Terdapat ralat dalam alat ini

selamat berjumpa semoga tidak marah-marah

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. 2:9)

In trying to deceive GOD and those who believe, they only deceive themselves without perceiving


Rabu, September 09, 2009

Taman Makam Pahlawan Kalibata

Selasa, 16 Juni 2009.

Jam 12.30 berangkat ke Cibubur untuk menghadiri duka cita atas meninggalnya mertua pak Edi di lantai empat sekantor dengan saya, berangkat ber lima, dengan kendaraannya pak Jaenal.

Arah sudah benar, bendera kuning sudah terlihat di wilayah Kranggan Cibubur, tetapi didalam mobil lebih memilih belok kanan putar balik, saya biarkan saja, seingat saya belok kiri, ngak tahu jikalau pak Edi punya rumah baru, yang ngak tahu, ternyata belok kanan balik arah dan selanjutnya memasuki kawasan perumahan Citra Grand Cibubur malahan salah, sebab seharusnya ya belok kiri tadi.

Jenazah itu berbaring tentram, kerena sudah di shalatin dan sewaktu memasuki lorong yang menghubungkan rumah duka dengan jalan raya, masuk pula mobil ambulance militer, berarti waktu akan di upacara duka akan di mulai, sehingga saya tidak berusaha untuk menyalatinya.

Acara militer pemberangkatan jenazah di mulai, terlihat barisan tentara garnizun Jakarta sudah siap, di iringi genderang duka, satu langka tentara berjalan dengan tertahan separuh langkah, perjalanan duka itu sangat tertib untuk menuju Taman Makah Pahlawan Kalibata.

Iringan mobil duka cita menuju ke jalan raya dengan iringan sirene motor dinas militer berwarna putih memecah kemacetan jalan Cibubur, memasuki jalan tol, banyak kendaraan yang tidak mematuhi iringan mobil duka cita, sehingga harus diberi peringatan. Dari sini terlihat sedikit tingka laku anak bangsa yang sangat kurang menghargai orang lain, dibentuk dari pendidikan yang salah atau kerena tidak ada yang mendidik, bagaimana bersikap terhadap iringan kendaraan duka di jalan tol.

Taman Makam Pahlawan Kalibata, berbaris di belakang jenazah, berbaur dengan keluarga yang berduka, tidak ada suara yang terdengar, hanya aba- aba militer untuk memerintahkan pasukan pengiring jenazah menembakan tembakan salto penghormatan terakhir pada jenazah.

Saat adzan Ashar terdengar saat mana jenazah mertuanya pak Edi di makamkan saat itu di sadari jikalau ia, si almarhum, tidak lagi mempunyai kewajiban untuk shalat, sehingga bisa di simpulkan cepat bahwa saat adzan terdengar dan banyak orang yang tidak shalat itu berarti ia telah mati, mati hatinya terhadap seruan untuk menghadap Allah SWT.

Saat tangan menggenggam bongkahan tanah liat untuk ikut melemparkan tanah ke liang lahat, setelah di ijinkan para pelayat untuk menghormati terakhir si Jenazah, saat itu disadari jikalau hari telah sore hari, sewaktu kaki melangkah meninggalkan pemakaman terlihat para pahlawan yang terkubur dengan topi bajanya berbaring rapi.

Mobil bergerak menuju kekantor, tetapi di tengah jalan mampir ke tempat makan masakan Makassar, dan semuanya menikmati soto makassar, kecuali saya, saya memilih ikan bakar, sebab yang di makan disana sangat sedikit dan yang dibawa pulang masih tersisa banyak.

Masuk kantor jam 16.30. langsung shalat Ashar.

Sehabis shalat maghrib pulang ke rumah, macetnya jangan di tanya, lelah rasanya berjumpa ke macetan yang panjang di jalan Simatupang.

Sesampainya di rumah sekitar jam 20.00 dan langsung makan malam dengan anak- anak, dengan ikan bakar yang dibawa tadi sore.

Tiada ulasan: