Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Mei 07, 2009

Berangkat ke Palangkaraya

Senen, 2 Maret 2009.

Pulang hingga agak lama sebab uang jalan untuk pemberangkatan ke Palangkaraya besok baru keluar jam 18.30




Selasa, 3 Maret 2009.


Berangkat ke Palangkaraya dibawa stress, sebab baru tahu jikalau uang cadangan emergency cost untuk sewaktu waktu masuk ke rumah sakit hilang separuhnya, saya mencadangkan sebanyak 2 juta dan diambil sejutanya, siapa yang ngak stress, tetapi herannya mengapa tidak diambil semuanya, mengapa dia ambil separuhnya, Shalat shubuh dilakukan , persiapan pakaian , belum sempat sarapan, mengendari motor menuju terminal kampung rambutan.

Sesampainya di Kampung Rambutan sekitar jam 06.00, langsung menitipkan motor dengan membayar Rp 15 000,- kemudian berjalan kaki menuju bus damri bandara yag sudah menunggu, di saat kendaraanmulai berangkat terasa ngantuk menyengat, dan akhirnya tertidur pagi itu.

Saat bus sudah memasuki kawasan UKI Cawang, kepala terasa dingin, dan perut mulai mendidih, gawat, ini tanda- tanda sakit, secepatnya membungkus kepala dengan handuk, dan memang handuk saya taruh diatas paling muda di ambil, saya kerudungkan kepala dengan handuk, agar sergapan udara AC bus tidak langsung menterang kepala, kemudian secepatnya makan nasi sesuap- demi sesuap, saat makan terasa akan untah, tetapi nasi harus di makan.

Jam 07.30 sudah memasuki kawasan Sudiatmo, jalan toll menuju bandara yang baru diperbaiki. Saat akan turun dari bus saya bisa memakan semua nasi yang jumlahnya sedikit diatas tempat nasi yang dibawa dari rumah, dan badan terasa hangat lagi, saat turun di bus Bandara badan sudah enak.

di Airport ada ibu- ibu dengan seorang adiknya, membawa barang cukup banyak, saya teringat sewaktu masih di Jayapaura Oktober 1993, akan pindahan ke Jakarta menggunakan pesawat Simpati air line, membawa barang banyak saya mengumpulkna tiket sampai enpat tiket dan dijijnkan membawa barang 120 kg, berarrti semua barang pindahan saya terbawa semua, saya mau membantu ibu itu dengan memberikan tiket saya sebagai grup mereka, ibu itu menyerahkan tiga tikat sehingga barang yang bisa di bawa 60 kg.

Airport tax masih seharga Rp 30 000,-

Pagi masih terasa lenggang, ruang tunggu masih kosong, langsung turun ke bawah ke musholah mengerjakan sholat Dlhuha, bandara ini usia nya sudah tua, tetapi masih cukup layak, dan seharusnya difikirkan untuk perluasan.

Waktu nunggu yang agak lama ini sempat memakan kue pai buatan istri yang sengaja dipersiapkan untuk pemberangkatan hari ini.

Pesawat berangkat tepat waktu, dan ternyata di dalam pesawat diberi makanan ringan dengan minuman, dan di dalam pesawat seperti pasar sebab para pramugari bertugas juga sebaia penjual produk penerbangan sriwijaya airline, juga cedera mata dan kain-kain.

Di bawah terlihat hamparan laut membiru, lautan yang memisahkan pulau Jawa dengan daratan Kalimantan, awan putih menggumpal terbayang diwah, membatasi pandangan, akhirnya daratan Kalimantan terlihat dari ketinggian, hamparan hijau dengan hutan yang masih gelap, tetapi di banyak tempat sudah terlihat hutan yang di tebang habis.

Disela-sela hijau lebatnya dedaunan terlihat sesuatu yang mengkilap, berarti itu air, berarti jga hutang dengan rawa- rawa.

Pesawat mendarat di Palangkaraya, langsung naik taksi seharga Rp 60 000 ke pusat kota.

Turun langsung di Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Tengah, dan menjumpai ibu sekretaris Ibu Yustisia, sebab yang lain sedang ke Jakarta.
Kemudian saat ibu sekretrais dinas Pekerjaan umum memperkenalkan sekretaris Cipta Karya ternyata orang itu adalah Made Gerane, adik kelas yang sudah dua puluh tahun lebih ngak pernah ketemu.

Shalat Dlhuhur di musholah Dinas Pekerjaan Umum Propinsi.

Jumpa dengan Kasubdis Cipta Karya bapak Rangkap yang baru sembuh dari sakit stroke.

Siang sudah lewat Makan siang di depan kantor, makan nasi rames berkuah ayam opor yang cukup liat, ternyata Made Gerane ini sudah lama menerapkan hidup vegetarian, dan sekarang badanya Made Gerane masih kecil saja seperti dulu.

Meninjau sedikit revitalisasi kawasan di jalan Kalimantan, perkampungan di dalam kota Palangkaraya dengan gang terbuat dari papan yang di hamparkan, masjid juga dari kayu, sungai Kahayan di sisi kiri ramai dengan angkutan kapal barang.

Sehabis shalat menikmati panorama sungai Kahayan diatas geladak dermaga polisi air, ceritra polisi muda itu bahwa disini banyak ditangkap kayu-kayu liar.

Kemudian meninjau usaha pemerintah dinas Pekerjaan Umum untuk me revitalisasi kawasan pinggiran sungai yang gagal, sebab kurang memperhatikan aspirasi masyarakat, dan sekarang saat masyarakat sendiri ditanya malahan ia lebih banyak membutuhkan penerangan jalan.

Beberapa kali shoot tustel pinjeman dari kantor malahan ngak bisa sebab memaorinya ngak ada.

Mencari hotel, dimasukin pertama hotel Funi bergaya china seperti sewaktu ke gorontalo ternyata penuh, kemudian memasuki hotel Batu Suli pilihan terakhir sebab hotel ini milik pensiunan pejabat PU.

Didalam yang sejuk kerena udara AC membuat ngantuk seluruh badan akhirnya tertidur, sadar saat menjelang maghrib.

Mencoba mencari masjid, keluar dari halaman hotel dan ada tanda sebuah masjid langsung menuju ke sana, suatu masjid yang banyak didatangi oleh suku bangsa Jawa, sebab yang dari Jawa langsung ke sana untuk mencari segala sesuatunya, dari mencari erja bagi yang baru datang hingga seorang bos kecil yang mencari pembantu usaha.

Untuk mempercepat tidur berikutnya, sekarang olah raga naik turun kursi di dalam ruangan, setelah keringat mengalir dengan deras kemudian masuk ketempat tidur untuk tidur lagi.

Tiada ulasan: