Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Selasa, Julai 31, 2007

Mengantar adik Ipar

Jumat, 20 Juli 2007.

Blogger yang tertunda

Masih di Banda Aceh.

Berburu tikus dikegelapan

Sudah masuk tidur semalam di penginapan PU memang sudah agak cepat, sehingga sewaktu lampu mati akibat pemadaman listri di Banda Aceh jam 01.00 masih terasa, kerena udara terasa panas saya membuka pintu kamar, tetapi setelah pintu kamar terbuka tikus curut yang masuk, ia mengeluarkan bau yang sangat tidak enak, penerangan yang sangat sederhana saya harapkan dari penerangan lumenisasi Hp.

Setelah diburu maka tikus itupun keluar tetapi sempat menggeser tempat tidur segala, mengerjakan shalat tahajud sambil gelap – gelap, suara genset di setiap rumah sekitar mess PU, rumah tinggal semacam mess juga tetapi dari instasnsi tentara, masih terdengar.

Jam 04.00 pagi, lampu listrik menyala, terang semua kota dan saya mulai berjalan keluar mencari masjid. dari simpang tiga dimana penginapan ini berada, hanya masjid Teuku Umar yang terdekat, setelah berjalan didepan terminal Seuntui mesjid itu terletak, saya masuk dari jalan orang yang khusus dibuat kecil, dan memasuki halaman mesjid yang masih diseraki dengan puing dan rumput-rumput yang tumbuh menyemak.

Mencari pintu masjid Teuku Umar Banda Aceh

Masjid itu saya kelilingi untuk mencari pintu masuk, rupanya dari kejauhan terang benderang ruang masjid itu bukan berarti silahkan masuk, sebab setelah didekati sudah terpasang teralis besi mengelilingi masjid, teralis ini yang tidak terlihat dari kejauhan. sehingga sewaktu saya sempat bertanya pada sorang tentara yang melintas dngan motornya pulang dari jaga, ia mengatakan jikalau masjid ini dibuka jam 05.00 pagi/.

Dari pada menunggu lebih baik saya melanjutkan jalan menuju Masjid Raya Banda Aceh walau jalan menuju ke sana termasuk jauh sekitar 4 km.

Jalan disuatu kota dimana kota itu tidak ada penghuninya sebab penghuninya tidur, enak juga

sempat memperhatikan dari dekat bagaimana jalan ini dahulu digenangi air bah laut akibat tsunami, dan air itu membawa banyak jenazah yang mengapung dan jumlahnya ribuan banyaknya, seberapa kuat orang untuk berlari menuju ketinggian, semuanya akan gagal, saya mencoba melihat bukit yang terdekat 5 km jauhnya dari sini, kalau begitu mengapa tidak dibuatkan bangunan pertolongan yang letaknya tinggi diatas muka air yang pernah tertinggi menggenangi.

Pemikiran yang terlintas saat ada dilokasi

Bangunan tinggi itu bersifat terbuka lebar dan luas sehingga diperkirakan menampung 1000 jiwa darurat genangan, sudah tentu dilengkapi dengan fasilitas air bersih, saya perkirakan untuk menentukan seberapa tinggi lantai minimal bangunan itu yang lokasinya sekitar jalan Teuku Umar, 10.5 meter, berarti lantai ke empat dari bangunan bertingkat.

Lantas untuk apa bangunan itu jikalau tidak ada bencana, sebab bangunan itu tak berdinding, sengaja tidak dipasang dinding untuk mengingatkan pada setiap orang bahwa bangunan itu adalah bukan rumah tinggal.

Bangunan itu terstruktur beton tahan gempa 8,6 sekala richter, terhampar datar atasnya seluas lapangan bola, untuk kota seluas Banda Aceh sebaiknya dipasang di tiga tempat, satu di Ulhelhe, satunya lagi di jalan teuku umar dan satunya lagi di jalan menuju keluar kota setelah jembatan yang pernah putus diwilayah bekas kompleks perumahan dosen Universitas Syahkuala.

Harga bangunan eskape itu untuk hitungan tahun 2007 sebesar Rp 23 milyard, bangunan itu bagian bawahnya bisa digunakan sebagai pasar, lapangan parkir, sebaiknya bangunan itu disebagiannya di design untuk taman kota sehingga perhitungan keindahannya akan menyatu dengan hamparan taman didepannya.

Kapan Banda Aceh di kenai tsunami lagi

Banda Aceh menurut perkiraan akan diterjang tsunami lagi sekitar tahun 2765 M berarti kurang 748 tahun lagi.

Sekarang kita tinggal melihat yang namanya manusia, diberi tahukan jikalau sekiat ratus tahun lagi ada tsunami, apakah ada persiapan untuk itu, saya yakin tidak ada, sebab yang namanya manusia selalu menyerah, kurang jus sayur untuk mencoba berfikir maju.

Suatu karya membesar asmah Allah

Masjid Raya Banda Aceh pagi ini sudah saya capai, setelah berjalan kaki cukup lama, saya agak berfikir orthodok saat ini, sebab jarak antara tempat pengambilan wudhu dengan ujung hamparan masjid itu sejauh seratus meter lebih, maka setibanya saya disana saya menuju hamparan masjid yang paling bawah dan mencari sandal makmum masjid yang ada, saya kenakan sandal itu dan pergi ketempat berwudhu dan balik lagi ke hamparan masjid dan lepas sandal, praktis tidak memanfaatkan genangan air diujung hamparan masjid terbawah, sebagai pembilas air terakhir bagi pengambil wudhu, yang tidak lagi mengenakan alas kaki kenuju hamparan masjid.

Masjid itu sangat sejuk, suatu bentuk karya arsitektur tempo dahulu yang sangat memperhitungkan perputaran udara dan jumlah konsumen yang bernafas sewaktu beribadah didalamnya, mengagumkan, suatu karya yang dipersembahkan untuk membesar Asmah Illahi.
Ada kesamaan shalat di Pangkajene Sulewesi Selatan dengan di Aceh ini yaitu di rakaat pertama, sang imam shalat membaca surah Al Sajjadah dan diayat ke 15 semua harus sujud kemudian berdiri lagi dan si imam shalat melanjutkan pembacaan surah yang tersisa sampai tamat di ayat ke 30. dan dilanjutkan hingga selesainya shalat shubuh.

Sepulangnya dari shalat, saya melihat banyak para bapak haji orang Aceh yang berkendaraan terlihat makmur, saya tidak melihat hal ini di masjid lain di bagian wilayah Indonesia yang lain, biasanya untuk mengerjakan shalat shubuh pasti yang bermakmum adalah orang- orang sekitar masjid yang cukup mencapai masjid dengan berjalan kaki, hanya ada tapinya dari wajahnya saya melihat tidak ada seraut hamparan kasih untuk mempersilahkan saya berkendaraan untuk pulang ke penginapan.

Bisa jadi saya yang berumah terlalu jauh sehingga diluar sekala pencapaian mereka, tetapi ia kan bermobil tinggal menggelinding rodanya, memangnya siapa yang menggelindingkan rodanya, berfikir dari sini akhirnya saya melihat kesamaan suatu sorot wajah seorang Acehisme yang hanya melihat dirinya sendiri, dan yang penting urusannya sendiri, walau urusan ibadah itu bagus kalau lebih bagus diwarnai amalan lagi.

Berjalan lah saya menuju Simpang tiga, diujung jalan perempatan yang menuju ke Mahkamah Syariah, saya berjumpa dengan lelaki, saya menyapa apa ada kendaraan umum ke Simpang Tiga, ia mnjawab saya tidak tahu pak, saya baru datang dari Medan,
Dari Medan pikirku, baru saya sadar jikalau di Aceh ini banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang, terutama pekerjaan membangun rumah.

Berjalan sambil menutup mata

Untuk membunuh jarak sejauh itu, saya melihat ada tiga penomena yang harus ditaklukan
yaitu lampu kuning yang dipasang ditengah jalan terdapat tiga kelompok, kelompok lampu dari simpang tiga hingga pertokooan selewatnya jalan ke masjid teuku umar,
lampunya menyala, kemudian gelap sampai dekat dengan pertokoan yang digedung kebudayaan, dan dari sana lampu kuning jalanan menyala lagi sampai perempatan di depan gubernuran.
Sehingga waktu berjalan pulang disaat lampu terang saya berjalan tanpa membuka mata, sebab lalu lintas sangat sepi, kemudian saat dijalanan gelap saya membuka mata dan seterusnya.

Masuk penginapan masih sepi, masih sempat memasak air untuk minum, kemudian tidur lagi. setelah jam 06.30 mulai mandi dan shalat dlhuha saya kerjakan jam 07.00, menurut saya matahari sudah cukup tinggi, ternyata sewaktu saya berjalan kekantor Kepala Dinas Perumahan dan perkotaan ibu Chairani, ibu masih shalat dlhuha di kantor walau jam sudah menunjukan 09.30.
Saat saya melaporkan dan ucap terima kasih atas penerimaan selama saya disana ibu CHairani memang bertanya mengapa Pemerintah Daerah tidak dilibatkan saat kegiatan berlangsung tahun 2005 dan 2006.
Saya hanya bisa menampung sebagai saran sebab keghiatan sudah lewat,

Jam 10.00 saya mulai bergerak ke Masjid Raya Banda Aceh untuk mengerjakan shalat Jumat, yang mengantar adalah si Yoja, Insinyur Sipil yang beranak satu 15 bulan, sewaktu saya diajak keliling kota Banda Aceh yang terbayang selalu kekalutan sewaktu tsunami dahulu, tetapi sekarang Aceh sudah berobah, kalau belum tsunami saat maghrib tiba, jalanan itu sepi, tapi sekarang masih ramai, berarti banyak orang yang menunda shalatnya, kemudian makanan, sebelum tsunami tidak yang namanya burger, sekarang banyak orang jual burger, hal ini dipengaruhi oleh masih banyaknya pekerja sosial dari negara asing, yang dikhawatirkan adalah masuknya makanan haram kerena kebutuhan burger akan diiringi dengan alkohol.

Sebelum masuk masjid sempat ke pasar membeli oleh-oleh makanan kue untuk pak Marsudi dan di rumah.

Setelah selesai shalat makan dahulu di kedai dipinggir masjid, saat itu saya berucap, kalau saya jadi orang kaya, saya tidak biarkan orang- orang yang duduk- duduk di pinggir halaman mesjid selesai mengerjakan shalat Jumat tidak makan, ia harus makan, biar saya yang bayar.

Memang saat itu saya ada didalam kedai makan dan melihat keluar ternyata banyak orang yang duduk, apakah sudah makan atau belum.

Sempat membelikan oleh-oleh istri berupah kain songket tenun khas aceh dengan kemilau ke emasan dengan selendangnya, tas aceh kecil dan penjepit ujung kerudung khas pintu aceh.

Ke rumah sakit, RSU Zaenal Abidin untuk menyempatkan diri melihat pasien Thalasemia disana, sebagai bentuk syukur pada Allah atas dirawatnya dua anaku penderita Thalasemia hingga kini tidak banyak mengalami hambatan keuangan.

Jumlah pasien disana yang rutin ke RSUZaenalarifin 25 anak dan bangsal perawatannya digabung dengan ruangan penderita onkologi/kanker anak.

Shalat ashar di masjid Ulhelhe dan disana sempat melihat sendiri betapa rata-rata semua terhempas tsunami, hanya masjid yang selamat, ruko yang bertingkat pun bablas angine.

Saya melihat ketinggian masjid dan tingginya air, betapa sunyinya saat air setinggi itu menggenangi wilayah Ulhelhe, di bagaikan singa yang menduduki mangsanya, mau kemana larinya ?

Mengejar waktu ke bandar Udara, sebab sewaktu lapor ternyata pesawat Lion Air yang akan membawa saya ke Jakarta sudah mendarat.

Perjalanan panjang dan melelahkan apalagi tidak dapat makanan, sebab saya sudah membawa roti dari bawah sewaktu berangkat tadi dan sisanya biar dijadikan oleh- oleh.

Tiba di Jakarta jam 21.05 dan menunggu bus Damri tujuan Kampung Rambutan, jam 23.00 sampai dirumah pak Marsudi setelah naik ojeg Rp 5000 dari Terminal kampung rambutan ke rumahnya pak marsudi.

Masuk rumah jam 23.59




Sabtu, 21 Juli 2007.
Mengantar adik ipar yang telah dipotong ujung pelepasannya akibat ambien yang dideritanya, hanya saja pemotongan yang menggunakan laser senilai Rp 2 000 000,- masih menyisahkan kesakitan yang menyayat.

Motor saya titip kan di rumah Andi pasien thalasemia dari Cileungsi, sebab tadi berangkat dario rumah bermotor dengan adik ipar hanya saja setelah berjalan 10 km adik ipar merasa ngak enak lagi naik motor. Minta mpindah naik angkot saja.

Setibanya di UKI pindah naik bus P2 yang melewati kampung Melayu, sesampainya disana pindah angkot 44 menuju ke Casablangka.

Tempat dokter praktek itu di dekat terowongan Casablangka hanya dijalan lurus dari arah pondok bambu.

Setibanya di sana ternyata dokter yang dicari telah pulang, kesalahan ya jelas pada diri saya, sebab saya dari pagi ngantuknya luar biasa, dan terbangun setelah istri bersikeras hendak mengantar adik ipar untuk kedokter, itupun sudah jam 09.00 siang

Saya masih duduk termangu, kerena capeknya dan kerena kasihan melihat sang adik ipar yang sangat susah untuk berjalan, pikiran saya adalah bagaimana kalau jarak antara rumah ini didekatkan ke dokter praktek.

Sewaktu saya dan adik ipar berjalan pulang setelah diberi jawaban dari sang penjaga rumah praktek itu bahwa dokter akan ada lagi di hari senen dua hari lagi, jam 16.00, berjalan perlahan- lahan menyusuri pinggiran jalan yang menurun menuju terowongan yang dibawahnya melintas jalan Saharjo.

Belum sampai terowongan itu, tiba- tiba terdengar adzan shalat Dhzuhur berkumandang dan terasa dekat, saya mencari dimana letak masjid sekitar ini, akhirnya kaki ini menunjukan arah masjid itu dan masuk, diterima dengan baik dengan sipenjaga masjid, ternyata si penjaga masjid ini termasuk menjaga asset nya pak Haji, yaitu masjid ini yang sudah ditawar Rp 200 juta tetapi pak Hajinya belum mau, kalau 5 00 jua ia mau, sebab disekeliling masjid kecil ini tanahnya sudah diratakan.

Setelah selesai mengimani shalat dhzuhur dengan beberapa makmum shalat, Uceng sang adik ipar tidur- tidur dilantai musholah. Wajah sakit yang ditampakannya terbaca oleh sipenjaga masjid, dan si penjaga masjid bersepakat untuk mengantar adik ipar ke penjual obat Pak Kardi di Pasar Menteng Pulo, dan sampai disana setelah melewati jalan kecil yang diapit apparatemen tingi- tinggi, harga obat Rp 52 000,- obat untuk pasien yang habis dioperasi sesar melahirkan.

Minum obat di warung tegal setelah makan nasi sayur dan tahu seharga Rp 3 500,- dan terasa perutnya Uceng mual, tetapi rasa sakit agak berkurang, sehingga perjalanan pulang tidak terlalu menderita dibandingkan berangkatnya tadi.

Sampai di rumah saat shalat Ashar.

Tiada ulasan: