Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, September 11, 2009

Ke Bandung bermotor dengan Tyas

Jumat, 31 Juli 2009.

Jam 03.00 sudah terbangun, sebab sudah punya rencana akan berangkat ke Bandung pagi ini dengan Tyas.

Setelah shalat Shubuh kemudian minum jus sayur dan sarapan pagi dan sekitar jam 05.30 berangkat.

Melintasi Jonggol, pagi ini mengisi premium sepeda motor terlebig dahulu di BBM ke arah Jonggol Rp 10 000,- kemudian melaju lagi melepas pagi, iringan matahari pagi mulai merembak di sekitar kota Jonggol.

Saat keluar dari kota Jonggol dan memasuki Cariu langit sudah terang, sekeluarnya kota Jonggol jalanan mulai mendaki dan menurun dengan kondisi jalanan jelek, tebaran debu dimana- mana.

Motor berjalan terus, Cariu sudah dilewati dan sekarang memasuki kecamatan terakhir wilayah Bogor yaitu kecamatan Tanjung Sari, jalan sudahmendaki motor berjalan perlahan.

Keparahan kondisi jalanan setelah memasuki kawasan Cianjur di kecamatan Ciklong Wetan di bukit- yang tandus dimana kiri kanan bukit di ambil pasirnya dengan mobil pengangkut tanah berukuran besar dan merusak jalan di Gandoang.

Jalanan jelek dan mendaki, motor masih mampu menampak dengan rendah hati.

Setelah itu melewati puncak jalanan menurun malahan di jalanan menurun ini kewaspadaan lebih di tingkatkan takut jatuh.

Saat memasuki kawasan Cianjur hari sudah waktunya shalat dluha, tetapi mencari masjid yang agak baikan belum di dapat.
Setelah bertemu dengan jalan yang menghubungkan Bandung Cianjur, perasaan lega sebab terasa Bandung sudah dekat.

Belok kiri memasuki jalan menuju Bandung dan berjalan terus sampai di kawasan Ciranjang memasuki masjid yang agk besar, istirahat dan shalat dlhuha pagi ini, Tyas ikut shalat.
Masjid cukup besar, udaranya sejuk, tempat wudhunya di belakang, dihalaman masjid terlihat orang bermain bulu tangkis dimainkan oleh seorang anak wanita tanggung dengan teman prianya sedang bermain bulu tangkis, Sempat bersalaman dengan penjaga masjid, ia diam saja.

Motor di hidupkan lagi dan berangkat menuju Bandung kembali.

Diarah Cipatat jalanan sudah mendaki, aroma tape singkong merembak dimana- mana.

Setibanya di Padalarang mampir sebentar di bengkel untuk memperbaiki mur baut yang mulai longgar di pijakan pedal sepeda motor.

Tiba di ujung jalan tol bagi kendaraan roda empat, menggeser kekanan untuk serong kanan menuju Cimahi kota, selewatnya kota Cimahi, diatas jembatan Cimindi, jalan menurun, terasa kota Bandung dengan kepadatan penduduknya.

Kota Cimahi telah dilewati dan saat ada pertigaan jalan mulai bingung, menanyakankepada anak pengamen jalanan dimana arah menuju Ujung Berung, tujuan akhir.

Ia menyarankan belok kanan dan nanti setelah melewati kepadatan ada jalan sepi di sisi kiri jalan, itu adalah jalan Sukarno Hatta, yang ujung akhirnya di Cibiru.

Memasuki jalan Sukarno Hatta seperti memasuki jalan yang tak berujung, panjang sekali dan sering berhenti sebab dipotong dengan lampu lalu lintas dari kota Bandung.

Jalan Sukarno Hatta ini adalah jalan potong melewati Kota Bandung tanpa harus memasuki kota Bandung.

Perut terasa lapar, sudah kepingin makan, tetapi makanan yang diharap adalah soto bandung. Dari tadi mencari soto bandung belum terlihat.

Kejadian ini berkali- kali, sebab melihat jalan lurus Sukarno Hatta ini membuat perasaan lapar, dan sudah sempat memasuki restoran Ampera tetapi sewaktu ditanya ada soto bandung malahan jawabannya ada sayur asem dan sop buntut.

Tyas sampai berkali- kali juga melepas jiket kalau sudah turun dari motor tetapi gagal lagi. Saat papan penujuk jalan ada tulisan Ujung Berung belok kiri, saya langsung belok kiri, ternyata jalan ini juga bukan jalan Ujung Berung, ini jalan menuju Ujung Berung.

Di ujung jalan saat jalan ini bertemu dengan jalan itulah jalan Ujung Berung, kemudian belok kiri, dan setelah berjalan jauh mulai ragu dan bertanya kepada seseorang yang akan berangkat ke Masjid, ternyata saya di bilang salah arah harus berbalik sebab letak alamat tujuan saya adalah jauh di belakang.

Berbalik arah pula saya di jalan ini juga kemudian berjalan terus dan terus sampai jauh dan bertanya pula, ternyata saya salah arah, harus berbalik lagi.

Akhirnya ketemu jalan yang menghubungkan ke jalan Sukarno Hatta tadi yang di lewati, dan bertanya akhirnya di suruh berjalan lurus ada leger jalan.

Kemudian bertanya kepada penggali urungan galian sepanjang jalan dimana kantor PU ditunjukan leger jalan.

Antara percaya atau tidak saya memasuki gedung itu, dan saya terangkan jikalau dari tadi saya mencari alamat Ujung Berus 264 Kantor Balitbang PU Bidang Jalan, tetapi kerena yang ditanya adalah sesama orag PU ia bisa memberi jawaban, maju lagi pak belok kiri dan sekitar 1 km nanti ada tanda Lembaga Penelitian Jalan.

Betul juga setelah berkendaraan sejauh 1 km terlihat luas kompleks terdiri dari banyak bangunan yang pernah di datangi dahulu bersama dengan pak Kuat, juga hari Jumat dan shalat Jumat disana.

Akhirnya motor diparkir, dan bertanya dimana kantin, di tunjukan di dalam bangunan, kemudian memesan soup Buntut sebab soto bandung tidak ada, dan setelah soup itu tersajikan dibagi dua dengan Tyas dengan makan nasi bawaan dari rumah.

Setelah itu Tyas saya titipkan di kantin dan saya shalat Jumat tidak jauh dari kantin.

Sempat ganti baju putih dan mengenakan sarung, sebab ini shalat Jumat, saya ingin seperti di rumah shalatnya, ber sarung segala.

Shalat Jumat sudah dijalankan dan terlihat undangan yang datang dari jakarta berpakaian rapi- rapi dengan kemeja batik.

Sempat ketemu pak Budi Suprayitno, yang pernah ke rumah di Jayapura dahulu, ia menanyakan dengan siapa ke sini saya jawab dengan Tyas sambil tersenyum.

Saya mengganti pakain lagi di ruang disamping masjid, sekarang mengenakan kemeja Batik pemberian mas Ajar Sanjoyo dahulu. Baju ini rasanya sudah dipakai tiga kali, pertama kali dipakai ke Semarang acara perkawinan, kemudian yang kedua acara perkawinan anaknya pak Priyono di Departemen Kehutanan beberapa waktu lalu, dan saat sekarang.

Saya memasuki kantin mencari Tyas, agar ia shalat Dzuhur terlebih dahulu.

Saya menunggu di samping masjid sementara Tyas shalat. Udara kota Bandung ini panas menyengat, jikalau saya perhatikan perbedaan suhu udara siang hari dengan malam hari sudah lebih dari 10 derajat celsius, berarti sangat rawan penyakit kulit.

Setelah Shalat, berjalan dengan Tyas di belakang bangunan tempat pertemuan, dan memasuki ruangan dari pintu belakang, langsung bertemu dengan dapur, dimana sudah berhimpun para supir para pimpinan dari berbagai pusat penelitian di sekitar Departemen Pekerjaan Umum.

Langsung terlibat obrolan sana sini sambil menerangkan jikalau dari Jakarta tadi berangkat jam 05.00 naik motor.

Setelah minum kopi, satu cangkir di bagi dua dengan Tyas, sebab kalau meminum satu cangkir jantung bisa deg degan.

Memasuki loby pertemuan sambil mengajari Tyas bagaimana bergabung dengan para pegawai wanita di lingkungan penelitian PU.

Jumpa dengan banyak para senior dan pimpinan, kemudian jam 13.00 acara berbicara sedikit dengan pimpinan baru pak Amron di mulai.

Jam 13.30 acara resmi di buka dengan pembukaan acara makan siang bersama, disini saya merasa untung, sebab sudah makan soup buntut tadi jam 11.12 sehingga saat ini tidak terlalu lapar.

Rupanya banyak juga yang seperti saya, setibanya dari jakarta tadi langsung makan.

Sebab makan jam 13.30 adalah jadwal makan yang sangat di luar kebiasaan.

Acara makan di ruang besar, dengan prasmanan, lauknya cukup enak dan hangat, Tyas makan juga di samping saya. Terihat pak Budi datang mendekat menanyakan perihalnya Tyas.

Acara di lanjutkan dengan acara mendengarkan pidato sambutan di ruangan atas, saya sudah memberitahukan kepada Tyas jam 14.30 harus keluiar dari gedung, baik acara baru berjalan sedikit atau banyak.

Saat jam 14.30 itu acara sedang diisi pidato sekilas kenangan pada pimpinan lama dan pimpinan baru yang di bawakan oleh pak Budi, saat itu saya keluar

Naik motor keluar kompleks bangunan Penelitian Jalan Jembatan dan belok kanan meuju rumahnya Keny, Keny adalah anak pertama dari Almarhum pak Nana Suryana Sam Karso, ia telah berputra 8. Tinggalnya tidak jauh dari Ujung Berung tempat rapat.

Cilangkrang Dua, ternyata tempat ini telah dilewati sewaktu tadi tersesat bertanya dimana kantor penelitian Jalan Jembatan PU.

Disini di rumah ini saya dipanggil kakek oleh anaknya Keny, setelah berjumpa Keny dengan bayinya yang ke delapan, ditemani anaknya yang nomer tujuh dan nomer lima, berjumpa pula dengan Erly anak Almarhum pak Nana Suryana Sam Karso yang nomer tiga yang sedang mengikuti S2 nya di ITB Bandung bagian seni.

Almarhum pak Nana Suryana Sam Karso dahulu sangat bersahabat dengan saya sewaktu tahun 1983, saat saya masih kuliah di Denpasar.

Adzan Ashar terdengar dan shalat ashar di rumahnya Erly di depan rumahnya Keny. Terlihat berkas berkas perbaikan penyusunan skripsi S2 nya tergeletak di lantai.

Silaturahmi telah selesai, kemudian bermotor lagi dengan Tyas tujuannya adalah Cililin rumahnya Pak Lik Slamet.

Melintas kembali jalan Sukarno Hatta, membeli premium terlebih dahulu, penuhnya tangki ternyata Rp 25 000,- perjalanan ke arah pulang ini malahan lebih lancar, sebab sudah hafal sifat jalan dan mana jalur yang harus di lewati, hanya saja setibanya di ujung jalan Sukarno Hatta ini ada bunderan dan saya tergiring mengikuti arus kendaraan ke kanan, berarti masuk lagi kota Bandung, sampai di Caringin.

Caringin ternyata adalah pasar induk, terlihat pedagang sore itu sedang membenahi dagangannya yang akan di jualnya sepanjang malam.

Caringin sering saya dengar saat mendengar warta berita RRI dahulu sewaktu jam 20.00 saat menyiarkan harga- harga kebutuhan pokok dengan pusat pasar penjualannya, harga kentang sekian di pasar anu, dan disini terdengar pasar Caringin Bandung, baru sekarang saya sempat memeprhatikan pasar Caringin.

Memasuki kawasan pasar Caringin perasaan seperti terlempar di jaman Indonesia tahun 1965, sangat kusam di senjah hari itu, arsitektur bangunannya tidak menampakan ke modern, kesibukan manusia di hamparan jalan saja, dan kemacetan lalu lintas yang menyadarkan saya bahwa saya hidup di tahun sekarang.

Keluar kota Bandung memasuki kota Cimahi sore ini sangat macet, jalan perlahan- lahan.

Lewat juga rumah sakit Dustira Cimahi tempat Pak Lik Slamet pernah di rawat, warna agak gemerlapan seperti setitik kota Tokyo adalah di Pusat pertokoan Ramayana Cimahi.

Cimahi demikian juga redup, ternyata kelesuhan pembangunan ini terasa hingga jauh.

Memasuki terowongan dimana di atasnya ada jalan Tol dan dibawa ada jalan lokal, berarti menandakan telah keluar dari kota Cimahi dan akan memasuki pertigaan Cililin, mendekati area ini kemacetan akibat pertigaan itu terasa.

Memasuki jalur jalan ke Cililin, seperti sudah hafal saja, kerena pernah kesini, dan berjalan terus, sementara adzan maghrib sudah dikumandangkan.

Di niatkan akan shalat maghrib di rumahnya pak lik Slamet.

Jalanan sepi dan menurun dan melewati jembatan Batujajar setelah itu belok kanan dan menyusuri jalan di pinggiran danau Seguling.

Keramaian Batujajar dan Cihampelas akhirnya di lewati juga, sekarang memasuki wilaya Palalayang, hanya saja nama ini, yaitu Palalayang, saya lupa. Sehingga sewaktu salah mengetuk rumah orang yang mana setelah keluar ternyata yang keluar seorang ibu, saya mohon maaf, sebab hari sudah gelap sehingga sangat sulit mencari alamat.

Setelah menyebut nama pak Unang pensiunan guru yang punya Wartel, baru ia menyarankan jalan terus masih jauh dan nanti disana bertanya lagi.

Setelah berjalan jauh, agak ragu takut kelewatan seperti di Bandung tadi balik arah, sebab sepi, sehingga cari orang untuk bertanya, kemudian saat bertanya pada kerumunan anak muda di ujung gang di jalan itu di jelaskan agar berjalan lagi beberapa ratus meter nanti di jumpai rumah itu.

Ternyata rumahnya Pak Lik Slamet sudah ada di depan mata, dengan pidaran cahaya lampu neon yang terang di depan rumahnya.

Rumah itu tertutup rapat, setelah di ketok dan unjuk salam terlihat pintu di buka dan keramaian pun tercipta, saya meminta alas sajadah untuk mengerjakan shalat Maghrib.

Makan malam dengan super mie sambal kacang dan pisang goreng.

Tiada ulasan: