Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Mei 12, 2011

Tyas Tertahan di Jogjakarta





Senen, 11 April 2011

Sejak jam 03.00 saat terbangun hendak sahur puasa hari ini menghubungi Hpnya Tyas ngak terangkat, mungkin disimpan didalam tasnya.

Jam 06.55 KA executive Taksaka yang dinaiki Tyas sejak semalam tertahan signal di stasiun Jatinegara

Jam 07.10 Tyas mulai keluar dari sts Jatinegara untuk mencari angkot yang ke Cawang.

Jam 08.03 Tyas sudah di Cileungsi, keluhannya dia sangat lapar sangat.

Jam 08.16 Tyas masuk rumah, Alhamdulillah, langsung ibunya menyiapkan makanan sederhana untuknya.



Selasa, 12 April 2011

tidak terasa jam 02.00 itupun datang, ingat jikalau sejak kemaren sore sangat sulit mendapatkan air, air kebutuhan yang paling vital, sekarang keluar dari ujung pipa pompa air hanya sebesar lidi, ini masih bulan april, bagaimana mei juni juli, memang dilain pihak situasi diperparah dengan dioperasikannya penggalian pasir di sebelah utara kompleks perumahan, suatu upaya pengerusakan lingkungan yang di legalkan oleh pemerintah kab bogor, kalau ditanya pemda bogor tidak pernah memberi ijin, mana buktinya, dan dari pihak pengusaha galian pasir hanya bilang sudah di ijinkan, beberapa kali demo warga telah dilakukan, tetapi mereka tetap melakukan, pihak kepolisian melindungi asset perusahaan dari amukan warga, warga terancam hukum pengerusakan asset, dan warga tidak mau mati konyol, akhirnya rumah radius dua kilometer dari penggalian terganggu masalah airnya, seperti sekarang ini air dirumah, sangat kecil dan pompa bekerja tapi tidak mengeluarkan air.

kalau saya lihat dari situasi batin, permasalahan itu bersambung, dari sejak jumat malam saat Tyas berangkat dari Bali sampai ngak ada kereta di Surabaya, dan sekarang ngak ada air, saya hanya memohon sedikit rahmat kehidupan dari si pemilik kehidupan dan sipengatur rezeki, air termasuk unsur rezeki, hanya kepadaMu ya Allah hamba memohon.

Badan mulai terasa ngak fit, pagi ini sudah berapa kali buang air, di ingatkan oleh istri untuk makan norit, Tyas membantu mencari norit dan tidak didapat, ingat jikalau didalam tas biru yang sering dibawa bepergian selalu menyimpan norit, minum 5 tablet hitam itu dan digunakan istirahat tidur siang hari agak enak.



Rabu, 13 April 2011

Tanki bensin motor belum selesai di bengkel, badan sudah agak enak, air saja yang persediaan didalam tanahnya sudah habis, jus sayur pagi ini bahannya: wortel agak banyak sebab terjadi pembusukan didalam almari pendingin, dari pada di buang, inipun sampah wortel yang ngak kepakai cukup banyak, leunca, buncis, ketimun, nenas, tomat, buah mengkudu ditambah daun sirsak beberapa lembar saja, potong2, cuci, blender, saring, minum.

Menghubungi pak Bambang untuk menanyakan nomer telephon rumahnya di nomer 8444838 sebab ibunya anak2 ingin bicara dgn istrinya p bambang PU.

Saat akan berangkat ke kantor Tyasnya ikut akan memperbaiki laptopnya yang ngadat sejak di Denpasar.

Akhirnya saya bertimbang – timbang, motor saya naiki, ternyata kunci telah patah kemaren saat motor jatuh, tapi ngak bilang.

Bergoncengan dengan Tyas dan setibanya di jalan depan di mana bengkel knalpot yang menangani tanki bocor itu sudah buka saya mampir untuk menanyakan ke adaan tangki, ternyata sudah selesai tinggal di pasang, dan motor saya tinggal di sana.

Naik angkot dengan Tyas sampai ke Pasar Cileungsi, kemacetan di depan pasar yang menyebabkan saya turun dari angkot dan berjalan cepat menuju bank Mandiri untuk membayar Okevision dan berjalan lagi ke Bank Muamalat untuk menyelesaikan pembayaran anak Yatim, Tyasnya di depan kasir bank Muamalat ikut membayar sodaqoh pada anak miskin di NTT.

Berjalan lagi menuju pangkalan angkot 121 untuk menuju Kampung Rambutan dan melanjutkan naik 509 tujuan Lebak bulus, perjalanan lancer saja, setibanya di Poin Square, Tyasnya turun untuk mengurus laptopnya dan saya turun didepan terminal untuk masuk ke kompleks kantor.

Sempat membeli urapan sebab rempeyek udang ngak buat hari ini, yang nggoreng udang cuti.

Undangan untuk pembahasan laporan pendahuluan di Puncak besok sudah tergeletak di atas meja, ternyata di Puri Avia, besok dan Lusa.

Jam 13.46 dapat dokumen untuk di sempurnakan Penyempurnaan Manual Kelembagaan Pengelola Polder Berbasis Masyarakat, Studi Kasus Kota Semarang Kali Banger.

jam 16.00 sebaiknya pulang setelah shalat ashar berjamaah di kantor, tapi sebelumnya sempat berbicara panjang lebar rencana berangkat ke puncak dan kendaraan apa yang di naiki.

Tiba - tiba hujan gerimis saat melangkah keluar dari kantor, berlari kecil untuk mempersingkat waktu dan bus 509 sudah lewat, untungnya bus itu berhenti di lampu merah.

bus berjalan perlahan sambil menerima penumpang yang berlarian mengejar.

hujan masih gerimis halus. akhirnya bus

itu penuh sesak, untungnya ngak ada yang gila merokok setibanya di kp rambutan pindah angkot 121 tujuan Cileungsi,

harapan saya sewaktu bus lanjutan setelah turun dari angkot 121, adalah bengkel yang

tadi pagi di titip motor untuk dipasang tanki yang sudah selesai di tambal lobangnya, sore ini masih buka. ternyata tutup, rencana bawa motor ke puncak, ngak jadi deh, turun dari bus hujan masih rintik, di tawari ojeg: ojeg pak haji pulang kantor dan hujan kata tukang ojek menawarkan jasa antar, saya milih jalan kaki sambil menikmati siraman air hujan.

Saat melangkah ini teringat jikalau dahulu sewaktu mengawali melangkah kaki melihat rumah yang di beli

yang ditinggali sekarang ini, dimana kiri kanannya masih banyak pepohonan.

hujan masih merintik dan kaki ini masih melangkah, tiba2 ada motor memperlambat jalannya dengan berplastik tebal berhelm lengkap sehingga tidak diketahui wujud ternyata pak Mukid, bermotor berdua digonceng pak mukid dibawah hujan gerimis menyiram.



Kamis, 14 April 2011

Jam 00.30 terbangun dari tidur saat haus yang amat sangat mengganggu leher, ternyata televisi ngak dimatiin dengan anak2 yang melihat terakhir, e e ternyata Tyasnya belum tidur.

Menghidupkan mesin air dan mulai ambil air wudhu shalat dua rakaat, kemudian ngaji pengulangan hafalan surah al imran ayat 158 - 173.

ingat jikalau Tyas sejak baru datang minta bubur kacang ijo dan malam ini masih ada waktu, saya masakan kacang ijo di presto, 10 menit setelah panci bertekanan bekerja langsung kompor dimatikan, tinggal tidur lagi, dan jam 04.20 terbangun, shalat tahajud, shalat shubuh, langsung persiapan berangkat, menyisihkan uang untuk Tyas gunakan ke RSCM hari Jumat besok, dan anak yatim NTT, sarapan, jam 05.30 keluar dari rumah diantar istri, cuaca masih gelap pagi, beberapa penghuni kompleks sudah keluar dari rumah dengan motornya mengejar waktu, dan ada beberapa ibu2 yang mengerumuni warung penyedia nasi udug untuk sarapan, melangkah terus dengan istri yang menemani dan setelah tiba ditanah lapang kompleks itu istri balik langkah dan saya berjalan terus.

Didekat gardu penjagaan ada mobil tetangga jauh yang pagi itu juga keluar, dia ada mengebel cukup nyaring suaranya di pagi itu, tetapi kerena saya berjalan bergegas saya tidak memperhatikan, hanya saja setelah ia maju lagi mendekat dan membuka pintu kaca depannya menawarkan saya untuk naik mobil nya seraya mengajak kedepan, saya terima tawaran itu.

Dan turunnya di saat mobil itu akan belok kekanan di Taman Metropolitan Cileungsi, saya turun dan langsung ada angkot yang mendekat dan saya naik untuk menyambung yang tidak beberapa jauh lagi ketemu dengan angkot yang akan menuju Ciawi.

Jam 05.30 sudah diatas angkot tujuan Ciawi, kelihatan penumpang sudah penuh hanya tersisa dua tempat duduk saja makan angkot itupun ergerak meninggalkan Cileungsi.

Ditengah jalan ada beberapa orang yang naik.

Memasuki Jalan Tol Jakarta Ciawi, akhirnya melewati area pembangunan ketemunya jalan tol ini dengan jalan tol yang ke Depok, yang sewaktu berangkat ke Jogja dua minggu lalu kelihatan dari udara suatu pekerjaan konstruksi yang cukup besar, angkot ini masih memasuki Cibinong, menurunkan penumpang dan menaikan juga dan berangkat lagi ke Ciawi, setibanya di Ciawi sekitar jam 07.20, masih pagi, kendaraan yang akan melanjutkan ke puncak harus dicapai dahulu dengan jalan kaki di pinggiran trotoar yang banyak lobangnya, saya teringat jikalau Hp Thipone saya beterynya sudah soak, sehingga dalam kesempatan ini mampir ke kios yang menjual betery Hp, setelah dicari agak lama dan pindah kios untuk mencarinya di dapat yang cocok dengan Hp asli dengan harga Rp 25 000,-

Naik angkot ke Puncak dari Ciawi, dan turun di depan hotel puri Avia, pak Nurhadi dari Balai sudah memanggil saya tetapi ia berada di atas bukit, saya mencari kiri kanan ya ngak ketemu kalau ngak lihat ke atas, saya di surunya sarapan dahulu sebelum acara di mulai, setelah itu memasuki ruang yang khusus untuk saya, saat itu suasana ruang sangat tentram, saat terbaik untuk beribadah


Jam 09.27 acara dibuka oleh ibu KAPUS LITBANG SOSEKLING dengan harapan ingin menyatukan ide penelitian dengan pelaksanaan, jangan sampai pedoman dibuat tapi masyarakat menolak, termasuk melihat masuknya teknologi dikalangan masyarakat.

jam 09.35 diskusi pertama dimulai,

uji model perencanaan sosial penggunaan air irigasi secara hemat,

dan dilanjutkan uji model kelembagaan sistem peringatan dini banjir debris berbasis masyarakat

cuma disini saat saya akan memberi masukan saya membaca dari pihak penyelenggara masukan yang diterima hanya sekedar memenuhi syarat syahnya diskusi ada yang menyanggah dan ada yang memaparkan, akhirnya ada rasa bosan saya di lingkungan yang hanya sekedar menjalankan fungsi pekerjaan itu, ruangan saya tinggalkan.

Berjalan menuju masjid yang 500 m kiri pintu keluar hotel puri Avia, menikmati udara puncak yang tidak lagi dingin, sekolah dasar yang berdampingan dengan jalan dimana sepanjang jalan SD itu penuh anak murid dan orang tua yang menyebrang sehingga berhenti semua kendaraan, dan saya melihat ke belakang antrian kendaraan di lereng jalan yang menurun pengaruhnya yang fatal terhadap transportasi, tapi kerena sifat jalan adalah bukan jalan dimana pengemudi harus memacu kendaraan cepat - cepat, maka hambatan lalu lintas tadi bisa diterima dengan maklum yang besar.

Memasuki masjid yang cukup sederhana tapi besar dan bertingkat dan makmumnya banyak, setelah Shalat Dzuhur dilaksanakan di masjid di datangi banyak ibu - ibu usia cukup hingga lanjut ( ibu pengajian dari Cibodas Cipanas ) diturunkan dari beberapa kendaraan, dari mana pikirku, masuk kewajiban ibu- ibu kah sampai mengunjungi

pengajian yang jauh - jauh.

Jam 15.10 saat akan shalat ashar hujan turun dengan satpam hotel diantar ke musholah hotel di bawah payungnya, berjamaah dengan satpam hotel, setelah itu masuk ke tempat diskusi dan langsung acara kopi sore.

acara hari ini ditutup jam 16.50 langsung masuk kamar, mandi air panas dan berjalan ke masjid Syarif Hidayatullah di arah kanan hotel sejauh 500 meter.

Masih banyak waktu untuk menunggu shalat Maghrib tiba, saya berdiri di masjid sambil melihat kearah jalanan yang ramai dengan anak sekolah setingkat SLTA yang keluar sore itu,kerena banyak yang menyebrang jalan jalanan terlihat macet kerena banyak kendaraan yang tertahan lajunya.

Ada fenomena yang saya tunggu, sebelumnya saya hanya mendengar wilayah ini banyak di tinggali oleh orang arab, etnis arab begitulah, dan sore ini menjelang maghrib ada seorang yang berbadan tinggi besar dan kelihatan nya seperti presiden Mesir pertama Abdul Naser, dengan hidung mancng segala, dan bajunya kotak- kotak kecil biru, akan kencing rupanya, ke masjid hanya untuk kencing bukan untuk shalat pikirku,

Perhatian saya lemparkan ke sisi saya yaitu banyaknya para orang tua haji- haji yang duduk di emperan masjid untuk menunggu waktu shalat maghrib sambil merokok ngak habis- habisnya.

Si Orang berperawakan orang mesir itu masuk ke kamar kecil yang diperuntukan wanita, semua orang melihatnya, dan maklum bahwa ia tidak bias membaca, mana tulisan itu Pria dan Wanita.

Maghrib datang shalat berjamaah





Jumat, 15 April 2011

jam 03.10 terbangun, sangat sunyi, sedang Bayu teman sekamar si anak muda itu tidur nyanyak, kemudian mandi air panas untuk menghilangkan ngantuk, setelah itu secepatnya melakukan shalat tahajud jangan di tunda- tunda sebab banyak alas an untuk menundanya, setelah itu baru mikirin perut untuk minum secangkir kopi.

teman sekamar anak baru SDA Rawa pantai tidur nyenyak

minta air panas untuk itu ngebel ke nomer 100, dan ada sambutan dari sana air panas akan di antar kekamar 115. Setelah itu ngopi enak banget.

Keluar kamar berjalan dikeremangan pagi menuju masjid Syarif Hidayatullah tidak terlalu jauh di samping kiri hotel, jalanan ruas Cianjur - Bogor sepagi ini dipecahkan dengan deruman motor gede menuju ke timur ke arah puncak, berjumlah banyak, tidak dalam formasi konvoi berangkat sendiri, frekfensinya saja yang sering, keheningan didalam masjid dipinggir jalan terganggu jadinya, memang, masjid bukan tempat orang bertapa yang letaknya di gunung, masjid diletakan ditengah masyarakat agar bisa membantu masyarakat mengurai benang kusut sosial warga.

Shalat shubuh yang khusuk, setelah itu berjalan balik ke hotel Avia, dan setelah membangunkan si anak muda yang lagi tidur untuk bergegas olah raga pagi.

Berjalan keluar hotel, udara pagi yang gelap kemudian dilanjutkan dengan lari pagi jauh hingga Citra Hotel yg pernah didatangi Desember 2010, saat berjalan pulang, sempat membuat teka teki kepada Bayu, mengapa si anak yang 3 tahun yang di belikan kereta dorong untuk belajar berjalan itu selalu di rantai atau di ikat salah satu sisinya, lama ia tidak menjawab, akhirnya saya beritahu jikalau ngak di ikat kerena permukaan tanah di jalanan puncak ini landai maka si anak akan meluncur lurus hingga ke bawah, si Bayu tertawa jadinya.

Saat kemaren saya melintas di depan Sekolah Dasar di samping hotel tidak melakukan apa- apa hanya menganalisa keadaan dan situasi, tetapi pagi ini saya melihat banyak anak- anak yang akan sekolah akan menyebrang jalan, tetapi tidak ada pemandu, sedangkan jalanan sangat ramai baik dari atas Puncak masudnya maupun dari bawah Jakarta maksudnya, ramai saja.

Saya mengambil inisiatip untuk menuntun satu anak dan mulai meluruskan tangan kanan ke atas untuk member tahukan kepada kendaraan yang melintas bahwa ada rombongan anak sekolah yang akan menyebrang jalan, betul juga semua kendaraan berhenti.

Setibanya di Hotel tepat jam untuk sarapan, pagi ini hidangannya sarapan bubur ayam minuman teh hangat dan makan paginya nasi ayam orek tempe, setelah itu balik kekamar untuk mengerjakan shalat dhuha, dan setelah itu mulai berkemas dan mempersiapkan acara hari ini dan jam 0900 acara diskusi dimulai.


Ini hari Jumat jam 11.40 saya meninggalkan ruangan untuk berjalan ke kamar dan mandi dang anti baju langsung ke masjid, masjid ramai, dapat tempat shalat di emperan, khotbanya singkat 6 menit, makan siang ikan asin sayur asem, tutup hotel, bawa tas keruang pertemuan, diskusi dilanjutkan hingga 15.20.

Gambar di Hotel Avia





Saya tidak tahu jikalau waktu shalat Jumat tadi di Cirebon ada bom bunuh diri yang di ledakan saat shalat Jumat di Masjid Kepolisian Cirebon.

REPUBLIKA.CO.ID,

CIREBON - Haji Abbas Sudinta tak menyangka, salah satu jamaah shalat di belakangnya memiliki itikad yang sungguh terkutuk: meledakkan bom di tengah jamaah shalat Jumat. Usai menyampaikan khotbah, ia berangsur ke mihrab, bersiap mengimami shalat Jumat. Usai ikamah, ia mengecek shaf dan kembali menghadap arah kiblat, memulai shalat Jumat.

"Saya mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, saat itulah blarrrr...suara memekakkan telinga terdengar. Tangah saya bahkan belum turun, dan takbiratul ihram baru saya baca separuh," ujarnya, saat diwawancara via telepon.

Saat itu, sussana menjadi gelap dan jamaah panik. Ia berpegangan pada sisi mimbar, dengan pakaian yang dirasanya mulai koyak. "Baju saya berubah merah, darah keluar entah dari bagian tubuh mana," ujarnya.

Saat itu, ia melihat banyak jamaah yang terluka. Semua dalam kondisi sama dengannya, pakaian compang camping dan terluka. Jamaah yang tak terluka, memapah dan menggotong jamaah yang terluka.

Ia sendiri sempoyongan, mencari arah pintu keluar di samping masjid, pintu khusus bagi takmir masjid. Asap masih hitam dengan bau yang menyesakkan dada. Ia tak mendengar apapun, karena telinga mendadak tuli.

Barulah di pintu luar, ia mendapatkan pertolongan. Sang penolong sempat terpana. "Di bahu Pak Haji tertancap beberapa paku," katanya, mendengar teriakan yang lamat-lamat terdengar.

Abbas segera dilarikan ke rumah sakit Pelabuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON - Imam shalat Jumat di Masjid Mapolresta Cirebon, H Abbas Sudinta menyatakan, pendengarannya masih terganggu pascaledakan bom. Ia kini terbaring lemah di RS Pelabuhan, dalam perawatan dokter. "Saya berharap segera pulih, biar keluarga tak cemas," ujarnya.

Sudinta mengalami luka di bagian pelipis, bahu, dan pergelangan tangan. Yang terparah, di bahunya. "Beberapa paku tertancap di bahu saya," ujar penyuluh agama Islam yang ditugaskan di Kecamatan Kejaksan ini.

Ia menceritakan, pusing yang dialaminya mulai berkurang. Sebelumnya, begitu bom meledak disertai suara yang memekakkan telinga, ia seolah mendadak tuli dan kepala langsung berkunang-kunang. Asap tebal yang disertai bau sangat menyengat membuatnya sesak nafas.

Ia sempak kebingungan mencari pintu keluar untuk menyelamatkan diri. Suasana panik, jamaah berhamburan keluar. Dua atau tiga shaf di bagian tengah di arah belakangnya, banyak yang terluka dan tergeletak.

Ia berjalan menyusuri tembok samping, mencari pintu keluar di arah samping mihrab, tempat takmir masjid biasa keluar masuk. begitu berhasil keluar, ia jatuh terduduk, sebelum akhirnya ditolong jamaah lain.

Saat itulah ia menyadari, bajunya sudah compang-camping, sobek di sana-sini. Warnanya pun berubah menjadi merah, basah oleh darah. "Di pelipis, darah mengucur deras," tuturnya pelan.

Sang penolong sempat menunjukkan mimik ngeri, melihat paku tertancap di bahu. Pertolongan medis yang cepat, membuat darah berhenti keluar. Kini Abbas masih tergolek di ruang ICU RS Pelabuhan.

Untuk sementara saya tidak berkomentar terhadap peristiwa ini, hanya sedikit ada pemikiran yaitu, apakah ada kaitan dengan terror, apa hanya sakit hati dengan pihak kepolisian terhadap prilaku istrinya dengan anggota polisi, atau anak perempuannya, atau juga hubungan jual beli dan janji uang atau ada sesuatu si pelaku yang diambil oleh polisi.

Setelah penutupan langsung pulang dengan anak muda yang sekamar dengan saya semalam dan tadi pagi berlari, polisi bersiap menjaga lalu lintas untuk memberlakukan buka tutup jalan, masuk tol, turun di Hypermat Cibubur, angkot Cileungsi, shalat Ashar di mushalah sangat sederhana di perempatan Cileungsi, mau naik bus busnya kosong berarti nunggu penuh lama, naik angkot, turun depan bengkel yang ngurus tanki motor, motor sudah selesai, di tes hidup tapi mati, bayar, hujan lebat sore hari, dorong motor kwhujanan ke bengkel perrama tutup dorobg lagi bengkel kedua, cek kaeburstor ada air bekas rendam tangki, balik jalan kaki saat sadar kunci tanki belum dijasi, kehujanan, motor hidup, dijalankan hingga pwrempatan gandoang matiu,m balik lagi, hidup jlan lagi mati, balik lagi, isi bensin satu liter, tetap mati, ke bengkel tutup sebab hari gelap, maghrib sudah lama datang, masuk toko kelontong numpang shalat maghrib, titip motor, ojeg ngak ada, jalan kaki, masuk jalan ptong, gelap becek, lihat status diri, nga usah merasa gede, masih sep ti ddulu, jalan kaki, lumpur ujung celana kotor, masuk rumah, sepi, lelah, mandi shalat isya, makan, tidur.




Sabtu, 16 April 2011

jam 08.00 berangkat ke tempat motor dititipkan semalam ( di rumah toko warungnya Haji Tholib Gandoang ) berjalan dengan istri menyusuri jalanan berlumpur sampai tembus jalan desa yang sudah diaspal, terlihat dari jauh ayahnya Enung temennya Tyas yang di tokonya itu motor saya titipkan,

ternyata ayahnya enung habis sakit keras komplikasi akibat asmahnya, saya sarankan untuk pindah mundur satu kilometer dari jalan agar debu jalanan tidak memperparah kondisi tubuhnya yang sudah rapuh.

Motor saya dorong dari gudang toko itu ke bengkel sementara istri sibuk menawar beberapa barang konsumsi untuk bingkisan anak yatim, barang yang dicari antara lain beras, gula, minyak kelapa kemasan,hanya gula saja yang terpilih di beli sebab harganya cocok.

Motor sudah masuk bengkel yang ketiga kalinya dengan kasus yang sama sejak semalam, motor dibuka tankinya dan terlihat cukup banyak air yang ada di bensin.


Motor sudah siap akan dihidupkan tapi bensin nya kosong sehingga saya membeli bensin di kios bensin sebanyak 2 botol, istri datang dari tokonya enung, dan dilihatnya ada penjual beras di toko disamping bengkel, kerena harganya cocok langsung dibeli oleh istri untuk bingkisan anak yatim.

Motor sudah hidup langsung saya bawa ke SPBU, isi bensin.

Balik lagi dan istri sudah menunggu, langsung mengangkat gula yang sudah dimasukan kekarung di tokonya enung, pulang.

Balik dan isi bensin lagi di SPBU di kanan jalan, setelah itu menuju ke warung beras di samping bengkel dan menjadi penunjuk arah pulang, sebab dengan penjualnya karung beras itu diangkut diatas motornya.

Sudah siap akan mengantar istri lagi untuk membeli sesuatu yang akan di sisipkan di bingkisan anak yatim, tetapi istri memilih memasak dahulu.

Setelah shalat dzuhur, makan siang, langsung istri minta diantar lagi untuk membeli bahan isian bingkisan anak yatim

dan Tyas minta dibelikan biscuit lapis coklat kesenangan dahulu sewaktu sekolah dasar apasih namanya Better, ya better lapis coklat. Banyak warung siang ini yang di datangi pada tutup, sehingga hanya beberapa warung yang menjual barang kodian yang buka.

Tiba- tiba saja awan gelap abu- abu disertai kilatan petir terpapar di langit sebelah barat, saya secepatnya angkat Hp untuk nelpon ke Tyas untuk mengambil sepatu yang di jemur sebab basah kalau di biarkan kehujanan.

Saat pulang di terpa hujan sedemikian lebatnya, jarak yang singkat hanya 700 meter itu semua baju basah kuyup jadinya, setibanya di rumah langsung mencuci pakaian, hingga malam hari hujan ngak berhenti.



Minggu, 17 April 2011

Hari ini ulang tahun perkawinan, yang mengingatkan ini adalah Tyas, saya sendir dan istri kurang memperhatikan, tapi kerena terbatasnya keuangan, lagi dipikirin, mau apa anak2 asal jangan beranggaran besar.

Fifi yang paling kecil minta rendang, kakaknya Yasin dan Astari minta mie ayam dan Tyas minta kepala ikan, bermotor bertiga Fifi dan ibunya mencari semua pesanan, rendang ngak pakai nasi, badannya ikan sebab kepalanya sudah habis di kasi banyak kuah bersantan dengan daun kemangi, sewaktu di cicipi di rumah aduh enaknya bukan main, entah apa model masakannya, kemudian mencari mie ayam di tempat beda. kemudian dibawa pulang dan membaca doa , saya dan ibunya malahan cukup dengan kuah ikannya Tyas ditambah lauk rumah yang sudah ada.

sederhana.

Tiada ulasan: