Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Isnin, September 24, 2007

Nurul Arifin

Kamis.6 September 2007.

Pagi hari setelah mengerjakan shalat shubuh langsung mempersiapkan jus sayur, persiapannya bisa memakan waktu 40 menit, dari memotong- motong hingga memeras dan meminumnya, campuran pagi ini : terong ungu, wortel, buncis, tauge, tomat, brokoli, kedondong, dan khusu untuk saya dan ibunya saya tambahi buah mengkudu, setelah meminum sudah diduga, power semakin bertambah, dan langsung mengerjakan cucian baju dua ember.

Jam 07.00 mengantar Yasin terlebih dahulu kemudian balik lagi sebab keberangkatan ke RSCM jam 09.00 nanti.

Keluar dari rumah sekitar jam 09.00 pagi, sasaran pagi ini adalah memenuhi undangan melalui telepon bahwa hari ini pengurus POPTI dilantik, disuruh berbaris di depan dan diperkenalkan kepada undangan RSCM.

Dijalan kecil di sebuah gang di Utan kayu, body motor sebelah kiri terlepas, istirahat sebentar untuk membetulkan, ternyata sekitar dimana saya parkir di gang itu, berbaris ada sepuluh pendorong gerobak sayur, yang mefiniskan jualannya, artinya tempat ini tempat penjualan terakhir.
Susah mencari plastik pengikat, terpaksa penutup body samping saya letakkan begitu saja di jepitan belakang secara bebas.

Setibanya di RSCM poli Thalasemia sekitar jam 10.50. langsung naik ke lantai dua.
Masuk keruang tunggu sementara sebelum acara di mulai, saya bergabung dengan ibu-ibu yayasan Thalasemia, dimana saat saya masuk mereka terlihat sangat rapi, dibandingkan saya yang habis bermotor sejauh 45 km dan membetulkan motor dijalanan, sehingga ada noda hitam di tangan.
Sewaktu saya ditawari makanan tahu di goreng, saya harus minta tisue dahulu untuk memungutnya.

Kemudian mulai berdatangan yang lain termasuk ibu Ruswandi dengan bapaknya, ibu Arifin, ibu Aziz, ibu .... tidak ingat namanya rumahnya di Condet.

Sebelum naik kelantai atas, saya menyempatkan diri untuk memasuki ruang transfusi darah, banyak sekali pasien hari ini, kemudian saya berusaha menyalami satu persatu, dan terakhir agak lama dengan para suster yang merawat, sebab ia juga berceritra jikalau anaknya diterima di UNJ Jakarta.

Saat memasuki ruangan pertemuan, masih kosong, hanya ada tiga orang bapak-bapak dan salah seorangnya saya dekati, ternyata ia adalah teman dekatnya pak Ruswandi.

Namanya pak Cecep Suryadi, panggilannya pak Cecep saja, saya melihat orang ini sudah lama sekali, setiap ada acara POPTI dengan Yayasan, bapak ini selalu datang, tetapi dalam kesempatan ini saya bisa berbicara banyak.
Nurul Arifin memberi uang untuk Tyas UE 50,-
Saya tidak menyangka jikalau Arifin akan duduk di baris kursi didepan saya dan satu kursi dikanannya saya sehingga adalah posisi baik untuk membuka pembicaraan.
Padahal dari tadi saya sudah melihat dia dengan dandanan celana ketat yang memamerkan badannya yang cukup menggairahkan.

Dokter kepala bagian Anak dalam sambutannya mengatakan akan mengenakan tarif paket, untuk rawat jalan sekitar Rp 200 000,- sudah termasuk darah dan tindakan, sedangkan untuk rawat inap mengenakan tarif Rp 3 000 000,- untuk mau dirawat berapa lamapun.

Sambutan ibu Baramuli, sebab ia bisa berdiri sekarang disini sebagai ketua bidang kesehatan di Komisi IX DPR – RI, ia banyak berbicara perihal untuk mempertahankan obat desferal di tangan Askes.


Salam-salaman dengan kerabat RSCM. Dengan dokter Jayadiman Gatot, yang sekarang bergelar Profesor, Guru besar UI, dalam sambutannya ia akan mengabdikan dirinya walau nanti telah pensiun kepada Yayasan Thalasemia.

Antri dengan anak- anak thalasemia yang masuk dalam kelompok PPTI ( Persatuan Penderita Thalasemia Indonesia ) Makan, nasi, soup dan campuran keripik kentang dan daging goreng tipis.

Shalat dlhuhur sudah agak siang, sekitar jam 14.20. diruang shalat yang sangat kecil di POPTI.


Kekantor, diperjalanan terdengar adzan ashar, sudah didepan masjid di kompleks perumahan CPM di Kalibata, tetapi kerena ada tulisan awas sering terjadi kehilangan kendaraan, dan saat itu saya lupa membawa kunci, sehingga ngak jadi, shalat asahrnya dilakukan setibanya di kantor.

Diminta penyusunan Monitoring dan Evaluasi, Evaluasi manfaat.

Shalat maghrib di Pusdiklat sebab air mati. Gardu listri terbakar

Makan malam nasi gurih dengan lauk ayam goreng, berdua dgn pak Budi, kantor sudah sepi hanya Aji saja dengan pak Hardi diruang lain yang terlihat di depan komputer.

Sesampainya di rumah, pasang desferal, saat itu Yasin masih semangat membuat karya kerajinan berupa peta Indonesia dari bahan plsatik yang tergunting, Yasin bertanya bagaimana pak uang uero itu, saya perlihatkan kepadanya, iniloh, rezekynya mbak Tyas, dari Nurul Arifin, kamudulu kan suka nonton filmnya di Dono Kasono Warkop, uangnya kok kecil pak, ternyata setelah saya amati memang uangnya 9 uang kertas uero ) itu agak pendek dibandingkan uang kertas kita.
Kemudian saya ceritrakan juga moment- moment penting selama di RSCM tadi siang sebab istri sangat panasaran, mengapa kok Tyas yang diberi Uero 50, - bagaimana caranya kasi, dan apa alasannya memberi, dan saya tekakkan adalah usaha DPR Komisi IX yang membidangi kesehatan untuk mempertahankan desferal di Askes, sehingga langsung saya ingatkan ke Yasin untuk pasang Desferal.

Selama saya mempersiapkan alat-alat suntik dan pencampur untuk memasang desferal, semalam Yasin menghabiskan 3 vial desferal senilai Rp 396 450,- Ibunya memasukan makanan jely coklat ke mulut saya, sehingga tangan bekerja dan mulut juga makan, waktu sangat singkat, sebab saya takut, ngantuk akan datang.

Tiada ulasan: