Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Jumaat, September 11, 2009

Pemikiran di hari Sabtu

Sabtu, 25 Juli 2009.

Dalam perjalanan ke kantor di hari sabtu yang lenggang ini, sejak mentari yang ditulis alam menyinarkan cahayanya , Ujung Jakarta dari arah Cibubur, hadir dalam sebuah sketsa pasar yang ramai dan sibuk memenuhi jalanan, dimana kendaraan mengantri panjang hanya untuk sekedar melintas. Daerah di depan Kodam, pokoknya daerah militer di Pasar Rebo itu, ruang terbuka di sisi jalan sebab terdapat sungai saluran yag besar mengalir dengan air yang cukup deras, berarti hujan di Bogor cukup banyak, angkot dan semua kendaraan yang lewat, halte, tiang lampu jalan. Tapi, yang juga terasa dari adanya saluran seperti sungai yang panjang ini adalah sebuah suasana mengapa tidak dibuatkan saluran besar untuk menyimpan atau membendung air yang datang. Digali sedalam 50 meter kedalam tanah, kemudian ditutup permukaan nya dengan beton yang kuat, kemudian diatasnya di gunakan taman yang luas. Air di dalam saluran penampungan yang di dalamkan itu digunakan juga untuk memproduksi air minum.
Didalamnya seperti sebuah danau besar dan panjang 5 Km panjangnya dengan lebar sampai 50 meter, kedalaman 20 meter berapa kemampuan menampung air, ternyata mampu menampung air sebanyak 5 000 000 m3, hui banyaknya.
Agaknya pemikiran ini muncul dari rasa jemu melihat Jakarta yang selalu terendam air : ada yang jadi rutin dalam sebuah keadaan yang menetap di saat banjir datang, pemandangan orang yang mengungsi ke sebua pengungsian, bisa gereja, bisa sekolah, dan bisa mesjid, di mana apa yang alamiah mereka seperti keinginan berhubungan badan dengan istrinya termasuk sesuatu yang harus di pikirkan, tetapi bisa jadi telah kehilangan pesonanya di antara benda-benda buangan banjir yang menumpuk, yang juga ditongkrongi sebuah tata yang sudah pasti orang yang menanti surutnya banjir sambil membaca kegelisahan waktu yang telah di hilangkan.
Tapi sebetulnya juga untuk menunjukkan kepada bangsa ini bahwa saya sebagai gubernur di DKI ini memang bekerja, ini lho buktinya.


Bagaimana mengatasi kelesuan ekonomi global, satu- satunya jalan adalah mefasilitasi penduduk untuk mengerjakan tanahnya, sebegitu banyaknya tanah yang tidak subur seharusnya di upayakan bagaimana mengangkat kesuburannya, banyaknya ruang tang tidak terpakai, bagaimana luasnya gurun Gobi China dan bagaimana untuk menyuburkan kembali.

Gunakan semua usaha dan tenaga serta keuangan untuk kembali bergumul dengan alam bagaimana menyuburkan kembali.


Sore hari hujan deras di Kantor, rencananya sih membeli lauk ayam untuk anak- anak di rumah, terhalang.

Tiada ulasan: