Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Selasa, Mac 31, 2009


Senen, 8 Desember 2008

Hari Raya Idul Adha, Shalat ied di masjid di kompleks perumahan, berangkat sendirian sebab anak- anak selalu terlambat, antisipasi jumlah makmum shalat banyak sebab tidak ada yang pulang mudik.

Keluar dari rumah berjalan sendirian, saat itu jam 05.15, masjid dalam keadaan lenggang, belum banyak jemaah yang datang.

Selesai shalat langsung pulang dan makan soto daging yang dibuat istri sejak kemaren.

Persiapan Perjalanan ke Jogjakarta.

Jam 15.10 saat shalat ashar sore itu, mendung menggantung diatas langit Gandoang, perhitungan tidak sampai lama pasti hujan akan turun, jam 15.30 berangkat menuju Jogjakarta, mengawali perjalanan dengan jalan kaki, lewat belakang, ditengah jalan hujan sudah mulai merintik, setibanya di perempatan Gandoang, hujan deras turun, kesempatan menunggu bus yang datang dari arah Jonggol.

Dalam perjalanan di dalam bus ke Perempatan Cileungsi, bus berjalan tersendat, macetnya luar biasa, ujung kemacetan adalah truk tanah sengaja parkir di separuh badan jalan, sehingga mobil dari arah depan harus berganti lewat dengan mobil yang dari arah Jonggol.

Terlihat sopir truk tanah itu dengan sikap masa bodohnya.

Sore semakin meredup dan terdengar adzan Maghrib saat masih diangkot 56 tujuan UKI, tiba- tiba bus P2 yang lewat stasiun Gambir sedang berjalan perlahan menanti penumpang, saya cepat turun dari angkot untuk ganti kendaraan naik bus P2.

Mendung masih menggantung, lampu-lampu jalanan mulai menyala, warnah ke emasan dari pantulan lampu pijar toko pinggir jalan, menunai renungan, bahwa aku masih berhutang shalat maghrib, shalat belum aku laksanakan.

Sore itu bus melintas di jalan Otista, terlihat alat berat untuk membongkar aspal sedang diparkir di tengah jalan, menurut jadwal jalan ini akan dibongkar besok pagi, entah bagaimana macetnya.

Bus berjalan cukup kencang sebab yang membutuhkan kendaraan ini sedikit, hari ini hari libur, di terminal Kampung Melayu naik seorang ibu dan putrinya yang menyebut Gambir sebagai arah tujuannya.

Sewaktu bus melintas di Kedokteran Indonesia, saya tahu disisi belakangnya adalah ruang poliklinik Thalasemia, tempat yang akrab untuk anak- anak yang selalu di rawat disana.

Bus melewati Fly Over Senen, terlihat di awal malam itu, pedagang kue malam sedang mempersiapkan barang dagangannya, terpikirkan juga untuk membeli saat waktu seperti ini, dan dimakan didalam kereta.

Setelah melintasi Rumah Sakit Gatot Subroto, pasti tidak seberapa lama akan memasuki kawasan Gambir, untuk itu saya mulai beringsut kedepan pintu, untuk menaruh posisi badan sewaktu bus akan berhenti.

Tiba di depan stasiun Gambir, turun dari bus, dan berjalan mencari pintu masuk stasiun, ternyata cukup jauh jalan putarnya, harus memasuki halaman stasiun dengan melewati keluar masuknya mobil- mobil.

Jam 18.40, berarti masih ada waktu shalat maghrib, langsung menuju musholah untuk mengerjakan shalat, setelah itu menunggu datangnya waktu shalat Isya, setelah selesai shalat langsung naik kelantai atas untuk memasuki stasiun kereta.

Setibanya di ruang tunggu kereta di lantai paling atas, sudah menunggu kereta api eksekutif setelah saya tanya ini kereta apa, jawab pramugari yang berdiri di pintu kereta ”Argo Lawu” pak.

Turun lagi tangga untuk memasuki jalur empat dimana sesuai pengumuman akan diletakan kereta Eksekutip Taksaka yang akan membawa saya ke Jogjakarta.

Di jalur ini sudah ada beberapa penumpang yang menunggu, saya mencari tempat duduk yang ideal untuk bersiap akan makan malam, suatu hidangan yang dikemas dalam bungkus kertas sederhana, dengan lauk ayam bakar dengan bumbu kecap berpotongan rawit kecil- kecil.

cukup pedas, enak dan mengenyangkan.

Jam 20.10 rangkaian kereta Taksaka memasuki apron, datang dari arah Manggarai, setelah rangkaian itu berhenti, saya langsung mencari gerbong satu dan memasuki dan langsung mencari tempat duduk 7c. setelah itu memasuki toilet kereta api.

Tepat jam 20.45 kereta berangkat, terlihat pramugari membagikan bungkusan sneak, terisi 2 butir roti dan cup air minum, langsung minum dan makan. Sebab tidak berani beresiko membawa perut kosong.

Tanpa memperhatikan kondisi kereta yang termasuk baik dibandingkan kelas ekonomi, tayangan TV yang meperagakan film cartoon, tidurlah saya.

Sewaktu akan memasuki saat tidur, dimana mata belum sepenuhnya dipejamkan, dari balik kereta, terlihat sunyinya semua stasiun kereta yang dilintasi di tengah malam ini, akhirnya tertidur juga.

Saat ada orang berteriak menjajahkan kuenya dari ujung bordes kereta, saya agak sadar sedikit yang menyatakan bahwa ini stasiun Purwokerto.


Hari Raya Idul Adha, Shalat ied in the mosque in the housing complex, leave alone because children always late, anticipating the number of congregation to pray for the many who have not returned mudik.

Walk out of the house alone, at that time 05.15 hours, the mosque in the swing, not many who came congregation.

Done prayer directly soto go home and eat the meat that is made where the wife since.

Preparation trip to Jogjakarta.

Hours 15:10 ashar evening prayer time, the cloudy sky Gandoang hang above, the calculation is not long until the rain will surely come down, leave for the hours 15:30 Jogjakarta, the trip with a walking, through the back, the way the rain has started merintik, Arriving at perempatan Gandoang, heavy rain came down, the opportunity to wait a bus coming from the direction Jonggol.

In traveling in the bus to Perempatan Cileungsi, bus running stagnating, macetnya extremes, the end of the bottleneck is truck parking on the ground deliberately, half of the road, so that the car's direction must be changed through the front of the car's direction Jonggol.

Visible trucker attitude with the land that time bodohnya.

The overcast afternoon and heard adzan Maghrib time is still 56 goals diangkot Uki, suddenly through the P2 bus station Gambir is running slowly waiting for passengers, I quickly came down from angkot vehicle to replace the P2 bus ride.

Cloud still hang, lights, street lights began to flash, warnah to emasan reflection of fluorescent light from the roadside shops, menunai reflection, that I still owe maghrib prayer, pray I have not been conducted.

The afternoon bus travel on the road Otista, seen heavy equipment to unload asphalt diparkir are in the middle of the road, according to the schedule of this street will be demolished tomorrow, somehow macetnya.

Buses run fast enough for this vehicle that requires a bit, this day holiday, Kampung Melayu in the terminal increase a mother and daughter who mentions the direction as Gambir purpose.

When the bus pass at the Medical Indonesia, I know the back room is policlinic Thalasemia, a familiar place for children in care who is always there.

Bus passes Fly Over Senen, seen early in the night, the cake the night traders are preparing goods dagangannya, terpikirkan also to buy time like this, and eaten in the train.

After crossing Hospital Gatot Subroto, not sure how long the area will enter Gambir, for that I started beringsut fore-door, to put the position of the body when the bus stops.

Arriving in front of the station Gambir, down from the bus, walk and explore the entrance of the station, far enough way putarnya, must enter the page with the station entrance pass out cars.

18:40 hrs, it means there is still time to pray maghrib, musholah go directly to the prayer, after the wait time comes Isya prayer, prayer immediately after kelantai rise up to enter the train station.

Arriving at the train in the waiting room on the floor, waiting train executive after I asked what this train, it stewardess stood at the door of the train, "Argo Lawu" pack.

Going down the stairs again to enter the four-lane where appropriate announcement will be placed Eksekutip Taksaka train that will take me to Jogjakarta.

In this path are some passengers who wait, I find the seat that will be ideal for preparing dinner, a meal that is packed in a simple coffin, with a side dish with roasted chicken flavor soy sauce have the small.

quite spicy, tasty and filling.

20:10 hours to enter the series of train Taksaka apron, came from the direction of Manggarai, after a series of stops, I find one and enter the carriage and directly seek seat 7c. after the train entered the toilet.

Right train departs 20:45 hrs, to distribute the pack sneak stewardess, filled grains 2 cup of bread and water, and eat and drink immediately. Because the risk of not carrying an empty stomach.

Regardless of the condition of the train which includes both economic class than, impressions TV cartoon film, sleping me.

While time will enter the bed, where the eye is not fully, from behind the train, silent seen all over the train station in the middle of night, finally fall asleep, too.

When there are people yelling cake from bordes end of the train, I am quite aware that a few states that this station Purwokerto.

Tiada ulasan: