Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Selasa, Julai 31, 2007

ke Bandung naik Truk Susu

Kamis, 28 Juni 2007.

Hp berdering keras sebab sengaja disetel jam 00.30 untuk mulai persiapan pemberangkatan ke Bandung, yang dikerjakan terlebih dahulu adalah mengerjakan shalat dua rakaat untuk menangkap Nur Ilahi sebab perjalanan membawa anak- anak dan istri dimalam hari ke Bandung pasti banyak susahnya, hal ini kalau tidak sepenuhnya ditolong oleh Allah pasti tidak berhasil.

Membangunkan Yasin sangat susah dan sewaktu saya fonis kalau begitu YAsin dirumah bersama Mama dan Fifi, serentak mereka bangun untuk ikut.

Harus makan nasi terlebih dahulu, sedikit boleh sebab ancamannya adalah masuk angin.

Perjalanan malam dimulai, Fifi sepanjang jalan terus minta digendong, menggendong Fifi sambil membawa tas pakaian dan tas dakumen kantor sangat berat, sehingga baru berjalan seratus meter Fifi sudah harus diturunkan.

Penjaga malam diujung jalan kompleks perumahan itu masih duduk dengan teman nya, mereka menyapa kemana pak, saya menjawab mau ke Bandung, wah pagi sekali, ya sebab jam mulai rapat jam 10 pagi.

Memasuki jalan desa saya melihat kebelakang ibunya dan Yasin berjalan perlahan- lahan kerena ngantuknya.

Sampai diujung jalan di perempatan Gandoang, hanya ada dua orang pengojek yang masih terjaga. Mereka menanyakan juga hendak kemana, saya menjawab mau ke Bandung, dan mereka menjawab tunggu disini pak, naik mobil tangki susu aja pak, saya menjawab mengiyakan, sebab kalau mau ke terminal, terminal Bogor, atau terminal Kampung Rambutan atau Terminal Bekasi atau Terminal Pulo Gadung, semuanya belum ada kendaraan penghubungnya sepagi ini.

Banyak kendaraan yang saya stop tetapi mereka semuanya tidak mau berhenti sebab pertama mereka bukan kendaraan jarak jauh, ada sih kendaraan semen saya stop juga, hal ini disebabkan lebih banyak saya tidak bisa membedakan dari arah depan mana mobil pengangkut susu yang hendak pulang ke Bandung atau mobil pengangkut barang lainnya, sebab gelapnya malam dan sorot lampu kendaraan.

Setelah berkali- kali menyetop akhirnya bentuk kendaraan tangki itu dating dan ia mau berhenti sewaktu mau disetop, saat itu saya berteriak Bandung- bandung, menyebut kota tujuan, kemudian naiklah pertama Fifi, kemudian Ibunya dan Yasin dan terakhir saya.
Susunan duduk adalah yang paling kanan adalah sopir tangki susu, kemudian istri sambil memangku FIfi, kemudian saya sambil memangku Yasin, kemudian salah seorang penumpang pegawai KUD peternak Susu Ujung Berung Bandung Timur
Dan ternyata dibelakang duduk juga dua orang penumpang yang tidak diketahui keberakangkatannya hendak kemana, yang jelas pasti semuanya ke Bnadung sebab mobil tangki ini hanya sebatas Ujung Berung Bandung.

Sepanjang perjalanan saya berbincang- bincang dengan bapak di sisi kiri saya yang ia orang KUD Ujung Berung, yang dibahas permasalahan harga susu yang dari ke hari cenderung naik, dan kegembiraan semua peternak susu bahwa kehidupannya sekarang semakin baik dengan bisa menyekolahkan anak- anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Akhirnya banyak belokan yang dilewati, banyak jalan rusak yang dilintasi, banyak lampu sepanjang jalan yang ngak lagi dihitung banyaknya, Yasin dan Fifi tertidur, demikian juga istri yang tidur sambil duduk, dan sepagi ini kota Bandung pun sudah dicapai.

Adzan shubuh sesayup terdengar sewaktu mobil tangki menurunkan saya dengan anak- anak di depan kantor bersama di daerah Buah Batu, suasana gelap masih menyelimut, setelah membayar dengan bapak sopir tangki, mobil saya lihat berjalan lurus menembus lampu lalu lintas yang sudah berwarna hijau.

Saya berjalan bersama anak- anak untuk mencari musholah atau masjid terdekat, sewaktu beberapa angkot Bandung yang dating mendekat dan menanyakan hendak kemana tujuan yang saya kehendaki, saya jawab ke Masjid, saya belum shalat Shubuh.

Mobil angkot itu berjalan lagi sambil berhenti untuk beberapa menit menaikan penumpang. Kemudian salah seorang penumpang di angkot itu menunjukan gang didepan ada masjidnya, saya dengan anak- ana memasuki gang itu dan menuju masjid, dari kejauhan dan dari balik bayangan pepohonan besar menghitam gelap pagi, terlihat kuba masjid mencuat.

Didalam masjid masih terdapat dua orang yang sedang mengerjakan shalat, masjid itu sangat kecil, pasti ini musholah namanya, sebab tidak digunakan untuk shalat Jumat.
Memasuki ruang peturasan untuk membuang air kecil dan bentuk tempat wudhu yang hanya dua keran wudhu, dan air yang terasa zat besi, dengan paparan warna kuning ke bekaratan warna besi menyebar dinding porselen, persiapan shalat dimulai.

Setelah semuanya shalat kecuali Fifi yang masih kecil dan suka menolak kalau diajak shalat, kemudian berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju Ciumbeliut.

Ternyata sesampainya diujung gang, kendaraan yang parker disitu ada juga angkot yang bertujuan ke ledeng dan sesampainya disana nyambung ke Ciumbeliut.

Sepanjang jalan udara dingin kota Bandung sepagi ini mengehmbus kencang, anak- anak bisa merasakan inilah udara kota Bandung, kalau pagi terasa dingin. Tiba- tiba penumpang bapak tua yang duduk didepan berceritra ke bapak sopir angkot menceritrakan tujuannnya pagi ini yaiotu hendak ke RS Hasan Sadikin untuk memeriksakan Tekanan Darah Tingginya, ternyata ia tinggal di Ciwastra, mendengar nama Ciwastra saya teringat kepada mertuanya Paklik Slamet, kemudian saya masuk ikut ke pembicaraannya untuk mencoba mengetahui apakah ia kenal dengan bakak hanji Sofyan mertuanya Pak Lin Slamet, ternyata ia kenal dan bertetangga dua rumah, kemudian ia menegaskan jikalau mengenal juga siapa itu Pak Slamet paman saya, kerena ia banyak tahu dan ingin tahu suiapan saya kemudian ia mengulurkan tangannya dan salaman sambil menyebut nama saya kemudian ia mengatakan hendak menyampaikan titipan salam saya kepada pak Sofyan.

Tidak beberapa lama ia terlihat turun, dan saya masih berkendaraan angkot tersebut sampai suatu saat angkot itu menyalip angkot dari arah Stasiun Hall menuju Ciumbeliut.
Nah angkot itu menjadi angkot sambungan untuk menuju ciumbliut.

Setelah membayar kemudian pindah angkot, kemudian angkot itu terlihat memasuki jalan yang mendaki, dan terasa bahwa angkot ini menuju ke kawasan yang meninggi.

Sesampainya di kawasan Ciumbeliut, ia menurunkan saya dibelaknag komplek Wisma Cipendawa agar dekat pencapaiannya, katanya.

Perjalanan selanjutnya dilakukan berjalan kaki memasuki gang sempit, berdampingan dengan sekolah perawat RS Angkatan Udara, milik TNI AU, dan memasuki kompleks Wisma Pendawa, suasana nya sangat sepi, nama- nama wisma terbaca dengan huruf yang dibuat besar-besar, ada nama wisma Bima, wisma Arjuna, Wisma Arimbi, Wisma Gatokaca, semuanya mengambil dari nama- nama tokoh wayang.

Setelah melapor ke pegawai Wisma dan kemudian diajak menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan, kamar itu ber tempat tidur sebanyak 4 buah, kemudian TV dinyalakan dengan anak-anak kemudian Yasin dan Fifi naik ketempat tidur untuk melanjutkan kantuknya, saya secepatnya mengerjakan shalat Dlhuha untuk mensyukuri kelancaran yang saya alami hingga anak- anak bisa mendarat dengan dengan tenang di tempat tidur.

Acara pembahasan Penetapan Kegiatan dimulai jam 10.35, terlambat 35 menit dari jadwal yang direncanakan.

Acara dihadiri masing- masing 4 orang dari Pus Air, Pus Jalan Jembatan, Pus Permukiman, Pubangranmas, 8 dari Litbang PU.

Adalah Pola penyusunan Lakip dan Penetapan Kinerja yang baru untuk tahun 2008.

Sekitar jam 21.00, saya sempatkan memasang desferal pada perutnya Yasin untuk mengambilm zat besi yang mengendap akibat transfusi darah terus menerus.



Acara ini berakhir hingga jam 23.00 malam, banyak peserta yang langsung pulang, ngak mau tinggal.

Tiada ulasan: