Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, April 01, 2011

Minggu 20 Feb - Sabtu 26 Feb 2011

Minggu, 20 Februari 2011

Sewaktu kepasar pagi ini setelah membeli kelengkapan yang lain sempat membeli 3 meter kain blaco untuk kanvas lukisan, dan sesampainya di rumah di potong menjadi empat.

Jam 11.00 memotong kayu untuk span lukisan, dari kayu tersisa dapat di potong menjadi 8 bilah untuk dua span lukisan.

Sore hari setelah shalat Ashar bermotor bersama istri untuk mencari tukang serut permukaan kayu agar satu permukaan di bilah kayu span lukisan dibuat lebih rendah tingginya.

Kemudian ke took bangunan untuk membeli alat siku, ternyata took bangunannya tutup lebih cepat kalau hari minggu.

Dilanjutkan bermotor sambil membawa bila kayu yang telah di serut di satu permukaannya ke tukang kayu untuk meminjam alat siku untuk menggambar sudut 45 derajat.

Bawa pulang dan di potong di rumah, setelah pemotongan di coba di set, sewaktu ngeset ini ( ngeset satu span lukisan saja ) sampai malam ngak selesai selesai, paku disni, pturs disudut sana, terus berulang- ulang sampai maghrib dating,

Habis shalat Isya mencoba mengeset lagi tapi gagal.

Akhirnya putuskan untuk meminta bantuan orang lain.

Senen, 21 Februari 2011

Ada Dua Gendut.

Istri titip amplop surat pengaduan untuk di sampai kan ke kantor pos dan dialamtakan ke Maarif Institut, dan setibanya di kantor pos Cibubur pagi itu langsung saya sampaikan sambil di belikan prangko pos biasa, sebab masih satu kota Jakarta.

Saat memasuki ruang kantor, ibu Risten yang terkena penyakit kanker getah bening, lagi duduk di depan pintu kantor dengan wajah yang lemas tetapi sedikit semangat, aduh pa sis pa sis mengkudunya, saya menoleh, lho kan di minum, campurin nenas biar enak, ngak saya campurin sawo yang ada di rumah, tetapi tampilan pagi ini daging di lengannya mulai ber isi, tidak seperti minggu lalu kulitnya menggantung tanpa daging. Pagi ini ia sampai duduk di depan pintu kantor menunggu jemputan suaminya untuk diantar ke rumah sakit control laboratorium.

Di saat harus bertanya

Ada dua Gendut

Yang satu Gendut Riyanto dan yang satu Gendut Sudarto

Gendut Riyanto telah Almarhum tahun 2004 tetapi baru saya tahu

Sedangkan Gendut Sudarto adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul yang di tahan oleh Kejaksaan atas dasar Korupsi Gratifikasi dari Balai Pustaka untuk buku pelajaran.

Peristiwa itu berawal tahun 1983 saat Latihan kepemimpinan Nasional yang digabung dengan Pelatihan Mandala P4 tingkat instruktur Madya, yang diselenggarakan oleh KNPI Nasional, salah seorang sahabat karib saat itu ya si Gendut, lantas lupa- lupa ingat apakah Gendut Sudarto yang di tahan di Bantul atau Gendut Riyanto yang telah meninggal di Bekasi, saat itu saya adalah utusan KNPI Bali sedangkan Gendut dari utusan Jogjakarta.

Entahlah.

Selasa, 22 Februari 2011

Hampir maghrib, terjebak kemacetan di jalan Tendean, dalam rangka memenuhi undangan makan malam dengan para Alumni Belanda, sambil membahas permasalahan perekonomian Indonesia di bandingkan dengan daya saing dengan Chinna dan India, yang ikut dari rumah sore itu Fifi dan ibunya, sejak berangkat dari rumah setelah shalat ashar, jalanan lancer saja, sedikit mengalami tunda waktu saat mencari parker sepeda motor di perempatan cileungsi, memang berangkat dari rumah naik motor bertiga, tetapi di cileungsi niatnya akan di titipkan sepeda motor itu di penitipan, tetapi semua penitipan membuka sampai jam 10.00 malam, padahal acara itu di perkirakan berahir jam 22.00.

Dapat ide mengapa tidak titip sepeda motor di Polres Cileungsi saja, akhirnya motor di arahkan kesana dan masuk parkir diantara motor- motor bermasalah, motor- motor itu sudah tertutup debu kerena lama ngak di bersihkan, setelah itu naik ke teras untuk melapor ke kepolisian yang lagi piket, dan sang bapak polisi hanya tersenyum mengiyakan.

Naik angkot 56 tujuan UKI Cawang, angkot agak longggar, dan setibanya di Cawang Jakarta sudah menjelang sore, lha disini jadi masalah, kerena tidak ada bus kota yang melewati jalan sudirman, kalau mau ya harus naik bus ke Blok M dahulu.

Naik bus 45 bus arah Blok M dari Cawang, duduk berdua dengan istri sedangkan Fifinya di pangku, saya ngak mengira jikalau angkutan bus no 45 ini sangat faforit terbukti dengan banyaknya penumpang yang rela berdesakan untuk memenuhi tempat yang terbatas itu.

Sepanjang jalan bus ngak bisa lancer jalannya sebab sebentar di berhentikan dari dalam penumpang yang berteriak mau turn sedang yang dari bawah ngak berhentinya naik, sehingga jalannya bus perlahan sekali.

Menjelang Maghrib di Jakarta, saat itu sudah memasuki wilayah Tendean, macetnya ngak ampun, sepanjang jalan di depan terlihat atap mobil dan punggung pengendara motor memenuhi jalanan.

Bus berjalan perlahan- lahan, sekarang di depan sekolah Menengah Kejuruan Penerbangan yang dari dahulu terkenal, kemacetan masih melanda dan bus maju selangkah demi selangka, dan berhenti di kemacetan yang parah di depan Mabes Polri, saat itu di samping saya terlihat ada kopaja yang menurunkan semua penumpangnya, dan saya lihat nomer kopaja itu, nomer 19, berarti Tanah Abang, dari jendela di sisi saya saya berbicara dengan sopir Kopaja 19 itu apakah akan melewati hotel Le Meridiem tempat tujuan pertemuan, ia mengangguk, di anjurkan saya untuk pindah bus,

Fifi senang sebab kepadatan penumpang di bus 45 ini membuat ia tedak merasa enak, saat turun kemacetan masih melanda, dan naik ke bus kopaja 19 yang kosong itu, pengemudi bus kopaja 19 itu dengan percaya dirinya membawa saya dengan istri dan Fifi memecah kemacetan, saya bilang ngak usah keburu bang, dia bilang kalau ngak begitu kapan bapak sampainya, dan memang betul ia bisa mengurai kemacetan lampu merah di depan Mabes Polri itu.

Saat adzan maghrib berkumandang bus kopaja itu lewat di depan Al Azhar masjid, kosong jalan di depannya sehingga bus kopaja melaju kencang, istri bertanya masih jauh mas, masih sebab jembatan semangi saja belum di lewati.

Kopaja itu tahu dimana ia harus berhenti saat maghrib ini, ia berhenti lama di depan Citra Ghaha di mana bulan lalu pertemuan alumni Belanda juga di selenggarakan di lantai 26 di bangunan itu, dimana saya dating bersama pak Rudy Parasdio.

Bus terlihat mulai penuh dan kopaja itu berlari lagi merembak kemacetan dan ngak tahunya sudah memasuki kolong jembatan Semangi, setelah itu mulai memasuki Bendungan Hilir, saya bilang dengan istri jikalau sudah dekat sebab, selepas kantornya pak Marzuki Usman di Dinners Club adalah jembatan karet, saya Fifi dan istri turun untuk mulai menyebrang jalan dan berjalan kaki menuju hotel Le Meridiem.

Masuk ke Lobby hotel dan langsung naik kelantai dua untuk mengerjakan shalat Maghrib, tempat yang bersih dan indah, saat berwudlu dengan siraman air yang berlimpah, mengusap muka yang penuh dengan debu jalanan, untuk menghadap si pencipta keindahan dan keserasian alam Allah SWT, saat menginjak hamparan shalat tirlihat sekilas keindahan dimana panorama maghrib, dengan keremangan petang masuk dari belakang dimana jendela kamar yang di jadikan mushola itu sengaja di buka, shalat dengan khsusuk, sebab saya berarti ini kali waktu shalat yang ke dua, yang pertama saat pak Marzuki akan di Calonkan menjadi wakil presiden sekitar 7 tahun yang lalu.

Setelah shalat mulai menuju ruang pertemuan, masuk dari restoran yang sore itu sudah terlihat beberapa orang duduk di meja hidangan, saat saya memperkenalkan diri sebagai undangan IHS Belanda, si penerima tamu itu mengantarkan saya untuk naik kelantai dua bersama istri dan Fifi, saat masuk ada kesalahan masuk, sebab masuknya saya saat ini adalah belakang, sedangkan depannya ada di kiri arah memutar bangunan, sehingga saya harus ke ujung lorong itu untuk mendaftar registrasi buku tamu, dan mulai bertemu dengan beberapa orang Belanda yang mengundang.

Fifi dengan semangat menyalami beberapa orang belanda yang tinggi besar itu, dan sudah terlihat dua orang tamu alumni telah mendahului menulis di buku tamu, sehingga saya di urutan ke tiga, pembicaraan sat itu selalu di pertanyakan dahulu sewaktu tinggal di Belanda ada di mana, saya perkenalkan kota, kemudian nama jalan, dan keunikan tempat saya tinggal di Rotterdam tahun 1987 saat itu dimana bersebrangan dengan rumah sakit besar Dijkzigt Rotterdam, sangat berkesan sebab tidak henti- hentinya suara raungan sirene mobil ambulance memasuki rumah sakit mengantarkan pasien baik itu siang maupun tengah malam.

ngak lupa saya ingatkan bahwa patokan tinggal jalan S Gravendijkwal itu lurus dari MassTunel, dari berbagai pertemuan yang saya ikuti saya selalu mendapatkan hal baru.

Saat makan malam pun di mulai dimana saya dengan tamu yang lain di giring menuju tempat saya naik tadi suatu restoran yang di tata cukup baik dengan permintaan khusus sebagai pelaku bisnis, masuk ke ruangan yang pas itu ( di sebut besar ngak juga di sebut kecil cukup juga sebab antara meja hidangan yang diletakan di tengah masih ada ruangan untuk bersantap baik sendiri maupun bersama, saya denagn fifi berbisik fifi mau apa, saat tiba di meja hidangan, yang hangat pa, langsung saya bersantap soup bubur beras merah dengan roti bundar keras, mengambil tempat duduk di ruangan berkaca berpanorama hotel- hotel di depannya di gelap malam, kelihatan tatanan lampu yang cukup menarik.

Fifi semangat sekali makannya, kemudian berganti dengan makanan pokok, kemudian erganti dengan makanan penutup, kemudian masih ditambah dengan es yang Fifi sukai.

Acara utama berupa panel penelitian pengembangan ekonomi di Indonesia bercermin dari pengalaman Chinna dan India.

Jam 22.00 acara cooktail, saya piker sudah jam segitu pulang aja, malahan acara ramah tamah, terpaksa Fifiyang ngantuk- ngantuk bersabar untuk mengikuti acara itu, sambil berdiri dan di hidangkan sate ayam tanpa bumbu dan mini roti isi sous enak dan beberapa blackbrownies bertabur coklat gelap, dan minumannya adalah jus mangga kesukaan istri.

Jam 22.30 kembali ke ruang shalat untuk mengerjakan shalat Isya

Jam 23.15 mohon diri sebab orang- orang sangat betah berbicara bisnis dalam usaha mengembangkan usahanya.

Keluar dari lobby hotel dan ada taksi sudah menanti di depan, saya bilang saya naik bus kota saja, sebab tujuannya jauh.

Menyusuri sepotong jalan di depan hotel Le Meridiem di tengah malam bertiga dengan istri danFifi, kendaraan sudah mulai menyepi, kemudian naik jembatan penyebrangan, istri yang biasanya marahan kalau naik jembatan penyebrangan kali ini ngak lagi.

Sampai di bawa banyak barisan ojek menanti, saya berjalan meloncati genangan air, rupanya selama saya di dalam hotel, cuaca di luar diguyur hujan deras , naik metromini yang ke pasar minggu tetapi turun di depan Komdak, untuk menanti bus mayasari bhakti malam ke Kp Rambutan tetapi turunnya di Cawang, untuk pindah naik angkot 56 tujuan Cileungsi, Fifi sudah hilang kantuknya sehingga ia terlihat menikmati perjalanan mala mini, kemudian memasuki jalan tol Jagorawi, dan keluar di pintu tol Cibubur, jalanan sepi, kendaraan lancar, turun di Polres Cileungsi untuk mengambil motor yang dititipkan tadi sore, dan mengendarai motor ke rumah di tengah malam. Masuk rumah jam 23.57.

Rabu, 23 Februari 2011

Fifi masih ingin ikut aja siang itu saat membawa istri untuk ke pasar Gandoang mengingat dirumah minyak kelapa sudah habis, dan dilanjutkan ke tako bangunan bumi raya utuk membeli cat dasar crem dan biru dan dempul putih serta mur panjang pengingat setiap membuat span lukisan memaku penghubung sudut selalu gagal, sekarang bagaimana kalau di mur saja.

Cat dasar di rumah sudah habis, sedangkan sejak hari senen kemaren bingkai siap untuk di lukis lagi, beberapa ide yang masuk yaitu kapal pinisi di tengah lautan yang terang di siang hari dan buah srikaya yang kulit luarnya blenuk – blenuk.

Kamis, 24 Februari 2011

Sore hari setibanya dari kantor, di beritahukan jikalau adik istri akan tiba di rumah, di tunggu samapi tiba waktu buka puasa belum datang juga, dan datangnya setelah jam 08.00

Sebentar saja ketemunya sebab saya sudah ngantuk dan langsung tidur.

Jumat, 25 Februari 2011

Jam 03.00 terbangun sebab Hp bordering cukup keras dan mulai mengisi air kamar mandi sekitar jam 03.30. untuk mengumpulkan air mengambil wudlhu shalat tahajud.

Jus sayur pagi ini cukup enak dan adik ipar sempat menikmati satu gelas.

Campurannya ada terong ungu, leunca, nenas, wortel, buncis, buah mengkudu, daun srikaya, daun mangkoan, daun pacar air.

Adik ipar bilang kok kepingin buang air kecil terus, itu merangsang ginjal untuk aktif sambil membersihkan endapan saluran ginjal.

Ngelas besi goncengan sepeda motor yang patah sewaktu hari senen kemaren, ngelasnya di jalan Jakarta Bogor lama di wilayah Ke ong ciracas,

Setelah itu tidak beberapa lama kemudian hujan turun setelah pengelasan selesai, hujan sampai kantor, sedikit macet menjelang terminal lebak bulus.

Shalat Jumat itu di iringi dengan hujan gerimis, sehingga memilih masjid yang terdekat.

Saat pak Helmi memasuki ruangan setelah shalat Jumat itu, ia memperlihatkan topi hajinya, ia juga punya tetapi putihnya baru, dan dia mencoba membandingkan topi haji saya yang saya selalu geletakan di atas meja, dia tertawa lain kan, katanya.

Sekitar jam 15.00 saat hujan sudah lama mereda, kantor saya tinggalkan untuk berburu lauk buat anak- anak di super market Lotte mart pengganti makro yang di Ciputat.

Setibanya di sana yang disasar adalah ikan, ada ikan sebelah, ada ikan ayam- ayam, ada ikan bandeng, ada ikan salem, ada ikan tongkol ada ikan selar, dan ada ikan terisi, serta sebutir wungkul ayam potong.

Ingat jikalau anak- anak di rumah suka makan, saya belikan juga roti tawar besar dan berisi banyak.

Setibanya di rumah yang dikerjakan dulu dengan ibunya malahan ikan selar sebab kalau sudah lama di kulkas sudah hilang gurihnya, betul juga setelah di goring kering Yasin dan Fifi yang sukar makannya sekarang malahan lahap juga.

Sabtu, 26 Februari 2011

Sejak pagi berkutan dengan lukisan di lukisan ke empat dan kelima, lukisan kelima saya serahkan ke istri untuk mengoreskan kuas untuk mewarnai langit, sedangkan saya menangani buah srikaya, rencana semua binhgkai lukisan itu di isi dengan buah srikaya, entah berapa banyaknya, tetapi saat Juhur menjelang terjadi hal yang tidak di inginkan, mula lukisan yang baru menduduki 1/90 dari bagian lukisan sudah menunjukan lukisan gagal, sehingga di hentikan dulu untuk melanjutkan, sementara istri telah selesai mewarnai langit.

Habis shalat Ashar datang lagi ide, lukisan buah srikaya yang mula- tadi saya bongkar dan saya mencoba menghitung, kok sampai 13 sisik di sisi muka buah srikaya, menurut pengamatan sesungguhnya buah serikaya itu bersisik paling banyak 7 dan rata rata enam, berarti saya kebanyakan, itu yang menyebaban lukisan itu saya kerik sehingga rontok, dan mengambil strategi lain yaitu garis terdalam bertemunya sisik kulit buah srikaya itu yang dilukis dahulu dengan campuran warna, merah, biru dan hijau sedikit.

Setelah itu mulai di bentuk, satu sisik kulit buah srikaya itu berbentuk segi enam memanjang, tidak persis benar, dari patokan itu mulai digambar garis batas satu sisiknya.

Boleh juga, timbul lobang lobang diantara garis pembatas sisik kulit buah, ya itu nanti di timpa, dan utnuk buah lainnya saya buatkan dasarnya dulu kemudian di buat garis pembatas sisik kulit buah.

Ada jug aide langsung saja di buatkan garis pemisah sisik buah srikaya tanpa warna dasar, tetapi setelah jadinya tidak mau mau baik.

Menjelang shalat isya, sudah ada tujuh buah serikaya belum final, artinya masih akan di susul pengerjaan berikutnya.

Tiada ulasan: