Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, April 01, 2011

Minggu 27 Feb - Sabtu 5 Maret 2011

Minggu, 27 Februari 2011

Kejar – kejaran dengan hujan.

Semenjak usai shalat shubuh langsung mencuci pakain yang telah menumpuk sejak hari kamis sore, cukup banyak juga, dan dikerjakan bertiga, istri ikut membantu sedikit, dan Yasin yang membilas sedang kan saya yang mencuci yang berat.

Sekitar jam 07.00 saat setelah shalat Dlhuha dan akan berangkat ke pasar mendadak hujan deras datang, padahal pakain baru saja di tebarkan di jemuran sehingga perlu bantuan Fifi untuk menolong mengambilkan jemuran secepatnya, tetapi cukup sulit mengambil ulang jemuran dari pada menebarkan dan tak bisa di hindari basah juga akhirnya.

Menunggu hujan sambil makan pagi akan berangkat ke pasar, dan hujanpun mereda, matahari mulai memanaskan udara.

Mulai menebarkan kembali pakain untuk di jemur setelah itu berangkat ke pasar, Fifi yang terlihat bengong di rumah, saya aja juga kepasar, kepasar Fi, jalan- jalan.

Berangkat bertiga kepasar dengan ibunya, dan saat usai belanja saya melihat langit diawan berarakan berlari kencang, setelah itu gerimis, bermotor sambir gerimis hujan, dan sampai di rumah ternyata belum hujan.

Tapi tidak lama kemudian hujan deras datang juga, dan kembali untuk kedua kalinya pagi ini pakaian yang sudah hamper kering itu tersiram rintikan hujan sehingga agak lembab.

Akhirnya ibunya di rumah sudah mempersiapkan makan siang dengan hidangan ayam di masak garang asam, enaknya jangan di ceritrain.

Sehabis tadarus Al Quran di saat usai shalat Maghrib, saya minta di persiapkan cobekan, serta batu penguleknya, dan garam, terasi dan gula merah, bawang putih serta kacang di goring, tadi pagi sewaktu kepasar sempat membeli kacang tanah setengah kilo seharga Rp 7 500,- Fifi nya keluar untuk membeli terasi sebab persediaan terasi dirumah sudah habis, kemudian ibunya menyerahkan gorengan kacang, akhirnya lengkap semua perlengkapan kecuali asam tidak ada, gank apa, semua campuran di gerus di cobek tanah liat yang dibawa oleh Tyas dari Denpasar.

Makan malam sangat enak dengan sambal kacang, dari tadi Fifinya yang ikut membantu sudah berapakali mengambil sedikit demi sedikit, enak pa, apalagi setelah di tambahi dengan daun jeruk purut.

Satu hari ini lukisan ngak diambil.

Senen, 28 Februari 2011

Sebelum berangkat kekantor saya ingatkan istri untuk melanjutkan lukisan laut, setelah mewarna langit waktu hari sabtu kemaren, warna laut dicampur cat biru dengan sepertiganya cat hijau, entah apa jadinya yang penting sudah saya tinggalkan kekantor.

Hujan rintik, sementara Fifi yang ikut gonceng sampai sekolahannya bilang yang cepet pa, basah ni, hujannya ngak mau berhenti sih.

Sepanjang jalan hujan merintik dan terkadang menderas, lalu lintas cukup ramai walau hujan.

Sampai di kantor hujan masih menderas.

Saya menyadari jikalau hari ini saya harus menjumpai dua orang, yaitu pak Harjono dan pak Marzuki Usman, sekitar jam 16.00 sore nanti, sehingga saya sedikit untuk membuka analisa agar tidak berhenti di tengah jalan.

Jam 14.00 kantor saya tinggalkan siang itu, sementara mendung masih turun hujan, menyusuri jalan Kebayoran Lama dari Lebak Bulus untuk menuju Kementerian Pekerjaan Umum, kemacetan siang di udara mendung itu sedikit, tetapi lancar, sehingga hanya 25 menit saja Kementerian Pekerjaan Umum itu sudah di capai, sebelum memasuki kompleks kementerian menyempatkan diri ke bank Muamalat kas Universitas Al Azhar Indonesia, untuk menyerahkan sodaqoh ke anak yatim NTT, kemudian ke Al Azhar Peduli Umat untuk sodaqoh anak- anak miskin, kemudian memasuki kementerian PU, hujan masih menguyur, saya lebarkan telapak tangan saya saya letakan diatas kepala agar hujan tidak membasahi, benar juga di tempat lain hujan deras di kepala saya belum hujan, memasuki lorong terbuka di depan Bina Marga dan tembus di loby bangunan menteri dan menyebrang untuk memasuki kantor pak Harjono dari belakang, tetapi di kunci, semua pengunjung harus dari depan, sehingga memutar dengan sedikit basah akibat hujan yang masih menderas, naik kelantai 5, ternyata sewaktu di lihat dari sisi luar ruangan, kok suasana di dalam ruangan beda, apakah sudah pindah, setelah bertanya ternyata pak Harjono di pindahkan di lantai 3, turun dengan lift, dan saat belok kiri, melihat sosok badan dari belakang sedang shalat, kalau di amati ya itu sosok badanya pak Harjono, tetapi kurang yakin, tunggu, sampai berbisik Pak Harjono, dan betul dia menoleh, tetapi dian ngak merasa jikalau dicari dari lantai 5 ngak ada dan ketemu di lantai 3 di musholah, ia menjelaskan jikalau ia baru shalat Dzhuhur sebab dari pagi ada pemakaman untuk penguburan almarhum pak Sriyono Mantan Dirut Perumahan Nasioanal.

Apa ngak baca SMS saya, baru saya sadar jikalau Hp itu dari pagi belum di buka, dan sewaktu saya sudah di ruangannya pak Harjono, betul juga ada SMS dari pak Harjono yang isinya ia sedang ada di Pemekaman sekitar jam 10.00 tadi pagi.

Saya tersenyum menyampaikan maaf

Saat itu sudah jam 15.15 dan tidak bebrapa lama kemudian adzan waktu shalat Ashar terdengar dan saya ke musholah sebentar untuk berjamaah shalat, dan setelah itu pak Harjono saya lihat sedang menunggu the hangat sebab udara hujan demikian ia terlihat kurang sehat.

Jam 15.30 turun dari ruangan untuk naik mobilnya pak Harjono dimana di dalam mobil sudah ada istri beliau yang berarti ingin ikut juga menjumpai pak Marzuki Usman.

Melintas Jakarta sore itu di kepadatan lalu lintas yang memacetkan dan guyuran hujan tapi ngak basah sebab di dalam mobil,

Masuk keruangan kerjanya pak Marzuki Usman di lanta 12A gedung Dinners Club sekitar jam 16.05

Menanti cukup lama sebab pak Marzukinya sedang shalat.

Jam 16.30 baru mulai ketemu, dan pak Harjono bersama istri menyampaikan undangan perkawinan putrinya dimana akd nikahnya hari Jumat besok dan Resepsinya hari Sabtu di Berawa gedung danareksa.

Pak Marzuki masih semangat untuk mencalonkan dirinya menjadi Gubernur Jakarta nanti 2012 dengan slot pencalonan mandiri.

Jam 16.59 keluar dari gedung itu, saya minta langsung pulang aja ke kantor pak untuk mengejar buka puasa.

Jakarta agak lancar sehingga tidak terasa sudah sampai di Kementerian Pekerjaan Umum, saya turun untuk mencari buka puasa di Famili kedai makan Padang.

Duduk sendirian menanti adzan Maghrib, sambil di hidangkan the panas dari kedai makan itu, setelah adzan terdengar secepatnya minum the panas tawar dan meninggalkan kedai untuk shalat maghrib di masjid Badan Pertanahan.

Ada suatu peristiwa untik di sini, saat saya tergesa- gesa untuk segera buang air kecil setelah buka dengan the hangat tadi, saya masuk aja dan memang kebetulan kosong satu tempatnya, sambil melewati beberapa bapak-bapak yang berdiri, saat itu saya di ajak bicara tetapi saya sambut dengan tertawa dan senyum sebab ngak jelas apa yang di bicarakan, tetapi saya baru sadar setelah selesai buang air kecil, orang yang terdepan maju melangka mengganti kedudukan, saya, baru sadar, lho ini antrian, saya ngak tahu, maaf, tapi ngak tahu kan rezeki, seperti kalau orang puasa tapi lupa, semuanya tertawa, baik yang mengantri untuk buang air kecil dan yang sedang buang air kecil.

Shalat mahgrib berlangsung tertib, dan saya ingat jikalau ada seorang alumni IHS di gedung ini, dimana nomer Hp nya saya catat juga sehingga selesai shalat saya panggil dia untuk turun sebab dia orang jawa Kristen.

Saya menunggu di arah kedatangannya, tetapi lama di tunggu kok ngak dayang – datang ternyata di sudah datang dan mencari saya dimana di musholah itu, akhirnya saat saya putuskan untuk keluar dari masjid malahan anak itu si Fajar ada mencari saya, langsung salaman, dan bertanya tentang kemungkanan mendapatkan data pengembangan Tangerang Selatan, dia ngak punya.

Masuk ke kedai Famili masakan padang tadi, untuk melanjutkan buka puasa yang terputus kerena shalat maghrib, pesanannya nasi padang daging rending, lahapnya makanan itu , enak dan murahnya, dua piring nasi dihargai Rp 12 000,-

Saat pulang menghidupkan motor di parkiran Inspektorat jenderal kemeneterian PU, Motor bermasalah, ban nya terjepit garpu standard motor, sehingga jalannya seret.

Shalat isya di pengisian bahan bakar premium di jalan Antasari, sambil menendang dongkrak yang seret ke ban itu, dan akhirnya mau bergeser 2 milimeter yang penting tidak lengket di ban belakang.

Pulang sampai di rumah Fifinya menunggu oleh- oleh, saya sampaikan ini rendang bapak, dan kerena Fifinya sudah sikat gigi ia menyimpannya untuk dimakan besok pagi saat berangkat ke sekolah.

Tadi pagi sebeblum berangkat kekantor saya sudah ingatkan istri untuk melanjutkan lukisan laut, tetapi apa yang terjadi hasilnya malam ini yang hasil yang dilukis bukan lautnya, tetapi langitnya lagi, padahal langit sudah berhenti semenjak Sabtu kemaren, sekarang gambar langit di tutup dengan istri menjadi langit, padahal warna yang saya informasikan ke istri tadi pagi adalah warna untuk laut, malahan di pakai untuk langit.

Terlalu gelap masalahnya.

Sehingga siang ini untuk memperbaiki lukisan ini saya membalik lukisan itu, langit yang katanya istri saya jadikan laut, sedangkan bidang langit yang kosong saya isi dengan lukisan langit sebenarnya dan beberapa menit sudah selesai, istri terlihat puas melihatnya.

Saat jam 20.00 akn tidur malam, lukisan buah srikaya sedang bermasalah, yaitu tersesat di warna hijau kehitaman, warna ini sangat kuat mendominasi sehingga saya ngak puas, masuk tidur dengan nyenyaknya.

Selasa, 1 Maret 2011

Ide untuk melukis pagi ini sudah datang lagi, setelah shalat shubuh sudah sibuk dengan mengaduk cat warna lukisan, melanjutkan untuk melukis buah srikaya yang sudah jadi 10 semenjak hari sabtu kemaren.

Setelah shalat dzuhur dapat ide untuk melanjutkan

Rabu, 2 Maret 2011

Dari sejak usai mengerjakan shalat shubuh dan ngaji Al Imran langsung masuk ke lukisan yang kemaren sudah dikerjakan tetapi sedikit tersesat di warna, memang semalam masuk tidur kurang enak sebab gagal di pewarnaan, saat mengerjakan lukisan buah srikaya yang berjumlah banyak, lebih seratus butir, persisnya belum menghitung.

Pagi ni idenya adalah menumpuk buah srikaya yang sudah ada, memang semenjak kemaren sore ingin masuk ke sela- selah buah srikaya dan diputuskan masuk dibelakang, tetapi sangat sukar menyisipkan lukisan buah srikaya dengan glemenuk kulitnya itu di balik buah srikaya yang sudahada, sehingga di putuskan pagi ini untuk menumpuk saja buah srikaya yang sudah ada di jadikan buah bawah, saya membuat campuran warna secukupnya sehingga di perhitungkan jam 07.00 lukisan di hentikan sementara.

Tepat juga jam 06.45 bahan cat warna untuk buah srikaya sudah habis dan di tutup lukisan pagi ini.

Mengerjakan jus sayur untuk mengangkat stamina pagi ini rencananya banyak sih, terutama akan mengirim uang nya anak- anak di Bali untuk Tyas dan di Makasar untuk Aswan.

Saat akan berangkat kekantor, ada berita kematian, ibu temannya Fifi meninggal bayi dalam kandungannya, sebab baru beberapa menit yang lalu kepikiran jikalau apakah ibunya ngak butuh uang social, ngak tahunya beberapa menit saja ibunya datang mengabarkan jikalau hal tersebut tadi, sehingga saya menyampaikan uang sosial untuk melihat kematian bayi dalam kandungan itu, ibunya selamat.

Di gerai Hp bagian pengisian Pulsa, minta di pindahkan ke nomer hp am3 sebab hp dengan nomer axis sering ngadat di wilayah cileungsi.

Sewaktu mampir ke bank muamalat di kas Pendidikan Akhmad Yani Cijantung, ternyata dongkrak dua saya yang bermasalah semenjak hari Senen saat pulang malam itu sudah hilang, dengan kayu, kayunya entah jatuh di mana.

Stroke Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Stroke atau serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia untuk kategori penyakit tidak menular (PTM).

"Data kematian akibat PTM yang tadinya 41,7 persen pada tahun 1995 meningkat menjadi 59,5 persen pada 2007. Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke sebesar 15,4 persen," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih ketika membuka pertemuan regional Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara yang membahas penanggulangan penyakit tidak menular yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa.

Menkes menambahkan angka prevalensi PTM di Indonesia cukup tinggi yang meliputi penyakit hipertensi, penyakit jantung, stroke, penyakit tulang dan otot (muskuloskeletal) serta kecelakaan lalu lintas.

Selain itu prevalensi faktor resiko PTM juga tinggi Seperti obesitas, makanan beresiko, kurang buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, merokok dan masalah kejiwaan.

"Kementerian Kesehatan memberikan perhatian serius dalam pengendalian PTM dengan membentuk unit khusus PTM sejak 2006 dengan program prioritas penyakit jantung, penyakit kanker, penyakit kronis dan generatif, diabetes mellitus dan penyakit metabolik serta kecelakaan dan cidera," ujar Menkes.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan disebut Menkes adalah pembentukan jejaring PTM dengan programnya antara lain intervensi berbasis masyarakat yaitu Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang melakukan "screening" faktor resiko PTM dan penyuluhan pencegahan PTM.

"Program lain adalah pengendalian tembakau dengan kegiatan advokasi termasuk pembentukan aliansi walikota dan bupati, monitoring penggunaan tembakau serta menyusun peraturan perundangan," ujar Menkes.

Saat ini cakupan program PTM sudah mencapai 60 persen provinsi di tanah air dengan kegiatan utama yang dilakukan berupa sosialisasi dan advokasi, pengendalian faktor resiko, deteksi dini, manajemen kasus, surveilens epidemiologi, jejaring kemitraan, monitoring, KIE, evaluasi, pembiayaan dan ketenagaan.

Kamis, 3 Maret 2011

Jumat, 4 Maret 2011

Hari ini ulang tahun saya, sunyi dan memang tanpa pernah ada orang tahu, sms dari Hp nya Aswan dan Tyas saja yang menyampaikan selamat ulang tahun, dan hal ini akan berjalan terus, sunyi, pagi hari saat berangkat ke kantor mampir di bank Muamalat di kas Akhmad Yani Cijantung untuk memasukan rekening sodaqoh anak Yatim Piatu NTT.

Ingin nanti sore makan roti tawar berlapis srikaya sebagai sedikit kemeriahan hari ulang saya sehingga jam 14.00 saya keluar dari kantor untuk ke Lotte Mart untuk membeli, satu kilo ikan selar, ikan ini sangat di sukai Yasin kalau di goring agak kering, satu kilo ikan nila merah, ayam satu bunder seberat satu kilo, satu bungkus roti tawar besar dan satu botol sarikaya. Siang ini seperti biasanya di jalan Simatupang macet-cet dan berjalan perlahan, shalat ashar di depan masjid Mall Cijantung.

Setibanya di rumah ramai juga sambutan anak- anak terutama Fifi yang sangat lahap makan roti, saya sendiri ngak terasa sudah menghabiskan 5 lembar.

Sabtu, 5 Maret 2011

Sejak selesai shalat shubuh telah masuk ke lukisan untuk membuat sisik buah srikaya, merupakan lanjutan kemaren, sementara itu istri ikut membantu dengan membuat hal yang serupa hingga jam 13.00 siang. Sementara itu lukisan perahu pinisi dengan latar samudra yang sunyi itu saya lanjutkan pengerjaannya dengan membentuk lambung kapal.

Ada sedikit problem saat akan mencantumkan warna bayangan di sisi yang terlindung atap di dek dua kapal pinisi, sehingga di ambil keputusan untuk menarik turun garis papan pemisah dek dan sementara cat masih basah lukisan di istirahatkan dahulu.

Untuk lukisan buah srikaya setelah shalat dzuhuhr di kerjakan lagi untuk lapisan atasnya sebelum di tutup satu satu daun yang jatuh, sementara itu jam sudah menunjukan pukul 14.00 siang, Fifi terbangun drai tidur sebab ia teringat jikalau sepatunya masih terlepas salah satu sisinya, sejak pulang dari Bandung beberapa bulan lalu, saya tinggalkan dahulu lukisan dan mengerjakan sepatunya Fifi sebab sebentar malam akan dipakai untuk menghadiri perkawinannya putrinya pak Harjono di wisma Bidakara, Mampang, Jakarta.

Jam 15.30 shalat berjamaah Ashar dan secepatnya berpakaian, dan jam 15.50 sudah menghidupi motor menunggu siapa yang telah selesai persiapannya untuk berangkat, rencananya berangkat semua, tetapi perubahan mendadak, ibunya tidak ikut, sehingga yang berangkat Saya, Astari Yasin dan Fifi, diputuskan naik motor berempat.

Jam 16.00 keluar dari rumah, kemacetan yang panjang akibat jalan rusak di depan Taman Buah Mekarsari menyebabkan jalanan perlahan, terasa berat motor sebab di naiki berempat, saya berusaha untuk tidak turun ke bahu jalan berupa jalan tanah yang berlubang dan berbatu dan licin sehingga biar antri perlahan berhenti lama asalkan ngak turun saja.

Ada suatu saat saya ingin masuk ke jalan yang peluang kosong satu badan mobil, tapi truk di samping kanan saya menancap gasnya untuk maju, tetapi saya lihat di depan ada mobil pribadi hitam cukup mahal juga ikut masuk, dengan peristiwa mendadak itu ternyata truk yang mengambil jalan saya ngak bisa ngerem saat mobil hitam itu masuk ke jalan raya dan tertobroklan kaca spionnya di depan saya, dari mobil hitam itu keluar banyak ibu- ibu berpenampilan china atau menado atau peranakan lah ada tiga orang dengan berapi- api menerjang pintu truk yang tidak bisa menghindar sebab jalanan macet, entah bagaimana urusannya, saya melihat jalanan di depan sudah kosong saya masuk dan mengejar kemacetan berikutnya.

Sampai juga di perempatan Cileungsi, anak- anak saya turunkan di ujung segitiga pulau jalan dan saya belok kiri mencari tempat dimana motor akan saya parkir.

Ketemu tempat di depan penjual kartu telephon dan dekan musholah pribadi, saya kunci, saya letakan helm dan jiket dan saya tinggalkan motor untuk menemui anak- anak yang sudah berdiri di segitiga pemisah jalan itu, naik angkot 56 tujuan Cawang dimana yasin saya pangku, bukan kerena ia sudah besar dan sudah duduk di kelas tiga SMP tetapi kerena banyaknya penumpang yang akan ke Cawang dan tempat duduk di angkot terbatas sehingga saat Yasin saya pangu dan Fifi di pangku kakaknya Astari member peluang kepada penumpang lain untuk masuk ke angkot, dan langsung penuh, angkot berangkat.

Macet juga terjadi sepanjang jalan sehingga saat matahari terlihat dari celah langit yang terlindung pepohonan sepanjang jalan tol Jakarta Cibubur itu terkuak, matahari sudah pendek di kaki langit barat.

Turun di Cawang sepi bus yang biasanya antri penumpang, apakah kerena ini hari Sabtu, tiba- tiba datang bus 45 tujuan Blok M anak- anak berebut naik dan kosong sehingga dapat tempat duduk, bus berjalan perlahan dan tiba di Bidakara sudah hamper maghrib,

Bidakara itu ada di sebelah kanan jalan sehingga saya minta berhenti di penyebrangan jalan.

Menyebarang lewat jalan penyebrangan, pekerjaan yang satu ini paling tidak di sukai istri, ibunya anak- anak kalau di ajak pergi- pergi.

Setelah sampai di daratan balik arah lagi sebab gedung Bidakara sudah tertiggal di belakang 500 meter.

Memasuki gedung Bidakara yang disasar pertama adalah dimana tempat shalat untuk mengerjakan shalat maghrib, ruapanya di basemen 2, sehingga saya dengan anak- anak menuruni ramp jalanan untuk turun.

Shalat maghrib sudah dikerjakan dan ternyata bajunya Yasinnya hilang, apakah betul hilang, sebab Yasin menjelaskan saat akan berangkat itu secara yakin meletakan kaosnya di dalam gulungan bajunya Fifi, Astari dan Fifi kembali ke kamar belakang dimana ia berganti baju dan ternyata bajunya Yasin tertinggal di sana.

Setelah selesai ganti baju semuanya, siap naik kelantai atas untuk masuk ke gedung bidakara, ruang pertemuan birawa, dari lift saja.

Masuk langsung di loby birawa, dan menuliskan nama untuk masuk ke dalam, di dalam yang luas itu sudah banyak tamu yang masuk.

Jam 19.00 tepat Kemanten memasuki ruangan, dan dilanjutkan dengan antrian member salaman kepada penganten, Cuma perhatian saya ke pada pak Harjono, orang tua penganten, teman di kantor Penataan Ruang, kok hilang sinarnya, apakah ia akan meningal ? pikirku.

Jam 20.30 putuskan untuk pulang keluar dari keramaian memasuki lift untuk menuju ke masjid di basement untuk shalat Isya.

Shalat sudah dikerjakan dan sekarang berjalan berempat di kegelapan malam keluar dari bidakara menuju jalan raya, sempat ketemu pak Direktur Ciptakarya pak Antonius Budhiono.

Begitu sampai ke jalan raya, mobil bus itu berhenti dan berteriak Cawang- cawing, saya dan anak- anak langsung naik, dan sudah berbus ria.

Di Cawang lanjut naik 56, dan kembali bersesak sesakan dan Yasin tetap saya pangku, di luar malam semakin larut..

Di perempatan Cileungsi, saat turun dari angkot 56, mencari motor yang diparkir dengan sabar menanti. Motor seperti ada yang menunggu, dan saya selalu memberi salam kepada si penunggu motor, terima kasih telah menjaganya,

Pulang ke rumah berempat di atas motor di gelap malam dan masuk rumah jam 22.15

Tiada ulasan: