewok yang terkenal dengan pendekatan konsep humanisme dalam perencanaan, ada pak Putra yang sedikit bicaranya, ada pak Latre.


Ada pak Glebet yang selalu kesulitan bernafas,  dan ada Bapak Drs Rai Kalam dengan suaranya yang halus yang penuh ragu dan kalau dipaksa mengambil keputusan selalu ngak tepat, dan ada bapak Ir Cok Mayun, yang badannya kecil tapi berseragam angkatan laut, yang terkenal dengan pemikiran "sedikit sebelah kiri" untuk menguji teori keseimbangan diluar batas.


Dan ada pula putu Mahayuna sebelum menjadi sarjana teknik berkelahi dengan Rabindra didepan teras Fakultas Teknik, dan almarhum Putu Mahayuna yang berbadan kecil itu mengambil batu, dan ada pula seseorang yang lupa namanya tapi ia sebagai kepala tata usaha, ada pula bapak Aik Suwarno, ada mas Gatot, ada almarhum bapak Oka Sujadnye, ada pak Diartika yang baru pulang belajar dari ITS Surabaya, ada adiknya pak Diartika si Latria, ada pak Suweca Kader terakhir saya dengar lagi diabetes, ada pak Lanang Putra kumis, pak Sudi yang dari Tenganan Pengrisingan   dan ada pak Suyono Buleleng yang tidak sama panjang kakinya, dan selalu sesak nafas tapi murah senyum.



Diteras Fakultas Teknik ini, yang sangat- sangat kecil terlihat putu Rumawan ditahun 1978, saudara Keddy yang melankolis dengan kemeja warna kuningnya, ada ptu Wisma yang mahasiswa sipil itu, ada Mulyadi yang almarhum di Jakarta, ada adiknya Mulyono entah dimana sekarang, ada Putu Darta yang menikah dengan penjual, yang saat tahun itu mereka adalah kakak kelas, tiba- tiba muncul Rai Semadhi yang berbadan kecil yang katanya sekarang sudah menjadi Pendeta, ada Cok Jublag,



Entah orang ini beritanya bagaimana gitu, ada Lasie yang tidak pernah lagi terdengar kabarnya, ada Lutfi, ada Sudarman, ada Maman Bongol, ada Ktut Latre, ada Gde Putra yang selalu tertawa yang selalu merasa miskin hidupnya, saat itu Gde Putra ini paling pandai mengerjain teman- temannya, saya selalu terhindar dari ejekan mereka sebab saya adik kelas, dia mempunyai istilah terhadap pola gosok gigi di Bali, jaman itu kan mahal- mahalnya pasta gigi, atau kita para mahasiswa tidak punya uang, Gde Putra bilang, sekarang ada pepsodent, ada delident, ada fuyungdent, kemaren Batadent, tertawa orang dibuatnya saat menyebutkan Batadent, sebab pola membersihkan gigi jaman itu dengan memanfaatkan batu bata di gosok dalam keadaan basah dan serbuknya yang basah itu di raih dengan telunjuk tangan kanan dan digosokan kegigi hingga putih mengkilat baru jalan kekampus. 


Ada pula bayangan Retti Adnyane, ada Suaste yang dari Pupuan, ada  Anom Prawiro teman seangkatan yang juga almarhum, saya ikut proses pernikahannya di kuil Pecinan di Tabanan, saat Alm Anom Prawiro menikah ini, baru di munculkan video Shooting, operatornya disewa dari Surabaya, ada Adnyanegare, ada Nitiyasa, ada Ktut Laba, ada Manuaba, ada Midane, ada Oka Dalem si penari Baris yang masuk kelompoknya Guruh Sukarnoputra, ada Yayak,  ada Alitpuja yang sekarang tinggal di Depok, ada Mas Sutarman, dan ada almarhum Yudiasna Putra si orang Lombok.


Ada Made Gerane yang pensiun Pekerjaan Umum di Palangkaraya, dan ada Paul si orang Kupang, ada Mohammad Jawas yang suka main bola dan sponsornya almarhum  pak Cok Mayun, ada Abdinegare, ada Cok Permadi yang tinggi badannya dibandingkan mahasiswa lainnya dan ada pak Yanglung, oh ya saya sempat sebelum ke Fakultas Teknik ini pergi ke warung samping Fakultas Teknik, saya di sapa dengan gadis penjual, mau cara apa pagi begini, mencari pak Yanglung, kataku, ia belum menyapu ruangan, pak Mayun sudah datang mau memberikan kuliahnya pagi ini, si gadis penjual itu terkejut, sudah lama pak Yanglung tidak menyapu kelas kuliah, pak Yanglung sekarang sudah tua tidak bekerja lagi, pak Mayun kan sudah lama meninggal, bapak ini orang hidup apa orang mati, saya tertawa sendiri.  
   
Saya berdiri didepan fakultas teknik pagi ini yang kosong, yang kesunyiannya sama seperti saya berdiri di Taman Makam Pahlawan Lumajang kalau saya mendatangi kubur almarhum ayahku.
Kepada para sesepuh Fakultas Teknik Universitas Udayana, kepada rekan se angkatan  yang telah mendahului


Pagi ini didepan ruang kosong fakultas teknik unversitas udayana, saya seperti berada di dalam lukisan yang dibuat oleh teman- teman senirupa, dahulu senirupa teman kita, sebab masih satu fakultas yaitu fakultas teknik, lukisan yang masih basah cat nya dimana obyek lukisannya masih bisa bergerak dan obyek lukisan itu bisa membuat lukisannya sendiri.

Waktu juga yang mengadili amalan kita, waktu yang tak lekang dan tanpa air mata, saya tinggalkan kekosongan itu.
Mari kita bina semangat persatuan Fakultas Teknik Universitas Udayana untuk meraih kesuksesan Indonesia melangkah di dunia industri lintas negara.

 Goresan tangan sewaktu kita mengerjakan tugas mengambar bentuk dibawah asuhan bapak Ida Bagus Tugur, bukan hanya sekedar memindahkan pepalihan angkul- angkul di pura ulun danu kedalam kertas, adalah suatu methoda bagaimana bentuk itu lahir dari perhitungan proporsional dan mempunyai waktu awal, sekarang mungkin sudah berakhir pepalihan menguasai  bentuk bangunan, syarat melihat pepalihan itu adalah seukuran jalan kaki, sehingga jika dilihat dari balik kaca mobil, pepalihan itu akan hilang, tersisa wujud globalnya saja.
sehingga untuk melestarikan keberadaan pepalihan, hilangkan jalan besar, raih se senti ke sentimeter kesuksesan itu, dan lakukan penzoningan kawasan konservasi dan kawasan non konservasi.
Sehingga tidak perlu keluar ungkapan  "Undagi tak lagi di undang ke Bali "

Pindah ruangan, saya berjalan mendekati bangunan yang dahulu di gunakan studio senirupa, saya berusaha mencari sosok perupa wanita yang dibina disini " Agnes Yulianawati " tak lagi dijumpa, atma dan pralina nya entah kemana sekarang, ia pernah di Jepangkan, dan bangunan ini  sudah dipugar dan dijadikan ruang jurusan.

Tiba- tiba di ujung anak tangga itu turun sosok badan langsing seorang bapak, yang tahun 1983 dia adalah adik kelas saya cepat mengenalnya tapi lupa nama, kalau melihat rekam dalam benak bapak ini dahulunya adalah seorang adik kelas arsitektur yang suka bergerak dan maghnit tubuhnya tidak pernah ketemu dengan saya, tapi sekarang ia ada dihadapan saya, ia mencoba mengingat tapi putus asa, saya bilang lupa adalah kodrati tidak usah di ingat dan saya masih ada dihadapan anda tanpa harus ketemunya ingatan.
Ternyata ia menduduki jabatan sekretaris jurusan arsitektur.

Saya dipersilahkan naik keatas untuk menjumpai Ir Suwirye yang sudah menjadi ketua Jurusan Arsitektur.
Dengan Suwirye saya langsung kenal sebab dahulu juga sudah akrab, hanya kerena dari adik kelas maka keakrabannya sering putus, beda nuansa.



Untuk menyempurnakan rinduku pada kampus ku, saya datangi perpustakaan,
Bangunan perpustakaan masih bangunan yang dahulu, dan pernah terbakar, penjaga perpustakaan itu masih mengenal saya dan saya pun mengenalnya.



Berjumpa pula dengan teman seangkatan Sunarte Pertanian yang kini sudah tinggi juga pangkatnya, ia masih ingat saya dan saya masih ingat dirinya, badannya tidak banyak mengalami perubahan kecil begitu juga dari dulu, sewaktu bicara panjang hingga sampai ke kampus, ia memberi tahu bahwa istrinya adalah seorang suster, dua hari lalu ia ceritra kepada nya tentang pasien mahasiswi dengan Hb 6.3 masuk rumah sakit dirawat dan ia yang menerima, hanya diantar beberapa teman mahasiswinya beda jurusan, tidak ada orang tua nya, kata istrinya.

Saat itu saya tidak menduga istrinya pak ktut Sunarte timpal pertanian pidan itu adalah perawat yang menerima pasien Tyas anakku.
Akhirnya saya menceritrakan perihal penyakit yang di derita Tyas.
Hari pun beranjak siang, secepatnya kembali ke RSUP Sanglah Denapsar mengantisipasi jadwal waktu transfusi darah lanjutan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, 

Terakhir sebelum saya meninggalkan Kampus Universitas Udayana saya berharap atas nama kejujuran dan kehidupan ilmiah yang selalu disandang oleh perguruan tinggi Universitas Udayana  saya mohon agar pihak Universitas berani mengeluarkan statement yang dibacakan saat acara wisudawan para lulusan dari berbagai jurusan di fakultas "bahwa kelak apabila dikemudian hari diketahui bahwa si pemegang gelar ini melakukan tindak korupsi maka pihak universitas langsung menggugurkan hak penggunaan gelar kesarjanannya dan perguruan tinggi unversitas Udayana tidak lagi mengakui dirinya sebagai alumni Perguruan Tinggi Universitas Udayana".
        
13.00 Masjid Annur untuk mengerjakan shalat Dzhuhur yang tertunda beberapa saat dari waktu yang sebenarnya.
16.00 setelah shalat Ashar jumpa dengan pak H Roqib, proses jumpa nya sedikit lucu, padahal sudah satu jemaah shalat Ashar, tapi kerena lama tak jumpa saya anggap dia ngak ada di masjid, saya mencoba bertanya pada orang senior, adakah ia mengenal pak Roqib, itu pak Roqib dipojok kiri depan, dengan gembira saya langsung menjumpai orang ini, ia terlihat sedikit terkejut, tapi ia berusaha mengingat akhirnya terlihat wajah gembiranya.  sekarang menjadi pengusaha penyembelian sapi dan penyedia daging.

16.15 sudah di ruang 1 bangsal Gadung
, Tyas memberitahukan jikalau pak Diartika datang menjenguk dan ingin bertemu tapi dari pagi saya di kampus, sementara itu diruang perawatan terlihat banyak berkumpul para perawat, akhirnya saya mencoba me Hp pada salah satu suster perawat ini mana yang bereaksi dengan nomer ini berarti dia ibu Sunarte pertanian. 

Betul juga ada ibu gemuk yang menerima Hp, Hp saya matikan langsung saya datangi ibu itu untuk memperkenalkan diri sebagai ayahnya Tyas.
Ibu itu orang bali asli, dan dia sudah diberitahu oleh suaminya keberadaan saya menemani anak yang sakit.

16.30 Jadwal mengambil darah.
17.00 Tetesan darah transfusi kembali memasuki Tyas.
18.00 pak Juremi dan istri datang berkunjung, datang pula Ir  Muhammad Jawas bersama istri dan anak perempuannya,
ramai suasana, bertahun- tahun tidak jumpa.
21.00 transfusi berakhir.
22.00 pak Juremi datang menjemput setelah
mengantar pulang istrinya tadi 19.00  
22.30 tiba di Imambonjol 100, Tegal, dirumahnya pak Juremi.




Selasa, 10 Juli 2012/5

03.30 Hp berdering membangun dan baru sadar saat melihat dinding putih dan sepi sebab tidur sendirian, wouw berarti saya tidur di Gang 100 Jalan Imam Bonjol Denpasar Bali, di rumahnya pak Juremi, pak Juremi ini adalah guru kelas sewaktu kelas lima di SD Muhammadiyah Denpasar tahun 1965.
04.00 shalat tahajud
04.20 Keluar dari ruang dan masuk kerumah induk ternyata pak Juremi udah bangun, langsung diajak ke masjid Baitur Rahim, Monang- maning Denpasar.

Bermotor pagi hari di kota Denpasar, di gonceng pak Juremi seorang yang pernah guru SD 1965.
Denpasar pagi itu tidak terlalu dingin, tetapi  kesibukan lalu lintas diwilayah Monang maning sudah terasa aktif, dengan banyaknya motor yang melintas, sejak beberapa hari ini saya perhatikan para pengemudi motor di kota Denpasar sangat agresive.

Pagi itu dibawa melintas didepan Muhammadiyah dan losmen Kusumasari, berhadapan langsung dengan kuburan Badung, bekas losmen itu  sekarang berubah menjadi pertokoan, tinggal semasa 1964- 1969, saat anak- anak dengan segala kenakalannya.
Masuk jalan kecil yang membelah kuburan Badung, dan diakhir wilayah kuburan, suasana urban sudah mewarnai hingga masuk perumnas.

05.30 Shalat shubuh di Masjid Baiturahim Monang- maning, Monang - maning ditahun 1970 adalah tempat memancing ikan jeleg, dengan umpan nya buah buni, sekarang berubah menjadi kawasan permukiman padat yang tumbuh sedikit sentuhan planning, lebih banyak tumbuh swadaya masyarakat.

06.00 silaturahmi pagi hari kerumahnya Ir Muh Jawas.
06.30 silaturahmi ke bapak Fakih Hasan
08.30 sudah bermotor pagi hari diantar pak Juremi menuju RSUP Sanglah Denpasar sebab pagi ini akan ke Lab untuk periksa berapa Hb darahnya Tyas setelah semalam di transfusi yang ke empat kantong darah.

08.50 paklik Doko datang, adiknya ibu yang menikah dengan gadis Bali ( 1973 ),

08.59 berjalan melintasi bangsal berdua dengan paklik Doko menuju bangsal Nagasari tempat perawatan stroke, untuk menengok pak Mafrukin yang lagi terkena stroke.




09.10 bertiga membaca tahlil, sebab kondisi pak Mafrukin menurun, tadi pagi ada perdarahan di lambung dan kondisinya melemah

09.30 kondisi pak Mafrukin semakin baik dan waktunya di tinggalkan.

09.35 pak Fakih Hasan datang berempat dengan putrinya dan menantunya menjenguk Tyas, suasana gembira.

10.00 mengantar pak Fakih Hasan menuju ruang perawatan Nagasari di mana pak Mafrukin di rawat, kondisi pak Mafrukin semakin baik.

11.00 dalam usia tuanya pak Fakih Hasan terkena gangguan volume paru intake udara segarnya sedikit ( diketahui saat memeluk pundaknya saat menyusuri selasar rumah sakit ), kemudian terlihat mereka  meninggalkan RSUP Sanglah Denpasar, tinggal saya sendiri melihat punggung mereka berempat menghilang dibalik tembok Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.

12.20 shalat Dzhuhur di musholah RSUP.
12.30 mencari makan siang dengan skala limaribuan, pasar Sesetan sama sekali tidak menjumpai penjual makanan, dapat makanan dijalan Buton.    

15.00 proses keluar dari Rumah Sakit,
16.00 masih di depan Adminstrasi pembayaran perawatan selama dirumah sakit.
17.00 di bantu keponakannya pak Mafrukin untuk mengangkat segala barang- barangnya Tyas keluar dari Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, dilapangan parkir sudah menunggu saudara Adib si putranya almarhum bapak Adnan yang akan mengantarkan Tyas keluar dari RSUPSDenpasar  menuju tempat indekosannya.
18.00 masuk kembali ke RSUPSanglah Denpasar Bangsal perawatan Nagasari untuk menjaga semalam pak Mafrukin.
18.15 shalat Maghrib di musholah
RSUPSanglah Denpasar.
19.30 Shalat Isya
22.00 mulai ngantuk, dan pak Mafrukin tidur nyenyak.








 
Rabu, 11 Juli 2012/5

03.30 terbangun, baru sadar jikalau tertidur di bangku samping berbaringnya ketua Pengurus Wilayah Daerah Bali pak Mafrukin.
Membetulkan tidurnya, strooke yang menyerang pak Mafrukin membuat ia tidak bisa menggaruk punggungnya yang gatal.
03.45 mandi di kamar mandi ruang perawatan Nagasari, dan setelah itu sambil bersarung dan bersepatu berjalan cepat menuju masjid An-Nur.
Menyusuri jalan raya Nias hingga ketemu jalan Diponegoro di pagi hari jauh sebelum masuk waktu shubuh, diseberang jalan, disudut pasar Panjer, sudah terlihat pembeli mengerumuni penjual, kemungkinan besar penjual makanan, ternyata penjual daging babi.  
Jalan terus dan didepan pintu gerbang masjid sudah merasa ragu jangan2 pintu berteralis besi itu terkunci, syukurnya tidak.
Berwudlhu dan masuk masjid, masjid dalam keadaan kosong, shalat atahsyahud masjid setelah itu shalat tahajud, membaca Al-Quran.
05.20 Adzan Shubuh

05.40 bermobil dengan H Musa untuk kedua kalinya, memasuki wilayah Renon, masuk sana belok sini sudah ngak hafal arahnya ngak tahu sampai di depan rumah cukup besarnya dengan pintu kayu, rumah bagus.







Dirumah itu H Musa banyak berceritra sepeninggal saya dari kota Denpasar, banyak berbicara mengenai cita- citanya untuk menyatukan umat Islam di kota Denpasar, sebagai umat yang kokoh persaudaraannya.
Menjelang jam 06.00 diantar pulang dan diturunkan dari mobil di titik pertemuan jalan Nias dengan jalan Diponegoro.


Sambil bersarung dan bersepatu memasuki Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, dari pintu kanan, PMI Cabang Denpasar, lorong panjang sepenggal, belok kiri menuju ruang Administrasi RSUP Sanglah, tembus di sayap kiri tempat perawatan pasien strooke Bangsal Nagasari.


Didalam ruang perawatan pak Mafrukin sedang diberi minum dengan keponakannya, tapi diruangan sudah ada Pemuda Muhamadiyah, si Hadi, gundul, mahasiswa Fakultas Sastra Bahasa Indonesia.
Saat itu pak Mafrukin mintu dimiringkan badannya sebab terasa panas punggungnya, bertiga memiringkan tubuhnya pak Mafrukin.


Sekitar jam 07.00 pak Mafrukin merasa lapar, saya secepatnya keluar kamar menuju meja perawat memberitahukan laparnya pak Mafrukin, sang perawat langsung mempersiapkan hidangannya tapi dilakukan tindakan pengurasan lambung terlebih dahulu, sebab ada luka di lambungnya.
Air dimasukan dari hidung kiri dan di keluarkan dari hidung kanan, dan cairan berwarna kuning keluar dari lambung, setelah itu diberi asupan susu oleh keponakannya.


Saat itu saya keluar untuk mengerjakan shalat tahajud di musholah yang disediakan pihak Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.


08.00 diantar Hadi si Pemuda Muhamadiyah yang ikut menjaga pak Mafrukin, untuk mencari tiket pulang.


08.10 bermotor dengan Hadi menuju Muna Tour jasa travel tiket penerbangan di jalan Diponegoro itu, pagi itu penjaga travel masih belum mempersiapkan peralatan kerjanya, sewaktu saya masuk untuk mencari tiket penerbangan Denpasar Jakarta hari ini sebanyak dua tiket.
Ia cepat2 menghidupkan komputernya dan mencari tiket hari ini, seperti diduga semula, fullbooking, penuh semua, ada kosong dikit di harga dua jutaan ke Jakarta untuk nanti sore dan malam dan besoknya disekitar harga satu juta sembilan ratus ribuan.


Kereta Api pikirku, bermotor lagi dengan Hadi, disepanjang jalan Diponegoro pagi itu ke Genteng Biru, pelayanan Kereta Api hanya sampai Surabaya kata petugas itu, untuk lanjutannya kami tidak menyediakan tiketnya.
Tidak bisa hal ini terjadi sebab saya membeli sejak dari stasiun awal.


Seharusnya PT KAI yang memperpanjang pelayanan nya hingga Denpasar menyediakan satu gerbong untuk penumpang dari stasiun awal seperti Denpasar ini, sehingga menjamin tiba selamat di Jakarta.
Lha kalau seperti peristiwa pagi ini, pelayanan Jakarta hanya dilayani sampai Surabaya, kan tidak memberi kepastian kepada penumpang, penumpang mundur, padahal sudah berniat naik kereta api hingga Pasar Senen Jakarta.


Lha tanggung jawab profesinya bagaimana, ya pantes tidak maju- maju, ganti direksi tidak semakin baik, seperti ada sesuatu ke tidak bisaan yang melanda seluruh jajaran, sehingga masalah kebanggaan memberi service kepada masyarakat diutamakan, menjadi mandul, dan membuat seluruh jajaran kereta api tidak habis fikir akan berbuat apa.
Tidak sebagaimana  yang di contohkan mbah ku Almarhum Sahut Wirosudirjo, pensiunan Sep Kereta Api Stasiun Tempeh Lumajang (1965) dan meninggal ( 1990 ), ia sangat jujur untuk menyediakan gerbong barang pengangkut tembakau dari Tempeh, saya masing ingat kalau mbah almarhum lagi koordinasi dengan stasiun Lumajang yang banyak stok kereta barangnya untuk di bawa ke Tempeh, sebab di Tempeh ada permintaan mengangkut Tembakau ke Jember, dan pisang ke Banyuwangi untuk dibawa ke Australia, dalam jumlah banyak, dan harus berbicara keras melalui telephon berbatery basah di setiap stasiun kereta, bersuara keras setingkat teriakan itu yang terdengar olehku yang lagi bermain sewaktu kecil dulu diluar stasiun, dan terngiang hingga sekarang ini.


Dengan Hadi turun didepan agen penjual tiket Bus Malam Executive Lorena, dan ada ketersedian tempat duduk dua orang pemberangkatan besok pagi, jam 06.00 sudah di stasiun Ubung.


09.30 Timbul lapar saat lewat di depan penjual nasi kuning Muslim, di Denpasar ini seni nya mencari makanan halal adalah bukan ditulis Halal, tetapi Muslim, dijual dalam gerobak aluminum baik dan bersih, dan tertulis nasi kuning Muslim, kalimat muslim ini pertanda secara significant kehalalannya tanpa birokrasi MUI.
Hadi ikut makan, saat itu terlihat ada seorang ibu Bali, membeli nasi kuning lima bungkus, saya bilang dengan Hadi, kalau orang Bali boleh beli makanan muslim tapi kalau orang Islam tidak boleh membeli makanan masakan orang Bali.
Hadi hanya mengangguk.
Bermotor lagi dengan Hadi dan turun di depan Bank Muamalat jalan Diponegoro Denpasar untuk menyantuni Yatim Piatu NTT TTS.


Pagi itu bank cukup sepi, saya hanya dilayani sendirian, dan sudah merupakan syarat utama Satpam di posisi penjaga pintu depan Bank adalah mengucapkan Assalamualikum Wr Wb, saya pun menjawab dan masuk dan baru sadar jikalau ini bukan di Bank Muamalat Cijantung seperti biasanya, tapi di Bali, benar juga dugaanku, Satpam itu orang Bali terlihat ada wayan di badgename di atas saku kanannya, saya tidak sempat bertanya apakah dia Balimuslim atau tidak.


10.00 saat berjalan menyusuri trotoar jalan Diponegoro kota Denpasar hendak menuju ke RSUP Sanglah Denpasar, terdengar ada orang berlari dibelakang saya, saya memperhatikan tekanan langkah kakinya ringan saja, sehingga tidak menjadi perhatian saya, ternyata Tyas yang hendak ke Bank Mumalat dan melihat saya keluar dari bank Muamalat ia mengejar.


Saya ceritrakan jikalau tiket bus sudah di tangan sehingga siap berangkat  besok pagi.
Tyas ikut masuk ke Ruang pak Mafrukin dan melakukan pertolongan menggaruk punggungnya sebab akibat strook yang dideritanya pak Mafrukin tidak bisa menggaruk.



11.57 mohon diri dari pak Mafrukin sebab besok pagi akan berangkat ke Jakarta dengan Tyas, naik bus malam Lorena.         
12.00 menuju ruang perawatan Gadung 1 tempat Tyas dirawat dan bercanda dengan pasien Ginjal yang akan pulang hari ini dan berlinangan air mata melihat Tyas yang menyambutnya dengan gagahnya.
12.20 Shalat Dzhuhur di musholah RSUP Sanglah Denpasar sebelum langka kaki ini keluar dari halaman rumah sakit.

16.00 ke kuburan almarhum kakak di Wanasari Kampung Jawa Denpasar, saat melintasi perempatan Jalan Sumatra, dan Jalan Gajamada, ada sesuatu yang tetap semenjak tahun 1964 hingga sekarang adalah bau perempatan itu, bau nya pesing kencing, kalau dahulu bisa jadi, bau itu ada, sebab daerah itu dijadikan tempat parkir dokarbali dengan kudanya bertelanjang dan kencing disepanjang jalan sambil memuat barang dagangan.
Tapi sekarang dokar itu tidak ada, mengapa bau pesingnya masih ada.



16.30 Kuburan Islam Kampung Jawa Wanasari, sore itu suasana di perkuburan islam wanasari kampung jawa Denpasar agak ramai sebab ada pemakam tiga kematian, sempat menjumpai keluarganya Prayitno, teman SD dan STeknologi Tulangampiang Denpasar Bali.
16.45 bermotor dengan mas Sutarman melewati banjar Belong, memasuki wilayah elite di tahun 1965 yaitu jalan Gajah Mada dari sisi Barat, wilayah kota itu tidak bersinar sekarang, sudah mati masanya.  
17.00 dirumah Bli Ktut Suwarna, di Banjar Gelogor, Tegal, Denpasar pemilik losmen Kusumasari sewaktu tinggal disana tahun 1964 - 1969.



Dirumah ini seperti suasana detik terahkhir penyerahan kekuasaan Kerajaan Pandawa Amarta kepada penerusnya yaitu Parikesit,
Sebab Bli Ktut Suwarna di usianya sekarang sudah terkena berbagai penyakit, Bli Griya saja sudah meninggal, tinggal bli Nyoman Puspa yang lemah kepeminpinannya, sementara generasi anak mereka sore ini ikut bercengkrama di depan Bale Gde dengan prestasi yang baik dan usia yang matang.
Wajah - wajah putra putri Bli Ktut Suwarna, Bli Griya, Bli Puspa sama persis sepertinya ayahnya, saat itulah saya teringat Pandawa Pralaya. 


Dirumah ini pula diberitahukan jikalau Made Adi teman bermai dibelakang sekolah Muhamadiyah Imam Bonjol sudah lama meninggal dunia.   
Pulang secepatnya bermotor dengan mas Sutarman kembali ke jalan Nias sebab saat Maghrib akan tiba.
Shalat Maghrib dan Isya di masjid Annur.
Setelah itu pulang secepatnya ke mas Sutarman, dan setelah makan malam langsung tidur mengingat besok pagi akan pulang.




Kamis, 12 Juli 2012/5
01.00 Terbangun sebab haus, terlihat mas Sutarman belum tidur, saat akan tidur lagi terlihat Banu di kamarnya sedang mencoba untuk tidur malam, sempat menasihati Banu untuk memanage uang yang diterima setiap acara pertunjukan musik Africa nya.
01.30 masuk ke pembaringan lagi, tidur periode sekarang malahan tidak nyenyak.
03.00 bangun dengan sigap sebab sadar jikalau sudah waktunya meninggalkan pulau Bali, mandi dan shalat tahajud.
04.00 mulai persiapan berangkat, membangunkan mas Sutarman, jam 04.20 pagi hari sudah bermotor dengan mas Sutarman menuju pertigaan jalan Nias dan jalan Diponegoro.
Dititik itu sunyi sekali, mas Sutarman merelakan untuk pagi buta itu menjemput Tyas, tinggal sendirian untuk menunggu kedatangan Muhammad Jawas.
Keriauan pasar pagi di seberang jalan masih berjalan, pembeli dan pedagang yang baru datang langsung terlibat tawar menawar barang.
04.20 Pagi masih gelap dan Muhammad Jawas datang bermobil putih bersama putri satu-satunya, langsung berhenti dititik yang dijanjikan, pertigaan jalan Diponegoro dengan jalan Nias.
Disebabkan Tyas belum juga datang saya masuk kedalam mobil dan mulai bicara masalah pengalamannya lama di Lampung pengawas konstruksi Bendung
04.33 Mas Sutarman datang menggonceng Tyas, langsung masuk mobil, dan salaman dengan mas Sutarman untuk selanjutnya berangkat ke Terminal Ubung.
05.19 tiba di terminal Ubung.
Orientasi Tempat mengingat berpuluh tahun telah lewat tidak mengenal ulang sambil mencari musholah
Akhirnya musholah dibuka dan jam 05.25 shalat berjamaah.
06.00 jadwal bus yang dijanjikan belum datang juga.
07.00 Bus jarak jauh yang parkir di terminal Ubung seperti Pahala Kencana, Kramat Jati, Titian Emas, Jawa Indah, Gunung Harta sudah banyak yang berangkat meninggalkan terminal ubung.



Ir Muh Jawas dengan putrinya yang mengantar ke terminal Ubung

08.00 Bus Lorena tujuan Jakarta tiba.
08.30 bus lorena Denpasar Jakarta mulai bergerak meninggalkan terminal ubung.
Kota Denpasar yang memiliki penduduk bermobil banyak, terlihat  banyak di jalanan  sehingga macetnya entah udah hilang nikmat bertempat tinggal di kota Denpasar jadinya.




08.22 Abian Tuwung Tabanan
08.24  Kediri Tabanan
08.30 Kota Tabanan sisi baratnya.
08.32 Memasuki terminal persiapan Tabanan untuk mengambil penumpang, yang spesifik di dalam terminal ini ada penjual pisang goreng dimana saya tahu pisang yang digoreng adalah pisang yang ada di Tabanan, manis nya itu lho enak banget.
Dan penjual sudah mempunyai kecerdasan lebih yaitu pisang goreng yang dijual dikemas di wadah plastik, tiga goreng pisang di satu plastik pembungkus dihargai seribu rupiah  
08.52 Meliling Tabanan
09.14 Antosari Tabanan
09.52 Pulukan Madewi Jembrana
10.35 Pasar Senggol Negara, sepi, tapi naik 5 penumpang.
10.58 Melaya Jembrana
11.13 ditengah- tengah wilayah hutan lindung Bali Barat, bus berhenti satu menit untuk memancing monyet, dan monyet pun keluar.





11.36 Pelabuhan Gilimanuk untuk menyebrang ke pulau Jawa
11.43 Bus memasuki badan kapal penyebrangan.
12.20 ditengah selat Bali, terpaan angin dari arah lambung kapal cukup kuat, hamparan pulau Jawa semakin dekat.
12.50 kapal penyebrangan merapat di daratan pulau Jawa.
12.57 meninggalkan Ketapang kota pelabuhan penyebrangan pulau Jawa sisi paling timur.
13.30 memasuki wilayah hutan lindung Blauran.
Bus berjalan cukup kencang, wilayah timur Jawa Timur ini sudah panen mangga.
14.17 Panji, pabrik gula Situbondo, ditandai ramainya lori tebu melintas.
14.18 memasuki kota Situbondo. Karakter kota - kota Jawa Timur, alun- alun.
Jalan di bagi dua arah,
15.15 mendekati Besuki, jajaran pantai dan lereng bukit batu menjadi hiasan.
15.20 masuk rumah makan Puritama Seafood Pasir Putih, bus belum berhenti tapi saya sudah berdiri sebab akan mengejar sholat terlebih dahulu daripada makan, tepat berhenti, langsung turun dan berlari menuju musholah dan shalat berjamaah dengan Tyas.
Setelah itu masuk ruang makan dengan merobek tiket, menu nya cukup enak, tahu goreng, soup hambar isinya lengkap, mie goreng, ayam goreng dipotong kecil, semangka, dan teh manis.
16.12 bus melanjutkan perjalanan dengan iringan matahari bersinar diatas hamparan pantai.
16.42 Paiton PLTU
16.51 Sore semakin redup, para santri putri berjalan dan bersepeda dikota Kraksan.
 17.23 Suasana sore semakin redup, di Prajekan Probolinggo, masuk Gading Probolinggo.
Sepi, semua masuk rumah untuk persiapan  mengerjakan shalat.
17.32 sudah terdengar adzan maghrib.
17.43 masuk kota Probolinggo
melintas kota Surabaya tertidur  
21.06 Kota Lamongan, perbaikan dan pelebaran jalan  diujung kota, akibatnya arus kendaraan tersendat.
23.30 Tuban, rumah makan Tamansari , makan tengah malam tanggungan bus yang dinaiki dari Denpasar hingga Jakarta, shalat Maghrib dan Isya dengan imam sholat anak remaja, cepet amat shalatnya, saat masuk keruangan makan hidangan makan malamnya lebih sederhana dibandingkan di Pasirputih, yaitu nasi, sayur bobor bayem dan daun labu kuning, ayam goreng.
kecap tidak dikasi cabe.



Jumat, 13 Juli 2012/5

00.02 Kernet bus Lorena mengingatkan bus akan berangkat. tapi Tyas nya masih dikamar kecil.
00.10 bus berangkat melanjutkan perjalanannya.
02.13 bus berjalan perlahan kendaraan berbaris rapat perkiraan lokasi berada di Rembang, agaknya ini awal kemacetan parah, kerena terlalu lama macet banyak para supir truk panjang tertidur sehingga menambah parah, keparahan ditambah lagi dengan satu bus Lorena tujuan Denpasar Bandung  yang berjalan seiring dengan bus Jakarta Denpasar itu balik kanan kerena ngak tahan macetnya Rembang.
03.15 masuk kota Pati
04.15 Masuk Kudus disini terdengar adzhan Shubuh.
Shalat shubuh dalam bus.
04.30 masuk ujung timur jalan tol kota Semarang
05.55 masuk terminal Mangkang Semarang



melihat halaman terminal kosong langsung timbul keinginan untuk berlari lari di terminal, tingkatkan speed sampai nafas ter engah- engah, Tyas udah nyiapkan minuman kopi luwak terminal Mangkang Semarang.


06.25 Bus bergerak meninggalkan terminal Mangkang untuk keluar kota Semarang menuju Pekalongan.


07.13 shalat Dlhuha Sendang Ungu Batang,
sebab yang lain masuk kantin terlebih dahulu, Alhamdulillah bisa Shalat normal, sebab semalam dan tadi pagi shalat di bus dalam kondisi darurat, darurat jangan lama tunjukan rasa syukurmu dengan Shalat.
saat masuk di kantin, melihat harga nasi gudeg lengkap Rp 17 500,- akhirnya saya tawar Rp 10 000,- dengan dihilangkan sambel hati kreceknya, disetujui, kerena Tyas ngak bisa makan pagi maka nasinya dibungkus akan dimakan di bus.


Kalau saya langsung dimakan disitu, dan betul juga enaknya sungguh menyakinkan, memory ini teringat perjalanan makan nasi gudeg di terminal Solo tahun 1994 dengan Aswan anak pertama, sampai Aswannya bilang enak pa gudeg nya enak pa.


07.55 bus bergerak meninggalkan Batang.
08.03 melintas Alas Roban.
08.24 Pagi sudah terang benderang, hamparan hijau sawah di Pekalongan sisi timur kota terlihat menghampar luas.
08.49 Jalan Sudirman Pekalongan
08.50 Saat bus henti, di jalan Slamet Riady berhenti lintasan Kereta, tebak2 an kiri kanan dan jenis kereta, tyas menang kiri lwt KA barang
10.10  melintasi kota Tegal, panas menyengat.
10.54 Brebes
Sedih juga saat melihat orang berangkat Jumatan, sebab saya di bus tidak bisa Jumatan.
Subhanalloh Walhamdulillah Walla Illa Hailalloh tidak bisa jumatan ya Allah.


13.23 masuk Indramayu, udara panas dan macetnya lalu lintas panjang sekali. Kawasan Pantura yang paling suka makan korban kecelakaan lalu  lintas, gila ngak Indonesia menyumbang kematian kecelakaan lalu lintas 3000 jiwa  meninggal setiap tahunnya, berarti 82 orang meninggal sehari, atau 3 orang per jam, gawat.
Kita ini layaknya seperti negara bebal yang tidak mau menjadikan peristiwa itu suatu perbaikan di kemudian harinya.


14.04 Lohbener Indramayu, baru terlepas dari kemacetan disusul kemacetan berikutnya, masalah transportasi sudah waktunya dipikirkan serius, hal ini kalau di lalaikan, beberapa tahun mendatang kehidupan semakin tidak nyaman.
Penggunaan mobil pribadi sudah menakutkan kerena banyaknya kecelakaan kecelakaan, terkadang kesulitan BBM yang menyebabkan semua kendaraan tidak jalan adalah merupakan peringtan jikalau kepentingan kita di masa datang tergantung sikap kita terhadap energi hari ini.
Menyusuri jalan lurus yang sering memakan korban, jalan keputusan yang harus di lakukan pihak pemerintah sebagai pemegang anggaran belanja negara adalah memanfaatkan kamera yang dipasang pada tiang tinggi untuk memonitor : 1) kestabilan pengemudi, 2) pengemudi tidak boleh loncat jalur, dan berkecepatan lewat batas ketentuan, 3) diberitahukan diujung kawasan kontrol ini ada petugas tilang yang melakukan tilang atas pelanggaran yang dilakukan. 
     
16.10 keluar dari rest area Tamansari Cabang Pemanukan, harga makanan cukup mahal, sempat shalat Dzhuhur dan Ashar sore semakin tergelincir diufuk barat.  
17.00 masuk pintu tol Cikampek
17.45 Kerawang Barat
18.04 Macet di pintu tol Cikarang Bekasi
19.00 keluar dari pintu tool Cipularang dan langsung masuk tool Wiyoto Wiyono.
Saat bus berhenti menurunkan penumpang, ikut turun, berjalan sedikit dan menyebrang jalan, tunggu lama kendaraan umum tidak ada, kemudian naik taxi sampai parkiran angkot 56.
20.30 diatas angkot 56? duduk paling depan sebab membawa beberapa koper cukup besarnya.
21.30 tiba di Gandoang.
21.45 masuk rumah.


Sabtu, 14 Juli 2012/5

11.45 Mie ayam setiap anak dapat satu bungkus.
Setelah shalat Isya, silaturahmi dengan bapak orang Palembang yang sering sakit ginjal, sebab dia menerima saya sebagai sahabatnya.










Minggu, 15 Juli 2012
Hari mulai terang, sekitar jam 06.00 saat berangkat bersama istri menuju pasar mengingat kulkas sudah kosong.
Sarapan blenderan halus kacang ijo dan kedelai dan kayu manis sudah di lakukan
sehingga semangat untuk mengarungi dingin pagi menuju pasar,


Senen, 16 Juli 2012
08.55 Bank TPN Cileungsi
09.00 Bank Muamalat Cileungsi
10.00 Lottemart Ciputat, ikan yang dibeli : bandeng kecil dua bungkus, ikan ayam2, ikan tongkol, ikan selar, ikan dori, kurma, telor, istri memasukan barang untuk dibeli, baskom kecil, tepung beras dua bungkus, piring plastik untuk hantaran buka puasa ke masjid.
11.30 tinggalkan Lottemart Ciputat
12.15 Macet parah di sekitar  mall Cijantung dipicu dari pulang anak sekolahan di Yayasan Sudirman Cijantung, dijemput dengan naik mobil.
Jalanan sempit, anak sekolah yang parkir motor di pinggir jaan.

12.30 Shalat Dzhuhur di masjid jalan raya Bogor Ciracas
Setelah bermotor lagi
Ada makan nasi padang serba delapan ribu, dipersimpangan Keong, kesana untuk makan siang, beli satu untuk berdua, sebab ada juga membawa nasi dari rumah.
Satu piring berdua dengan istri ini ditambah nasi dari rumah mempunyai konsep makan jangan bebas- bebas tanpa larangan, cukuplah makan di siang hari untuk mencegah sakit badan.
13.45 Saat melintas di Cibubur, bukan main ngantuknya, udara cukup panas, 




Selasa, 17 Juli 2012

01.00 Jaga malam yang giliran jaga jatuh hari ini,
Ceritra ronda hari ini agak sedih, satu truk menyerbu penduduk kampung yang memiliki ternak, dirampok, dipotong ternaknya, dibawa dagingnya, sisa tulang, dibiarkan,
Perempuan mati diterkam kumbang si kucing besar, ada cecceran darah, ada batalyon pendidikan menembak  
18.45 setelah shalat maghrib, hujan deras menyiram, cukup deras sih, air yang jatuh diatas sampai dua kali ember besar.   


Rabu, 18 Juli 2012
17.56 masuk rumah dengan basah kuyup, menggigil sedikit, kehujanan sejak di Mall Pondok Indah Jakarta Selatan, saat keluar dari Pasar Cipulir yang gagal membeli sarung sebab saat itu pedagang pasar banyak yang sudah pulang ( 13.00 ) yang terbeli hanya amanahnya ibu2  pengajian yang disapaikan ke istri kepingin hadiah kaos kaki muslimah sekaligus untuk menutup aurat.


Terjadinya penundaan hingga kepasar Cipulir jatuhnya tengah hari, disebabkan motor masuk bengkel jam 09.00 di bengkel "Saudara"  di pertigaan jalan Bogor Raya dan Cibubur.
Untungnya motor hidup dari rumah sejauh 21 km menuju bengkel, ternyata spuul dinamonya mati, proses penggantian spuul ini dan pencocokan jenis spuulnya yang agak lama sehingga keluar bengkel jam 11.50, baru bermotor beberapa menit terdengar adzhan Dzuhur.

Mengambil shalat di masjid yang belum pernah di masukin, wilayah Cibubur, arah jalan menuju kompleks Batam, ujung jalan wilayah militer.
Kemudian terkena macet panjang di jalan Simatupang menjelang Terminal Lebak Bulus, sehingga masuk pasar Cipulir sekitar 12.56.


Shalat Ashar di masjid Pajak disisi kiri jalan Simatupang dari arah Pondok Indah.
Saat pulang melewati Cijantung, kok ada yang menggembirakan yaitu perbaikan trotoar di jalan raya Bogor dikawasan Cijantung, kalau saya sih merasa gembira sebab masalah trotoar ini pernah saya tulis di blog ini juga, kesimpulan tulisan itu adalah kok wilayah Jakarta Timur tidak seperti termasuk wilayah Jakarta, yang kental suasana Jakarta sebagai ibu kota Negara ya hanya kawasan jalan Thamrin.



Kamis, 19 Juli 2012
Berita pagi ini dari salah seorang penderita Thalasemia yaitu si Dikky meninggal anaknya mempunyai ciri gigi ompong dan  rumahnya di Pasar Minggu Thalasemia
09.00 tiba di Bank Muamalat Cijantung, anak2 sekolahan pada libur.
10.00 tiba di Pasar Cipulir untuk membeli sarung 50 biji yang akan dijadikan salah satu isian paket ramadhan tahun ini.
Saat berjalan menuju parkir motor, suasana jalan raya sangat mengejutkan, sangat ramai, padahal tadi sewaktu saya bermotor dan tiba disini belum seramai ini arus lalu lintasnya.
10.30 menunggu istri yang mencari baju buat Fifi, sambil memperhatikan keramaian
jalan didepan pasar Cipulir.


Sudah saatnya jalan Ciledug dan Kebayoran lama di pikirkan secara serius dan berarah selesai masalah, masalahnya adalah kemacetan akibat berlimpahnya kendaraan yang mendatangi kawasan perdagangan Cipulir, kalau mau ditata modern dan artistik sesuai dengan predikat Metropolitannya Jakarta adalah bebaskan Cipulir dari kendaraan plat hitam, merah, kuning, hanya boleh kendaraan interna khusus kawasan Cipulir dan gratis, shelter suttle bus berada dibanyak tempat, Cipulir adalah bangunan satu blok menjulang duabelas lantai, berstruktur anti gempa skala 9, dan ruang bebas mengitari blok Cipulir berjari- jari  1000 m, dengan saluran air kanal- kanal penangkap banjir saling terhubungkan membetuk anyaman jaring laba- laba, kedalaman kanal bisa 4 dan 5 meter, dan diatas kanal terdapat jalan setapak untuk berjalan mendatangi bangunan blok Cipulir, bagi yang tidak sabar menunggu datangnya sutlle bus.


Diujung sungai yang melintasi Cipulir dibuat pintu bendung untuk mengatur ketinggian aman banjir yang akan memasuki kawasan Jakarta hingga bermuara ke laut.
Asumsi perhitungan banjir kawasan Cipulir ini adalah berapa besar banjir yang diterima kemudian dibagi habis dengan volume kanal yang terjadi sejajar dengan penataan kawasan Cipulir, di kali faktor, dimana faktor ini adalah waktu menahan kandungan air yang memasuki kawasan Cipulir, yang diserasikan dengan kecepatan limpasan air dipintu terluar air yang masuk ke Jakarta.


Kalau tidak ingin menahan lama- lama air yang masuk ke kawasan Cipulir ya pintu limpasan keluarnya dibuat besar, tapi diperhitungkan juga kesanggupan menerima limpasan air dari masyaraat 
Terdapat jalan lingkar mengelilingi Blok Cipulir, dari jalan lingkar ke pusat gedung hanya ada sutlle bus, dan trotoar pejalan kaki selebar 4 meter, berundak- undak untuk mencegah motor masuk dipadu dengan pohon pelindung dari tanaman asli Cipulir yaitu, rambutan, mangga, Jamblang atau duwet dan buah kayu, entah masyarakat setempat menyebut buah ini apa, yang asam rasanya dan penutup buahnya enak dibuat manisan.
Halaman seluas ini bisa dipakai untuk shalat ied dengan makmum shalat berada dibalik pepohonan dan rimbunnya tanaman hias disudut mata melihat, serta tempat imam shalat adalah diujung barat yang merupakan masjid sendiri berdiri dipinggir terluar sisi barat halaman Cipulir yang bergaris tengah dua setengah kilometer itu.
Masjid yang berdiri elok untuk shalat jamaah pasar, akan menambah datangnya para pembeli manca negara. 


Soal sungai dibawah Pasar Cipulir sekarang, dipelihara dengan penataan taman yang asri, air sungainya digunakan menyirami taman berdiameter dua setengah kilometer.
Soal jalan bawah tanah untuk loading dan distribute barang bisa memanfaatkan jalan yang ada sekarang.


Resiko yang harus dihadapi adalah menghilangkan semua bangunan diarea 2500 m dari pusat Cipulir, ditengah jembatan penyebrangan jualan.
Penataan ulang sesuai perencanaan.
Keuntungannya, terwujudnya bangunan dan taman yang serasi hijau banyak tanaman dan terhindarnya kawasan dari banjir.    


Saat ini matahari di Cipulir cukup terik, buruh angkut yang menyongsong datangnya barang dari truk atau kendaraan lain sudah siap berlari, mencari dimana tempat berteduh yang agak dingin, luar biasa panasnya pagi ini.
Ada warung makan sangat sederhana tertulis Tantina, teringat lagu Ambon burung Tantina, tapi letaknya di seberang, menyebrang jalan diantara kerapatan kendaraan yang melintas.


Ditempat menunggu ini adalah merupakan
ujung gang yang sedikit mendaki dan ada gerobak pasir yang berkali- kali keluar masuk mengangkut pasir, didorong dengan tiga orang, sebab jalan gang mendaki.
Berkali- kali ikut membantu mendorong gerobak pasir bangunan untuk membunuh waktu tunggu, akhirnya istri datang juga.
11.40 meninggalkan kawasan Cipulir
11.50 Parkiran motor kementerian perumahan rakyat
11.58 Shalat Dzhuhur di masjid Badan Pertanahan
12.30 Makan rendang dengan nasi dibawa dari rumah, untuk istri khusus nasi dan rendang langsung di beli, dan untuk dibawa pulang makan sahur adalah 8 rendang dengan sambal dan sayur nangka.
13.30 ngantuk yang luar biasa datang menyerang saat melintas di Kranggan Cibubur, hentikan motor dan istri ikut turun, menuju musholah di depan supermarket buah segar, dan saat masuk, banyak karyawan supermarket buah itu yang menjadikan musholah itu tempat istirahat.
Langung aja menuju emperan musholah dan berpakaian lengkap dengan jicket langsung berbaring tidur, nyenyak nya luar biasa.
13.45 datang lagi kesadarannya, langsung bermotor dan angin panas menerpa Cileungsi siang itu.
Kesegaran dibutuhkan untuk bijak mengambil keputusan, kapan kecepatan motor di tambah dan kapan dikurangi.
14.30 masuk rumah.


16.50 Berjalan bersama istri untuk melihat semangat warga menyambut bulan suci Ramadhan malam ini, sepanjang jalan menuju masjid diujung jalan yang belum selesai setiap warga yang dijumpai selalu bertanya nanti malam sudah teraweh belum, sudah jawabku tegas, kalau sidang isbath Kementerian Agama memutuskan lain, tanya nya lagi, sudah kelakuan, kataku, sudah terlalu sering sidang isbath tidak mendudukan permasalahan menjadi terhormat, walau ada saksi yang melihat bulan, saksi itu tidak gila, saksi itu dibawah sumpah, tapi dengan ringannya di  bantah oleh keputusan sidang isbath, tidak syah, sebab belum cukup umur.


Rindu mu terhadap Ramadhan harus membuat dirimu cerdas, saya sering berujar, menjadi orang islam itu harus cerdas, gunakan otak sehatmu, ingatlah mohon maafnya menteri Agama yang di muat di harian Kompas dan tak tercatat hari dan tanggalnya, dan si bapak menteri itu ternyata orang Palembang beberapa puluh tahun lalu saat ia merasa tidak enak hati menentukan saat Iedul Fitri di hari lain.


Oh ya ada satu lagi, jangan makan uang korupsi nanti otakmu tidak bisa berfikir cerdas

Kemudian pengakuan kesalahannya yang di muat di koran itu membawa ketenangannya di usia pensiunnya sehingga meninggalnya beberapa tahun yang lalu.
Dari penafsiran yang berbeda ini pun yang menjadikan hukuman mati di Indonesia mandul, kecuali yang jelas-jelas.
Asal bulan sudah terlihat, dan yang melihat bukan orang gila, hasil ijmanya bisa dipertanggung jawabkan, ikuti dia, berarti nanti malam shalat teraweh.


 
Jumat, 20 Juli 2012
00.30 saat mengakhiri bacaan Al-Quran juz satu surah Al-Baqaroh, berusaha mengambil hikma, yaitu di akhir ayat 140
Bahwa sesungguhnya Tuhan mu tidak akan mengabaikan semua perbuatanmu
Artinya, jangan engkau merasa tidak apa- apa terhadap satu derajat perbuatanmu, Allah SWT mengetahui.

Ada hikma terbangun jam sekian ini yaitu gas masak habis, ke warung pak H Roidin yang bisa diminta tolong melayani gas masak yang habis ini, mendorong gas dengan bantuan sepeda kayuh kecil.
Tiba- tiba saja ngantuk pun datang, selamat datang ngantuk dan akhirnya tertidur dengan ikhlas dan gembira sebab satu juz Al-Quran sudah terbaca.
03.30 Hp anak- anak saling membangunkan
Sahur sederhana saja, Tyas nya yang baru masuk rumah sakit di Denpasar juga terlihat bergegas bangun mengerjakan shalat malam dahulu sebelum makan sahur, Astari pun ikut shalat malam, Fifi sudah bangun minta makan langsung, dan Yasin si penderita Thalasemia juga sama seperti kakaknya, susah sekali membangunkannya.
04.45 Shalat shubuh berjamaah
05.30 Tyas dan Astari dan Yasin minta diantar bermotor ke jalan raya, rencana nya mau kepasar Cipulir mencari pakaian.
05.44 Saat pulang dari mengantar anak2
 tidak terasa sarung yang dikenakan naik motor ini terlepas, masih mengendari motor.
Shalat jumat di kompleks rumah.
Saat berbuka puasa Ramadhan hari pertama dibuatkan pisang ijo oleh istri, kekurangannya adalah jenis pisang yang digunakan kurang tepat dan syrop pemanisnya kurang merah dan kurang manis.




Sabtu,  21 Juli 2012
00.30 sudah tidak bisa tidur.
01.00 membuat sambel goreng kentang kesukaan anak- anak.
01.20 Shalat dua rakaat.
01.30 membaca Al-Quran juz 3.
03.00 makan sahur
06.30 semua masih tidur, sunyi, saat terbaik untuk shalat Dlhuha.
07.00 pedagang singkong dan pisang itu lewat depan rumah, dengan suara tuanya ia menawarkan singkong kurusnya, ngak usah dilihat apa yang dijual, asal dia lewat harus disantuni.
07.30 memperpanjang langganan internetan smart.
09.00 mendorong motor untuk mulai di panasi, saat itu lewat pengontrak rumah tetangga memberitahukan jikalau rekan sekontrakannya yang sama- sama pengrajin sepatu itu semalam sakit gangguan ginjal dan sudah di bawa ke dokter praktek 24 jam.



Sebelum motor dihidupkan saya sempat melihatnya, si Edo terlihat berbaring lemas, terlihat obat delapan jenis diatas meja kecilnya, saya ingatkan jikalau terasa sakit di jantung, buang semua obat itu, sudah menjadi ciri dari penata laksana medice di sewilayah Cileungsi adalah obatnya banyak2 sampai delapan jenis lebih obat yang harus diminum.
09.12 bermotor dimana istri ikut juga untuk mencari daging yang lagi turun harga di giant supermarket, mengingat tadi pagi Fifi dan Yasin sedikit mendongkol sewaktu makan sahur sebab lauknya hanya, dadar telor dibagi tujuh.
Jalanan agak sepi pagi ini, tetapi para pengemudi melajukan kendaraannya kencang2. ( situasi jalanan di depan Mekarsari ) 



17.30 masjid kecamatan Cileungsi
17.56 saat dikumandangkan adzan maghrib, saat untuk buka puasa bersama dan hidangan sederhana
Setelah shalat maghrib menghampiri istri di kelompok wanita untuk makan apa adanya.
18.12 makan bawaan dari rumah di emper masjid dengan istri.
18.32 mulai berdatangan jemaah shalat Teraweh, ramainya anak berlarian di dalam masjid, suatu fenomena sempitnya rumah, dan sekarang berada di masjid yang luas sehingga timbul keinginan anak2 untuk berlari.  
20.14 masuk rumah dimana anak- anak masih mengaji Al-Quran.



Minggu, 22 Juli 2012

02.30 terbangun dari tidur nyenyak.
Mempersiapkan blenderan kacang ijo campur kayu manis dan kacang kedelai, serta jus sayur sangat menyita waktu.
03.24 baru bisa Shalat Tahajud
10.07 saat lagi membaca Al-Quran surah Al-Imran terdengar suara muntah ringan, ternyata Fifi yang muntah, langsung saya mencuci cangkir dan diberi irisan jahe dan ditaburi bubuk teh kasi air thermos  dan rebus beberapa menit agar meningkat suhunya kemudian disaring dan disuapkan ke Fifinya.
Ya ngak usah puasa dahulu.
11.19 Fifi masih muntah lagi, ambil air hangat satu sendok di tetesin minyak kayu putih dan diminumkan.
17.30 di saat menjelang maghrib tiba, mulai mengawali langkah kaki untuk meletakan di masjid atau musholah sepiring korma ditangan ini, atas saran istri musholah terdekat yang dapat bagian, kalau kemaren masjid kecamatan Cileungsi.
Memang disadari bahwa di lingkungan kecil musholah ini tidak ada orang yang putus langkah kelelahan mencari ridlo Illahi, sabar dan tawakal saja yang menemani, musholah ini sangat lambat sekali disegala hal nya.
22.00 kembali kaki melangkah ke Musholah untuk melanjutkan bacaan Al-Quran hingga memasuki juz 5.
23.00 saat keluar dari musholah bertemu dengan pak Budi yang lagi kena giliran ronda lingkungan, sempat saya tanyakan kok berhenti latihan lawak nya, soalnya pak haji sis ngak ada sih, pertanyaan ini hanya untuk mengkoreksi perhatian apakah masih minat ngak dengan kesabaran panjang, membuat orang tertawa.



Senen, 23 Juli 2012

Khusus untuk Fifi agar tidak membatalkan lagi puasanya, saat sahur ( 03.00 ) dibuatkan telor dadar bawang putih.
17.00 berangkat dari rumah, istri tidak ikut.
17.14 kemacetan panjang menghadang sejak tanjakan Sosial Gandoang.
17.32 masjid Al-Hidayah Kampung Sawah Cileungsi Bogor




Selasa, 24 Juli 2012


Rabu, 25 Juli 2012
Bermotor dengan Tyas pagi ini
09.00 Foto copy KTP di Gandoang
09.30 Bank TPN Cileungsi
09.57 bank Muamalat untuk santunan yatim dan pendidikannya di NTT-TTS
10.12 Tyas di Bank Mandiri Cileungsi
10.30 Pasar Cileungsi untuk membeli : kacang kupas persiapan Hari Raya sebanyak 4 bungkus, hanya saja berat perbungkusnya 880 grm, tidak lagi 1 kilogram, nenas dua buah, sawi satu ikat besar, wortel dua kilo, kemudian berpindah tempat ke Giant superstore untuk membeli : ayam lauk, sebab tadi pagi sahur Fifinya minta Ayam goreng tapi tidak ada persediaan, tepung bumbu, susu kalsiumnya Tyas.  

Kamis, 26 Juli 2012
pagi - pagi udah rugi Rp 10.000,- menggunakan simpati padahal udah menghidupkan program telepon rumah di simpatinya, telepon rumah pulsanya ngak berkurang malahan pulsa simpanan yang dimakan.
Habis shalat Dzhuhur Tyas memberitahukan  jikalau mas Sutarman walau no kode areanya 0361 tetapi bukan flexi atau esia, tapi starone baru saat itu terkejut, pantes aja pulsa rumah ngak berkurang.
Saya sendiri yang kurang awas.
22.30 keluar rumah untuk jaga malam lingkungan RT 05/08 bermodalkan Al-Quran
23.00 teman group jaga malam RT, tidur- tiduran saya masuk musholah, berwudlu, baca Al-Quran hingga juz 8.
23.50 mulai keliling wilayah RT 05/08


Jumat, 27 Juli 2012
02.00 masuk rumah dari Ronda jaga malam lingkungan RT.
Sedikit ngantuk tapi tidak bisa ditidurkan, pengaruh minum teh sebelum jaga minum teh dahulu pulangnya kerena dingin minum
teh lagi, resikonya ya gini, ngantuk tapi ngak bisa tidur.
04.00 makan sahur
04.47 shalat shubuh
08.00 bermotor dengan istri melintasi Cileungsi, arus kendaraan tidak terlalu padat.
09.00 Bank Muamalat Yayasan PBSudirman Cijantung Jakarta Timur.
10.00 Lottemart Ciputat, arus kendaraan cenderung sepi, jumlah pembeli sudah banyak, kebanyakan mereka yang berkumpul di Lottemart pagi ini adalah para pemilik restorant, atau rumah makan.
Jumlah ikan yang disajikan termasuk sedikit, harganya termasuk tinggi, ikan yang terbeli
: ikan tongkol besar seberat 1.6 kg, ikan patin besar 1.78 kg, ikan ini tertinggal satu sepagi ini, ada pembeli lebih pagi telah membelinya, sehingga sewaktu ada ibu2 bertanya ketersediaan ikan patin, dijawab habis dengan petugasnya,  ikan ayam- ayam 2.5 kg, filet ikan dori, dari sekian ikan yang terbeli saya sudah berfikir total harga diatas seratus.
Korma untuk takjil di Masjid sebanyak 5 bungkus.
Istri menanyakan mengapa tidak ada diskon yang cukup berarti ya beberapa minggu ini, saya menerangkan situasi pangan sudah kritis ma, Lottemart saja sudah susah mempertahankan supllyer untuk tetap mengirimkan barang dan makanan ke agen pembelian lottemart, apalagi negara, cuma kok tidak ada gregetnya di tingkat Nasional,
Seharusnya ma, kataku pada istri sambil menunggu antrian panjang penghitungan belanjaan di kasir, berusaha untuk tidak melirik kereta belanjaan di tetangga pengantri, kerena jumlahnya 30 kali lebih banyak dari saya.
Pemerintah pusat bisa menentukan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk masing2 menyewa tanah dan ditanami hortikultur dan tanaman unggulan daerah untuk memperkuat ketahanan pangan masing2 daerah, pemerintah chinna saja bisa menyewa tanah di Mamuju Sulawesi Barat dan di tanami padi untuk menunjang ketahanan pangan 1 400 juta penduduknya yang juga makan beras.
Dua puluh tahun lagi kita makan apa, diperlukan design baru dan penghitungan ulang kebutuhan gizi minimum, itupun tanpa ditambahi dengan penyakit yang disandangnya, istri mengingatkan jikalau sudah sampai di depan kasir, saya bergegas menghidupkan Hp sebab nomer kartu belanja Lottemart saya catat nomernya di nomer Hp.
Didepan kasir saya sebut satu persatu nomer kartu belanja Lottemart yang hilang entah dimana.
   
Saat di kasir, dari kereta belanjaan  saya di turunkan belanjaan yang tak terbeli kerena uang yang ada habis untuk membayar tiga jenis ikan dan dua minuman nata de coco untuk buka puasa anak2.
Barang yang diturunkan dari pilihan saya sendiri adalah udang vaname setengah kilogram, dan dari pilihan istri yang banyak, ada kue, ada syrup, ada kurma, ada tepung, uangnya ngak cukup ma kataku. 
Setelah itu bermotor lagi menuju Cileungsi dengan niat masuk masjid apabila waktu shalat Jumat tiba, jauh telah berjalan setelah di kawasan Cibubur shalat jumat di masjid AlMuhajidin, atau masjid kuning di Cibubur.
Setelah shalat pemandangan klasik mewarnai sepanjang jalan adalah pergerakan orang berjalan kaki dan menyebrang jalan setelah selesai menunaikan ibadah shalat, shalat bukan terminal untuk membuang waktu pengabdian belangsungnya kehidupan, selesai mengerjakan shalat bergegaslah mencari rezeki Tuhanmu.
Indah kan, menghubungkan shalat dan rezeki.
Itupun baru dari satu ruas jalan, kalau kita naik sedikit 100 m dari muka tanah terlihat yang jalan kaki di sudut desa sebelah, naik lagi 600 m dari muka tanah terlihat pergerakan orang keluar masjid sewilayah kecamatan, demikian seterusnya, yang dituntut oleh orang yang mengaku dirinya muslim adalah ketaatannya pada perintah agama, laksanakan saja tanpa banyak merekayasa perintah.
13.40 masuk rumah.



Sabtu, 28 Juli 2012

23.59 Saat terakhir membaca tilawah Al-Quran surah Al- Arraf dimana diharuskan sujud tilawah, saat pujian pada Allah SWT dihaturkan dan permohonan di utarakan, langsung mendapat semangat mengapa tidak ikut sayembara perencanaan gedung LKKP lokasi Epicentrum Kuningan Rasuna Sahid Jakarta Selatan, dan melibatkan Muhammad Jawas sebagai team sipilnya.
Bawa kegembiraan ini sebagai hadiah dari Allah SWT untuk mempersiapkan segala persyaratannya.
Melangkah pulang dari musholah 


Minggu, 29 Juli 2012

Kesulitan pertama untuk ikut sayembara design gedung LKKP adalah tidak punya SKA sertifikat keahlian arsitektur.

20.12 baru pulang dari super market giant, untuk mencari lauk,  bermotor bertiga bapak Fifi dan Tyas, dikerjakan setelah shalat Isya 8 rakaat, teringat ke giant supermarket  sebab tadi sewaktu buka puasa lauknya sangat kurang bergizi, hari ini Fifi sengaja saya anjurkan tidak berpuasa dahulu, mengingat susahnya makan tadi sahur, dan badannya semakin lemah.
Giant malam ini hanya membeli tomat sekilo, ayam seekor potong 12, dan jeruk sunkist sekilo.
23.59 meninggalkan musholah setelah membaca Al-Quran juz 10 sejak 23.00
Bulan terlihat mengiringi dengan sinarnya yang kemerahan redup dan posisi 15


Senin, 30 Juli 2012
01.00 tidak bisa tidur
03.00 tahajudan sebelum makan sahur
04.00 Semua ikut sahur, lauknya di tingkatkan ada ayam goreng, ada soup ikan, ada mie goreng, ada ikan bakar
04.56 setelah shubuhan dan membaca Al-Quran terkantuk ingin tidur.
17.00 beratnya suatu kesepakatan, disepakati untuk kewajiban dirumah menyediakan takjil yang harus di kirim kemasjid untuk buka puasa, masjid mana saja yang penting berbeda setiap harinya.
Saat diatas motor sendirian, terlihat jalan di Mampir Barat sedang di perbaiki,  diturunkan batu- batu besar untuk menjadi pondasi jalan yang bergelombang.
Bermotor sejauh 6 km dalam kondisi jalan rusak, akhirnya dapat juga masjid desa itu untuk diserahi satu piring kurma.
23.56 Berhenti tilawah Al-Quran  didepan pintu Jus 12 Al- Quran surat Yunus.
Saat membaca itu baru dirasakan hadirnya malaikat penjaga Al-Quran dengan kesejukan tinggi,
Pulang.
23.59 masuk rumah

Selasa, 31 Juli 2012

Berada diujung bulan Juli, kegelapan malam masih menyelimut, bulan sudah terlihat dengan cahayanya pendar kemerahan, mengingatkan beberapa hari lagi akan masuk nisfu Ramadhan, dua hari setelah itu, teringat ada peristiwa penting, turunnya Al-Quran ke bumi, turun seayat demi seayat, turun dalam jangka waktu cukup lama, kerena Al-Quran bersifat mendidik untuk cerdas bagi seluruh manusia.
Al-Quran  bukan untuk laki2 tetapi  untuk perempuan juga.
 Al-Quran bukan untuk orang etnis Arab Saudi saja, tapi juga untuk Indonesia, Amerika, India, Jepang, Tunisia, Birma, Thailand, Inggris, Belanda, Checo, Rusia.
Tidak ada kebaikan yang selama ini diselenggarakan atas nama kekuatan negara besar akan hancur tanpa dukungan, sejarah telah membuktikan. 
 11.00 berada di Bank Muamalat Yayasan PBSudirman Cijantung
11.50 saat melintas di Buncit, kok banyak orang makan siang di saat Ramadhan seperti ini, kawasan Buncit seperti menentang hukum Illahi, biar loe puasa gua tidak, loe keberatan, bukannya begitu, kalau keberatan biar kekuatan lain yang menyerangmu.
11.59 terdengar adzan di masjid Wustho, Pasar Minggu, ruas Simatupang ke pertigaan Pasarminggu - Ranggunan
motor diparkir dan memasuki masjid beriringan dengan jamaah shalat yang lain, masjid ramai dan shalat cukup khidmat.
Lha disamping masjid ini ada warteg yang siang itu berkerudung/ bertirai hijau, dan banyak orang yang keluar masuk makan siang tentunya, tidak tahan dengan aroma jengkol di semur kecap kental, aroma ini  menyusup jauh di parkiran motor,
oleh sebab itu HARAM HUKUMNYA ORANG ISLAM BERJUALAN MAKANAN SAAT BULAN RAMADHAN, kecuali yang membantah, dan yang membantah adalah lebih dekat ke fasik.
13.00 saat memasuki gedung PAN di Buncit, duduk di ruang tunggu depan lift lantai 3 bersama istri, terlihat foto para tokoh pendiri partai PAN.
13.05 diantar masuk melintasi lorong jauh kebelakang dan menunggu sebentar sebab dari ruang dibalik pintu yang terbuka itu terdengar suara memanggil dan memerintah, siapa di dalam ruang, tanyaku pada pengantar seorang gadis front office, seorang pengurus PAN juga pak, jawabnya singkat.
Saya merasa tidak enak saja ada suara sedikit bernada tinggi dari dalam ruangan dan orang ini akan saya temui.
Betul juga, saat saya dan istri duduk didua kursi didepan seorang pengurus PAN itu,   " wah saya susah pak kalau bapak mengatakan kepada saya akan membantu pembangunan masjid yang sekarang lagi di kampanyekan oleh PAN di televisi, dan kebetulan acara itu bapak tonton, kecuali bapak membawa uang akan membantu menyelesaikan keramik lantainya saja, saya tinggal menunjuk dimasjid sana pak bapak salurkan dananya ".      
" Terima kasih"
Saya keluar dari ruangan itu tanpa ada kesimpulan setelah membekal sepotong kop surat yang dirobek pakai tangan dan gerimpis pinggirannya yang diberikan oleh si pengurus PAN di RUMAH PAN Buncit, hanya pikiranku bertanya seandainya ada tamu di hidangkan air teh manis segelas, kemudian di cuprut, diminum sedikit, kemudian diletakan dan di tinggal pergi, apakah si tuan rumah akan melanjutkan meminum minuman teh tersebut, kembali kepada segerimpis kertas alamat PAN yang diberikan kepada saya, apakah sisa kertas yang dirobek kop suratnya dan tertinggal putih kosong itu masih dipakai, atau dimanfaatkan lagi, dari hati kecil, harus digunakan, tidak boleh di buang sebab ini semua amanah Publik, Allah SWT akan mencatat hingga sekecil- kecilnya. 
Memang saya datang ke sekretariat PAN bersama istri siang ini untuk berpartisipasi pada salah satu kegiatan PAN untuk memperbaiki 1000 masjid.
Menurut bapak Quraish Shihab dalam beberapa kali ceramahnya, rezeki itu tidak selalu uang, kekuatan hikma penuturan bapak Quraish Shihab ini yang memperkuat niat saya untuk mensukseskan program PAN memperbaiki 1000 masjid.
14.00 di kawasan Cileungsi saat bermotor pulang siang itu sempat mampir sebentar ke Masjid Al-Hidayah Kampung Sawah  depan terminal, untuk memberikan takjilan berupa sepiring Kurma yang dari tadi semenjak berangkat dari rumah di simpan di tas nya istri.
14.21 beli timun suri untuk campuran minuman buka puasanya anak2 di rumah.
14.35 masuk rumah





Tiada ulasan: