Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Khamis, Januari 17, 2008

Latihan Penulisan Penelitian

Rabu. 12 Desember 2003.

Tiga orang peneliti yang berkedudukan tinggi- tinggi sebagai APU, duduk didepan menghadapi banyak manusia kantor yang lagi dilatih dalam Bimbingan Teknis Penulisan Karya Tulis Ilmiah dalam rangka Peningkatan Kapasitas Sumber Daya dan Manajemen Sosial Ekonomi Budaya dan Peran Masyarakat
Dibawa Litbang Departemen Pekerjaan Umum.
Yang berbicara keras dan bergerak yang satu samar yang satu bicara seperlunya, terkadang seperti adegan film sendirian, yang pasti ia sangat memikat bagi saya untuk melakukan perbaikan bagaimana menulis ilmiah.
Semua informasinya mengingatkan saya bahwa saya berada di awal, mengapa tidak dari dahulu mendapat hal seperti ini.
Sebuah ekspresi manusia yang ber keyakinan tinggi sebagai peneliti utama, Memang ada “warna lokal”, tapi pada akhrnya yang penting bagi sebuah penampilan yang kuat bukanlah mencerminkan sebuah identitas, “daerah” atau “nasional”, “tradisional” ataupun “modern”, melainkan bagaimana membuat sebuah penampilan mencengangkan.
Bisa jadi saya tercengang kerena merasa tertinggal jauh dari mereka yang kesehariaannya meneliti.
Salah satu kekuatan yang lahir dari karya Tulis Ilmiah justru bukan untuk mengukuhkan identitas, melainkan menunjukkan ada yang hidup secara sistimatis, terukur dan teridentifikasi sumber- sumber rujukannya, sesuatu yang tak dapat dirumuskan jadi identitas — apa yang disebut oleh Adorno sebagai “non-identitas”.
Keminiman terhadap penelitian — suatu bentuk pengakuan kekurangan diri tak seorang pun di Indonesia akan menggunakan kata itu buat orang Papua, ataupun sebuah suku kecil sekalipun di pulau itu. Tapi saya kira saya tahu mengapa saya bertanya sedemikian. Modernitas ada di mana-mana; yang beda dari itu adalah “minoritas”.
Tapi menata wayang – dengan pakem yang tetap — tak sama dengan menata manusia. Menata manusia adalah obsesi kekuasaan politik. Klasifikasi penduduk adalah keputusan sebuah sistem yang mau membereskan hal ihwal, mau menguasai dan mengarahkan.

Tiada ulasan: