Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, Februari 12, 2010

Kamis 1 Oktober - Minggu 25 Oktober 2009


Kamis, 1 Oktober 2009.



Sejak tengah malam berita bencana Alam Gempa Bumi di Padang dan sekitarnya, Padang Pariaman, Sumatera masih memenuhi ruangan, korban sudah lebih 500 orang, banyak yang tertolong dan masih banyak yang meninggal, gempa bumi kali ini sangat luar biasa, besarnya korban yang di hilangkan nyawanya cukup besar, banyaknya bangunan yang berserakan tak berguna.

Peralatan yang mahal yang sangat memenuhi dunia kini menjadi sampah yang banyak.

Yang luar biasa adalah ada empat kampung yang tertindih longsoran bukit dan kini menjadi rata, berapa banyaknya korban.

Jam 04.55 keluar dari rumah untuk apel peringatan hari kesaktian Pancasila di halaman Departemen Pekerjaan Umum.

Perjalanan saat shubuh yang masih gelap itu lancar saja, dan masuk di lapangan parkir Men Neg Perumahan sekitar jam 06.45.

Saat berjalan mendekati pintu masuk halaman Departemen Pekerjaan Umum yang di pagar tinggi itu, terlihat pak Priyono di balik pagar yang ia juga baru turun dari mobilnya pagi itu sambil berseragam korpri, ia terlihat melambaikan tangan membalas lambaian tangan saya, saya dipersilahkan memasuki ruang kantornya dan setelah itu saya memasuki lapangan upacara.




VIVAnews - Gempa besar berkekuatan 7,6 SR di Sumatera Barat bukan kali ini saja terjadi. Namun, wilayah yang berada di zona gempa ini sudah belasan kali dilanda gempa bumi dalam dua abad ini.

Bahkan, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Departemen Energi, sejumlah gempa besar dengan dampak kerusakan yang luas juga pernah terjadi sebelumnya di wilayah ini.

Misalnya saja, gempa yang mengguncang Padang Panjang pada 83 tahun silam. Akibat gempa ini, lebih dari 354 orang meninggal dunia dan ribuan rumah roboh. Gempa menimbulkan bencana di sekitar Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian Danau Singkarak.

Gempa besar juga pernah terjadi pada 14 tahun lalu di Kerinci (Sungai Penuh) dengan skala 7 SR. Akibatnya, 84 orang tewas, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan, serta 7 ribu rumah rusak.

Berikut ini sejarah gempa yang dihimpun oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana.


1. 1/10/1822
Lokasi gempa di Sumatera Barat. Di Padang terasa 3 kali goncangan keras, terdengar suara gemuruh di bawah tanah antara Gunung Talang dan Gunung Merapi.

2. 26/8/1835
Lokasi gempa berada di Padang. Dampaknya berupa kerusakan ringan dan retakan pada bangunan di Padang.

3. 5/07/1904
Lokasi gempa di Siri Sori, Sumatera Barat. Akibat gempa ini terjadi tsunami di Pantai Siri Sori.

4. 28/6/1926
Lokasi gempa berpusat di Padang Panjang. Dampaknya, lebih dari 354 orang meninggal dunia. Gempa menimbulkan bencana di sekitar Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian Danau Singkarak. Di Kab. Agam (Bukit Tinggi-Bonjol) 472 rumah roboh di 25 lokasi, 57 orang tewas, 16 orang luka berat. Di Padang Panjang sebanyak 2.383 rumah roboh, 247 orang tewas. Terjadi rekahan tanah di Padang Panjang, Kubu Krambil dan Simabur.

5. 9/6/1943
Lokasi gempa di Singkarak dengan skala 7,6 SR. Terjadi pensesaran sepanjang 60 km antara Danau Singkarak – Danau Diatas. Sesar normal mencapai 2 meter. Jalan bergeser dekat Salayo sepanjang 2 –3 meter.

6. 8/3/1977
Lokasi gempa di Pasaman. Dampaknya, menimbulkan kerusakan 737 rumah, 1 pasar, 7 sekolah, 8 mesjid dan 3 kantor di Sinurat. Di Talu, 245 rumah, 3 rumah dan 8 mesjid rusak. Retakan tanah antara 5 – 75 meter.

7. 13/11/1981
Lokasi gempa di Padang dengan skala 5,4 SR. Akibatnya, timbul retakan dinding, lemari bergeser dan kaca jendela pecah di Padang dan Painan.

8. 2/7/1991
Lokasi gempa di Padang dengan skala 6,1 SR. Terjadi kerusakan ringan bangunan di Padang. Getaran terasa di Padang Panjang hingga Singapura.

9. 7/10/1995
Lokasi gempa di Kerinci (Sungai Penuh) dengan skala 7 SR. Dampaknya, 84 orang tewas, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan. 7.137 rumah, transportasi, irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan rusak. Liquefaction di desa Penawar, Kec. Sitinjau Laut. Retakan tanah di desa Sebukar, Koto Iman, Tanjung Tanah dan Kayu Aro. Longsoran di Kampung Benik selatan Danau kerinci.

10. 25/01/2003
Lokasi gempa di Nagari Malalak. Akibatnya, kerusakan ringan sejumlah ± 80 bangunan di Lubuk Durian, Damar, Simik Air, Jorong Paladangan Kanagarian Malalak, Kec. IV Koto, Kab. Agam, berupa: lepasnya plesteran dinding, retakan dinding dan kolom. Gempa ini bersifat lokal. Getaran terasa di Kota Padang Panjang dan Malalak.

11. 16/2/2004
Lokasi gempa di Tanah Datar dengan skala 5,6 SR. Akibat gempa ini, 6 orang meninggal, 10 orang luka-luka, 70 rumah rusak, listrik mati sekitar 30 menit di Kab. Tanah Datar. Kerusakan melanda desa Pitalak, Gunung Rajo, Nagari Pitala, Paninggahan, Kec. Batipuh, Kab. Tanah Datar. Terjadi longsoran di Gunung Rajo, Paninjauan. Terjadi retakan jalan antara Gunung Rajo – Padang. Getaran gempa terasa kuat di Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Sawah Lunto, Sijunjung, Agam, dan Batusangkar.

12. 22/2/2004
Lokasi gempa di Pesisir Selatan dengan skala 6 SR. Akibatnya, 1 orang meninggal, 1 orang luka berat, 5 orang luka ringan, 151 bangunan dan rumah rusak di Kab. Pesisir Selatan. Getaran terasa kuat di kota Padang hingga Painan. Wilayah yang mengalami kerusakan: Kampung Gunung Pauh, Kampung Taratak Paneh, Kenagarian Amping Parak, Kec. Sutra; Nagari Surantih, Nagari Tuik, Kec. Batang Kapas; Kampung Kapeh Panji, Kec. Bayang; Kampung Ampang Pulai, Kec. Koto XI Tarusan, Kec. IV Jurai, Kec. Lengayang, Kec. Ranah Pesisir dan Kec. Linggo Sari Baganti.

13. 9/4/2004
Lokasi gempa di Pesisir Selatan dengan skala 5,5 SR. Beberapa rumah penduduk retak-retak di perbatasan Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

14. 16/8/2009
Gempabumi dengan skala 6,9 SR pada kedalaman 32 km, berada di darat, di Pulau Siberut bagian selatan, Provinsi Sumatra Barat. Gempa ini menyebabkan setidaknya 7 orang luka-luka. Getaran sangat keras dirasakan di Padang.

15. 30/9/2009
Lokasi gempa dekat dengan Padang Pariaman dengan skala 7,6 SR. Sejauh ini, informasi menyebutkan dampak gempa telah menelan korban 75 orang tewas, ribuan rumah rusak. Gedung perkantoran, mal dan hotel juga banyak yang rusak. Getaran gempa terasa hingga ke Malaysia dan Singapura.

heri.susanto@vivanews.com


Kesimpulan sementara adalah Pemerintah Daerah harus menerapkan sistim bangunan anti gempa bumi, bisa dengan memperkuat konstruksinya sehingga mencapai kemampuan bertahan hingga goyangan gempa sekala 8 SR, memang sih mahal, tetapi harus dilakukan.

Jam 13.00 Siang lampu PLN Padam, ini adalah pemadaman bergilir dari PLN akibat terbakarnya Gardu Listrik di Cawang.

Jendela kantor di buka untuk berharap sinar cahaya langit siang hari memasuki ruangan, sebab ruangan gelap.








Jumat, 2 Oktober 2009.


Sedari tadi pagi sebelum shubuh saya sudah di depan TV untuk memperhatikan berita gempa bumi yang terjadi di Padang dan Jambi, terasa ada gerakan yang luar biasa bantuan dari Jakarta ke Padang, setelah Bapak Presiden datang dari USA.

Terlihat sekali tidak ada pertolongan jikalau tidak ada perintah dari Presiden, inisiatip bangsa yang terbelenggu.

VIVAnews - Kampung politisi Partai Golkar, Indra J Piliang, merupakan kawasan yang paling merasakan dampak gempa. Rumah orang tuanya di Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman, hancur karena gempa berskala 7,6 Skala Richter itu.

"Rumah saya hancur, tapi Alhamdulillah orang tua saya selamat," kata Indra. "Orang tua selamat karena mereka lagi di Jakarta," ujarnya saat ditelepon VIVAnews, Kamis 1 Oktober 2009. Sejak Lebaran lalu, orang tua Indra di Jakarta bersamanya.

Namun tak ayal, ada kerabat Indra yang tinggal di kampung meninggal dunia akibat gempa itu. Dia meninggal karena tertimpa runtuhan rumahnya sendiri.

Kampung Dalam dikabarkan merupakan salah satu kawasan yang paling parah terkena gempa. Indra sendiri menyatakan, 90 persen rumah yang terbuat dari tembok hancur. "Rumah nenek saya masih utuh karena terbuat dari kayu," katanya.

Indra Piliang menghabiskan masa kecil di Kampung Dalam, Pariaman. Setelah menamatkan sekolah menengah atas di Kota Pariaman, Indra melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia. Setelah lulus dan membangun karir sebagai peneliti di Center for Strategic and International Studies, Indra banting stir masuk ke dunia politik.

Pada Pemilu 2009 lalu, Indra menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Golkar. Indra maju dari daerah pemilihan Sumatera Barat II yang salah satunya termasuk Kabupaten Padang Pariaman, kampung halamannya.

Saat shalat Jumat, saya di tawari untuk mengisi Khotba Jumat, tetapi ini adalah tawaran yang kedua, dan saya belum mampu, sebab doanya belum saya temukan, tetapi ini suatu peringatan dan harus segera dipelajari khotba jumat.



Sekitar jam 13.30 masuk SMS dari Kementerian BUMN yang memberitahukan jikalau pertemuan hari ini tidak ada sebab hotel di Jakarta penuh semua, pertemuan di pindahkan hari Sabtu besok di Hotel Mira, Bogor, Jl : Pangrango.


Saat pulang kantor sekitar menjelang Kranggan, di guyur hujan yang cukup derasnya, sehingga saat masuk rumah pakaian basah dibuatnya.





Sabtu, 3 Oktober 2009.

Jam 07.00 pagi setelah mengerjakan shalat Dlhuha langsung tidur, sebab badan harus sehat benar untuk bermotor ke Bogor sebentar lagi.

Jam 10.00 sayup- sayup terdengar suara Fifi berteriak- teriak dengan Yasin yang sedang mempersiapkan baju yang akan di bawa ke Bogor. Saya terbangun dan secepatnya membersih motor.

Sedang membersihkan motor lewatlah pedagang bakso langganan, bakso ini jangan di bilang enak, pokoknya serbah maklum, maklum murahnya, sebab dengan Rp 2000,- sudah bisa berkudap bakso sambil membersihkan motor. Fifi dan Yasin minta satu mangkok, bolehlah ramai- ramai makan bakso, setelah motor di cuci, mandi dan langsung ganti pakain.

Jam 10.40 persiapan berangkat ke Bogor, dengan Fifi duduk di tengah dan Yasin duduk di belakang, Fifi dan Yasin masing- masing membawa tas pakainnya sendiri, dalam kesempatan berangkat ini tas yang di bawa Fifi membuat ruang duduknya di motor bagi Yasin menjadi sempit, Yasinnya marahan lagi.

Sedang merpersiapkan diri ini ibunya sudah berkali- kali keluar masuk mempersiapkan penutup hidung buat Fifi, sampai tetangga ikut mengatur duduknya Fifi.

Saat motor sudah dihidupkan beberapa saat kemudian akhirnya berangkat juga.

Jalan lurus sepanjang jalan berfikir akan menempun arah yang mana, terfikirkan akan mencoba jalur yang berlum pernah di tempuh, yaitu lampu merah Kranggan belok kiri.


Sehingga sewaktu motor melintas jembatan Fly over Cileungsi Yasin yang duduk di belakang bertanya kok lurus pak, Bogor kan belok kiri, saya jelaskan lewat Kranggan saja.

Kranggan sudah dicapai dan belok kiri, ini adalah ruas jalan Jatikarya yang belum pernah di lewati, berjalan lurus dan menjumpai desa Leuwinanggung banyaknya kendaraan dan akhirnya sepi dan melaju sendiri.

Ada lapang golf luas, Bukit Golf Cibubur Riverside dan melewati terowongan di bawah jalan tol Jagorawi, kemudian memasuki Tapos dan berjalan terus.
Saat melewati jalan kereta Api baru sadar jikalau sudah dekat dengan kota.
Tembusnya jalan ini ada di kota Cibinong.
Rasa gembira telah melintas dengan membawa anak- anak dari keramaian kendaraan yang luar biasa secepatnya shalat Dlhuhur di masjid Kompleks Angkutan Darat Bogor.

Memasuki kota Bogor dan mulai bertanya dimana hotel Mira, dari kejauhan terlihat hotel Mira dan setelah dua kali mendapatkan lampu merah belok kanan putaran balik dan masuk kekiri dan terlihat jajaran mobil parkir, setelah bertanya dengan satpam di mana letak Hotel Mira, dan di tunjukan di sudut halaman maka langsung masuk, suatu hotel yang cukup baik.

Memasuki hotel dengan bermotor, setiap tamu masuk pertama kali yang dicari adalah loby depan, dan disana motor saya arahkan, sewaktu motor berhenti di depan loby anak- anak turun, dan saat bersamaan satpam datang, motor parkirnya di sana, tetapi saya jelaskan mau nginap pak, mengetahui jikalau saya adalah tamu, langsung sedikit berubah nada suaranya.

Motor saya parkir di sisi luar hotel, sisi luar ini adalah jalan umum, berarti hotel Mira ini menempati suatu lahan perumahan yang dibeli beberapa blok dan langsung dibangun hotel, jalan umum berubah menjadi lahan parkir gratis hotel.

Berjalan balik ke arah anak- anak, dan memasuki looby hotel, saat yang sama pak Wasono dari BUMN baru turun dari mobil di Looby hotel, setelah bersalaman langsung melangkah menuju rumah makan lesehan di samping hotel.

Ditempat ini pak Norman dari Departemen Pekerjaan Umum satu rekan dengan saya sudah berada di sana, Saya Fifi dan Yasin memesan nasi dengan soto Bandung dengan minuman jus mangga sedangkan Yasin sendiri beda minumnya yaitu susu dengan es batu dan fanta merah.

Dimeja lesehan itu sekarang duduk berkeliling dari Fifi, saya, Yasin, orang Kementrian BUMN, pak Norman dan Pak Wasono dan dua orang lagi orang Kementrian BUMN dan Saat makanan sudah di hidangkan langsung di nikmati.

Fifi bisa menghabiskan nasi dan soto bandung sendirian sedangkan jus mangganya di minum setengah gelas dan lebihnya di berikan ke Yasin.

Berjalan beberapa puluh meter menuju kantor depan hotel untuk mencari kunci, dapat nomer 225.

Langsung menuju ruang rapat Prambanan di lantai empat, setelah itu dengan anak- anak mencari lantai dua, sewaktu menuju ruang lift terlihat kolam renang dari atas, Yasin dan Fifi nya sudah gembira saja ingin secepatnya mandi.

Memasuki kamar 225, paling ujung, dan disampingnya terdapat tangga turun ke bawah.

Cacatnya ruangan ini adalah air WC tidak mengalir, sehingga untuk mengalirkan harus membuka penutup penampungan air kloset, dan mencari tombol karet penutup lobang kemudian bola pelampung di turunkan dan air memancar masuk, setelah penuh baru di putar pematiknya dan air akan mengelontor keluar.

Konsepnya hadapi saja semua ini, tidak perlu di bahas.

Acara di kolam renang, saya sendiri tidak berenang, tetapi menemani anak- anak berenang untuk memberitahukan ke Fifi agar tidak mendekati kolam renang untuk dewasa yang kedalamannya mencapai 2.50 meter

Jam 15.05 Shalat Ashar di kamar.

Sewaktu jalan- jalan ke loby depan, turun dari mobil satu rombongan mobil konsultan yang datang dari Bandara Cengkareng langsung Bogor.

Sambil menunggu di mulainya acara pembahasan , sempat beramah tamah dengan peserta rapat yang baru pulang mudik ke Sumatera Barat, Padang, ia berceritra jikalau saudara- saudaranya tidak ada yang terkena gempa, jikalau kerusakan rumah ya pastilah, sebab semua bangunan di wilayah itu di gonjang ganjing layaknya.

Acara pembahasan persiapan Renovasi kementerian BUMN dimulai jam 16.00.

Meja disusun putaran U, dan paling ujung kiri depan adalah pak Wassono, Yang hadir dari ujung kiri

Jam 18.00 istirahat.

Memasuki kamar untuk mengerjakan shalat Maghrib berjamaah, kemudian mulai menghubungi Astari dan Ibunya yang lagi nyusul ke Bogor dengan naik Bus Cileungsi Bogor, ternyata masih di ruas jalan Gunung Putri.

Sambil makan malam menyuapi Fifi, sebab Fifinya ngak mau makan dengan piring sendiri.

Makanan cukup enak, ada Cap cay dengan sayuran yang banyak, ada udang di goreng, ada ayam, di awali dengan menyeruput tek wan bola- bola ikan.

Setelah shalat Isya, ada sms masuk mengabarkan jikalau Astari dan ibunya anak- anak sudah memasuki hotel, langsung ngak usah ke kamar langsung makan saja dahulu sebab ruangan akan di tutup jam 20.30.

Sementara mereka makan saya memasuki ruangan rapat hingga jam 22.30 malam.

Menjelang tengah malam memasuki ruangan hotel dan terlihat anak- anak tidur, Yasin tidur sendirian di bed kanan dekat kursi disisi jendela sedang Ibunya, Fifi dan Astari di bed yang dekat dengan dinding.

Saya memilih tidur di karpet bawah depan televisi dengan menarik selimut yang dikenakan Yasin dan selimut dijadikan alas tidur dan tidurpun berangkat dengan tenang.



Minggu, 4 Oktober 2009.

Jam 03.00 bangun untuk mengerjakan shalat tahajud, kemudian tidur sebentar untuk menunggu Shalat shubuh, setelah shalat shubuh berenang bersama istri, Yasin dan Fifi.

Ternyata saya tidak bisa berenang, terbukti ngak bisa ngambang.

Jam 05.30 ganti baju untuk jalan- jalan di sekitar hotel, jalan- jalan ini menyadarkan jikalau di sekitar hotel ternyata ada taman Kencana setalah berjalan menuju barat dari hotel menjumpai jalan raya dan mengikuti jalan raya itu menurun.

Di taman Kencana, sangat ramai di kunjungi orang dan sudah banyak orang yang duduk sambil makan sarapan lesehan.

Setelah itu memutar lapangan dan di sudutnya terdapat jalan dan mengikuti jalan itu untuk memutar menuju jalan besar Pejajaran. Di sana terdapat trotoar yang tidak terurus dan di wilayah trotoar di tanam papan reklame setinggi 1,50 meter, bagaimana orang yang berjalan kaki, rasanya ini belum pernah terjadi di negara manapun juga.

Pertama dalam kesempatan ber kali- kalai untuk mencari tahu tingkat korupsi Pemda adalah bagaimana trotoarnya, ternyata trotoar di Bogor sangat ngak terurus, ada jalan tanah, rerumputan, dan pokoknya belum bener.

Jam 06.30 memasuki ruang hotel, langsung memasuki ruang makan dan makanan pagi hari ini cukup di tunggu Fifi, ia sangatberkesan sewaktu bermalam di Hotel Salak Bogor beberap tahun yang lalu, sarapan rotinya yang di kenang.

Pagi ini pun Fifi langsung minta roti bakar, saat memasukan lembaran roti dalam alat pemanggang Fifinya sudah berlari menuju kursi yang dikehendaki, saya menjaga roti yang di panggang itu sambil mempersiapkan bubur ayam bersama Yasin.

Ibunya saya lihat sudah meramu sarapan nya sendiri bersama Astari juga melakukan sendirian.

Mengambil duduk di sisi jendela yang berkaca lebar, terlihat di bawah sepeda motor yang diparkir semenjak kemaren siang, sambil membahas gambar rencana renovasi bangunan BUMN sarapan sedang di depan saya Yasin terlihat semangat juga menyusun tugas penulisan perihal Muntaber.

Memasuki ruangan lantas shalat dlhuha kemudian tidur, sementara yang lain berenang.

Acara pembahasan hari ini mulai mengerucut pada pengumuman pekerjaan di media masa, dengan melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan persyaratan yang di rumuskan hari ini.

Jam 11.55 saya keluar ruang rapat untuk mengajak anak- anak shalat dlhuhur, dipilih shalat di musholah bawah, agar bisa shalat sekali gus, kemudian makan siang, makan siang di hotel cukup enak, ada soup daging dengan sambal hijaunya.

Kemudian nasi putih, lauknya ayam bumbu hijau, ikan gurame di bumbu tauco, jagung di dadar goreng lebar, asinan, kerupuk.

Jam 13.00 acar di tutup.

Pulang meninggalkan hotel, hujan di luar hotel masih menderas.

Ibunya terlihat berjalan di depan menuju pinggiran jalan Pajajaran untuk mencari angkot tujuan ke Terminal.

Sedangkan saya mulai menyusun pakaian pelapis hujan, Yasin dan Fifi juga mengenakan plastik pelapis hujan.

Udara dingin hujan kota Bogor ini membuat Yasin pucat.

Motor sudah di hidupkan, membayar parkir Rp 2 000,-

Perlahan- lahan motor meninggalkan hotel, menuju jalan Pajajaran, arah yang saya tuju adalah arah menuju keluar kota Bogor, terlihat sepi sedangkan yang akan masuk kota Bogor rapat merayap, belum beberapa lama berkendaraan Fifinya sudah tertidur, terasa kepalanya yang menyandar di punggung mulai terkulai, dan terlihat Yasin sangat sibuk menjaganya.

Di lampu merah Kedung Halang, semua kendaraan di belokan ke kiri jauh dan balik lagi ke titik ini, untuk menghilangkan kesan kendaraan menumpuk di lampu merah Kedung Halang.

Hujan mulai redah sewaktu keluar dari kota Bogor, dan mulai melepas plastik pelapis hujan.

Bermotor lagi dan setelah berjalan cukup lama sekarang memasuki kawasan Cibinong, di warnai dengan kemacetan yang di sebabkan parkirnya angkot dengan sembarangan tempat, terlihat disini hukum tak bergema.

Merayap- rayap akhirnya tercapai juga di petigaan jalan yang memusingkan itu, lobang untuk belok kanan, disebut lobang sebab sangat tidak nampak jikalau jarak antara pertokoan itu adalah ujung jalan yang tembus hingga Cibubur, Ujung jalan itu pun di jumpa, masuk dan mulai memasuki jalan yang cukup panjang tetapi aman dari keramain kendaraan yang memacetkan.
swut, masuk dan mulai antrian lagi bergerak untuk mencari ujung jalan memasuki jalan lurus yang menghubungkan Cibinong dengan Cibubur.



Terus melintas, sama seperti berangkatnya, bedanya adalah hari ini basah sebab hujan sudah meredah, dan sekarang meninggalkan genangan air di mana- mana, dan saat berjumpa dengan terowongan sempit di bawah jalan tol, terlihat memang jalanan di dalam terowongan hanya bisa di pitas dengan satu kendaraan saja, sehingga harus bergantian kendaraan yang akan melewati.


Hujan membuat kubangan air dimana- mana.


Tidak lama kemudian Cibubur sudah di capai, saat melintas di Kranggan terlihat pedagang mangga dengan harga Rp 6000/kg mampir sebentar untuk membeli 4 kg mangga.

Bermotor lagi saat memasuki rumah ternyata istri dan Astari baru saja memasuki rumah juga.

Langsung shalat Ashar, sebab adzan sudah terdengar 15 menit yang lalu.



Senen, 5 Oktober 2009.


Akan berangkat kekantor pagi ini, saat sela sepeda motor di ayunkan, patah, terpaksa Astari yang mengejar waktu lantas minta uang angkot dan berlari, sedangkan saya mendorong motor, motor sangat bandel di dorong, akhirnya pak Rudi baru datang mengantar anaknya, ia mau mendorong dan motor hidup, yang dicari adalah pengganti sela motor, mencari di Mampir, ternyata di tunggu lama baru ia memberitahukan jikalau tidak ada, sementara itu motor sudah mati, di dorong lagi motor mau hidup tetapi ngak mau netral persenelingnya, sehingga kopling di tekan sementara saya masih di sisi motor, jadi motor belum di naiki, sebab yang mendorong motor ya saya sendiri, tiba- tiba melintas pak simanjuntak, ia mau mendorong dan hidup lagi, kemudian ke desa Gandoang mencari bengkel yang buka yang menjual sela motor, mengambil ke arah kanan, sudah berjumpah dengan bengkel yang buka pagi ini tetapi ia menjual sela motor tidak dilengkapi dengan pin sela.

Balik lagi kekiri dan mulai bertanya di mana ada tukang las, ternyata si tukang las menyarankan di depan ada bengkel yang lama ngak laku barangnya barangkali ia ada menjual.

Bengkel itu terletak beberapa meter sebelum mencapai mulut gang untuk menuju puri melalui jalan Pemberdayaan.

Dipasang dengan model lain yang penting mau hidup harga barang dan pasang Rp 35 000,- kemudain berangkat ke kantor, mampir di masjid sebelah kiri jalan di tempat penjualan pasir, untuk mengerjakan shalat Dlhuha.

Bersyukur sebab kemaren membawa anak- anak ke Bogor tidak menjumpai masalah, bersyukur juga ada penggantinya, walau hari menjalar siang sudah jam 08.05 tetapi masih di Gandoang.


Selasa, 6 Oktober 2009.


Sengaja pulang agak cepat dan masuk rumah sekitar jam 17.30, sebab akan menghadiri perkawinan.

Malam hari saat dalam perjalanan di gelap malam, jam masih menunjukan 18.30, dalam rangka memenuhi undangan perkawinan seorang guru yang menikahkan anaknya, bertempat tinggal di sisi desa, jalan tanah, berlumpur sebab baru saja hujan, berangkat berempat, saya ibunya, Fifi dan Yasin, tiba- tiba saat melewati jalanan yang berlumpur pekat, di mana lumpur menghisap sandalnya Yasin dan sewaktu Yasin mengangkat sandalnya, putus talinya, Yasin terlihat berjalan terseok seok sebab kakinya yang satu tak lagi bersandal, berunding dulu, akhirnya di putuskan untuk kembali, batal deh menghadiri perkawinan.




Rabu, 7 Oktober 2009.

Hingga sekian hari ini pemikiran saya terhadap bencana gempa bumi di Padang Sumatera Barat masih berfikir bagaimana serentak membuatkan rumah sementara bagi kebanyakan kepala rumah tangga yang telah hancur rumahnya.


Hujan sepanjang perjalanan pulang sore hari ini, sejak dari kantor, menyusuri jalan simatupang , pasar Rebo, Cibubur, Juction Cibubur, Jalan alternatip Cibubur, Cileungsi, Pasar Gandoang, hingga masuk rumah hujan masih menetes.

Sepertinya ada yang lupa, saat Fifi seperti biasanya minta oleh- oleh sewaktu ayahnya datang, rasanya sih tadi pagi sudah membeli kopi sebanyak satu renteng berisi 10 sanchet ukuran besar dan kopi susu moca malahan satu sanchetnya sudah di minum di kantor tadi pagi, ya lupa, ngak kebawa pulang tetapi masih ada di laci meja kantor.




Kamis, 8 Oktober 2009.

Kemacetan yang panjang semenjak fly over pasar minggu hingga perempatan Fatmawati, kendaraan berjalan sangat lambat dan merayap, sebegitu banyaknya kendaraan terutama sepeda motor.

Selama dana Publik tidak diarahkan untuk membuat jalur sepeda tanpa mesin, selama ini pula kendaraan akan bersesakan di bidang jalan yang terasa sempit, jalur sepeda itu layaknya jalur untuk bus way, siapa saja boleh masuk tetapi harus mengenakan sepeda dayung, sempat tujuan utamanya selain keluar dari sistim kemacetan adalah penghematan pembakaran fosil, yang berperan aktif dalam pembentukan gas rumah kaca.




Tugas menakutkan saya adalah menyajikan ikhtisar dari apa kebijakan perumahan kami seharusnya untuk Milenium Baru. Aku tidak dapat mencakup semua kebijakan, tetapi hanya mereka yang saya anggap paling penting.

Saya akan mulai dengan latar belakang faktor-faktor kunci tertentu yang mendasari saya analisis selanjutnya.






Pertama, perumahan Amerika produksi dan proses pertumbuhan perkotaan telah menyediakan tempat penampungan yang sangat baik kesempatan untuk kebanyakan rumah tangga menengah dan atas pendapatan, kecuali pada beberapa biaya yang sangat tinggi daerah seperti California Utara. Pasar perumahan kami bekerja dengan baik bagi sebagian besar rumah tangga dengan uang.




Kedua, yang paling luas dan serius masalah perumahan AS terletak pada perbedaan antara yang berpenghasilan rendah banyak rumah tangga miskin dan biaya minimal "layak" perumahan sebagaimana dinilai oleh standar kelas menengah. Pendapatan rumah tangga langsung turun ke hampir nol, tetapi biaya minimal "baik" tingkat penampungan turun di beberapa jumlah yang dibutuhkan untuk menutupi ruang dasar, pemipaan, dapur, utilitas, dan kebutuhan pemanas.



Pada tahun 1997, 42,7% dari semua penyewa rumah tangga memiliki pendapatan di bawah 50% dari wilayah mereka median, 27% memiliki pendapatan di bawah 30% dari mereka median tentang setara dengan tingkat kemiskinan dan 15% memiliki pendapatan di bawah 20% dari mereka median.

Tahun 1997 sewa pasar wajar untuk sebuah rumah tangga dari 4 adalah $ 720 per bulan (berasal dari 15 besar MSAs). Itu setara dengan 90 sen per meter persegi per bulan jika seperti apartemen berisi 800 meter persegi. Jika itu setara dengan 30% dari pendapatan, maka pendapatan minimum yang diperlukan untuk menghindari "perumahan kemiskinan" adalah $ 28.800. Yang jauh lebih tinggi daripada makanan tahun 1997 tingkat kemiskinan berbasis $ 16.400. Pada tahun 1997, diperkirakan 57,3% dari semua penyewa rumah tangga memiliki pendapatan di bawah $ 28.800, sehingga mereka "perumahan miskin."

Jika 27% dari semua penyewa rumah tangga dengan pendapatan di bawah $ 12,000 menghabiskan 30% dari pendapatan mereka di sewa, dan jika sewa adalah 90 sen per meter persegi per bulan yang berasal dari pasar wajar sewa, maka rumah tangga hanya mampu menduduki 333 kaki persegi . 15% dari semua penyewa dengan pendapatan di bawah 20% dari area median mampu menduduki hanya 222 meter persegi. Ukuran unit ini jauh di bawah ukuran dianggap "layak" dan dibutuhkan oleh hampir semua bangunan.


Hal ini menunjukkan bahwa jutaan keluarga Amerika tidak bisa APAPUN baru dibangun tempat tinggal tanpa menghabiskan lebih dari 30% dari pendapatan mereka untuk perumahan. Oleh karena itu mereka dikecualikan dari hidup di semua wilayah pertumbuhan baru kecuali disubsidi, dan kita tidak mensubsidi mendekati seluruh rumah tangga yang memenuhi syarat. Satu-satunya cara Anda dapat menempati hanya 222 meter persegi adalah dengan 3 rumah tangga dalam satu unit!



Jelas, pendapatan rendah terdiri sejauh terbesar kami "masalah perumahan." Cara terbaik untuk menyerang masalah itu adalah dengan meningkatkan penghasilan si miskin. Itu berarti melalui program-program di luar HUD's yurisdiksi, kecuali voucher, yang pada intinya meningkatkan jumlah uang pendapatan keluarga yang menerima mereka.






3. Faktor penting ketiga adalah bahwa penduduk AS akan meningkat 48 juta 2000-2020, dan perumahan harus diciptakan bahwa orang-orang yang mampu menduduki. Lebih dari sepertiga ditambahkan ini orang akan imigran dari luar negeri atau anak-anak mereka. Banyak akan menjadi sangat miskin, maka mereka tidak akan dapat membeli unit baru dibangun untuk kami yang berkualitas tinggi standar tanpa subsidi. Namun imigran miskin tidak mundur dari memasuki kota-kota kita oleh tingginya harga perumahan yang memaksa mereka untuk dua dan tiga ke atas, karena perumahan yang penuh sesak lebih unggul daripada apa yang mereka alami di daerah rumah mereka.

Kemakmuran ekonomi baru-baru ini, dikombinasikan dengan beberapa kondisi negatif yang dihasilkan oleh pertumbuhan di daerah pertumbuhan tinggi, telah ditingkatkan perasaan anti-pertumbuhan di banyak masyarakat, terutama daerah pinggiran kota baru. Meskipun daerah masing-masing dapat memperlambat pertumbuhan di dalam perbatasan mereka sendiri, tidak ada jalan untuk setiap daerah atau bangsa secara keseluruhan untuk menghentikan atau sangat lambat pertumbuhan masa depan mereka. Namun keprihatinan dengan cara untuk mengatasi pertumbuhan ini timbul di seluruh bangsa dan akan sangat mempengaruhi lingkungan di mana perumahan masa depan harus diciptakan.

Akibatnya, kebijakan perumahan yang efektif harus prihatin dengan seluruh proses pertumbuhan, bukan hanya pembangunan perumahan baru seolah-olah terpisah dari proses pertumbuhan. Kebijakan perumahan harus diintegrasikan dengan kebijakan pertumbuhan.





4. Keempat faktor penting dalam kebijakan perumahan adalah bahwa sebagian besar menengah dan rumah tangga berpendapatan tinggi dari semua kelompok etnis tidak ingin tinggal di lingkungan yang berisi jumlah cukup besar atau persentase penduduk miskin. Hal ini terutama berlaku untuk rumah tangga dengan anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, rumah tangga miskin tidak menarik diri dari daerah di mana banyak orang miskin tinggal dan tegak hambatan bagi masuknya berikutnya miskin ke lingkungan mereka sendiri. Perilaku ini adalah dasar bagi hirarki sosial-ekonomi dari lingkungan yang ditemukan di setiap wilayah metropolitan Amerika.
Perilaku seperti itu mirip dengan keengganan sebagian besar kulit putih tinggal di daerah-daerah di mana lebih dari 25 mencapai 33% dari penduduk Afrika-Amerika tidak peduli apa tingkat pendapatan mereka. Ini mendasari segregasi rasial terus. Serupa tapi perasaan kurang intensif dipegang oleh orang kulit putih tentang minoritas lain juga.

Tidak miskin tidak mengecualikan orang miskin melalui kekuatan pasar murni, tetapi melalui pembagian wilayah lokal dan peraturan-peraturan lain yang menghalangi pembangunan unit terjangkau. Perilaku ini berakar pada keinginan kuat homeowning rumah tangga untuk melindungi dan meningkatkan nilai-nilai perumahan mereka, karena perumahan adalah aset finansial terbesar mereka. Oleh karena itu pemerintah daerah pinggiran, yang hampir selalu didominasi oleh homeowning pemilih, paroki cenderung mengadopsi kebijakan yang bertujuan menguntungkan penduduk mereka sendiri, tanpa memperhatikan dampak pada orang lain.

Eksklusioner zonasi diperkuat oleh keinginan dari pejabat setempat dan warga negara untuk meminimalkan pajak dengan menghalangi penggunaan lahan yang menghasilkan lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan daerah. Ini berarti perumahan, terutama perumahan bagi orang-orang dengan anak-anak. Jadi benar-benar terjangkau perumahan dianggap sebagai kutukan oleh pinggiran fiskal pemerintah, dan mereka semua mencoba untuk melangsir itu pergi ke daerah lain. Namun perekonomian kita tidak dapat berjalan tanpa banyak pekerja upah rendah yang tidak mampu "layak" unit.

Motif eksklusif ini ditekankan selama periode kemakmuran bila penduduk memiliki kemewahan tidak khawatir tentang pekerjaan atau penghasilan mereka. Kemudian mereka bisa khawatir tentang unsur-unsur seperti kemacetan dan gaya hidup. Hasil lain telah kemakmuran kenaikan harga dan sewa yang menyakiti orang miskin. Dari 1990-1999, rata-rata harga rumah di wilayah metro 21 terbesar naik rata-rata 33,9%.






5. Sebuah pusat, jika tidak diinginkan, konsekuensi dari perilaku eksklusif seperti konsentrasi signifikan dari rumah tangga termiskin bersama dalam lingkungan kemiskinan yang tinggi di pusat kota dan pinggiran kota tua - terutama kaum minoritas miskin rumah tangga, yang dua kali lipat dikecualikan. Namun sangat miskin memusatkan perhatian banyak orang bersama-sama menghasilkan lingkungan yang merugikan lingkungan yang mengurangi kesempatan hidup orang di sana, dibandingkan dengan lingkungan yang jauh lebih ekonomis dengan beragam populasi. Saya yakin, dan begitu juga sebagian besar kota besar walikota dan banyak pejabat HUD, bahwa kita tidak dapat meningkatkan kualitas hidup yang sangat miskin tanpa mengurangi kemiskinan besar klaster.

Konsentrasi kemiskinan seperti telah diperburuk oleh federal dan kebijakan pemerintah lainnya yang berfokus sebagian besar bantuan perumahan dan insentif pada rumah tangga yang sangat miskin, di daerah termiskin. Ini dilakukan dalam nama manusiawi membantu mereka yang paling membutuhkannya. Namun, kebijakan ini telah gagal karena peningkatan konsentrasi dari rumah tangga termiskin bersama-sama, seperti dalam tinggi proyek perumahan rakyat - sehingga menciptakan lingkungan sosial yang destruktif.

Sekarang saatnya untuk kembali menyelaraskan insentif kebijakan yang dibuat oleh pemerintah federal sehingga mereka mendorong keragaman pendapatan yang lebih besar, bahkan jika itu berarti masyarakat memberikan bantuan kepada orang-orang yang tidak yang sangat miskin. Sebagai contoh, lebih poin untuk perumahan berpenghasilan rendah proyek kredit pajak harus diberikan kepada mereka yang moderat persentase penduduk sangat miskin, bukan untuk orang-orang dengan persentase tertinggi, seperti yang dilakukan sekarang.





6. Poin sebelumnya menunjukkan dominan proses pembangunan perumahan Amerika menyebabkan pengabaian progresif sebagian dari banyak kota tua besar melalui pertumbuhan di pinggiran kota pinggiran, perkotaan memperparah penurunan. Banyak pengamat menyalahkan penurunan perkotaan seperti di pinggiran kota gepeng, tapi kesimpulan itu tidak akurat.

Pertumbuhan pinggiran kota utama di daerah metropolitan AS itu, dan masih adalah, tak terelakkan karena peningkatan penduduk di daerah-daerah, ditambah meningkatnya pendapatan riil yang menghasilkan keinginan untuk hidup kepadatan rendah. "Renggang" mungkin hanyalah salah satu bentuk pertumbuhan pinggiran kota ditandai dengan kepadatan sangat rendah, lompatan-katak perkembangan baru, tidak terbatas ekstensi luar, dan dominasi mobil. Di AS, gepeng telah begitu dominan bahwa kebanyakan orang salah pikir ini adalah sama dengan pertumbuhan.

Saya telah melakukan analisis yang ekstensif regresi menunjukkan hampir tidak ada hubungan antara sifat dasar pemukiman perkotaan yang saya sebutkan dan penurunan - diukur sebagai penduduk kota, baik perubahan dari 1980-1990 atau oleh penurunan indeks dari indikator-indikator seperti tingkat kriminalitas tinggi, angka kemiskinan yang tinggi, dll . Hal ini mengejutkan saya.

Analisis lebih lanjut meyakinkan saya bahwa itu bukan aspek kepadatan rendah dari pertumbuhan pinggiran - mereka yang terdiri dari gepeng - yang mengarah pada penurunan perkotaan. Sebaliknya, itu adalah pengoperasian enam karakteristik dasar lainnya proses pembangunan kita.

(1) Kami mengharuskan semua perumahan untuk memenuhi standar kualitas yang tinggi bahwa orang miskin tidak mampu tanpa subsidi, (2) kami tidak menyediakan kebanyakan masyarakat miskin dengan subsidi, begitu sedikit dapat hidup di daerah-daerah pertumbuhan baru, (3) kami eksklusioner mendorong pembagian wilayah pinggiran kota, (4) kita terlibat dalam segregasi rasial yang meluas di hampir semua pasar perumahan, (5) kami menjaga kendala utama untuk pembangunan kembali wilayah-wilayah inti yang lebih tua, dan (6) kita memiliki nilai-nilai sosial yang mendorong rumah tangga untuk pindah ke lebih tinggi Status lingkungan ketika pendapatan mereka meningkat. Faktor-faktor ini - bukan kepadatan rendah - adalah alasan mengapa pertumbuhan kita menyebabkan kemiskinan konsentrasi.

Ini merupakan kesimpulan penting karena menunjukkan bahwa pertumbuhan terus masih menyebabkan kemiskinan terkonsentrasi bahkan jika kita berpindah dari gepeng ke lebih banyak bentuk-bentuk pertumbuhan kompak - kecuali jika kita mengubah enam karakteristik dasar. Dan berkonsentrasi kemiskinan akan tetap menghasilkan penarikan dari kelas menengah ke pinggiran kota, yang memperburuk penurunan perkotaan. Bahkan, orang miskin sendiri sering pindah dari daerah kemiskinan tinggi sekali mereka mendapatkan pendapatan lebih tinggi.



Sekarang mari kita kembali kepada kesimpulan tentang kebijakan perumahan dari faktor-faktor latar belakang ini.



1. Kesimpulan pertama saya adalah bahwa yang paling penting kebijakan perumahan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah - bukan pemerintah federal. Benar, pemerintah federal mempengaruhi iklim keuangan yang mempengaruhi keterjangkauan perumahan dan produksi. Namun pemerintah daerah menetapkan aturan kualitas perumahan dan kerapatan yang benar-benar menentukan jumlah perumahan yang dibangun dan di mana kelompok pendapatan yang berbeda akan hidup. Dan orang-kebijakan lokal terutama ditentukan oleh paroki dan perspektif eksklusif pemilik rumah pinggiran kota, seperti dijelaskan sebelumnya. Ini melanggengkan kemiskinan konsentrasi.

Oleh karena itu, hal yang paling penting pemerintah federal dapat lakukan untuk memperbaiki rumah peluang bagi masyarakat miskin adalah untuk mempengaruhi pemerintah lokal untuk tidak terlalu sempit dalam memutuskan apa jenis perumahan dapat dibangun di mana. Ini akan memerlukan HUD dan Kongres untuk menciptakan insentif bagi pemerintah setempat dan negara bagian untuk memodifikasi perilaku mereka yang eksklusif saat ini terhadap perumahan.

Contoh telah dibuat oleh EPA dan DOT - yang terakhir dalam bentuk Organisasi Perencanaan Metropolitan. Keduanya membutuhkan masing-masing wilayah metropolitan untuk mendirikan sebuah badan perencanaan daerah-daerah yang menganggap rencana luas sebelum pemerintah federal akan memberikan dana untuk setiap pemerintah di kawasan. HUD bisa membuat serupa bantu keuangan tergantung pada perencanaan daerah.

Mungkin tujuan akan menjadi (1) untuk meminta masing-masing daerah metropolitan untuk membentuk "adil" alokasi rumah murah di antara masyarakat, (2) untuk mengizinkan pemilik rumah keluarga tunggal dengan ukuran tertentu untuk membuat aksesori apartemen di rumah mereka bahkan jika pemerintah setempat tidak mengizinkan hal itu, (3) untuk mewajibkan setiap masyarakat untuk zona beberapa tanah untuk keluarga multi-perumahan, dan (4) untuk memperluas penggunaan voucher untuk mendorong "pindah ke kesempatan" program. Setidaknya, HUD dapat membuat perencanaan hibah kepada pemerintah daerah di dalam wilayah di mana semua pemerintah tersebut sepakat untuk mengembangkan rencana regional sukarela.

Karena pemilik rumah di pinggiran kota membentuk mayoritas pemilih di Amerika Serikat, Kongres akan enggan untuk memungkinkan kebijakan tersebut. Namun HUD harus tekan untuk mendapatkan satu karena HUD tidak dapat mengurangi penurunan dalam kota tanpa mempengaruhi proses pertumbuhan secara keseluruhan, yang berarti mempengaruhi kebijakan pertumbuhan pinggiran kota setempat.






2. Kedua tujuan utama dari kebijakan perumahan haruslah deconcentrate ada kantong-kantong kemiskinan tinggi dalam dua cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan kupon untuk memberikan kesempatan sukarela rumah tangga untuk pindah ke lingkungan berpendapatan menengah. Yang lain adalah untuk mendorong keragaman pendapatan yang lebih besar di lingkungan miskin, termasuk di perumahan rakyat. Ini adalah tujuan sudah ada kebijakan HUD yang harus dipromosikan lebih kuat.

Pendekatan ini bertentangan dengan keinginan dan menengah-atas pendapatan rumah tangga untuk mengisolasi diri dari orang miskin. Karena tidak miskin jauh lebih banyak dan lebih kuat daripada orang miskin, masyarakat telah menolak hampir semua upaya untuk deconcentrate orang miskin dengan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat yang lebih kaya.

Aku sudah lama percaya dalam hati bahwa kita di tengah-dan-kelompok berpendapatan tinggi tidak dapat meningkatkan kemampuan akhirnya saudara-saudara yang lebih miskin di sepanjang lengan, tapi harus entah bagaimana lingkungan kita berbagi dengan mereka jika kita benar-benar ingin menciptakan kesempatan yang sama dalam masyarakat kita . Tapi ini jelas sudut pandang minoritas sangat ditentang oleh mayoritas miskin non-Amerika, dan oleh banyak orang miskin.




3. Tujuan utama ketiga saya mencolok keseimbangan yang lebih baik antara bantuan kepada pemilik rumah "terutama sebagai manfaat pajak" dan bantuan kepada masyarakat miskin dengan amat meningkatnya penyewa yang kedua. Pada 1990-an, HUD ditempatkan jauh lebih menekankan pada kepemilikan rumah mempromosikan daripada membantu penyewa berpendapatan rendah, meskipun yang terakhir lebih serius masalah perumahan. Tingkat kepemilikan rumah meningkat terutama, dan itu baik. Tapi hari ini pembangun adalah memasang banyak rumah seharga $ 2 menjadi $ 3 juta. Hal ini ludicrously tidak adil untuk memberikan mereka manfaat pajak pembeli sebanyak $ 58.500 per tahun sementara tidak memberikan bantuan apapun untuk paling memenuhi syarat penyewa berpenghasilan rendah. Kita tidak perlu untuk mendorong lebih banyak rumah-rumah besar.

Mengubah bunga dan pengurangan pajak properti kredit pajak akan jauh lebih adil tanpa menghilangkan manfaat pajak besar untuk kepemilikan rumah. Ini akan bergeser lebih baik manfaat kurang makmur pemilik rumah atau menyimpan uang. Demikian uang yang disimpan dapat dialokasikan untuk bantuan lebih besar kepada penyewa berpenghasilan rendah.

Lebih banyak uang federal harus digunakan untuk membantu penyewa berpenghasilan rendah - terutama sebagai voucher dan sebagai bantuan untuk rehabilitasi unit yang lebih tua. HUD juga harus mempertimbangkan pengaturan pasar wajar harga sewa yang lebih tinggi di pinggiran pasar dengan harga perumahan yang tinggi untuk memungkinkan Bagian 8 rumah tangga untuk tinggal di sana; yang sekarang sewa satu-kebijakan di semua bagian daerah metropolitan konsentrasi lebih mendorong masyarakat miskin.






4. Karena secara politis tidak mungkin untuk memfokuskan semua bantuan federal pada kantong-kantong kemiskinan deconcentrating yang ada, kita juga harus melakukan investasi sumber daya penting dalam meningkatkan kondisi di sana. Kita tidak akan mampu bahkan deconcentrate mayoritas yang ada kemiskinan tinggi wilayah di setiap waktu singkat, sehingga kita tidak mengabaikan mereka yang masih ada.

Namun, kita harus mengakui bahwa upaya-upaya untuk up-grade wilayah seperti ini tidak mungkin akan efektif, kecuali banyak warga miskin tidak dapat tertarik untuk tinggal di sana. Miliaran dolar telah dikeluarkan untuk mendorong Korporasi Pembangunan Masyarakat dan pemberdayaan zona untuk meng-upgrade seluruh lingkungan. Tetapi hanya sedikit yang berhasil, meskipun mereka telah membangun beberapa unit rumah baru. Saatnya untuk berhenti menyia-nyiakan bantuan tersebut dengan memfokuskan pada lebih banyak mendorong keragaman.

Tapi itu berarti mengabdikan dana publik untuk memberikan insentif kepada orang-orang lain selain yang sangat miskin. Ini adalah politik kontroversial tapi perlu strategi yang paling kota mempromosikan walikota sekarang karena mereka menyadari itu perlu.





5. Tujuan lain dari perumahan federal kebijakan harus lebih dekat integrasi perencanaan penggunaan lahan, perencanaan transportasi, dan perencanaan lingkungan karena masing-masing jenis perencanaan sangat dipengaruhi oleh yang lain dalam proses saling sebab-akibat. Secara teori, Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan dan Transportasi harus digabung menjadi satu lembaga federal. Itu bisa disebut baik Buk karena pengaruh berat, atau mungkin HUDAT hanya untuk bersenang-senang. Departemen yang kemudian harus memerlukan masing-masing wilayah metropolitan untuk mengembangkan beberapa jenis perumahan dan terkoordinasi terjangkau transportasi darat rencana sebagai prasyarat untuk menerima dana federal.

Perencanaan transportasi umumnya tidak dilakukan dengan pengakuan penuh dampaknya atas penggunaan lahan, dan sebaliknya. Amerika Serikat dan negara DOTS tidak menyadari mereka bukan hanya membangun jalan, tetapi menciptakan masa depan kerangka seluruh wilayah metro.

Namun, itu tidak akan mungkin untuk menggabungkan departemen tersebut tanpa perubahan besar dalam struktur komite Kongres. Kongres Namun jauh lebih tahan terhadap reformasi daripada lembaga lain di Amerika. Dan mencoba mengintegrasikan erat tindakan badan-badan federal terpisah biasanya merupakan latihan sia-sia.

Sebagai starter, HUD harus membersihkan sendiri bertindak sedikit. Sebagai contoh, HUD's Economic Development Initiative dibiayai sebuah hotel di Huntington Beach tanpa bertanya apakah upah rendah pekerja yang akan dipekerjakan mampu tinggal di sana, atau akan mengemudi mil untuk bekerja. Tidak seperti hibah harus disetujui tanpa mempelajari dampak mereka atas perumahan dan transportasi lokal persyaratan.



6. Sebuah rekomendasi kebijakan terakhir adalah bahwa pemerintah federal harus terus mempromosikan kebijakan ekonomi yang menjaga tingkat suku bunga rendah dan pasar tenaga kerja yang ketat. Tingkat rendah membuat lebih mudah untuk membangun lebih banyak perumahan, dan pasar tenaga kerja yang ketat meningkatkan pendapatan dari banyak pekerja berpenghasilan rendah. Jangka panjang sembilan tahun telah dilakukan kemakmuran ekonomi lebih banyak untuk kota-kota kita daripada kebijakan federal lainnya dari jenis apapun.


Seperti kita mempertimbangkan rekomendasi kebijakan ini, salah satu kendala besar untuk mencapai mereka muncul. Ini adalah kenyataan bahwa pengaturan kelembagaan hadir di pasar perumahan dan proses pertumbuhan mendukung dan menengah-atas mayoritas pendapatan dengan mengorbankan berpenghasilan rendah minoritas - terutama berpenghasilan rendah etnis minoritas. Sebagai contoh, konsentrasi kemiskinan di daerah-inti yang lebih tua lebih makmur rumah tangga ijin untuk tinggal di lingkungan yang sebagian besar bebas dari masalah yang terkait dengan kemiskinan. Itulah apa yang mereka sukai dan inginkan.




1. Singkatnya, demokrasi bekerja, karena mayoritas telah diciptakan dan dipertahankan pengaturan yang menguntungkan dan yang karena itu para anggotanya tidak ingin berubah. Selama beberapa dekade, telah terbukti sangat sulit untuk membujuk bahwa mayoritas untuk mengubah pengaturan kelembagaan mereka yang menguntungkan dengan menerapkan biaya tinggi kepada orang miskin. Menarik simpati mereka bagi masyarakat miskin hanya memiliki dampak sederhana.




2. Tetapi sekarang mayoritas pinggiran kota itu sendiri mulai mengeluh tentang beberapa biaya proses pertumbuhan yang telah dihasilkan, terutama kemacetan lalu lintas. Tantangan bagi kita mencoba untuk melaksanakan kebijakan yang telah saya jelaskan adalah dengan menggunakan ketidakpuasan perasaan ini untuk mencapai perubahan-perubahan kelembagaan - seperti setidaknya beberapa mekanisme perencanaan daerah - yang dapat membantu menghapus beberapa ketidakadilan dan ketidakefektifan perumahan kita sekarang dan proses pembangunan.




3. Seperti permohonan kepada kepentingan dari mayoritas harus mencakup menunjuk dua konsekuensi dari kegagalan untuk up-grade keterampilan dan pendapatan dari orang-orang sekarang hidup dalam kemiskinan terkonsentrasi daerah-daerah atau untuk memungkinkan lebih dari mereka untuk pindah ke pinggiran kota.

Pertama, kegagalan tersebut akan melemahkan kemampuan orang-orang untuk membeli rumah-rumah pinggiran kota yang sekarang bayi putih-boomer ketika mereka atau anak-anak mereka ingin menjual. Potensi pasar kemudian akan terdiri rumah tangga sangat minoritas sekarang tinggal di kota. Tetapi mereka mungkin pembeli tidak dapat mempertahankan nilai-nilai masa depan rumah penduduk sekarang jika mereka mempunyai sedikit uang.

Kedua, jika para pekerja upah rendah penting untuk bisnis dan perumahan daerah harus tinggal jauh dari tempat pekerjaan terletak karena tidak ada perumahan yang terjangkau di dekatnya, maka kedua lalu lintas kemacetan dan polusi udara akan naik, mengurangi kualitas hidup yang makmur rumah tangga yang mampu tinggal di sana.





Sebagai kesimpulan, saya berharap kita akan mengakui bahwa kebijakan perumahan masa depan dan masa depan kebijakan pertumbuhan metropolitan terjalin erat, dan tidak dapat diperlakukan secara terpisah. Jika demikian, mungkin kita dapat menggunakan tumbuhnya kesadaran bahkan di kalangan menengah-dan-rumah tangga berpendapatan tinggi bahwa kebijakan pertumbuhan harus diubah untuk mencapai peningkatan besar dalam kebijakan perumahan kami di milenium baru.






Jumat, 9 Oktober 2009.


Yasin ikut ke kantor untuk mengerjakan tugas penulisan Penanganan Muntaber, untuk kelas dua SLTP sekolahannya,


Sebab Astari sudah ngak mau di gonceng bertiga dengan Yasin maka Astari lebih memilih dengan naik angkot ke sekolahannya.

Berjalan beberapa kilometer, tiba- tiba ban belakang terasa kemepes, kejadiannya di pertigaan Permata Cileungsi.

Dorong sebentar untuk mencari tukang ban, ada tukang ban tetapi saya memilih di isi angin saja, setelah kencang motor kembali di naiki dengan Yasin, tetapi belum jauh terasa ban kempes lagi, ini berarti ban belakang sudah ngak bisa di pertahankan lagi.


Sewaktu mendapatkan tukang ban pagi itu saya minta mengganti ban dalam saja sebab saya selalu membawa ban dalam cadangan, sering kalau mengharap penggantian di tukang tambal ban, ban yang dipasang selalu yang berkualitas rendah tetapi harganya mahal.

Setelah ban dalam belakang di pasang dan kedudukan ban sudah di kembalikan, motor di hidupkan kembali dan langsung melesat.

Setibanya di tukan ban langganan setelah Fly Over Cileungsi sebelah kiri, ban dalam yang tadi bocor saya serahkan untuk di tambal.

Di kantor seharian ngak bisa bekerja, membantu Yasin, tetapi sepenuhynya Yasin sendiri yang mengetik karya Tulisnya, setelah karya tulis itu di cetak dan di jilid ada lupanya yaitu lupa memberi halaman setiap lembarnya.

Penanganan
penyakit muntaber

Oleh :

1. Yasin Ilmarahimy Afiat Wicaksono
2. Syarifudin
3. Heru Waluyo
4. Syahroji





kata pengantar

Makalah ini merupakan laporan tentang merebaknya penyakit muntaber di sekitar kita yang di susun oleh saya dan kawan – kawan. Laporan ini berisi segala penyebab,gejala,dan cara mengatasi penyakit muntaber . laporan ini selain sebagai penambah nilai untuk saya dan kawan –kawan tetapi juga sebagai penambah pengetahuan kita tentang penyakit muntaber.
Selanjutnya saya menyampaikan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya mengerjakan makalah ini . terimakasih


Wassalam
Penyusun



Daftar isi


Kata pengantar………………………………………………………. 2
Daftar isi……………………………………………………………… 3
Pendahuluan…………………………………………………………. 4
Penyebab muntaber………………………………………………… 5
Gejala muntaber…………………………………………………… 5
Cara mengatasi muntaber……………………………………………6
Kesimpulan……………………………………………………….. 7



Pendahuluan

Tujuan dari laporan penanganan penyakit muntaber adalah untuk mendapatkan beberapa alternatif penanganan pada penyakit muntaber, yang diharapkan dari pengenalan ini adalah bisa menumbuhkan prilaku hidup sehat sehingga penyakit muntaber tidak menjadi endamik.





Penyebab muntaber

Sejak awal kebersihan lingkungan sangat mempengaruhi kondisi manusia sekitarnya , demikian pentingnya peranan kesehatan lingkungan terhadap manusia
Dari pengamatan penyebab muntaber bisa di sebutkan sebagai berikut :
- Prilaku tidak sehat
- Tidak cuci tangan sebelum makan
- Lalat.kecoa,serta tikus harus dihindari
- Alergi makanan
- Lemah daya tahan usus terhadap virus
- Dinding usus terjadi iritasi akibat makanan asam dan pedas

Gejala muntaber

Beberapa hal penting yang diamati untuk diketahui dan di catat antara lain :
- Buang air lebih dari 3x setiap 1 jam
- Bentuk buang airnya cairan
- Berwarna kuning keputihan
- Terjadi mual
- Muntah-muntah
- Mata muram
- Bentuk Kelopak mata cekung
- Kulit bersisik keriput
- Tidak bisa berdiri lama




Cara mengatasi muntaber

Kelemahan mendasar dapat diketemukan pada kehidupan masyarakat yang kesulitan mendapatkan air minum bersih ,disebabkan tempat tinggalnya yang tidak mendukung . berbagai usaha mengangkat kemiskinan tanpa mamperhatikan kebutuhan air minum akan sia-sia . kelemahan lainnya adalah tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.
Dari uraian tersebut dapat di utarakan cara mengatasi muntaber sebagai berikut :

A. Jikalau gejalanya awal muntaber :
1. Minum cairan oralit untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh
2. Minum rebusan air daun jambu
3. istirahat
B. jikalau gejalanya sedang :
1. kepuskesmas perawatan 24 jam
2. infus cairan NACL
3. minum obat anti diare
C. jikalau gejalanya berat:
1. ke RSUD
2. infus cairan NACL
3. minum obat anti diare
4. periksa laboratorium kondisi : darah, cairan muntah, kadar anti radang perut, mengukur tingkat kegawatan kram perut
5. melakukan endoscopi, suatu cara melihat kondisi usus dan lambung dengan memasukan kamera fleksibel


Kesimpulan

- kita harus berprilaku sehat dengan mencuci tangan sebelum makan
- menjaga kesehatan lingkungan dengan menghindari terbentuk nya penumpukan sampah sehingga lalat, kecoa, serta tikus tidak datang
- Hindari makan yang bereaksi alergis pada tubuh seperti makanan asam, pedas dan fullcream pada susu
- Hindari mengkonsumsi obat- obat yang meng iritasi usus seperti obat Typus.





Minggu, 11 Oktober 2009.


Ditengah kerumunan anak- anak kecil usia 4 – 6 tahun, di halaman pintu tujuh Istora Senayan Jakarta.

Saat ini adalah lomba menggambar yang di ikuti oleh Fifi, ibunya sejak minggu lalu sudah mendesak untuk mengantar, sehingga hari minggu sejak jam 05.00 pagi sudah sibuk persiapan berangkat ke senayan.

Persiapan pertama adalah olah raga bersepeda bersama Yasin dengan Fifi, pagi masih gelap, tetapi dua sepeda sudah meluncur ke Mampir dimana disana ada jalan turun dan menanjak, yang sangat baik untuk olah raga jantung.

Jam 05.30 sudah persiapan mandi, mengeluarkan motor, Fifinya ( 6 tahun ) demikian juga cuma ada sedikit kelambatan, susah makannya .

Fifi suka makan kalau makannya disertai dengan mangga.

Tetapi sewaktu saya sudah mandi dan siap akan makan pagi, dan makanan yang saya makan disebabkan banyak durinya, hasil pembelian ikan sewaktu hari jumat kemaren, ikan yang di beli adalah ikan selasar, kecil- kecil tetapi kalau memberi bumbunya tepat seperti asem- asem ikan, sejak hari Jumat malam kemaren sudah dimasak dengan ibunya dan rasanya enak, sampai hari minggu pagi ini ikan ittu masih ada. Sebab membelinya hingga 2 kg dan dimasak semua dengan ibunya.

Kua ikan itu sangat disenangi dengan Yasin.

Ikan ini kalau dimakan bersama dengan mangga persis makan di Perdesaan Sulawesi Selatan.

Jam 06.30 berangkat.

Lewat Cibubur, Ciracas, Taman Mini Indonesia, Garuda, Jalan lama Bogor, Celilitan, Cawang, Komdak, belok kiri, ternyata belok kiri adalah salah seharusnya lurus, dan betul juga akan mencari jalan belok kanan susahnya setengah mati, dapat- dapatnya di depan kantor PU yang hari minggu pagi ini sepinya seperti kuburan.
Masuk lagi jalan utama, polisinya pagi- pagi ini sudah beringas saja pandangannya.

Masuk ke jalan Sudirman dan mulai belok kiri ke jalan Wisma Atlit, dan mulai bertanya, di anjurkan berjalan lurus dan belok kiri itu adalah pintu tujuh.

Ternyata setelah pintu itu di dapat ternyata pintu itu adalah pintu Satu, dan mulai di tuntun dengan polisi untuk mendapatkan jalan ke pintu tujuh, patokannya pintu tujuh itu di depan TVRI.

Sesampainya di depan TVRI setelah berputar- putar sekian lama ternyata pintu tujuh itu ada di jalur kanan jalan dan tidak ada jalan belok kekanan, semua kendaraan di lemparkan menyebrangi jalan S Parman.

Setibanya di Jembatan Semanggi belok kiri ke jalan Sudirman dan belok kiri lagi memasuki kawasan Benhil , dan disana mulai bertanya bagaimana mendapatkan jalan ke Pintu tujuh, kemudian diberi petunjuk dengan tukang parkir untuk belok kiri jika mendapatkan pertigaan setelah maju seratus meter kedepan.

Beberapa kali lagi bertanya dan akhirnya didapat jalan yang menyebrangi jalan S Parman dan masuk lantas terlihat bacaan Pintu Tujuh.

Susah banget mecarinya.

Masuk perlahan- lahan sebab khusus untuk pengendara motor harus mempersiapkan uang Rp 1 000,- sebagai tanda masuk.

Setelah di dalam areal, ternyata harus parkir lagi membayar Rp 3 000,- saya ngak mau sebab saya anggap ini tidak fair, di dalam areal parkir kok masih ada areal parkir lagi, seharusnya tidak demikian.

Parkir di dekat kelompok anak- anak yang berlatih sepak bola, ternyata kelompok ini adalah tempat sekolah bermain bola.

Setelah motor di parkir dan dikunci ring rem depan, mulai mencari dimana Fifi dan Ibunya yang sengaja tadi turun di depan pintu masuk untuk mulai mendaftar secepatnya, sebab peserta banyak sekali.

Lomba menggambar dan mewarnai ini di selenggarakan oleh Indomaret Mini Market, yang serentak di 12 kota di seluruh Indonesia mengambil waktu dua hari, hari ini dan kemaren.

Sewaktu memasuki area menggambar, kalau menurut waktu pasti nya sih di tempat antrean, dan betul juga masih di antrian ke 7 dari depan, setelah maju setapak demi setapak akhirnya dapat giliran mendaftar, itupun setelah menunggu 40 menit.

Ada sesuatu yang saya perhatikan di sini yaitu para peserta mewarnai dan menggambar ini di ikuti oleh rata- rata anak pertama dan kedua, sehingga ibu dan bapaknya usia muda, dan sudah bermobil pula, lho saya ini anak ke lima, dan saya sendiri sangat jarang melihat rambut orang tua peserta yang memutih rambutnya, untuk mencari pembenaran bahwa ini wajar saja.

Menunggu Fifi mewarnai yang di sertai ibunya, saya melihat- lihat anak- anak yang berlatih sepak bola, dan saya sempat meminta formulir sekolah sepak bola untuk Yasin barangkalai Yasin berminat, uang pendaftaran total Rp 450 000,- ternyata sesampainya di rumah sewaktu formulir itu di baca Yasin ia tidak berminat terlalu jauh katanya.


Barjalan di senayan, dan setelah di perhatikan banyak sekali manusia yang memanfaatkan keberadaan Senayan, dari polisinya yang melindungi tukang parkir di dalam, tukang jualan, tukang pungut jualan, dan banyak sekali kehidupan yang terkandung di dalamnya tetapi saya ngak habis memikirkannya.

Saat pilihan pulang, sebab di langit Senayan mulai mendung, jam sudah menunjukan 12.15.

Lewat Senayan City, Patimura, Blok M, Antasari, Simatupang, dan makan bakso bertiga di sudut Kramatjati Mall, Fifi sangat lahap memakan bakso.


Senen, 12 Oktober 2009.


Rapat di Kantor pembahasan Kajian Manfaat Sosial Ekonomi Pembangunan Infrastruktur Pekerjaan Umum di Perbatasan.


Dalam diskusi selalu saya ungkap cara penyajian yang kurang menandakan bahwa ini hasil pemikiran instansi teknikal seperti ke PU an, walau selalu di kelit dengan kalimat akan di perbaiki hari esok yang masih bersisa, tetapi saya yakin pasti tidak akan di perbaiki.

Saya tahu, cara berfikir sistimatis itu tidak hadir dalam satu hari evaluasi, tetapi setelah saya singgung sebab kita mengerjakan tugas sedemikian ini tidak pernah berkaca terhadap ke gagalan penulisan kita yang tahun- tahun yang lalu yang hanya sekedar menyelesaikan tugas tetapi kajian itu tidak membahana, tetapi ungkapan ini di bantah dengan pak Kuat jikalau bukan tugasnya akan menggetarkan hasil penelitian ini untuk menjadi pemikiran di pihak sektor lain.

Saya selalu ungkap jikalau kita berkerja apa adanya, atau bekerja pas- pas an ya begini jadinya.

Akhir kata saya dibilang sarannya ngak bisa di terima, ya terserah.

Memang di kantor jangan sekali- kali meletakan harapan terlalu tinggi, sebab di kantor kita ngak sendirian, terhempasnya itu loh, jangan dibuat sakit badan ini.


Membeli Hp CDMA yang bisa internetan Rp 399 999,-

Tetapi sayang sesampainya di rumah ngak bisa di gunakan sebab tidak sinyal.






Selasa, 13 Oktober 2009.

Ada lelaki yang sering kekantor menawarkan alat untuk memijat mata agar mata tidak beresiko minus terlalu dalam, tetapi saya ngak mau, tetapi sewaktu ia menawarkan ingin membantu soal Hp smart yang kemaren di beli saya setuju saja, akhirnya ia, bisa membantu saya bagaimana carnya me load lagu ke Hp, caranya yaitu dengan melepas sdmemory dan di colokan di penangkap sdmemorynya dan dihubungkan ke USB dan selanjutnya seperti memindahkan data di USB saja.





Rabu, 14 Oktober 2009.


Dapat penugasan ke Padang dalam rangka Penanganan Bencanan Gempa Bumi Padang Sumatera Barat.



Team terdiri: Ir H Siswoyo Seputro, Ir Osnidar , Drs Nanang.



Yang perlu di bahas adalah :


- Gempa Sumatera Barat, Intitusi Puslitbang Sebranmas berbuat apa
- Ada rencana relokasi masyarakat yang di pegununngan akan di tarik ke bawah, sebab gempa di Padang tidak berhenti sampai disini
- Apa pendapat masyarakat terhadap dukungan paskah gempa oleh Departemen Pekerjaan Umum khususnya
- Regional Planning paskah gempa Sumatera Barat.
- Analisa di tekankan ke Sosial Ekonomi Ke PU an.
- Daerah- daerah mana yang paling parah
- Pariaman dan Kota Padang sebagai Kasus
- Penduduk : Tingkat kerugian, tingkat kerusakan, tingkat mendapatkan bantuan, hambatan mendapatkan bantuan, kesakitan, jenis penyakit paskah gempa dan saat gempa, kalau ada bantuan ke PU an bantuan apa yang di butuhkan
- Analisa Regional Planning.
- Akan ada sosialisasi, pendampingan terhadap jenis bantuan yang akan di turunkan
- Masyarakat di libatkan dalam setiap kegiatan penanganan paskah gempa
- Kegiatan Rekontruksi apa peran Sosial ekonomi ke PU an
- Kegiatan Rehabilitasi apa peran Sosial Ekonomi ke PU an
- Kegiatan Pemulihan apa peran Sosial Ekonomi ke PU an






Kamis, 15 Oktober 2009.

Persiapan berangkat ke Padang, pesawat berangkat jam 15.45, berarti saya paling lambat harus keluar dari rumah jam 10.30

Hanya membawa satu tas traveling yang isinya pakaian, kemudian ada tas tentengan yang isinya air minum dan nasi untuk makan siang. kue ada tiga jenis, ada kue di bungkus ada kue kering segi enam dan ada kue kering seperti gabus.

Astari pagi ini sangat melawan dengan ibunya sehingga terpaksanya saya siram dengan air sehingga basah semua pakaiannya dan ngak sekolah jadinya.

Sebelum saya tinggal kan rumah siang itu semuanya anak- anak ada di rumah dan salaman, saya naik sepeda dengan membawa tas dan Fifi ikut juga, baru naik tanjakan di belakang rumah rantai sepeda putus, sepeda di letakan di bawah pohon pepaya, dibelakang rumahnya p Maman, dengan harapan nanti Yasin mengambilnya, soalnya waktunya semakin mepet.

Berjalan kaki bertiga istri dan Fifi ikut mengantar hingga di pertigaan jalan, sambil berjalan bergurau, memang perjalanan ini tidak mencolok mata sebab saya usahakan tidak ada yang aneh dalam perjalanan ini, tugas biasa, melihat bumi Allah, dan Padang memang selama ini belum pernah saya lihat.

Naik angkot ke Cileungsi, kemudian naik angkot lagi dari Cileungsi ke Kp Rambutan, perjalanan sedikit tersedat tetapi akhirnya lancar juga, setibanya di Kp Rambutan langsung mencari bs Damri tujuan Terminal Bandar Udara Cengkareng yang sedang parkir, dan betul juga tidak seberapa lama saya sudah naik bus terlihat berangkat.

Saat itu adzan shalat Dzhuhur sudah terdengar, tetapi kerena sudah di atas bus saya niatkan shalat di Terminal bandar udara Cengkareng.

Setibanya di Bandar Udara Cengkareng, suasananya sepi, kembali saya salah turun yaitu di ujung permulaan pemberangkatan Garuda, dan saya berjalan jauh untuk mencari pintu F4, pemberangkatan Garuda paling ramai untuk para pekerja berangkat keluar negeri, sekarang orang berangkat ke luar negeri sangat ramainya, aneh memang terlihat, dan secepatnya mencari tempat shalat untuk mengerjakan shalat dzhuhur.


Mulai berjalan mencari bangku kosong, terlihat sangat sedikit bangku yang di hamparkan, tidak model duduk lama- lamam nunggu pesawat, memangnya stasiun kereta api.

Ada juga bangku kosong disamping penjualan roti isi, duduk dengan baik dan mulai membuka Hp baru Smart yang bisa internetan dan mengisi Facebook untuk memberi tahu lokasi sekarang.

Nanang teman kantor yang berusia muda yang menemani perjalan ke Padang kali ini datang jam 14.00.

Langsung boarding dan mendapat tempat duduk di tengah nomer 23b.

Sore hari mendarat di Padang, bertaksi menuju kota Padang Rp 102 000,-

Keadaam kota Padang yang baru tertimpa gempa, sedikit pun tidak menggambarkankekalutan bencana, semua berjalan normal, sesekali terlihat bangunan yang runtuh dan belum di bersihkan.

Banyak bangunan penduduk yang memang sudah miskin rumah sederhana dan runtuh, sampai sekarang tidak di bersihkan.


Sewaktu memasuki kota Padang, mulai terlihat banyaknya rumah dan bangunan yang runtuh akibat gempa bumi.

Tujuan akhir taksi yang di naiki ini adalah posko Tanggap Darurat Departemen Pekerjaan Umum yang di pusatkan di Balai Jalan V Sumatera Barat di Jalan Jati.

Turun dari taksi tepat di depan Posko di tengah halaman Balai Lima Jalan, udara sore sudah menjemput malam, kalau di Jakarta sudah maghrib saat ini, sebab Padang terletak di sebelah barat kota Jakarta maka waktu shalat nya di undur lima belas menit.

Posko itu menggunakan 2 tenda protype tenda bantuan untuk pengungsi.

Posko itu adalah posko Cipta Karya yang mengontrol pengiriman orang, barang dan peralatan dan perlengkapan, peralatan disini termasuk becho penggali tanah, buldozer untuk meratakan tanah dan septictank berjalan dalam bentul mobil hanya saja tidak ada air,

Kompleks Balai Besar Jalan dan Jembatan sangat luas di kota Padang, saya yakin ini adalah warisan sejak jaman Belanda.

Pada saat adzan magrib datang menyeruak ke heningan semua orang menuju ke satu titik di belakang di pojokan, ternyata setelah berjalan mendekat di sana ada tulisan musholah, bangunan musholah itu hanya tiang atap dan lantai serta tempat berwudlhu, bentuk bangunan ini mengingatkan saya sewaktu mendesign bangunan musholah untuk kompleks rumah sakit Jiwa di Pokka Ambon tahun 1987, dengan nilai bangunan Rp 3.5 juta.



Setelah shalat berjamaah, kembali pe posko, sementara lapar sudah datang tetapi belum tahu akan makan dimana

Saya memasuki ruang Balai Besar Jalan dan Jembatan. Ternyata disana ada wajah yang sudah familiar tetapi saya lupa, dan sewaktu saya dekati ternyata ia adalah Adjito, adiknya Ali, anaknya Almarhum pak Sugeng sekantor dengan Almarhum ayah saya sewaktu tugas di Rohisdam Kodam XVI Udayana tahun 1967.

Kemudian Adjito menawari mess untuk tempat sementara tinggal di Padang saya setuju, sebab hotel penuh oleh tamu- tamu memonitor bencana alam gempa.

Makan malam, kali ini merupakan sedikit sedih, mencari nasi ngak dapat, terpaksa makan bakso dan mie, tetapi jauh dari enak.



Jumat, 16 Oktober 2009.






Shalat tahajud di tengah malam, di tengah kesunyian, di tempat orang, ditengah bangunan musholah kecil ukuran 4 x 4 meter tanpa dinding, sementara anjing berkeliaran di luar, tidak ada penerangan, terang bayangan hanya di dapat dari sinar lampu di kejauhan.

Bangunan shalat itu tidak berdinding, sehingga gelapnya dan desir udara malam menyentuh kulit sewaktu shalat.

Tidak ada yang di takutkan, hanya kerena malu terhadap Allah yang sudah banyak memberi karuniah nya.

Takut jikalau sampai di Padang tetapi data tidak didapat.

Jam 09.00 rombongan kecil team dari Pusat terdiri dari Balitbang dan Ciptakarya Air bersih, mulai mengelilingi Padang Kota, dan tujuan adalah Perumdak, dan disana menjumpai rumah terbelah lantainya, tetapi atapnya tidak, podasinya bergerak.

Seharusnya rumah termasuk rusak berat.

Banyak bangunan yang di lihat rusak semua, Shalat Jumat di masjid Kurao Pagang Kecamatan Nanggalo.

Meninjau PDAM Kota Padang dan ternyata masih serba darurat mengingat Kantor PDAM nya rusak berat.






Sabtu, 17 Oktober 2009.

Makan pagi dengan Soto Padang, cukup enak, sekitar jam 10.00 sudah di mobil untuk melanjutkan peninjauan dengan rombongan Cipta Karya.

Sempat ke RSUP Padang untuk melihat seberapa jauh kebutuhan air minum terbantukan.

Siangnya makan siang sambil bergurau. Dapat makan kepala ikan.



Minggu, 18 Oktober 2009.

Acara hari ini meninjau ke Gunung Tigo tempat tertimbunya masyarakat 3 desa yang hilang tertimbun gunung.

Pulang hingga malam hari masuk penginapan.





Senen, 19 Oktober 2009.


Pagi hari setelah sarapan nasi padang, bergerak menuju ke kantor gubernuran, dengan mobil sewaan, sebelumnya sempat ke toko assesoris komputer untuk membeli alat membaca micro SD yang ada di Tustel, sebab tustel yang di pinjam dari kantor daya tampung fotonya hanya 14 kali bidik.

Jadi harus di pindahkan lagi dan di bidikan lagi.

Setibanya di kantor gubernuran terlihat banyak sekali sukarelawan dari luar negeri dan dalam negeri.

Setibanya di teras depan saya langsung di kejar dengan wartawan yang ingin tahu seberapa jauh penanganan gempa di Padang, saya berceritra tentang ide-ide tetapi ia minta realistik tetapi saya tidak mempunnyai data rieil.

Sekitar jam 10.00 sempat menunggu bapak Sudirman Gani untuk menghadap secara formal bahwa saya adalah utusan Departemen Pekerjaan Umum Balitbang nya, ia terima, dan sewaktu saya minta penjelasan perihal banyak anak sekolah yang turun ke jalan untuk meminta- minta di Padang Pariaman dan banyaknya penduduk yang tidak mendapat bantuan, ia menolak bahwa bantuan sudah turun hanya saja yang menyalurkan ke penduduk yang tidak ada.

Disaat di meja BNPB ( Badan Nasional Penanggulangan Bencana ) ada seorang bapak- bapak yang datang juga dari jakarta, dia memang orang BNPB, berceritra dengan saya perihal pengalaman spiritualnya setelah menemani korban di Nagroe Aceh Darussalam dan Di Padang.

Di meja yang sama ada LSM asing Cowleer yang mencoba mempromosikan bahan bangunan batu bata sistim kunci untuk menanggulangi gempa bumi di Padang.

Ia sangat tertarik informasi Litbang PU sebab ia ingin membuktikan bahan bangunan nya di pusat Penelitian bahan bangunan Bandung.

Saat Dhzuhur tiba, mencari tempat shalat di kompleks gubernuran, ternyata tempat shalatnya sangat darurat sekali dan di karpet yang jorok sekali dengan penunjang air yang sedikit, kotor di mana- mana.

Wawancara adat istiadat perumahan dan pemilikan lahan menurut hukum adat Minang.

Tiba- tiba ikut berbicara perwakilan dari Dinas PU Pengairan Sumatera Barat, Kepala Dinasnya Sendiri dengan Kasubag pengairannya.

Siang semakin tinggi kemudian team minta makan siang, saya ikut saja, kepinginnya makan kepala ikan seperti kemaren tetapi rumah makan itu tidak di tahu lagi.

Masuk ke rumah makan yang cukup terkenal di Padang dan ternyata di dalam rumah makan itu sudah makan bapak kepala dinas pengairan yang tadi ikut di wawancara, sekarang makan siang itu ia yang membayarin untuk tiga orang dan seorang supir itu dari rombongan saya dan dari rombongan ia sendiri ada emapt orang.

Rumah makan ini milik China Padang dan yang masak orang Padang asli.

Mencari tiket Garuda pulang sebab di takutkan kalau dekat hari keberangkatan
Tidak dapat seat.

Saat dijalan raya yang lurus entah arah mana utara selatan atau barat timur, di arah depan terdapat perbukitan, ingat sewaktu di Ambon tahun 1988, saat duduk diatas gunung Poka menuju Durian Patah, melihat kearah perumahan yang di tinggali Perumnas POKA , saat itu masih baik lah, belum ada kerusuhan sosial, kemudian saat mata memandang lebih jauh lagi terlihat kesibukan penyebrangan selat Baguala, fery yang menyebrangkan pelajar dan pegawai yang baru pulang dari Ambon menuju POKA.

Ingatan itu menyadarkan saya bahwa di atas bukit di ujung kota Padang itu, se lurus nya jalan ini, pasti di ketinggian itu ada sepasang mata yang melihat ke arah kota Padang dan melihat pula prilaku masyarakat kota Padang dari hari ke hari nya.

Kembali lagi ke Kantor Gubernuran.

Saat adzan Ashar berkumandang secepatnya cari tempat shalat, tetapi pengalaman jelek dengan shalat Dzhuhur tadi, ngak mau lagi shalat di sana, berjalan keluar kompleks area gubernuran Sumatera Barat.

Sambil berjalan melihat dimana kira- kira bangunan musholah, sesampainya di ujung penjagaan di tanya dengan anak muda satpam kantor mau kemana pak saya jelaskan saya ingin shalat di tempat yang lebih layak sedikit.

Sewaktu memasuki jalan sisi kiri halaman Kantor Gubernuran Sumatera Barat terdapat banyak sarana pendidikan setelah saya bertanya dimana musholah, di sini ada musholah tetapi tidak ada air, ia menujukan ke sekolag SD samping kantor Gubernuran sebaik nya ke SAM Neg Padang ada musholah dan ada air.

Saya masuk saja ke SMAN Padang dan setelah mencari di ruang guru, di tunjukan musholahnya ada di ruang guru, guru istirahat sambil shalat, Saya shalat ashar di sana dengan tenang sementara ada kegiatan disisi lain seorang guru senior membimbing guru yunior perihal mata pelajaran sosial.

Shalat pun selesai, saya sempat memperhatikan bangunan SMA ini mengapa tidak terkena pengaruh gempa, ternyata bangunan ini menggunakan sisti kancing seperti bangunan di Ambon.

Kemudian mencari sasarn di Kampun Perumdak, perihal harapannya terhadap rumah bantuan.

Saat itu akan maghrib, dan memasuki rumah sampling ternyata rumah itu sederhana dengan konstruksi yang belum selesai, tetapi rumah itu hancur bukan kerena gempa, sehingga di batalkan sampling randomnya.

Kemudian mencari di kompleks tersebut saat mana adzan maghrib telah berkumandang.

Dapat rumah yang hancur dan di depannya membuat tenda, memasuki tenda, saat gelap malam tujuannya melihat situasi derita malam, ternyata dua anaknya autis, sangat sedih dan foto bersama, sebelumnya saya mohon rumah sampingnya yang masih berdiri untuk numpang shalat Maghrib, setelah itu kembali untuk wawancara ternyata ia penyewa.

Wawancara di batalkan sebab penyewa termasuk orang yang tidak di terima opininya, sebab ia memang belum memiliki rumah. Untuk dia di berlakukan bantuan rumah sepenuhnya di buatkan.

Wawancara di pindahkan ke rumah sampingnya yang memamng miskin pensiunan kereta api padang, dan hidup di hari tuanya dengan sederhana saja.

Pulang sambil membayangkan kesimpulan bahwa, sebaiknya uang bantuan membangun rumah itu segera saja di caikan, sebab di khawatirkan uang itu tidak berharga lagi kalau uang itu tidak bisa membeli barang bahan bangunan, sebab barang yang ada sudah naik semua harganya.

Makan malam cukup enak dengan ikan bakar dan jus buah lengkap.

Kembali ke Kantor Gubernuran, sebab dua orang teman yang lain sedang bertugas ke perguruan tinggi Padang.

Shalat Isya di tempat shalat dzhuhur yang kotor tadi, malam semakin larut dan banyak meja di kantor gubernuran yang kosong, rupanya di ruang pendopo sedang ada pertemuan.

Setelah mencari posisi yang tepat kembali lagi ke meja BNPB dimana tadi siang bertemu dengan banyak orang sekarang tidak ada ruang tetapi lampu terang benderang.

Disana duduk sendiri dan mulai menulis apa yang di ingat tadi pagi.



Selasa, 20 Oktober 2009.

Sejak pagi sudah di niatkan akan pergi ke Padang Pariaman sendirian, sebab dua orang dari group tetap di Kota Padang untuk mencari data sebisanya dia.

Mobil sewa telah datang menjemput sekitar jam 09.00 pagi, sebelumnya sempat menghubungan bapak Datuk Tangindo untuk pergi bersama ke Padang Pariaman, dan ternyata Datuk Tangindo menyetujui dan menunggu dan pengisian bahan bakar sekitar 500 meter sebelum fly over bandara internasional Padang.

Saat mobil sewa mendekati tempat tersebut, terlihat sang Datuk sudah berdiri di pinggir jalan dan langsung naik untuk bergabung pergi bersama ke Padang Pariaman, rumah yang rusak di pemadangan kiri dan kanan jalan raya su8dah tak terhitung lagi banyaknya.

Selama di perjalanan banyak berceritra tentang adat istiadat Padang, tentang penguasaan tanah, tentang waris, tentang membangun kembali rumah dan tentang pencaharaian kehidupan hingga rantau.

Memasuki kawasan Tandikek, langsung menuju ke Kanagarian Tandikek dan disana melakukan pertemuan dengan kepala kanagarian, dari ceritra yang di dapat adalah sangat sukarnya membagi bantuan yang datang sebab yang datang sedikit dan yang membutuhkan adalah banyak.

Sewaktu di sana, dibalik karung beras dan bantuan lainnya, muncul seorang guru yang menerangkan ia datang dari Solo sekarang kesini untuk melatih anak- anak sekolah keluar dari Trauma krisis gempa.

Kemudian meninjau lapangan dengan bapak Datuk Tangindo untuk melihat kerusakan air sungai yang akan menjadi ancaman baru bagi penduduk saat musim hujan tiba.

Saat menuju ke atas, terlihat sungai yang akan memasuki kota kecamatan Tandikek sudah mendangkal kerena kedalaman sungai sudah di tutup guguran pasir dari gunung.








Rabu, 21 Oktober 2009.


Padang Pariaman.

Sewaktu pagi menjelang fajar, saat adzan shubuh sedemikian dekat terdengar, keluar dari penginapan untuk mencari dimana masjid berada, tidur semalam di penginapan sederhana itu telah di lalui, sekarang keluar dari penginapan, mengambil jalan ke kiri atau kekanan, kaki melangka ke kanan, dan berjalan terus, hendak bertanya di mana masjid berada, tetapi tak ada seorangpun yang akan di tanya, pagi sedemikian sepinya, saat melihat di balik jendela kaca suatu warung makan di mana di dalamnya ada seseorang yang berdiri saya mendekat, dan mengatakan ingin menanyakan dimana letaknya masjid yang terdengar suaranya itu, ia keluar dari pintu dan memberi tahukan untuk membalik arah langkah kakinya.

Berjalan bergegas berbalik arah dan mencari dimana suara itu sedemikian dekatnya, dan akhirnya terlihat ada masjid dan memasuki gang terlebih dahulu kemudian ketemu masjid yang cukup lebarnya.

Setelah shalat berdiri untuk memberi tausiah perihal gempa bumu, derita dan perhatian dari Allah SWT, setelah itu menerima pertanyaan dari jemaah, ada jemaah yang sudah berumur bertanya, mengapa kalau begini isinya tausia mengapa pemerintahan kami tidak memberitahukan kepada kami begini kalau membangun atau begitu kalau membangun agar kuat terhadap goyangan gempa.

Saat itu saya sadari bahwa masalah otonomi daerah ini terkadang sangat sulit, yaitu kabupaten tidak mempunyai akses langsung ke departemen, sehingga kalau masyarakat bertanya dan pemda tidak memberi jawaban yang tuntas masyarakat akan pasrah saja.

Tidak beberapa lama sudah terbentuk suatu pembahasan ke islaman sambil duduk di didalam masjid dengan menerangkan banyaknya rahasia Allah yang kita sendiri belum bisa menafsirkannya.


Kamis, 22 Oktober 2009.

Hari terakhir di Padang Pariaman, menurut perjanjian akan di jemput sekitar jam 11 siang, sehinga pagi ini sebaiknya mohon diri terlebih dahulu kepada bapak- bapak yang di kenal selama tiga hari di Padang Pariaman.

Sewaktu pagi merembah shubuh, berjalan menuju masjid diarah gang menuju masjid terdapat rumah makmum masjid yang buta, ternyata si bapak tua itu yang buta fisiknya sedang berjalan bertongkat menuju masjid, dan saya dekati kemudian saya tuntun untuk sama- sama memasuki tempat shalat.

Sewaktu saya menuntun bapak itu ke masjid, banyak mata yang melihat, ternyata mata ini berkelanjutan saat setelah iqomah saya di persilahkan untuk memimpin shalat shubuh di masjid itu.

Shalat shubuh sudah dilaksanakan dan saya melakukan pengajian shubuh untuk membuat ringkasan masalah gempa.

Dalam kesempatan ini siapa yang menaikan harga bahan bangunan di mana masyarkat banyak membutuhkan bahan bangunan itu maka hukumnya sama dengan Riba, berarti juga haram hukumnya.

Dari pak Yusral di beri oleh- oleh untuk anak-anak di rumah Gandoang Cileungsi.

Memasuki hotel kembali untuk istirahat tidur.

Setelah melaksanakan shalat dlhuha sekitar jam 07.00, kembali lagi berkemas untuk pulang.
Sekitar jam 09.00 terdengar dari masjid sedang membawakan manasik haji untuk pemberangkatan haji tahun ini dari Padang Pariaman.

Ada kalimat yang sangat berkesan bagi saya adalah siapa saja yang telah mengerjakan ibadah hajinya sampai sekarang harus menjaga mabrur hajinya sampai ia meninggal.

Jam 11.00 turun kebawah untuk persiapan menunggu mobil jemputan, bermain dengan bintang ( 3 Tahun ) anak yatim adik si pemilik hotel yang di tinggal pergi ayahnya.

Saat dari masjid berkumandang adzan Dzuhur, saya titip tas di lobby hotel untuk ijin ke masjid, kemudian berjalan ke masjid dan berjumpa kembali dengan bapak tua yang buta itu, ia tetap ke masjid dengan tongkatnya, hanya saja siang hari ini masjid di warnai dengan bau daging rendang, sebab jemaah yang datang paling banyak adalah peserta manasik haji, banyak yang sedang makan siang.

Setelah shalat saya menyempatkan diri ke rumahnya pak Yusral ternyata pak Yusralnya sedang ke Padang. Kemudian mencari nasi sederhana untuk makan senilai Rp 5000,- yaitu nasi dengan sayur.

Kembali lagi ke hotel, ternyata jemputan belum juga datang, sekitar jam 16.00 saat adzan shalat ashar datang, jemputan juga datang, secepatnya shalat shar di lobby hotel, kemudian berangkat ke kota Padang.

Perjalanan kota Padang Pariaman ke kota Padang tidak sih terlalu jauh tetapi cukup jauh juga.

Sebelum Flay over bandara sekitar 3 km, mampir ke warung makan dan makan enak ikan bakar dengan harga sangat murah, berdua dengan sopir tidak sampai Rp 25 000,-

Saya memberi apresiasi khusus kepada para pegawai di situ sebab ia mampu mempertahankan harga yang sangat kecil itu.

Saat maghrib tiba memasuki mess PU Jatipadang, dan bersalaman dengan orang – orang posko.

Suasana menjelang maghrib di kompleks Balai Besar Jalan dan Jembatan Padang saat sangat sepi, saya sendiri menyakini jikalau esok hari petualangan di Padang ini saya akhiri, kemudian mandi dan bersih badan kemudian shalat mahgrib, dan sekitar jam 21.00 nasi ikan bakar datang, nasi itu porsinya terlalu banyak sehingga saya bagi dua untuk makan besok pagi.

Malam ini saya tidur sendirian di ruang tamu dan cukup nyenyak.





Jumat, 23 Oktober 2009.

Pulang ke Jakarta.






Jam 03.00 terbangun sebab hp telah berbunyi riuh rendah, setelah mengerjakan shalat pagi ini langsung makan nasi yang di sisihkan semalaman, sewaktu membuka kulkas nasi dan ikan bakarnya telah berubah menjadi es, kaku, makannya di letakan dahulu di atas meja agak lama biar kena udara panas ruangan, tetapi bagaimana mau panans sebab udara dalam ruangan yang ber AC ini juga cukup dingin.
Kemudian adzan shubuh datang, shalat shubuh sendirian di ujung halaman kompleks balai besar jalan jembatan ini.
Kembali lagi ke mess dan langsung memakan nasi yang mulai mencair dan bisa di makan, nasi dingin enak juga, ngak ada pilihan dan jangan membuang rezeki.

Setelah mengerjakan shalat dlhuha sekitar jam 07.00 jemputan datang, kemudian berangkat dan sebelumnya pamitan terlebih dahulu kepada teman- teman POSKO PU, ada kalimat lirih yang ia utarakan adalah kok tega banget ninggalin kita.

Mereka di tugaskan sejak Gempa bumi Cianjur pertengahan puasa kemaren dan banjir di Mandailing Natal, kemudian Gempa Kota Padang, berarti ia cukup lama di lapangan.

Bangunan – bangunan yang masih tergeletak di tanah, menunggu pertolongan yang tak kunjung datangnya, semuanya di tinggalkan, pesan batin pada kehidupan di Padang, taatlah pada perintah Allah, dan sabarlah.



Mobil jemputan sebelum memasuki rumah saudara ibu Os dimana ibu Os adalah teman satu team Padang yang malam ini tinggal di rumah saudaranya. Mampir di warung membeli ketupat untuk beberapa bungkus, dan setibanya mobil itu di rumah di pinggiran ujung sungai Padang terlihat rumah itu cukup sederhana dan cantik di tepi an sungai, di mana di tepian itu sering para pedagang ikan berkumpul membeli ikan yang di bawa oleh para nelayan ke darat, tetapi sampai di tepi sungai sudah di tunggu tengkulak.

Makan pagi bersama dengan ketupat sayur, makanan cukup sederhana dan enak, kemudian berangkat ke airport, perjalanan cukup jauh juga, dan setibanya di airport Internasional Padang langsung memasuki antrian.

Dengan ibu Os di persilahkan memasuki ruang tunggu khusus pemegang kartu kridit Platinum, sebab suaminya ibu os adalah bekas pejabat di Sempati air. Di lounge ini sempat makan tempeh goreng dan minum teh susu dan kue kecil lainnya.

Saat memasuki bandara di scan dan ternyata gunting kumis yang selama ini lengket di tas berarrti kemana aja pergi alat pemotong kumis itu di bawa terus sekarang dilarang memasuki bandara dan harus di buang.

Ya terpaksa deh di tinggalkan, kemudian Nanang membayar kekurangan pembayaran hotel seharga Rp 250 000,- kemudian uang itu digunakan membeli oleh- oleh kerupuk padang pedas.

Naik Pesawat Garuda, penumpang cukup penuh, duduk di tengah, sehingga tidak bisa sedikitpun foto- foto di bawah.

Tiba di edarkannya makanan hangat garuda makanan itu saya bungkus dan saya bawa pulang untuk diberikan kepada anak- anak.

Mendarat di Cengkareng sekitar jam 09.30 dan langsung di jemput pak Joko rencananya langsung ke Bogor.

Dalam perjalanan menuju Bogor masih di wilayah jalan Tol Soediatmo sempat menelpon ke panitian lelang BUMN dan ternyata kegiatan di Bogor sudah selesai semalam sekarang tinggal penentuan harga cukup di kantor BUMN, dan perusahaan yang di peringkat teratas adalah BUMN PP.

Akhirnya di batalkan rencana ke Bogor, tetapi mobil tetap melaju ke Cileungsi, di tengah jalan pak Joko berhenti untuk masuk ekantornya dan saya di antar sopir menuju Cileungsi, dan saat mendekati jam 11.00 siang, mampir di masjid cileungsi untuk shalat Jumat.

Masuk rumah sekitar jam 12.40.




Sabtu, 24 Oktober 2009.

Ke pasar sebab kulkas kosong dan sepulangnya di rumah mencuci baju yang di rendam sejak kemaren. Dan istirahat.



Minggu, 25 Oktober 2009.

Berangkat kekantor dengan niat akan menyelesaikan laporan Padang secepatnya, tetapi setibanya di kantor sekitar jam 12.00 siang dan setelah makan siang dan shalat Dzuhur, komputer hang, kemasukan virus, terpaksa sendirian di kantor kebingungan mau menggunakan komputer yang mana.

Menjelang sore hampir maghrib saat membaca surat yasin bantuan datang yaitu ada komputer yang hidup di ruang program, disana saya bekerja, hingga malam.

Jam 23.00 masuk tidur di kursi depan meja kerja di kantor.
Bangun hampir shubuh sehingga puasa hari senen ini tidak makan sahur.

Tiada ulasan: