Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Mei 08, 2008

Hotel Borobudur ke dua

Selasa, 15 April 2008.

Pagi ini Fifi bangun tidur saat semuanya akan mengerjakan shalat shubuh, ia sangat terkejut mengetahui jikalau ia telah memiliki sepatu, dan alangka terkejutnya lagi setelah mengetahui sepatu yang kiri bisa menyala, punya sepatu saja sudah syukur e, malahan menyala lagi. Langsung ia berguling diatas tempat tidur dengan sepatu barunya, hal ini sangat persis ia lakukan seperti Naning adik saya sewaktu kecilnya dahulu.

Berangkat kekantor kali ini hanya membekal map, tidak membawa tas kantor, perhitungannya adalah malam ini akan menghadiri Round Table mewakili pak Pardino di hotel Borobudur.
Tiba dikantor jam 08.40, suasana masih sepi tetapi persiapan untuk menyusun film POTI sedang di mantabkan.
Setibanya di kantor sudah sibuk dengan persiapan pekerjaan, tetapi tiba-tiba teman kantor mengingatkan jikalau Saya, Pak Kuat dengan pak Nardi ditugaskan ke Jogja hari Kamis besok untuk menghadiri pembahasan laporan pendahuluan penelitian yang dilakukan Balai Sosek Jogjakarta dan Surabaya.

Sore pun tiba, setelah shalat Ashar saya pamit akan berangkat ke hotel Borobudur untuk mengikuti raound table gempa. Perjalanan bermotor sore ini lancar, berpengalaman kemaren pagi sewaktu ke Hotel Borobudur untuk mengikuti Seminar Gempa yang akhirnya juga di tolak sebab diharuskan membayar, melewati kampung Melayu dihadang macet dimana-mana,sejak Condet, Cawang dan Kampung Melayu, Senen.

Tiba di hotel Borobudur sekitar jam 17.30,langsung memasuki kawasan parkir sepeda motor, cuaca sore,bangunan bertingkat disekitar kawasan Senen menjulang dimana-mana, langit yang memerah menghadapi gelapnya maghrib yang akan datang, untuk mulai mengenal situasi, saya berjalan menuju ke ruang Loby Seminar, dalam langka kaki menuju Loby, melewati area parkir Mobil, saat itu keluar dari mobil seorang wanita dengan dua orang teman kantornya laki-laki, dari cara berbicara dan bertingka kelihatannya jikalau ia orang yang bergerak di sektor jasa keuangan, dan ternyata ia menuju ruangan loby pertemuan,pikiran saya pasti dia adalah panitia penyelenggara round table malam ini.

Gemericik Air ditaman tangga naik Loby pertemuan seminar, disaat hari menjelang sore,
peserta Seminar ada didalam ruangan yang berpintu tebal, saya yang diluar ruang seminar hanya melihat sisa- sisa kegiatan Seminar dan turut dalam seminar itu juga banyak didirikan stand penjualan jasa yang sudah sepi di tinggal penunggu standnya, etrsisi posterdan leaflet yang masih terpasang di panel pameran, belum dibongkar. dari leaflet yangterbaca adalah lingkup jasa yang dipromosikan adalah analisa gempa bangunan bertingkat, jembatan dan penjual buku-buku teknik berkaitan dengan gempa, ada juga stand ITB Bandung dengan panel berisi analisa gempa,yang selalu berkaitan dengan gerakan tanah.

Jembatan terpanjang di Tol yang menghubungkan Cikampek Padalarang dan Bandung telah memanfaatkan kemampuan analisa gempa dari rekan- rekan ITB,

Saya melihat banyak panitia penyelenggara kegiatan yang hanya duduk akan pulang ditandai dengan tas kegiatannya yang telah dikempit untuk mulai pulang.

Tiba-tiba seseorang menyapa saya ternyata ia adalah pak Bambang Thalasemia yang bekerja di PLN, yang baru keluar dari acara penutupan seminar gempa, saya mengisyaratkan kepadanya apakah ia ikut acara round table malam ini, ternyata tidak.
Hari semakin mendekati saat maghrib tiba, para peserta seminar telah berjalan menuruni tangga ke lapangan parkir meninggalkan loby seminar, gemericik air di loby masih mendedangkan nyanyian tetapnya dengan nada-nada lurus tanpa berprasangka.

Bangunan tinggi Hotel Alson dengan tiga puncaknya, mengambang dihamparan langit yang meredup kemerahan ditimpah mendung kelabu sedikit, yang mana hotel itu pernah saya tinggali semalam saat membahas perencanaan bangunan Departemen Kelautan dan Perikanan beberapa tahun yang lalu, hanya map tulis kenangan dari hotel Alson yang kali ini saya bawa juga.

Perkiraan saya adalah hari akan hujan,mendung mulai membanyak, saya kembali kelapangan parkir motor untuk menyelamatkan jiket kain yang tadi sewaktu meninggal kan motor saya sampirkan begitu saja di atas motor, kalau hujan bisa pulang kebasahan nanti malam, suara speaker pengumuman di lapangan parkir, membisingkan suasana sore, yang memanggil para supir, yang beristirahat di cari pemiliknya yang telah tiba dimobil, tanpa dilihat sopir ada di dekat mobil.

Shalat Maghrib telah dikerjakan dimasjid hotel, berdampingan dengan sisi parkir sepeda motor, saya di ijinkan menjadi imam shalat, saat menuju ke loby pertemuan,suasana sudah menggelap, disini ternyata pemandangan dari lapangan parkir menuju tampak belakang hotel sangat jauh dari cantik.

Loby saya masukin dan langsung menuju kamar kecil toilet untuk ganti baju batik yang dibawa dari pagi tadi, setelah berbasuh muka untuk mendapatkan kesegaran langsung ganti baju batik Irian Jaya pemberian pak Mantri 15 tahun yang lalu.

Saya langsung menuju ke tempat acara round table tanpa bertanya saya langsung menghampiri meja yang dijaga serombangan anakmuda berpakaian hitam dan disela warna putih menghis lenganya, kelihatnya sangat formal, cuma dalam hati saya melihat kok agak aneh sebab banyak ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini.

Sewaktu saya menuliskan nama saya saya perhatikan ada seseorang berbisik dengan temannya menanyakan status saya,bapak siapa gerangan, saya tidak perduli,saya cantumkan nama saya di buku tamu dan setelah itu saya diberi tas kertas cukup cantik dengan tulisan City Bank, saya pikir ini pasti pihak sponsor pertemuan, saya masuk dan meletakan tas disalah satu kursi dideret kanan, tas itu bisa menampung baju ganti dan maphitam saya,sehingga saya tidak terlalu sibuk dengan melindungi barang bawaan itu.

Saat saya berdiri untuk mendekati meja sajian makan malam yangsaya perhatikan adalah makanan malam itu sangat aneh,dibuat kecil dan sangat spesifik, tidak saya bayangkan makan malam berbanjir jamuan mewah,mungkin jaman telah berobah.



Setelah tiga kali saya menggilir makan yang saya santap, terasa perut sudah mengisyaratkan berhenti, saat acar dimulai dengan paparan masalah keuangan,saya mulai bertanya mengapa kok bukan gempa, berarti saya salah masuk ruangan.

Thomas sipenerima tamu kehadiran saya pertama kali saya jumpai, Thomas,mungkin saya salah kamar, betul pak jawab sianak muda itu, saya dari tadi berfikir demikian, akhiornya saya diantar keruangan samping u ntukmengikuti raound table sesuai undangan.

Memasuki ruangan ini ya suasananya femiliar sebab banyak orang PU yang datang, bapak Budi yang dari Penelitian Jalan Jembatan yang jumpa dihalaman masjid hari Jumat kemaren, sewaktu saya shalat Jumat dikompleks kantornya Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan Bandung, ada juga diruangan malam ini.

Terlihat para senior akhli gempa seperti bapak Tedy Boun dan bapak Wiratman, disusul dengan spesial gempa dari instansi Meteorologi Dept Perhubungan, Pusat Penelitian PU saja yang diundang 4 pusat, tiga pusat Penelitian di Bandung dan satu Pusat di Jakarta.

Kerena saya sudah mengenyangkan perut di makan malam di ruang Citybank maka di ruangan Roundtable dgempa ini saya hanya makan soup roti saja dengan minuman air putih.

Ada sesuatu yang hampir saja fatal yaitu minum kopi, saat acara round table baru 30 menit berjalan, tiba-tiba layan ruangan menyajikan pilihan kopi atau teh, saya memilih kopi, saat kopi sudah dihirup satu teguk saya merasakan kopi yang nikmatnya sama seperti acara diskusi dengan Duta Besar 10 bulan yang lalu yang membuat jantung saya berdebar serius, kopi sudah terminum untuk menetralisir saya minumair putih sebanyak-banyaknya sampai bebrapa kali saya pergi kekamar kecil saat diskusi round table sedang hangatnya.

Diskusi ini hilang maknanya saat gagal membahas siapa berperan apa, sebab masing-masing Departemen tidak memiliki esselon I yang membidangi gempa, Himbauan Gubernur DKI yang menyarankan pada acar pembukaan seminar kemaren yang saya dengar malam ini bahwa Indonesia dengan 3 lempeng benoa seharusnya bisa melahirkan akhli gempa seperti keahlian orang Jepang yang banyak melahirkan orang-orang berkeahlian gempa tingkat dunia.

Jam semakin larut, pembicaraan berkutat pada penyelenggaraan kegiatan di Beijing tahun ini, dimana penyelenggaraan beberapa hari terlebih dahulu sebelum olimpiade Beijing dimulai. Kegiatan penyelenggaraan Gempa tingkat Internasional ini mempunyai putaran 4 tahunan sama seperti penyelenggaraan Olimpiade.

Jam 21.50 acara ditutup dengan sambutan singkat untuk akan diteruskan dalam diskusi mailing list di daftar E-mail yang telah didaftarkan.

Saya keluar dari ruangan pertemuan dimana diluar di loby hotel sudah sangat sepi, dan diruang besar sedang disiapkan suatu persiapan acara wisuda perguruan tinggi yang akan diselenggarakan besoknya.

Bermotor diwaktu malam kendaraan berlaju kencang, tinggal motor saya yang tidak bisa berjalan cepat. setibanya dipasar Kramat Jati terlihat pedagang ikan yang menggairahkan rasa, saya teringat pada Fifi anak yang nomer 5 yang selalu ingin Cumi, saya memilih cumi-cumi yang besar yang seukuran 150 gram keatas, Rp 30 000,- dapat 1 ½ kg dengan isinya 10 biji.

Masuk rumah jam 23.30 malam.

Tiada ulasan: