Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, September 11, 2009

Niat baik mau Donor darah

Kamis, 30 Juli 2009.


Berniat berangkat ke kantor hendak donor darah, acara ini sejak seminggu yang lalu sudah di umumkan, sehingga sejak kemaren sore istri sudah siap, Astari berangkat sendiri ke sekolah, tetapi ia sangat sekali diantar Bapaknya, padahal sejak jam 05.00 pagi sudah di ingatkan jikalau bapak hendak kekantor Departemen Pekerjaan umum bersama mama hendak donor darah.

Setibanya di Departemen Pekerjaan Umum, suasana pagi itu masih sepi sehingga sewaktu meninggalkan motor di lapangan parkir Menperumahan rakyat, bisa berjalan santai ke departemen, di depan ruangan umum tidak ada tanda- tanda ada kegiatan, saya pikir pasti di ruang belakang, betul juga setelah memasuki pintu utama langsung terlihat di tepel kerta donor darah, kelihatan jelek sih tetapi ini hanya untuk beberapa jam saja.

Pendaftaran sudah dilakukan dan kini giliran akan diambil darah contoh untuk menentukan Hbnya sebelumnya petugas memperhatikan kartu donor yang saya serahkan dan ternyata donor darah yang terakhir di lakukan adalah tanggal 27 Mei 2009, berarti masih kurang waktunya sekitar 30 hari lagi.

Ditolak kesimpulannya, saya tidak boleh donor darah, boleh nanti kalau diatas tanggal 27 Agustus 2009.

Istri terlihat lancar sampai di bed pengambilan darah saya temani duduk disampingnya, sambil berbicara banyak perihal transfusi.

Setelah pengambilan darah nya Istri selesai dilajutkan dengan makan mie, penampilan mie sekarang sudah ngak menggunakan piring seperti dahulu lagi, petugas hanya mempersiapkan air panas dalam jug tegak listrik besar dengan indikator listrik masih menyala.

Diambilnya sebungkus supermie tabung segelas dan dirobek penutupnya dan tuang air panas dari jug tadi.

Tidak beberapa lama istri saya sudah menyantapnya.

Jam masih menunjukan 09.30.

Setelah acara donor darah selesai langkah kaki mengarah ke Masjid Al Ashar untuk menuju ruangan kecil di bawah mesjid tempat penerimaan infaq sodaqoh umat, di masjid ini nama yang terdaftar adalah namanya Yasin, dan saya sudah berjanji kalau bisa diusahakan bisa setiap ke Departemen sempatkan ke rumah Zakat untuk menaruh beberapa lembar uang atas nama Yasin.

Saat ini istri baru kali ini ikut mengantar uang atas nama yasin, kesempatan yang baik untuk memperlihatkan catatan amalan Yasin sejak awal meletak uangnya di rumah zakat ini.

Kemudian kembali melangkah ke ruang donor darah tujuan kali ini akan menjumpai Nobuyuki Tsuneoka, Ph D. Ia adalah tenaga akhli Jica Japan yang di letakan di Departemen Pekerjaan Umum.

Setelah mengucapkan salam kepada penjaga Menteri Pekerjaan Umum saya berdua dengan istri berjalan menuju ke ruang Perwakilan Jica, dan lantai dua.
Sewaktu tiba di pintu nomer tiga di sisi kiri arah masuk dari ruangan pak Menteri PU, tertulis nama Nobuyuki Tsuneoka yang saya cari, setelah di ketok pintu tertutup itu dan saya buka terlihat si Jepang yang pernah berkunjung ke kantor saya di Pasar Jumat itu sedang menerima telepon.

Kedatangan saya sudah saya informasikan sejak dua hari yang lalu, dan dia bisa menerima saya sekitar jam 10.00 pagi.

Pagi ini jam 09.58 saya dan istri sudah di depannya.

Setelah selesai ia menerima telepon baru ia mulai menerima saya, awalnya ia agak lupa, tetapi baru ingat setelah ia ingat kalimat research PU Pasar Jumat.

Pembicara en mengkerucut kepada fungsi NILIM. Nilim sebagai kelembagaan riset Jepang baru terbentuk 2001, merupakan gabungan dari PU jepang dengan Building riset jepangnya .

Jam 10.31 saya dan istri keluar dari ruangan itu dengan ucapan terima kasih dan akan dilanjutkan dengan pembicaraan lewat E- Mail.


Sebelum meninggalkan kantor departemen Pekerjaan Umum sempat membeli gagang kaca mata yang sudah lama patah dan kali ini baru kesempatan membelinya sebab di depan akntor ada seorang tua yang suka menjual peralatan kaca mata bekas, sekarang gagang kaca mata saya sudah terpasang tetapi beda warna, ngak apa bagiku, keindahan untuk mempercantik diri sudah bukan unsur utama lagi.

Perjalanan pulang diarahkan menuju ke Buncit untuk membeli coto makassar, sedikit kemacetan menjelang siang, setibanya di warung makan makassar itu terlihat sudah ada tiga group pelanggan yang telah mengkudap pesanan coto makassar, termasuk konronya.

Saya hanya membeli standard saja, yaitu Coto Makassar campur dua mangkok, kemudian burasa dan ketupat tiga, minumannya untuk istri yaitu teh panas dan saya hanya air biasa yang disediakan gratis dari rumah makan itu.

Setelah makan saya melihat tidak menimbulkan efek negatip ke tubuh saya, sehingga saya semangat saja sewaktu mengantarkan istri ke tempat pemberhentian angkot 121 Kampung Rambutan ke Cileungsi, di sekitar rumah sakit Pasar Rebo ada razia kepolisian dan saya tidak diperiksa, tetapi sewaktu pulangnya ngak berani lewat sana sehingga setelah istri turun naik Angkot, saya menuntun sepeda motor di jalan baru kampung rambutan, menyebrang jalan menuju sisi jalur jalan yang menuju kota Jakarta, tetapi belok kiri menuju masjid kecil di depan mal Cijantung.

Ada pemandangan yang baru di masjid kecil itu yaitu arah kiblatnya dirubah mengarah lima belas derajat mundur kekiri dari arah kiblat biasanya.

Setelah shalat dzhuhur langsung berangkat ke kekantor.

Masuk kantor sekitar jam 13.30 siang.

Setibanya di kantor menerima perintah jalan ke Bandung untuk menghadiri lepas dan menyambut pimpinan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum yang baru, pak Amron menggantikan pak Hardianto.

Tiada ulasan: