Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, September 01, 2006

Tiba di Bengkulu

Jumat,25 Agustus 2006

Menunggu Jemputan

Jam 00.12 saya terbangun, sebab sadar jikalau pagi ini akan berangkat ke Bengkulu. Jam 00.40 langsung loncat kekamar kecil dan setelah itu hidupkan kompor untuk memasak air, hidupkan mesin air, dan membangunkan istri.

Shalat tahajud.

Makan jam 01.30 pagi.

Jam 02.00 keluar dari rumah, bermotor sendirian menuju rumah pak Marsudi.
Sunyi dan gelap, dijalan banyak truk tanah yang berjalan cepat.
Masuk rumah pak Marsudi jam 02.40.

Silaturahmi menjelang pagi. Dibuatkan kopi neskafe dengan pak Marsudi.

Jam 03.30 keluar, menuju terminal diantar dengan pak Marsudi.
Sewaktu memasuki terminal, bus bandara itu sedang menaikan penumpang terakhir pikirku sebab terlihat penumpang didalam bus sudah banyak, saya masuk bus melewati pintu belakang, saya di gembirakan dengan seorang tua penjajah minuman botol didalam bus yang juga anggota bus itu juga, ia mengatakan bahawa untung saya tepat waktu sebab bus akan berangkat.

Saya menyalami penumpang di sisi kiri dan kanan saya sebab saya gembira hampir terlambat.

Bus bergerak dan kantuk pun datang, saya tertidur.

Mendekati bandara saya terbangun dan turun ternyata belum terminalnya Adam Air line, sehingga saya naik lagi ke bus. Sampai dua kali hal ini terjadi, sebab saya tidak mendengar aba-aba dari supir, sehingga terakhir saya mendekati ke arah supir, bus berjalan lagi, dan setibanya di terminal yang melayani Adam Airline saya turun, dan langsung memasuki pintu masuk dan berbaris mendaftar keberangkatan untuk menerima boarding past.

Saat memasuki pintu C-6 terdengar adzan Shubuh di kumandangkan, kemudian saya diterima dengan petugas untuk diminta boarding pasnya dan disobek disalah satu sudutnya.

Kemudian saya berjalan menuruni tangga untuk ke musholah yang diletakan diruang bawah, shalat shubuh berjamaah dengan pembersih ruangan. Setelah itu naik keruang tunggu, masih banyak waktu, saya harus memanfaatkan sebaik-baiknya.

Saya membuka foto copy Al Quran selembar aja pada surah Al Furqon, kemudian membacanya, dari ayat 1 hingga 12, yang pada intinya saya/hamba/ sangat bersyukur telah memberikan menurunkan Al Quran ke pada Hambanya, setelah itu saya sarapan dengan meminum air putih yang dibawa dari rumah, setelah habis isi lagi, sebab di samping petugas terdapat galon aqua besar.
Sewaktu saya berpindah duduk ke depan mendekati lampu untuk menulis, saya mendengar salah seorang penumpang yang menunggu keberangkatan juga sedang membaca Al Quran, terfikirkan olehku untuk memiliki Al Quran kecil agar bisa dibawa ke mana-mana.

Jam 06.20 pagi para penumpang dipersilahkan menaiki pesawat dengan keluar dari ruang tunggu belok dan turun tangga keluar menuju pesawat yang sudah menunggu, saya melihat nomer duduk saya 10 pinggir, setelah saya mendapatkan tempat duduk itu ternyata ada diatas sayap, hanya sedikit sekali menyisahkan ruang untuk melihat ke bawah.

Jam 06.40 pesawat bergerak untuk meninggalkan appron, dan berjalan perlahan menuju landas pacu, waktu yang ditempuh cukup lama menuju landas pacu. Kemudian pesawat terasa meningkatkan putaran mesinya dan pesawat melesat.

Diatas kota Jakarta pagi itu ternyata dihalangi lapis kabut tipis yang cukup tebal juga, sehingga tidak bisa menembus kebawah. Kapan pesawat ini melewati selat Sundah, hal itupun tidak dapat saya lacak, sebab kabut.

Terlihat dari kejauhan ada gundukan biru dan dikelilingi awan ternyata puncak gunung, tinggal gunung apa itu ?,

Gagal melihat kebawah saya terpaksa mulai berbicara dengan ibu-ibu yang ada disamping saya, ternyata ibu itu akan pulang menuju Bengkulu, dari Brunei Darussalam, bersama berangkat kali ini dengan anak perempuannya yang di nikahi dengan orang Brunei, ia ingin menengok ibu nya di Bengkulu yang sudah tua dan sakit-sakit an, dari Brunei ia naik bus semalam menuju Pontianak, dan dari Pontianak naik Adam Airline sampai Jakarta, ternyata tibanya di Jakarta kemaren sore sehingga ia di inapkan semalam dengan maskapai penerbangan Adam Airline di salah satu hotel di airport.

Saat akan mendarat, ternyata kota Bengkulu ada jauh dibawah sana, sehingga pesawat harus bermanuver untuk menurukan ketinggian, sampai di tengah samudra Hindia sebelah barat kota Benkulu, pesawat mulai menurun, terasa kecut hati ini melihat gelombang samudra yang tak bertepi di bawah, air itu bergelombang dan bergerak ber ayun, pesawat semakin menurun dan mendekati daratan, saya sadar bahwa saya sekarang berada di balik Pulau Sumatra dengan samudra nya yang luas sampai ke Afrika sana.


Jam 08.02 pesawat mendarat di Bandar Fatmawati Sukarno, tidak ada yang menjemput, sehingga saya harus mengambil duduk dahulu untuk memikirkan langkah berikutnya.

Saya mencari toilet untuk berturas dahulu, setelah itu melangkah keluar Bandar untuk berjalan keluar, terlihat ada beberapa orang yang berjalan keluar bersamaan, ia hendak bepergian jauh yaitu Bengkulu Utara, 100 km lagi utara Bengkulu, kemudian saya belok kekiri untuk berjalan mencari wartel.

Pemandangan di jalan sangat sepi, bangunan mengingatkan saya di Jambi. Hal serupa pernah terjadi di Pekanbaru, saya keluar dari Bandara jalan kaki kerena ngak jelas siapa yang menjemput.

Saya mencoba menghubungi kantor PDAM Bengkulu, hubungan pertama mati setelah nyambung beberapa detik, hubungan kedua sempat berbicara dan mati lagi, hubungan ke tiga secara jelas dari seberang akan menjemput.

Setelah membayar Wartel, saya duduk dibangku wartel sambil berbicara perihal air minum galon yang ia jual, sehari bisa sampai 200 galon, cukup besar kebutuhannya.

Jalan didepan saya menghubungkan Bengkulu dengan Bengkulu Selatan, sepi sekali jalannya.

Tidak beberapa lama ada kendaraan memasuki halaman, saya menduga pasti jemputan , memang benar jemputan.



PDAM Bengkulu



PDAM Bengkulu, menempati kantor adminstrasi yang sedang, bertingkat, diatas digunakan ruang direktur, dan dibelakang terdapat work shop dan loket-loket pembayaran.

Banyak pegawai yang berkumpul, ini kan hari jumat berarti mereka baru saja olah raga, saya disuruh menunggu didepan ruang direktur PDAM, saat itu direktur lagi menerima tamu, saya mengambil kursi dan duduk menunggu.

Setelah tamu keluar, saya langsung diterima masuk dan menjumpai pak Syamsul Ashar, setelah menguraikan maksud kunjungan kemudian direktur PDAM menyampaikan banyak hal mengenai kinerja PDAM Bengkulu, dan untuk itu saya diberi copy annya.

Direktur PDAM sendiri sedang memasuki maasa peralihan kekuasaan, penggantinya sudah ada dan siap bekerja minggu – minggu ini, kemudian ia terlihat berkemas untuk keluar dari kantor sebab ada kerabat dekatnya yang akanmenikahkan anaknya mendadak tadi pagi meninggal.

Bersamaan keluar dari Kantor, direktur PDAM membawa saya ke hotel Madelin, kira- kira sepuluh menit berkendaraan dari kantor PDAM, di hotel yang bergaya arsitektur Bali ini menampakan pemandanagn hotel di bali tahun 1970 an, dimana setiap kamar hotel mempunyai teras, tidak bertingkat dan menghadap pada halaman, hotel ini kamarnya agak lebar dan tidak ada mandi air hangatnya.

Ternyata sipemilik adalah pak Jamin, mantan Kapolda Bali dahulu.

Setelah meletakan tas dan menitipkan kunci, kembali ke kendaraan untuk berangkat ke IPA Surabaya.

Kesempatan melihat Bengkulu dari dekat, kotanya sepi, lebih ramai kota Madiun.
Masih bernuansa pedesaan, kotanya mirip – mirip Jambi dari arah Lapangan Terbang.

Lewat sarana pariwisata, Dendam tak Sudah, sebuah permandian air danau dengan kedai-kedai makanan di sekelilingnya, tapi entahlah air danau itu bisa dipakai mandi atau tidak.

Kemudian mobil memasuki IPA Air Minum Surabaya, dengan kapasitas 200 l/dt
Air baku yang digunakan adalah sungai Bengkulu yang disedot naik dan di proses, air ini sering keruh, kekeruhan yang paling parah sampai 4000 – 5000 MTU padahal alat WTP ( Water Treatment Plant ) hanya mampu menerima kekeruhan yang tinggi 500 MTU.

Konstruksi bangunan masih berstruktur peninggalan Belanda, saat yang sama berdatangan 3 orang anak buahnya, yang satu direktur teknik pak Elandha dan ada pak Syamsu, dan dua lagi pak Kaos putir dan yang mau berangkat ibadah haji.

Diskusi soal kinerja, yang dikeluhkan adalah tagihan listrik yang sangat memberatkan, sehingga merupakan faktor pengurang laba perusahaan.

Saat itu pak Syamsul Ashar minta diri dan saya ditemani dengan tiga orang tersebut.

Pak Elandha sering mengeluhkan pola korupsi yang sering dilakukan jajaran PU Tingkat I dan Tingkat II.

Keluhan berikutnya adalah PDAM dua tahun yang lalu diberi bantuan dari Pemda Bengkulu dana sebesar 1 milyard dan dana itu jatuhnya di PU Kota, dan PDAM hanya sebagai pengelolah teknis aja, saat itu PU Kota Bengkulu hanya bisa menyerahkan 200 unit meteran air, sedang tahun kemaren PDAM menerima langsung dana bantuan dari Pemda sebesar 1 milyard dan bisa membelanjakan 3561 unit meteran air dengan kualitas terjamin.

Keluhan berikutnya adalah Bengkulu sewaktu pemerintahan pak Harto dengan menteri PU nya Radinal Moochtar sering menerima produk WTP yang jelek untuk mengelolah air di Bengkulu, dan dia harus menerima.
Sehingga sampai hari ini WTP- WTP tersebut membebani perusahaan dengan biaya listrik tinggi.

Jam 11.00 saya merasa kecapaian, sebab tidak sarapan, ditenggarai dengan tidak kosentrasinya saya pada permasalahan.

Memang setibanya di Bengkulu belum makan, kemudian berkendaraan keluar dari WTP Surabaya menuju pusat kota, masjid Sukarno untuk mengerjakan shalat Jumat tetapi sebelumnya mampir di rumah makan padang di samping sebrang masjid.

Rumah makan ini kurang berselera, sebab semua makanannya asin.

Kemudian kebijakan perencanaan perdesaan Masjid mengerjakan shalat jumat.
Setelah selesai shalat, pak Elandha minta diri dan saya diantar oleh bapak bertiga.

Tujuan sekarang adalah WTP Nelas, melewati bandar udara Fatmawati Sukarno, terlihat juga bangku duduk wartel yang saya duduki tadi pagi menunggu jemputan.

WTP Nelas, bantuan Pemerintah Jerman, teknologi jerman, dan beroperasi tahun 2002, relatip masih baru, sumber air baku dari sungai Nelas, panjang sungai hanya 10 Km, relatip tidak panjang, sehingga perlu dilindungi DAS nya.

Saya berdiri diketinggian bendung penangkap air. Terlihat air yang dibendung itu memasuki arah dimasukan proses pengelolahan, disalurkan kebijakan perencanaan perdesaan ruang pompa besar dan diudarakan di pintu keluar sejauh 500 meter kedarat , kemudian dialuminium sulfatkan, dan di endapkan dalam beberapa tahapan.

Instalasi air ini sangat besar cukup besar, tetapi tidak sebesar instalasi air di Surabaya dan Denpasar. Semuanya perlu bantuan untuk membangunnya dan sekarang bantuan itu belum bisa dikembalikan.

Naik kendaraan lagi untuk kebijakan perencanaan perdesaan arah hulu sungai Nelas, memasuki Perkebunan Inti Rakyat / PIR Karet, utnuk melihat DAS sungai Nelas, berjalan dikerindangan pepohononan karet, rumput yang tinggi, kelebatan hutan.

Kemudian peninjaun kebijakan perencanaan perdesaan Ditribusi air Bengkulu, Water Tank di desa ......

Memasuki hotel menjelang sore, cape semua badan dan mandi Shalat Ashar, tidur.

Tiada ulasan: