Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Selasa, September 08, 2009

ke Makam Ayahnda

Rabu, 13 Mei 2009.


Hari masih pagi, ternyata saya baru sadar jikalau ini di rumah ibu di Wonorejo, Lumajang, Jawa Timur. Jam baru menunjukan jam 03.00 saat mana alarm Hp berbunyi untuk membangunkan untuk shalat Tahajud, setelah itu keluar dari rumah menuju Masjid di bawah, jalanan menurun, dan terlihat wilayah ini semakin berkembang, yang tidak berkembang adalah rumahnya ibu, sebab akan dikembangkan sebagai apa, adik- adik tidak ada disini, ibu tinggal sendiri.

Ternyata setibanya di masjid shalat shubuh sudah dilaksanakan, saya masbuk untuk itu, dan setelah shalat balik lagi ke rumah, dan tetap saja penghuni kompleks perumahan ini sedikit yang sudah mulai bersiaga menyongsong hari.

Wilayah ini termasuk aman sekali sebab terlihat banyak penghuni yang membiarkan kendaraannya di parkir diluar tanpa perlindungan yang luar biasa, pagi masih meremang dan sebaiknya di isi dengan membaca Al –Quran, suatu pilihan mutlak untuk memikirkan dan merumuskan kehidupan yang akan dilalui.

Saat pedagang keliling mulai terlihat, yang muncul pertama adalah penjual jamu gendong, lantas saya memesan jamu daun kates dengan cabe puyang cukup pahit, tetapi saya tahu sejak dahulu selalu hebat hasilnya, kemudian di netralisir dengan beras kencur manis, minum jamu, kalau di Jakarta, selalu saya hindari, terutama jamu gendong, sebab terlalu banyak tambahannya.

Setelah shalat dlhuha, makan sepotong tempe dengan tomat, setelah itu timbul rasa kantuk sehingga tertidur.

Mulai disadarkan ibu saat mana jam menunjukan angka 09.30, ibu agak bersuara tinggi sebab makanan yang disediakan ibu sudah dingin semuanya, maksudnya ibu adalah makanlah selagi hangat, tetapi kerena saya masih kantuk yan dibiarkan hingga jam sekarang ini.

Makan nasi jagung dengan dadar jagung, sayur bening kunci kangkung, sambal pedis, dan rasanya seperti masuk surga.

Saat saya berkemas hendak kekuburan ayahnda di Taman Makam Pahlawan Lumajang, ibu menyatakan ikut, dan dengan gerakan gesit sambil menahan lutut sakit, mencari bunga- bunga yang tumbuh sekitar rumah.

Gunung Semeru pagi ini masih memperlihat kegagahannya. Letusan kecil bergumpal awan putih menjulur pendek saja.

Setibanya di Taman Makam Pahlawan Lumajang berjumpa dengan seorang janda yang ditemani dengan kemungkinan cucu putrinya, dan baru saja menyekar kuburan suaminya, sempat berbicara banyak dengan ibunda, sebab mereka para janda ini saling berjumpanya paling sering di kuburan saat berjumpa sewaktu nyekar kubur.

Setelah dari Makam perjalanan berdua dengan ibunda dilanjutkan ke Tempeh dengan mengendarai terlebih dahulu angkot untuk berhenti di batas timur Kota Lumajang yang mengarah ke Tempeh yaitu Klojen nama tempatnya.

Disana melanjutkan naik angkot besar menuju Tempeh dan setibanya di Tempeh berhenti di pertokoan Tempeh, saya bertanya kepada ibu, kok berhenti disini, beli petis dahulu sebagai niatmu, kemudian nanti dari Tempeh langsung pulang ke Wonorejo tanpa harus mesuk pasar Lumajang lagi.

Di pertokoan ini saya teringat sewaktu kecil dahulu kelas tiga SD di tahun 1962 – 1963, selalu dibawa oleh Eyang Kakung yang saat itu masih aktip sebagai Kepala Stasiun Kereta Api Tempeh, ke toko ini untuk mencari
Sahabatnya yaitu Lucky, ternyata informasi yang saya dapat dari toko yang saya masukin bersama ibunda, Lucky sudah meninggal, dan cucunya yang sepantar dengan saya sudah meninggal juga kecelakaan lalu lintas di Lumajang, sekarang tinggal saudara perempuannya.

Di toko ini saya membeli petis udang untuk sambal dirumah 2 ons Rp 10 000,- dan ibu membeli petis klas dua Rp 4 000,- / ons.

Keluar dari toko ini berbecak berdua dengan ibunda menuju rumahnya Eyang Kakung Almarhum yang sekarang di tinggali oleh Pak Lik Bambang, melewati jalan di samping masjid raya Tempeh yang kalau lurus terus ke barat menuju kaki Gunung Semeru dengan desa yang makmur namanya desa.........lupa deh, kemudian melewati bekas jalan kereta api yang sekarang sudah hilang, disini saya ingat ada penjual jemblem, suatu makanan ubi singkong yang di rebus kemudian di tumbuk kemudian di buat bundar dan ditengahnya di isi gula merah dan di goreng, dihidangkan, satu jemblem sudah membuat energi bertahan hingga jam 10.00 pagi.

Jalanan meluncur menuju rumahnya Paklik Bambang dan langsung berhenti di depan, rumah yang dahulu saya yangme arsitek in ini sekarang sudah lapuk, walau tidak hancur, tetapi banyak bagian yang lapuk, bangunan ini dibangun tahun 1975.

Saya langsung mengetuk p[intu dari balik kaca yang pudar terlihat Pak Lik Bambang di kejauhan di ruangan dapur yang sederhana sedang berdiri, ia datang ke pintu depan dan membuka pintu, ia menanyakan dengan ibu ya, ya jawabku, itu diluar , oh ya katanya lega.

Sebab selama ini Paklik Bambang yang terkena frustasi ngak mau bekerja dan selalu mengurung diri, dan sepeninggalnya mbah Eyang Kakung, Paklik Bambang uang makannya di supply dari ibu, dan saya memberinya sewaktu- waktu saja.
Pembicaraan beralih kepada ulah kakaknya Pak Lik Bambang yaitu Pak lik Doko yang hidup di Bali yang akan menjual lahan ini, saya bilang , jangan mau di jual lik, nanti kita bangun, rezeki dari Allah sangat banyak.

Saat itu terdengar adzan Dlhuhur berkumandang dari Masjid, langsung saya mengambil air wudhlu dan mengerjakan shalat dirumah ini yang pernah saya tinggali sewaktu kelas empat SD dahulu.

Kemudian pamitan dan mulai silaturahmi dengan para tetangga sebelah kanan rumah mbah, bernama Kami, kemudian didepannya namanya, lupa, kemudian anaknya mbah Dipo almarhum. Semua berpenghasilan dari pekerjaan Pande besi, pekerjaan membuat alat- alat rumah tangga dengan membakar besi hingga membara dan dibentuk dengan di pukul- pukul.

Saat menunggu bus yang akan mengantar dari Tempeh ke Wonorejo di ujung jalan pertigaan Pancasila Tempeh, ibu terlihat gelisah kerena lamanya bus nggak datang, bus itu bertrayek dari Malang ke Wonorejo lewat belakang gunung semeru, saya sendiri belum pernah lewat jalur itu.

Saat itu saya mengambil duduk bergabung dengan para lelaki yang duduk di ujung jalan di bawa kerindangan pohon waru, ternyata diantara yang duduk itu ada teman sepermainan sewaktu kecil, namanya Warmin, ia sangat terkejut sewaktu melihat saya duduk disampingnya di antarai dengan seseorang lelaki lain, kapan datang, dengan siapa, sekarang bagaimana itu merupakan sapaan yang sangat manusiawi sebagai teman yang sudah lama ngak ketemu.

Ada sesuatu yang saya kagumi dalam kehidupan teman sepermainan yang hanya berpenghasilan sebagai penarik becak, yaitu, ia bercucu 9 orang, dari dua anaknya yang laki dan perempuan, semuanya dibuatkan rumah di dekat rumahnya, sebab ia merasa ngak enak jikalau ia makan sementara anak cucunya ngak makan.

Saya hanya termanggu sambil tersenyum, sebab ada kesamaan juga dengan saya, sebab kalau saya sedang rapat di Jakarta, makanan hasil rapat itu selalu saya bawa pulang untuk anak-anak di rumah.

Akhirnya bus itu datang dan berjalan dengan cepat, sambil terkantuk- kantuk bus itu sampai juga di Wonorejo.

Saat berjalan berdua memasuki kompleks perumahannya ibu, ibu bertanya sekarang mau kemana lagi, yang tadinya saya berniat mau tidur, saya rubah menjadi mau menengok adik perempuan di Malang, ibu langsung akan ikut serta, akhirnya diputuskan berangkat setelah shalat ashar.

Saya baru sadar jikalau ada yang kurang sejak keberadaan saya di Wonorejo semalam, yaitu belum makan rujak cingur, sehingga secepatnya keluar lagi ke depan tokoh Barokah untuk membeli rujak cingur, disana sudah antri pembeli, pembeli sebelum saya adalah seorang bapak muda dengan anaknya seusia 11 tahun membeli es kelapa muda, saya melihat sedemikian luwesnya si penjual wanita muda melayani pembelinya, saya yakin bahwa disini banyak sekali potensi orang cantik.

Akhirnya rujak cingur Rp 5000,- sudah ditangan, saya meninggalkan warung rujak cingur itu berjalan kaki sambil diiringi pandangan mata bertanya- tanya, Pak Kaji dari mana, mana rumahnya, baru kali ini saya melihat.

Shalat ashar sudah dilakukan dan berkemas sebentar dan mulai berjalan keluar rumah dengan mengunci pintu pagar terlebih dahulu.

Setibanya di pinggir jalan besar, jalan yang menghubungkan antar propinsi di Jawa Timur, tiba-tiba datang bus Dahlia perjalanan dari Bali tujuan Tulungagung, juga lewat Malang, akhirnya naik bus ini hingga Malang.


Di perjalanan selewatnya kota Pasuruan dan memasuki kota Wonorejo di wilayah Pasuruan, hari sudah gelap, bus berjalan semakin padat penumpangnya, dan ramai juga para penyanyi jalanan berjualan suara, hanya ada satu kalimat yang saya perhatikan adalah, kalau ngak kasi uang, boleh ngasi rokok atau makanan kecil, lha saya ini membawa makanan kecil kue- kue dari rapat di hotel Elmi kemaren yang hingga sore menjelang malam ini belum ada yang makan, jadi sebaiknya saya berikan saja kepada mereka, saat salah seorang dari mereka mengedarkan sepotong bungkus permen sebagai tanda bahwa ia siap menerima pemberian dari penumpang saat itulah kue saya berikan.

Masuk kota Malang sekitar jam 19.00 malam

Suasana rumah terlihat dari luar cukup besar, tetapi didalam, sangat susah berfikirnya, yang jelas kurang teratur.

Saat akan tidur malam, badan masih terpengaruh energi yang tertimbun sejak dari Surabaya kemaren, sehingga sebelum tidur, minta ijin terlebih dahulu untuk keluar pagar rumah dan berlari ke kanan rumah sejauh 1 km dan ke balik lagi kerumah dan melanjutkan ke kiri rumah sejauh 1 km dan balik lagi kerumah, akhirnya cukup berkeringat dan langsung masuk tempat tidur.

Tiada ulasan: