Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Rabu, Ogos 23, 2006

Pulang dari NTB

Senen, 24 Juli 2006


Pagi masih sepi, jam masih menunjukan jam 03.45, terasa masih kantuk sebab masuk tidur jam 23.30.

Ruangan hotel Mataram yang ditiduri malam ke dua masih seperti biasanya hotel bergaya Bali jaman saya kecil dahulu, apalagi yang punya orang Bali, dan banyak pegawainya orang Bali.

Shalat Tahajud kemudian mandi air panas dan angkat tas yang isinya pakaian sedikit, oleh-oleh kacang rahayu dan kacang mente dari mas Asmono juga kain sasak dengan perhiasannya sudah mulai dimasukan dalam tas plastik, sebab tas utama terlalu kecil.

Jam 04.10 keluar dari kamar membangunkan bagian dapur untuk mempersiapkan sarapan kerena akan ke airport pagi-pagi.

Jam 04.40 sarapan sudah datang berupa roti bakar setangkup isi mentega dan jam buah, dan kopi hangat se cangkir kecil, makan sarapan bersama pak Edi.

Tiba-tiba ada tamu juga yang lewat dan hendak ke Bandara, ternyata ia akan berangkat ke Surabaya pagi ini juga.

Jam 04.57 sudah keluar dari Hotel bersama pak Edi, mobil jemputan sudah siap
Langsung ke Airport membela kesunyian kota mataram pagi itu.

Hampir terjadi kecelakaan, saat mobil yang membawa saya dengan pak Edi melaju kencang, diperempatan di suatu perempatan yang banyak di jalan Udayana, ada motor yang memotong dari jalan lain, untung ia mengerem dan mobil pun terkejut, tapi terkendali.

Masuk terminal tepat jam 05.10, Pengurusan chek in tiket dibantu pak Fred orang yang membawa mobil dan saya dan pak Edi pergi ke masjid diujung terminal untuk mengerjakan shalat shubuh.

Masuk ruangan jam 05.30, sementara pak Edi yang akan berangkat ke Kupang nanti jam 08.00 berpisah dengan saya di pintu masuk, untuk jumpah lagi dikantor Jakarta.

Ruangan tunggu terminal Seleparang pagi itu sangat sibuk, sebab ada dua penerbangan pada waktu yang tidak terlalu jauh, yaitu penerbang Lion ke Jakarta dan Lion ke Surabaya.

Terdengar para penumpang tujuan Surabaya dipersilahkan memasuki pintu keluar berjalan kaki menuju pesawat yang diparkir, tidak beberapa lama penumpang menuju Jakarta dipanggil dan berangkat dari pintu yang sama menuju pesawat yang diparkir berdampingan dengan pesawat yang akan berangkat ke Surabaya.

Menaiki pesawat dengan perasaan dingin, angin bertiup sangat terasa membawa udara dingin, langsung mencari tempat duduk nomer 22 E, dibelakang.

Bersama berangkat terlihat wajah pak Budi Pimpro P2AT Lombok yang mempunyai tugas membangun sumur di desa Akar-akar. Ia hendak ke Bandung rupanya

Tepat jam 07.00 pesawat Lion Air tujuan Jakarta berangkat, pemandangan terhampar pantai Ampenan, kemudian lautan selat lombok, tidak beberapa lama terlihat dibagian depan Gunung Agung Bali di Kabupaten Karangasem.

Pesawat mendekat dan terlihat sisi Gunung Agung dari arah timur, utara dan begitu sunyinya hamparan Gunung Agung di sisi utara hingga ke pantai, sangat sedikit permukiman yang terlihat, pesawat terbang terus ke barat tiba-tiba sudah sampai diujung barat P Bali yaitu Gilimanuk, terlihat gili terawangan dan selat Bali yang sempit yang memisahkan pulau Jawa dan Bali, kemudian memasuki dataran Banyuwangi dengan gunung merapinya, Pulau jawa terlihat besar, datarannya tak henti-hentinya sambung menyambung dengan bukit dan gunung, penat istirahat.

Mendarat di Terminal Cengkareng jam 08.30, masih pagi waktu Jakarta, terlihat banyak pegawai penerbangan yang baru datang.

Naik Bus Bandara menuju Kampung Rambutan, sepanjang jalan di telepon dari rumah sudah dimana posisi sekarang, ya, Terminal kampung rambutan aja belum dicapai.

Setibanya di Kp Rambutan, naik angkot 121 ke Cileungsi, dan setibanya di Cileungsi pindah bus naik jurusan Jonggol, turun di depan sekolahnya Astari, ternyata Astari belum masuk, ia minta uang saku, saya berikan juga bersama untuk Yasin, saya pulang berjalan kaki dari sekolahannya Astari, lewat kampung sambil melihat kehidupan pagi ini.

Tiada ulasan: