Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Rabu, November 28, 2007

Silaturahmi ke Polsek Cileungsi

Minggu, 14 Oktober 2007

Silaturahmi ke tahanan POLSEK Cileungsi

Hari hampir menjelang shubuh, tetapi yang adzan di masjid masih belum terdengar, sudah tertidur semua orang barangkali, sewaktu memasuki masjid adzan masjid diambil oleh bapak tua. setelah shalat shubuh situasi lingkungan masih sepi, sehingga kaki ini melangkah lurus hingga diujung rumah pak Parman, ternyata di kompleks ini semua orang sudah berangkat mudik.

Setelah shalat dlhuha, sempat menjahit sandal yang hampir putus, dari kemaren menjahit sandal melulu, kemaren menjahit sandalnya Yasin yang dibeli Rp 15 000 dua sandal, jangan ditanya kualitasnya.

Berdua dengan istri kerumah Kiriadi yang sudah ditahan di Polsek Cileungsi, yang menjadi kekhawatiran saya adalah siksaan

Dirumah itu saya dengan istri diterima di luar rumah, sebab saya tidak enak masuk, perasaan saya tdak enak saja.

Dari ceritra istrinya Kiriadi tidak apa-apa.

Jam 09.40 berangkat untuk kunjungan silaturahmi Idul Fitri dengan tujuan ke rumah bapak Iskandar Kamil sang Hakim Agung.

Perjalanan lancar tetapi kerena membawa anak-anak saya memotong lewat pusat kota, berarti lewat senayan, dan sampai di Slipi kemacetan mulai terasa hal itu juga disebabkan kerena sang sopir angkot sengaja tidak memberikan ja;lan buat akngkutan lainnya dengan alasan mencari penumpang.

Setiap melintasi pertigaan di Rawabelong selalu teringat pada Aswan dan Tyas yang kala itu masih kelas 4 dan kelas 2 SD dan sedang juga kunjungan Silaturahmi ke pak Iskandar, ditoko di pertigaan jalan itu berhenti sebentar untuk membeli es krim conelo yang terenak dan termahal, saat itu berempat berjalan kaki dan rumah masih di Ciledug.


Sesampainya di rumah pak Iskandar Kamil, rumah itu masih tetap seperti yang saya lihat pada tahun 1983, setelah memijat tombol bel rumah pak Iskandar terlihat membuka pintu ditemani dengan cucunya dari anaknya Ria.

Anak-anak dan saya sudah tak tahan melihat ada minuman di atas meja ruang tamu pak Is
kerena hausnya maka langsung diminum tanpa sempat pak Is mempersilahkan, kemungkinan hal ini terjadi kerena rumah itu sudah tidak dianggap asing lagi dengan anak- anak.
Memang masuk ke rumah ini sudah jam 12.00 saat makan siang sehingga rasanya belum terlalu lama duduk sudah disuruh untuk makan siang hidangan lebaran, makan siang terdiri dari rendang nomer satu kemudian disusul sayur gule rebung bambu, gule kulit cecek dan opor ayam, untuk opor ayam ini sengaja saya tidak ambil sebab sudah berniat dari rumah untuk merasakan rendang.

Ibu Iskandar kali ini banyak bertanya, sebab hampir 9 tahun setiap saya kesisini ia selalu tidak ada ditempat, dan kalau ditempat ia menyembunyikan dirinya, entah kali ini ia ikut nimbrung dalam pembicaraan.

Ia banyak bertanya dari anak nomer satu Aswan sekarang dimana, anak nomer dua Tyas bagaimana kesulitan darahnya, anak nomer tiga Astari dan nama Astari diulang- ulang hingga tiga kali untuk mengingatkannya, dan nomer empat Yasin yang sekarang ada dihadapannya dan yang nomer lima Fifi yang lagi centilnya mengambil sebutir anggur berwarnah hijau lalu dilepehnya kerena masam.

Kemudian dilanjutkan dengan shalat dhluhur saya berjamaah dengan Yadsin dan Fifi, setelah itu pulang.

Sebelum pulang saya sudah mengontak pak Marzuki usman apakah ia ada di tempat, ternyata jawababnya jauh waktunya saat saya sudah didepan rumahnya ibu Robi, baru ada informasi jikalau pak Marzuki ada di Jambi.

Perjalanan pulang dio niatkan untuk mampir ke rumah pak Ruswandi, ketua POPTI dan sesampainya di rumahnya rumahnya kosong , kemudian motor diarahkan kerumah Ibu Robi Sularto ddi Mampang Prapatan empat, dan sesampainya disana, sudah diringi dengan gonggongan anjing peliharaan ibu Robi, ternyata ibu Robinya keluar rumah bersama Biakto anaknya yang nomer tiga.

Motor menuju pulang dengan menyusuri jalan Buncit raya hingga ketemu jalan Simatupang, hingga pasar Rebo, dan menuju Cibubur dan akhirnya sampai di depan polsek Kepolisian Cileungsi.

Motor diparkir didepan, dikelompok kendaraan roda dua, sementara di teras Polsek sudah berdiri tiga orang polisi yang sedang berbincang dengan rombnongan polisi yang baru datang dengan jip jimnynya.

Fifi sangat takut sewaktu saya gendong menuju ruang tahanan Polsek Cileungsi dimana Kiriadi di tahan, sehingg di sana saya tidak bersa bertahan lama setelah salaman sedang kan istri menyerahkan bawaanya berupa roti dan air minum aqua, lantas permisi minta diri, sedangkan dari balik terali besi banyak orang tahanan yang tengak tengok dengan kepala gundulnya.

Senen, 15 Oktober 2007
Sore hari, setelah shalat ashar, berlari menyusuri jalan di desa Mampir, berlari untuk membakar kalori yang tertimbun kerena manis- manis yang dimakan, lintasan tempat berlari sangat ramai dengan kegiatan manusia yang saling berkunjung dengan mengendarai motor, Saat keringat mengalir, saat darah terpompah dengan meningkatnya kegiatan otot – otot untuk berlari, pikiran ini terasa ringan, berbagai pemikiaran yang masuk antara lain :

1 Tadi siang warga RT yang ada di rumah, yang tidak lagi berkunjung silaturahmi idul fitri, diminta oleh keluarga Kiriadi untuk berkumpul ke rumahnya sekitar jam 13.30 siang
Saya hadir disana kapasitas sebagai warga untuk mendengar apa yang terjadi sekitar penahanan Kiriadi diPolsek Cileungsi, di tempat itu saya lebih banyak berdiam, sebab saya melihat ketua RT yang memimpin pembicaraan tidak memberikan sedikitpun kesempatan saya untuk berbicara, sehingga begitu adzan di masjid tertdengar yang berarti waktu ashar telah tiba, langsung saya minta permisi, untuk shalat berjamaah dengan Yasin, dimana Yasin dirumah masih main komputer.

Setelah selesai shalat ashar saya putusklan untuk berlari membakar kalori.

2. Disaat berlari, saya melihat semangatnya orang- orang yang berbenah untuk mau mengenakan baju baik yang dimilikinya untuk saling berkunjung, disaat itu terpikirkan, mengapa presiden di negara ini kok tidak mau berlari merakyat dan berhamburan dengan masyarakat, mengapa kok masih memisahkan diri dengan mobil bagus, dengan pengawalan ketat, memangnya mempin untuk siapa, rakyatnya senidiri senang dengan apa adanya.

3. Tadi pagi sempat ngirim SMS ke Tyas untuk secepatnya pulang ke Denpasar sebelum terkena kemacetan akibat bersamaannya orang-orang untuk berangkat ke Bali.

Tiada ulasan: