Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Selasa, Disember 28, 2010

Ke rumah Ibu Nini yang masih sakit




Minggu, 19 Desember 2010.

Rumah yang sunyi, kerupuk dan air putih.

Siang hari ini sengaja bermotor dengan istri untuk menjenguk sakitnya Ibu Nini Kusumaatmaja, yang sakit sejak beberapa tahun yang lalu, menurut perkiraan sekarang kondisinya yang sedang bertahan itu pastinya sangat lelah melawan sakitnya.

Sebelumnya sejak pagi tadi sudah bersiap ke pasar, sarapan makan nasi goreng dahulu sebelum berangkat ke pasar, saat makan sarapan itu terdengar nenek yang rumahnya di belakang datang minta buah mengkudu, saya cepat menghentikan makan dan melihat siapa gerangan, ternyata nenek belakang rumah, ia mengeluh sakit ulu hatinya, saya taksir ia terkena hepatitis, saya sarankan sambil mengambilkan daun meniran yang banyak tumbuh depan rumah dan setelah itu nenek itu pulang setelah memngenggam daun meniran cukup banyak, di cuci dan di masak dan airnya di minum ya nek, kataku.
Shalat dlhuha setelah itu berani mengambil posisi berangkat ke pasar, di tengah jalan mampir dahulu untuk mengisi bensin motor senilai Rp 10 000,- ternyata ujung permukaan bensin ngak terlihat ini berarti bensinnya kosong dalam sekali, setibanya di pasar, keadaan pasar cukup sepi, bukan berarti kerena ini hari libur, tetapi lebih banyak di sebabkan naiknya semua barang yang di jual, membelinya bagi sipedagang sudah mahal dan menjualnya si pembeli ngak kuat lagi membeli barang mahal, resiko rusaknya barang kerena ngak laku harus jadi pertimbangan pedagang, sehingga pedagang pagi ini terlihat sepi.

Tomat terbeli dengan harga Rp 11 000 se banyak 3 kg, kemudian terbeli juga wortel, hanya terong ungu yang ngak terbeli, untuk lauknya ada ikan bandeng di cuek dan dan ikan mas yang akan di pepes, dan ada pula tempe serta tahu.

Sepulangnya dari pasar sempat mengisi bensin motor lagi sebab di kantong masih menyisahkan uang belanja Rp 5000,-

Masuk rumah yang di kerjakan dahulu adalah mencuci ikan mas yang darahnya banyak juga, kemudian mempersiapkan bumbunya sementara istri mencari daun, kemudian di presto setelah di tempatkan dalam satu bungkusan daun pisang setiap potong ikan yang ada.

Di susun dalam panci presto dan di atasnya turut di masak untuk mematikan bakteri pasar adalah ikan cuek bandeng.


Tinggalkan sebentar untuk mulai persiapan berangkat ke rumahnya ibu Nini.

Tidak beberapa lama kemudian tekanan uap yang keluar dari panci presto berdesis dengan suara khasnya, tinggal menunggu 10 menit lamanya setelah itu kompor dimatikan, setelah itu sarapan lagi sambil merasakan pepes tahu dengan menggunakan sisa bumbu pepes ikan yang juga cukup enak.

Jam 10.30 berangkat menuju rumahnya ibu Nini, Fifinya menangis merajuk dan menggigit tangan ibunya kerena hendak ikut, setelah di redahkan cukup lama ia akhirnya diam sambil di beri uang sedikit sekali dari ibunya.

Ditengah jalan mengisi bensin untuk motor lagi senilai Rp 7000,- dan tanki penuh, berangkat dengan perlahan saja sebab hari ini untuk Jalan Rasuna Sahid sedang diberlakukan bebas kendaraan bermotor sampai jam 13.00.

Mampir ke Hypermart untuk membeli buah bawaan ke ibu Nini, masuk Hypermart berdua dengan istri, demikian juga memilih buahnya, hanya saja setelah buah di dapat tetapi tempat buah itu yang ngak terbeli sebab wadah untuk tempat buah semuanya mahal juga.

Saat keluar dari Hypermart, saya melihat dua orang laki- laki keluar dari balik kain spanduk yang menyisahkan ruang sempit di belakangnya dan di iringi polisi, saya terkejut sebab saya akan menegur orang itu, saya berfikir pasti habis membayar polisi itu, hal ini cukup baik bagi saya sebab saya setelah itu membalikan motor danmendorong melawan arus berjalan dengan istri untuk mencari jalur jalan yang benar.

Sekilas melihat bus MGI yang di naiki ke Bandung beberapa hari yang lalu bersama istri dan Fifi, saya ngak memperhatikan lama sebab setelah dapat di jalur yang benar saya hidupkan motor dan berkendaraan untuk melawan kemacetan yang cukup panjang.

Masuk ke kompleks Taman Bunga dan Pramuka untuk shalat dzhuhur, setelah itu berangkat lagi menuju Jakarta.

Perjalanan lancar lewat jalan Ciracas Bogor lama, kemudian masuk Celilitan, Cawang dan Mampang, sampai di Rasuna Sahid yang telah di buka larangan berkendaraannya.

Saat itu jalan Rasuna Sahid masih sepi, kemudain memasuki kompleks perumahan menteri di jalan Denpasar, lama ngak kesini pastinya lupa, dan betul juga lupa masuk jalan rumahnya ibu Nini, lapangan tennis yang jadi patokan ngak di jumpa.

Akhirnya setelah keluar lagi dan di ujung jalan itu bertanya betul di sini nanti ada lapangan tenis, polisi yang berpakaian preman itu mengiakan, saya masuk dan berhenti di depan pintu masuknya ibu Nini.

Sementara itu istri mencari duduk di warung yang masih tutup pagi itu di depan rumahnya ibu Nini untuk menyusun buah yang tadi dibeli agar terlihat cantik, wadah yang di gunakan adalah wadah yang dibeli tadi setelah shalat Dzhuhur dan mampir di pasar Cibubur lama seharga Rp 1000,-

Pembantu dan merangkap perawat ibu Nini membuka kan pintu setelah bertanya panjang lebar dan mekonfirmasikan ke dalam untuk meminta persetujuannya di ijinkan masuk atau ngak.

Saat melihat tangga yang terjurai ber susun susun, istri sedikti malas untuk menaiki rumah itu, tetapi saat pintu dibuka oleh perawat ibu Nini mau ngak mau ya ikutan naik dan masuk kerumah.

Diterima di ruang tengah cukup sepi dan terlihat banyak barang yang tak ter urus, koran yang menumpuk bebas. Ya siapa rumah tangga yang sanggup memelihara salah seorang anggotanya yang sakit berkepanjangan.

Terdengar langkah kaki menuruni tangga di belakang saya duduk, saya berbisik ke istri untuk tidak melihat, ternyata pak Sarwono yang muncul dan langsung akrab dan banyak berbicara, sewaktu saya menanyakan nomer Hp ibu Nini yang sudah lama ngak di hubungi itu pak Sarwono mengatakan bahwa Hp itu nomernya masih aktif, say mencoba menghubungi ternyata di jawab oleh ibu Nini yang berada di dalam ruangannya.

Istri saya di ijinkan memasuki ruangan di atas di mana ibu Nini di rawat.sambil di antar oleh sang perawat sakit istrinya menaiki tangga.

Sementara itu di ruang duduk saya berbicara banyak dengan pak Sarwono perihal penyakit jantungnya, perihal rokok dan makanan yang di larang, perihal Golkar sebab ia bekas Sekretaris Jendralnya, perihal Kementerian Kelautan dan Perikanan sebab ia pernah Menterinya dan Kementerian Lingkungan Hidup sebab juga ia pernah menterinya.

Pulang.

Saat istri saya menuruni tangga dan gabung lagi tetapi istri minta pulang saja, dan kahirnya rumah sang bekas menteri itu saya tinggalkan dengan motor saya.

Jalanan cukup sepi, tetapi kendaraan yang melintas cukup kencang, mencari putaran balik, dapat di dekat hotel Four Sesion yang pernah di datangi malam- malam dengan istri saat pertemuan alumni belanda.

Menyusuri jalan Rasuna Sahid kearah Blok M, cukup sepi dan belok kiri saat melintas Cassablangca, masuk kawasan kampung Melayu dan Jatinegara stasiun kereta api, Cawang, Celilitan belok kiri , Halim Perdana Kusuma, Pinang ranti, dan Ciracas, shalat ashar di masjid jin di Kelapa Dua Wetan.

Saat keluar dari Masjid membeli es cincau yang pedagangnya hendak shalat ashar, sewaktu perjalanan pulang masuk Giant Super Market di Kranggan untuk membeli, Jeruk, ikan bandeng, ikan patin, kangkung cabut akar, daging ayam giling, hati ampela ayam, ayam satu bunder bagi dua, gorengan tahu siap makan, roti kortingan 50 % dan biskuit astor kortingan 50 %.

Masuk rumah jam 17.00 basah kuyup sebab terkena hujan, langsung persiapan masak tumis kangkung cabut akar yang di senangi anak- anak, di masak dengan gorengan daging ayam giling dimasak di goreng di atas api panas setelah masak ayamnya, di masukan bumbunya dan terakhir kangkungnya, habis maghrib langsung makan besar kerena enaknya.


Senen, 20 Desember 2010.


Di Kantor dapat dengar jikalau ayahnya pak Parmin meninggal dunia, saya sendiri belum tahu persis. Setelah hampi shalat dzuhur, pak Parmin saya jumpai ia berceritra, jikalau hari Jumat sewaktu pulang sama- sama dari Jogjakarta itu masuk rumah jam 21.00, kemudian esok harinya hari Sabtu dapat berita jikalau ayahnya meninggal, langsung pak Parmin ke Jogjakarta, pemakaman hingga minggu, minggu sore sudah di Jakarta, dan senen hari ini sudah ngator lagi.
Disebabkan tadi pagi di bawain lauk oleh istri sehingga sampai menjelang Adzan Maghrib sempat masak nasi di kantor dan setelah shalat maghrib langsung makan buka puasa, enak sekali.

Jam 20 00 pulang dari kantor.


Selasa, 21 Desember 2010.



Rabu, 22 Desember 2010.



Pagi hari sekitar jam 10.00 sudah ada di Ciputat Sospol UIN yang sedang di bangun oleh PP, tetapi kerena pagi ini pihak PP tidak siap rapat, ia minta rapat besok, padahal saya besok itu ada janji akan datang ke Departemen.

Jam 10.30 sudah di ruang kerja Rehab ruang Pascah Sarjana padahal janjinya kemaren akan kemari jam 16.00 sore, oleh sebab itu saya bilang ngak usah merasa bersalah sebab ada pembatalan rapat dari PP di Sosial Politik UIN.

Saat adzan Dzuhur terdengar kemudian menuju ke Saida Inn di belakang gedung Pascah Sarjana ini sebab di dalam penginapan itu terdapat musholah yang cukup lebarnya untuk menampung 20 orang.

Jalan berdua dengan pengawas lapangan pak Muin ( kalau ngak salah ) ternyata ia adalag orang Bandung yang tidak lagi berumah di Bandung sebab rumahnya di Bogor.

Saat memasuki Saidah Inn, para Satpam di sana sudah mengenal saya dan pak Muin sebab ke tempat ini hanya untuk shalat, dan ternyata di dalam sedang ada pertemuan tahunan yang di selenggarakan partai Politik Bulan Bintang, dan sewaktu akan shalat di musholah di penuhi dengan wajah- wajah orang dari seberang, saat ia akan menghidupkan kipas angin tegak yang berdiri di samping tempat iman berada, saya cegah sebab saya agak masuk angin, ia mau menerima, dan shalat pun berlangsung. Sebab di tempat itu dari sekian banyak orang yang shalat dzuhur hanya saya dan pak Muin yang berbeda baju dan penampilannya, mereka semua orang partai Bulan Bintang.

Kembali lagi ke proyek tetapi saya lanjut ke Laboratorium Psikologi, di sana sudah di siapkan makan siang sebelum rapat di mulai.

Rapat sendiri berjalan lancar dan di setujui pihak pengawas pekerjaan akan melakukan penelitian 100 % pekerjaan nanti tanggal 27 dan akan di rapatkan tanggal 29.

Saya mencoba keluar ruang rapat untuk melihat sesuatu yang saya banggakan di unit pekerjaan ini yaitu membebaskan bangunan dari air genangan hujan, sebab di halaman Laboratorium Psikologi ini tidak ada got nya, sehingga sejak lama saya mendesak untuk di kerjakan pekerjaan menyalurkan genangan air ini ke got seberang jalan, lagi pula jalan di depan ini di sisi yang rapat dengan laboratorium Psikolog tidak ada gotnya padahal gotnya ada di seberang sehingga dari kegiatan ini di siapkan saluran melintas jalan di depannya sebanyak dua unit di sisi kira dan kanan halaman bangunan laboratorium psikologi, semuanya sudah di kerjakan 100 %.

Jam 15.00 rapat berakhir

Pindah rapat ke Rehab Ruang Paskah Sarjana UIN, dan disana sedang menunggu peserta yang akan ikut rapat, ternyata dari pihak UIN sendiri ada mengutus dua orang stafnya yang mengikuti keputusan penting saat rapat hari ini, Sebelum rapat di mulai saat bersamaan utusan dari UIN masuk, terdengar adzan Ashar, saya minta rapat jangan di langsungkan dahulu, kita shalat saja, tetapi saat keluar dari bagunan ternyata di luar sudah ada pak Wakil Rektor bidang ngak tahu saya, yang meminta saya untuk melihat beberapa kerusakan bangunan di Paskah Sarjana di lantai empatnya, padahal saya keluiar dari ruang rapat ini akan shalat ashar, okeylah saya setuju tetapi setelah shalat ashar, dan setelah shalat di lantai empat terlihat suatu penyelesaian pekerjaan yang tidak sempurna. Sehingga melahirkan beban seperti sekarang ini yaitu, retak kontruksi, plapond runtuh, kayu di makan rapap, bocor.

Hari ini keputusan yang cukup strategis itu adalahan:

1. Pekerjaan penambahan daya yang terlihat salah dari pihak Konsultan Perencana ( cacat Perencanaan ) dan dari pihak PLN sudah meninjau bahwa pekerjaan dengan spek gambar dari konsultan perencana tidak bisa di gunakan, kalau di gunakan akan membahayakan pemakai, wujudnya adalah kebakaran, ini bahaya besar bagi perencana, hukumannya konsultan perecana harus dimasukan daftar hitam perencana yang tidak mumpuni.

2. Pekerjaan dalam waktu yang mepet ada indikasi kontraktor utama pemegang kontrak tidak memberikan uang belanja pembeli perlengkapan untuk pekerjaan rehabilitasi sehingga terklihat sedikit tersendat pekerjaan hari ini, untuk itu saya putuskan pihak UIN untuk memanggil pihak kontraktor Utama dan sub Kontrak dan pihak UIN harus di salahkan mengapa memberikan ketulusan soal tagihan uang 100 % padahal pekerjaan belum 100 %. Harus di perkuat dengan jaminan sisa pekerjaan, jaminan penyelesaian pekerjaan dan jaminan perawatan pekerjaan.

3. Terlihat Utusan UIN dalam rapat tidak memberikan pendapat




Kamis, 23 Desember 2010.

Jam 11.00 siang sudah di Tata Bangunan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memenuhi permintaan pak Gunawan sejak kemaren untuk menandatangani berkas, dan setibanya di sana, ternyata pak Gunawan belum datang, di tunggu dahulu sebentar.

Jam 11.45 keluar dari Tata Bangunan setelah urusan selesai, dan pindah ke Penataan Ruang dan Pak Harjono sudah menunggu di ruangan.






Jumat, 24 Desember 2010.




Libur bersama persiapan hari Natal. Di rumah. dan sore setelah shalat Ashar hari berlari, terus berlari, hingga nafas tersenggal, berjalan dan nafas netral lagi berlari lagi melepas energi yang terhimpun. Hari mendung dan akan hujan.



Sabtu, 25 Desember 2010.

Sepenuhnya istirahat di rumah.

Tiada ulasan: