Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Rabu, Ogos 23, 2006

Berangkat ke NTB

Sabtu, 22 Juli 2006


Persiapan Berangkat ke Mataram


Sehabis shalat shubuh, kepasar dengan istri, saya tertarik untuk memeblikan pisang ambon mentah untuk anak-anak empat sisir Rp 5000,- ayam satu kilogram dan daun jambu mente, sedangkan keperluan lain istri yang membeli.
Sesampainya dirumah, makan pagi masakan kemaren yang masih ada, kemudian lanjut dengan shalat dlhuha, setelah itu tidur.

Jam 11.00 bangun dan langsung mempersiapkan baju-baju yang akan dibawa, keluar dari rumah jam 13.40

Dugaan macet di depan citra garment, ternyata lancar, tidak banyak kendaraan di jalan dihari ini, setibanya di Cileungsi langsung naik angkot 121 menuju terminal Kp Rambutan, perjalanan lancar, begitu sampai disana langsung naik bus bandara tepat jam 14.34.

Bus bandara keluar dari terminal Kp Rambutan jam 15.00.memasuki bandara macet sejak di pintu keluar tol Sudiatmo.

Memasuki bandara jam 16.20

Memasuki anjungan keluar A1 jam 16.40, langsung shalat Ashar disana, keadaan bandara masih sepi, hanya penumpang menuju Pekanbaru terlihat ramai.
Terlihat pekerja TKI yang orang Lombok asli baru pulang dari Arab Saudi, ia sibuk dengan segala teknologi komunikasi yang baru dibawanya, hanya kekurangannya adalah rasa gembira akan terbang ke Mataram untuk memberitahukan kepada sanak keluarganya untuk menjemput di Bandara Selaparang Lombok, disuarakan dengan bahasa sasak dengan suara keras, sehingga mengundang perhatian orang yang menunggu pesawat.

Pikiran saya, bagaimana orang tidak akan menipu mereka, padahal mereka sendiri yang memperlihatkan diri bahwa saya baru pulang dari luar negeri dan penuh membawa oleh-oleh teknologi.

Saya masih menikmati kesejukan udara sore, tetapi kesejukan udara buatan sambil melihat kesibukan sore hari, menjelang matahari turun.
Udara sejuk ini sangat aspiratif untuk membangkitkan sel – sel otak untuk berfikir lebih, kaca tembus pandang yang mengitari ruangan terlihat kesibukan penerbangan sore, tidak biasanya saya menikmati sore, sangat damai menjelang maghrib.
Saya ingat, kalau saya ini dibawain nasi dan sayur dari rumah, dan memang penumpang belum terlihat ramai. Saya ke bangku belakang pojok dan mulai membuka tas plastik.
Cukup enak, sayur sawi hijau, lauk ayam, kerupuk melinjo.
Maghrib pun datang, saya bergegas turun kebawah untuk mengerjakan shalat maghrib, setelah shalat naik lagi ketempat duduk yang tadi.
Tidak beberapa lama pak Edi teman kantor yang berangkat bersama- sama ke Mataram telah datang juga, pesawat yang berangkat jam 19.00 di undur menjadi jam 22.30 malam.
Udara dingin menguras energi sehingga lapar pun datang, untungnya pihak maskapai penerbangan memberikan nasi ayam kentuky dan air minum, didalam ruang tunggu ini saya telah makan dua kali.
Jam 22.30 pun tiba, semua penumpang naik ke pesawat lion air, penumpang banyak, dan setiap tempat duduk terisi penuh.
Selama penerbang saya tidak enak, kerena dingin menyiksa, di pesawat sempat juga pergi kekamar kecil.
Sampai di Mataram jam 00.30, sudah dijemput dengan LSM di Mataram, diantar ke hotel Mataram dan masuk kamar no 14.
Hotel seperti hotel lama periode arsitektur tahun 1970 an di Bali, setelah meletakan tas dan mengunci kembali kamar, keluar mencari nasi plecing di tengah malam di depan hotel, menyebrang sedikit.
Ayam taliwang yang dimakan kurang berkesan, sambalnya hanya kerena pedisnya aja, ayam taliwang ini sangat berbeda dengan sewaktu saya kecil dahulu.
Masuk hotel lagi jam 02.00, langsung shalat Isya dan tidur.

Tiada ulasan: