Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Rabu, Ogos 23, 2006

di desa Akar- Akar, NTB

Minggu, 23 Juli 2006

Lauk Ikan Bakar

Jam 04.50 keluar dari hotel, suara adzan yang terdengar di telinga membangunkan saya, saya berusaha mencari dimana sumber suara adzan itu, dijalan di depan hotel Mataram pagi itu Sangat banyak masyarakat kota yang berjalan-jalan pagi. Ada juga yang berlari-lari.
Lampu jalanan sangat memadai terangnya sehingga tidak terasa jikalau kota ini jauh dari Jakarta.
Kemudian terlihat kuba masjid dan saya menuju kesana menyebrang jalan dan berjalan memasuki jalan lebih kecil.
Masjid itu cukup besarnya, setelah shalat bersilaturahmi dengan jemaah masjid, sempat juga membicarakan Hakim Agung yang baru-baru ini berkunjung ke Mataram yaitu bapak Iskandar Kamil, kemudian soal Islam, Haji dan Akhirat.
Jam 07.00 mobil yang semalam dipakai menjemput sekarang datang untuk menjemput berangkat ke desa Akar- akar, Bayan.
Sebelum keluar kota sempat cari ticket untuk pulang besok ke Jakarta.
Pagi itu badan sangat ngantuk, sehingga tertidur lelap.

agak mulai sadar sewaktu mobil yang dinaiki berjalan berkelok- kelok di desa pusuk, jalan mendaki dan sempit.

Sesampainya di Desa Pamenang, bangun dan badan terasa lapar, saya usul untuk mencari makan pagi dulu, makan sarapan di hotel dengan sebilah roti dibakar sangat kurang rupanya.
Makan pagi dengan lauk ikan bakar cukup besar, sehingga energi bertambah pagi ini, langsung berangkat ke desa Akar-akar.
Jam 11.00 sampai di Desa Akar-akar dan sudah ditunggu dengan kepala dusun di sana.
Acara pertama saya memberi kata sambutan kepada mereka dalam acara non formal di kantor kepala desa.
Setelah satu jam disana sambil tanya jawab program, perjalanan dilanjutkan kepedalaman desa Akar-akar, sambil dipandu dengan para kepala dusun yang belasan orang banyaknya bermotor didepan.
Memasuki perkebunan pak Wilie, Pak Wilie ini adalah orang keturunan Jerman yang semasa kecilnya ia dan keluarganya ditangkap oleh Belanda dan Jepang dan kemudian dipungut oleh orang Cina dan dibesarkan dan menjadi orang.
Pak Wilie ini ada memanfaatkan lahan kering yang disirami pompa semprot springkle bantuan PU yang masih ada, ternyata untuk wilayah desa Akar-akar sudah ada sumur pompa sebanyak 25 unit dan yang masih aktif hanya 5 unit. Kalau ada kerusakan penduduk tidak boleh memperbaiki.
Shalat dhzuhur di kebun pak Wilie, setelah mandi tanpa berhanduk, sebab udara cukup dingin dan humiditinya rendah sehingga badan cepat kering.
Diajak makan siang bersama-sama pak Wilie, dengan lauk udang, cumi, sayur oyong di bening.
Peninjauan ke lapangan dilanjutkan dan memasuki salah satu dusun, bau kotoran manusia menyebar terasa di hidung, rumah gelap, hanya terisi dapur utama dan lumbung padi, rumah berindikasi bahaya pnomia.
Jam 14.30 meninggalkan desa Akar-akar, kepayahan sudah menyerang dan kantuk pun menguasai.
Shalat Ashar di salah satu masjid di desa Pamenang, melewati hutan yang banyak kera nya berhenti sebentar memberi makan pisang kera- kera disana.

Memasuki pintu kota Mataram, dihadang oleh arak – arakan penganten adat Sasak, terlihat calon penganten dan keluarganya dinaikan diatas usungan dan ditandu oleh empat orang berpakaian hitam-hitam dengan berdesat di kepalanya.
Iringan itu diramaikan dengan gamelan yang bersuasana gembira, gamelan bali.
Menjelang maghrib memasuki hotel, sebelumnya sempat mencari rumah kediaman mantan Gubernur NTB Bapak Gatot Suherman, tapi nihil.

Sewaktu mengambil tiket penerbangan Lion Air untuk pemberangkatan besok pagi, harga tiket sudah turun, seharga empat ratus tujuh puluh sembilan ribu, sebab harga tadi pagi sebelum berangkat ke desa Akar-akar tiket masih seharga tujuh ratus ribu rupiah, ini berarti selisih harga tiket akan dibelikan sepenuhnya oleh-oleh buat istri.
Membeli oleh-oleh buat istri dengan pedagang asong didepan hotel yaitu kain songket Sasak dan hiasan bros dada dari mutiara, dan anting, kalung dan cincin mutiara Lambok, entas kualitasnya baik atau buruk.
Shalat maghrib di hotel, air sudah berjalan lancar, tadi pagi macet, setelah shalat maghrib nelpon ke mas Asmono, kakaknya mas Ajar Sanjoyo. Ia Doketr di sini.

Mas Asmono datang bersama istri dan Anak gadisnya dan langsung diajak makan malam disalah satu restoran, mas Asmono sempat berceritra jikalau tiga bulan lagi akan pensiun.

Sekeluarnya dari restoran itu, berangkat ke rumahnya Arief, juga dokter bedah di Mataram dan baru pindah dari Medan, 3 minggu yang lalu.

Cari Wartel yang masih buka, saat itu jam sudah menunjukan pukul 22.30 malam, ternyata ada wartel di sisi kanan mal Mataram dan menelpon ke Jakarta untuk mengabari jikalau besok pagi akan pulang.

Sesampainya di hotel lagi ternyata mas Asmono sempat membelikan oleh-oleh untuk anak-anak dirumah berupa kacang bali 800 gram dan kacang mente mentah setengah kilo.

Tiada ulasan: