Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, April 30, 2009

Pak Piet Futwembun meninggal dunia

Senen, 5 Januari 2009.

Suara bising dari suara golek yang ditanggap tetangga keluarga yang menikahkan, akhirnya mulai berhenti, setelah semalaman membisingkan telinga, tanpa ada masalah, ternyata jam sudah menunjukan 03.30 pagi.

Setelah mengerjakan shalat shubuh, mulai mendiskusikan perihal undangan yang diterima oleh istri, dari kelompok masyarakat lingkungan untuk membuat organisasi Tablik, yang saya ingin tanyakan apakan media tablik yang ada apa kurang, mengapa tidak diperkuat lembaga yang ada.

Saat kekantor, istri ikut ke Cileungsi untuk mengirim uang buat Aswan dan Tyas, berkaitan dengan uang semesteran dan uang hariannya.
Rinciannya sebagai berikut:

Cadangan Aswan sendiri masih ada Rp 700 000,- untuk membayar uang kuliahnya yang Rp 1 300 000, di kumpulkan dari saya Rp 1000 000 dan ibunya Rp 300 000,- sehingga terkirim Rp 1 700 000,-
Sedangkan untuk Tyas, cadangan Tyas dari sepulangnya dari RSCM masih tersisa Rp 400 000,- dan kebutuhan uang kuliahnya rp 600 000,- kemudian uang cadangan Tyas yang saya simpan dalam tas sebanyak Rp 1 000 000,- sehingga untuk Tyas sendiri dikirim Rp 1 400 000,-

Terpikirkan akan membuat Teater di lingkungan Kompleks Perumahan.
Pak Piet Futwembun meninggal dunia, yang datang ke Ambon Maluku adalah pak Saleh Lattuconsina.

Sedikit banyak saya tahu siapa pak Piet Fut Fembun, selama saya di Maluku tahun 1986 hingga 1990 Pak Piat sering membantu Kepala Dinas Pekerjaan Umum Propinsi saat itu pak Saleh Latuconsina, sedangkan sebelumnya sewaktu masih di Cipta Karya, pak Piet bergabung dengan saya membantu pak Sudarta.

Tiada ulasan: